Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
61. Mengikuti Ben


__ADS_3

Akibat kebihongan Dea sebelumnya, perempuan itu tidak lagi dipercaya sepenuhnya oleh sang suami. Sehingga di saat itu juga, setelah Dea menempelkan foto USG di kening Ben, ia langsung dibawa oleh suaminya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Bu Radea Dasha benar-benar hamil, Pak."


Ucapan si dokter seketika menyempurnakan senyum Ben. Pria itu bahkan kesulitan menurunkan kadar tarikan bibirnya sampai merasa pegal.


Setelah sesi konsultasi singkat, Ben membantu Dea keluar dari ruang pemeriksaan.


"Gimana, udah percaya?" tanya Dea dengan suara sinis, berpura-pura marah atas ketidakpercayaan suaminya.


"Iya, Sayang. Udah." Ben mengusap lembut perut rata Dea, dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.


"Kemarin pas rencana keguguran, aku malah dibilangin hamil sama si dokter yang tadi. Makanya aku juga minta hasil USG."


"Sayangnya, aku nggak paham sama sekali sama foto USG itu."


Dea mendengkus geli. "Pantesan nggak percaya!" sindir Dea. "Tapi aku juga sih, soalnya masih kecil banget, nggak kelihatan jelas mana bayinya."


Mereka teetawa kecil setelah itu. Terus berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit, sampai Ben mendadak berpapasan dengan seorang pria dengan jas putih khas seorang dokter.


"Ben?" sapa si dokter dengan hangat. Ia sempatkan melirik Dea dengan senyuman yang sama. "Istri kamu, Ben?"


"Iya, Dok, ini saya. Dea." Ben beralih pada istrinya untuk memberi isyarat perkenalan. "De', ini kenalan saya, Dokter Ridwan."


Dea menjabat tangan pria itu dengan anggukan sopan serta senyum ramah. Setelahnya, ia langsung memisahkan jabatan tangan mereka, dengan pandangan bertanya-tanya.


"Nggak mampir sebentar, Ben?" tanya Dokter Ridwan sembari menunjuk arah lokasi ruangannya sebagai isyarat untuk pemeriksaan lanjutan mengenai kondisinya.


Ben melihat tegang pada Dea, kemudian menggeleng ramah. "Nanti, Dok, kapan-kapan. Saya mau antar istri saya pulang dulu."


Dokter Ridwan mendengkus geli mendengar kata 'kapan-kapan' itu dari pasiennya. Ia berniat memaksa seperti sebelum-sebelumnha, tetapi keberadaan istri Ben mencegahnya melakukan itu.


"Ya sudah. Saya tunggu kapan-kapan kamu itu, Ben. Kalau begitu, saya permisi." Dokter Ridwan mengangguk kecil sebagai bentuk pamitan. Ia juga tersenyum sekadarnya pada pasangan tersebut.

__ADS_1


Ben mulai melanjutkan perjalanan bersama Dea yabg masih memandang kepergian dokter berusia dewasa itu.


"Kenalan gimana, Ben? Kamu sering ke sini?" tanya Dea penasaran.


"Temen ayah saya, De."


"Nyuruh mampir kok di rumah sakit. Kalau dia bilang di rumahnya, aku sih wajar. Aneh emang orang-orang kayak gitu."


Ben hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia terus melanjutkan perjalanan ke mobil yang berada di parkiran.


"Dea balik ke restoean lagi? Atau ke rumah?"


"Ngapain ke rumah?" Dea balas bertanya, sembari memasuki mobilnya.


"Buat istirahat, mungkin?" Ben menyusul masuk di bagian kemudi.


"Nggak perlu. Aku sehat plus seger gini. Ngapain harus istirahat?"


Ben mengangguk-angguk mendengarnya. Ia kemudian terpikirkan satu hal. "Dea hamil kok nggak ada ngidam-ngidamnya?"


"Nggak tau," jawab Dea. "Tapi aku udah rajin mual tiap pagi."


"Sejak kapan? Kirain tadi pagi kamu cuman masuk angin biasa."


"Dari kemarin lusa sih. Seorang Radea Dasha jarang masuk angin tau! Aku mual gegara kemasikan manusia baru di perut," balas Dea. Ia mengusap perutnya dengan gemas. "Padahal aku tuh pengen ... banget ngidam. Biar nyusahin kamu."


"Baru kamu loh, De, istri yang seneng lihat suaminya susah."


"Nggak mau tahu! Kamu pokoknya harus tanggung jawab juga! Kalau aku nanti dibikin menderita sama anak kamu ini, kamu juga harus aku bikin susah! Pokoknya kita harus sama-sama menderita, bukan cuman aku aja!" balas Dea dengan penuh tekad.


"Iya deh, iya." Ben mempertahankan senyum sendu di bibirnya. Lalu terdiam sembari memikirkan tekad lain dalam dirinya.


Untuk mewujudkan tekad itu, Ben harus menyehatkan diringa sendiri lebih dulu.

__ADS_1


"De," panggil Ben dengan hati-hati. "Aku kayaknya bakalan pulang larut nanti. Eh tapi, aku antar kamu pulang duluan deh."


Kadar waspada Dea meningkat. Ia sama sekali tidak menahan walau ada keberatan dalam dirinya, sebab, ada rencana yang harus ia kerjakan nantinya.


"Oke, Ben."


...*...


Dea melambaikan tangan pada kepergian Ben yang mengendarai motor. Tepat setelah suaminya melewati gerbang, Dea mengendarai mobil Dika untuk mengikuti kepergian suaminya. Sengaja mengganti mobil, agar Ben tidak langsung mengenali dirinya.


Dea berharap sepanjang jalan, bahwa Ben tidak akan menemui seorang perempuan di luaran sana. Berharap bahwa apa yang ditakutkan Dion tidak menjadi kenyataan. Berharap bahwa suaminya adalah pria terbaik yang adik dan papanya telah pilihkan.


Dea sangat berharap, bahkan ia memejam erat ketika menemukan lampu merah demi mewujudkan harapannya.


Perempuan itu dengan setia mengikuti setiap kepergian Ben. Tetap berusaha menjaga jarak dua mobil di antara mereka agar suaminya tidak sadar sedang diikuti.


Ketika suaminya mulai berbelok memasuki area perumahan, Dea menjadi berdebar keras. Ia berusaha mengatur napas untuk menenangkan diri sendiri, tetapi selalu berakhir gagal. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya mengenai tujuan Ben datang ke sini. Fakta bahwa suaminya sebatang kara, membuat Dea semakin gelisah.


Pria itu tidak seharusnya datang ke perumahan mewah seperti ini tanpa tujuan berarti. Apalagi Dea sedikit mengenali warna pergaulan Ben di tempat kerja—yaitu karyawan yang setara dengannya sehingga mustahil memiliki rumah mewah di perumahan elit ini.


Dea semakin ragu untuk mengikuti motor Ben, tdtspi enggan juga untuk memutar balik. Rasa penasaran berhasil mengalahkan ketakutannya. Dea terus menyusul, sampai motor Ben memasuki area rumah mewah berlantai dua dengan desain modern. Dea mulai memelankan laju mobilnya sembari mengecek sekitaran rumah untuk mencari tahu.


Dea sangat penasaran, dan beeniat turun dari mobilnya untuk mengetahui sosok yang ditemui Ben di dalam rumah itu. Tanpa sengaja, Dea melirik ke jendela lantai dua, dan menemukan sesosok perempuan duduk di sana. Lalu ketika Ben—ditebak Dea—sedang mengetuk pintu, perempuan itu langsung berlari meninggalkan tempat nyamannya tersebut.


Napas Dea bergetar. Ia menginjak rem, berniat mematikan mesin mobil dan menyusul—menggerebek—suaminya. Namun, akal sehatnya berusaha untuk menyadarkan Dea sehingga perempuan itu mencari opsi aman lainnya.


Dan pikieannya menyarankan sesuatu. Yaitu Dion. Maka, Dea segera mengeluarkan ponsel dari tas pundaknya. Dengan tangan gemetar, perempuan itu mencari kontak kakaknya, lalu menekan 'call' sebelum menrmpelkan layar di telinganya.


Dea merasakan bibienya gemetar, sementara telapak tangannya berubah dingin. Ia meremas rambut sendiri untuk mencegah berbagai pikiran buruk datang ke kepalanya, tetapi sama sekali tidak membantu.


Pada nada sambung keempat, suara sapaan Dion terdengar. Dea tidak berminat untuk basa-basi sama sekali, jadi ia segera memberikan perintah bernada tegas untuk kakaknya.


"Rekam suara apa yang Ben lakuin sekarang, Mas!"

__ADS_1



__ADS_2