
Ben bersembunyi cukup lama di kamar mandi. Selain karena menunggu dua orang yang sedang mengobrol itu keluar, ia juga sibuk menenangkan diri sendiri setelah apa yang istrinya katakan tersebut.
Bahwa Dea memanfaatkan kehamilannya, agar Ben tidak melanjutkan pekerjaannya di perusahaan.
Ben sama sekali tidak keberatan dengan masalah pekerjaan tersebut. Sebab, ia memang melakukannya demi Dea, dan jika istrinya meminta untuk mundur secara langsung, demi apa pun, Ben akan menurutinya.
Namun, memberikan Ben harapan lalu menghancurkannya? Mereka benar-benar berhasil.
Ben berjongkok karena lemas, entah berapa puluh menit. Ia menghabiskan waktunya tersebut memikirkan perasaan yang ia alami saat ini sembari menjambak rambut demi mengurangi kekecewaan dalam dirinya.
Bahkan meski sudah menghabiskan banyak waktu untuk menenangkan diri di kamar mandi, Ben masih tidak bisa meredakan kekecewaannya. Setengah hari full ia lewati dengan ekspresi masam. Pria itu tidak lagi tertarik pada hal sekitar, karena masih fokus pada kekesalannya. Namun, Ben tidak bisa mengatakan atau melampiaskannya dalam bentuk apa pun. Hanya bisa menarik-embuskan napas, yang sejujurnya tidak banyak membantu.
“Ben, ayo pulang.” Ajakan itu disampaikan langsung oleh Dea, yang bersandar nyaman di ambang pintu.
Ben yang sedang mengelap area dapur, sempat menghentikan kegiatannya. Namun, tidak menoleh sama sekali. Sebab bingung untuk menyembunyikan amarahnya.
“Duluan aja, De. Aku selesaiin ini dulu.” Ben menjawab tidak acuh, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Salah satu rekan kerja Ben yang peka, hendak mengambil alih lap dari tangan pria itu. Bukan hanya sekadar gagal, si rekan wanita itu juga ditepis kuat hingga mundur selangkah karena Ben.
“Biar aku selesaiin, Ben.” Si wanita kembali memperjelas maksudnya. “Ini kan emang tugas aku. Kamu pulang aja sama Bu Dea.”
“Nggak papa, Fa. Ini bisa aku selesaiin, kok,” ucap Ben lembut, sebab sedikit merasa bersalah atas sikap kasarnya barusan, tetapi malas juga untuk meminta maaf. Ia turut menunjukkan senyum tulus untuk si wanita, sebagai ganti kata maafnya.
__ADS_1
“Ben ....” Sementara Afifah benar-benar merasa terjebak di sini. Apalagi saat menemukan si bos segera menegakkan punggung dengan begitu serius setelah Ben tersenyum. Ia buru-buru mengambil paksa lap tersebut, dan menyenggol Ben agar menyingkir dari sana. “Biarin aku!’
Ketika Ben hendak melakukan protes, lengan pria itu sudah ditarik cepat oleh Dea sehingga mereka bisa berdiri bersisian. Saat Dea memberikan senyum peringatan padanya, Ben hanya menghela napas panjang dan melarikan pandangan ke arah lain.
“Ayo pulang.” Dea sekali lagi mengulang ajakannya, dan setengah menyeret lengan Ben agar mengikuti dirinya.
“Kamu laper nggak, Ben?” tanya Dea sebelum memasuki mobil.
Ben tetap berjalan dingin memutari mobil dan masuk di bagian kemudi. Membuat Dea langsung menipiskan bibir, mencoba menebak apa yang terjadi pada suaminya saat ini. Karena belum juga menemukan jawaban yang tepat, maka Dea memilih masuk.
“Aku laper banget, Ben,” keluh Dea sembari mengusap perutnya. “Mampir makan ya?”
“Kenapa nggak di dalem, De?” tanya Ben. Ia terlihat begitu sibuk memasang sabuk pengaman, hingga tidak tertarik melirik sang istri. “Di dalem jualan makanan. Atau di rumah nanti.”
Dea memancing, berharap pria ini akan mengajaknya ke suatu tempat untuk dinner kedua mereka. Walau tidak yakin akan seromantis sebelumnya, tetapi Dea tidak masalah. Asal mereka makan di tempat yang berbeda, dan hanya berdua.
“Lain kali ya, De? Akhir pekan. Sekarang aku capek banget. Kecuali kalau mau singgah makan sendiri, terus aku tunggu di mobil.” Ben menolak dengan lembut, karena hanya ini usahanya untuk menyembunyikan dan menahan amarah kepada sang istri.
Jika terlalu lama bersama Dea, dengan ingatan siang tadi terus terulang, Ben ragu bisa menahan dirinya sendiri untuk memaki sang istri. Jadi, jalan tepat yang bisa Ben pikirkan saat ini adalah pulang, mandi air dingin, dan langsung tidur. Berharap saat ia bangun nanti, dirinya sudah sangat tenang. Tidak lagi memedulikan rencana Dea dan Dion saat ini.
“Kayaknya, kerja di perusahaan papa yang bikin kamu capek banget, Ben. Itu alasan aku nggak terlalu suka gabung di sana. Harus siapin mental banget soalnya. Selain beban kerja, persaingan antar-karyawan yang super nggak waras juga jadi alesannya. Beneran bikin burn out banget!”
Ben tidak lagi menimpali, karena sibuk menghidupkan mobil, kemudian membawa kendaraan roda empat tersebut berjalan meninggalkan area restoran. Ekspresi pria itu bahkan jauh lebih dingin dari cuaca malam hari.
__ADS_1
“Ben, kamu yang siapin buah-buahan di meja aku tadi?” tanya Dea, hendak membuka obrolan santai dengan suaminya. Namun, Ben terlihat sangat malah bersuara, sehingga hanya memberikan anggukan sebagai jawaban. “Kok bisa pas, ya? Kebetulan banget, tadi itu aku emang pengen makan buah. Ngidam deh, kayaknya. Eh, secara kebetulan kamu anter. Beneran deh, ikatan kamu sama anak kita kuat banget.”
“Jangan fitnah anak yang belum ada itu, De.” Barulah sekarang Ben berbicara, karena merasa muak dengan topik obrolan Dea saat ini.
Dea terkekeh kecil, sama sekali tidak terlalu mengerti maksud sarkasme yang Ben sampaikan. “Beneran, Ben. Aku jadi kepengen banget makan buah tadi, eh kamu udah anter aja. Makasih banyak ya, udah ngertiin kebutuhan aku.”
Ben tidak bereaksi sama sekali atas pujian yang diutarakan dengan nada manja itu. Bahkan, Ben memutar musik demi merendam dan membatalkan usaha Dea untuk membuka obrolan bersama di dalam mobil. Pria itu hampir tidak pernah menoleh pada Dea sama sekali.
Hal itu disadari Dea secara jelas. Perubahan sikap Ben sore ini, bahkan orang buta pun akan sadar. Dea mengalihkan pandangannya ke pangkuan, melirik jemarinya di sana, sembari mengingat kejadian sebelum pulang tadi di restoran.
Ben tidak mengatakan atau memberikan clue apa pun tentang perubahan sikapnya. Namun, Dea memiliki tebakan lain yang sangat diyakini oleh perempuan itu.
Semuanya karena mempertimbangkan keanehan dalam interaksi karyawati tadi dan Ben. Mereka terlihat terlalu akrab, bahkan saat Ben memberikan senyuman yang terlalu manis, Dea dengan mudah menerjemahkannya sebagai bentuk keramahan spesial.
Dan Dea tidak suka hal itu, walau sekadar mengingatnya.
Dea mengalihkan pandangan ke jendela dengan deru napas memburu oleh pemikiran yang sedang menguasai otaknya.
Bahwa Ben kini memiliki perasaan khusus, untuk wanita lain.
Kedua tangan Dea di pangkuan, langsung mengepal dengan kuat. Benci memikirkan itu, tidak suka mengingat kedekatan mereka, dan merasa sakit ... ketika bayangan akhir pernikahannya muncul dengan Ben tersenyum senang sembari merangkul wanita lain sebagai penutup hubungan mereka.
Dea ... cemburu.
__ADS_1
...****************...