
Setelah kotak hadiah ‘formalitas’ diterima oleh Dion, pria itu secara perlahan mengubah mimik wajahnya.
“Kamu sampai kayak gini cuman buat bikin suami kamu cemburu dan sadar sama perasaannya sendiri, De?” tanya Dion.
Dea masih tersenyum, dan memberikan anggukan antusias. “Aku yakin, ada yang dia sembunyikan, Mas. Makanya aku harus cari tahu semuanya sampai clear, supaya hubungan aku dan Ben bisa kembali membaik lagi.”
“Kenapa kamu harus ngelakuin ini semua?”
“Ya itu, Mas. Aku mau nyari tahu tentang Ben—“
“Maksud saya, kenapa kamu harus repot nyari tahu masalah laki-laki itu. Biarin dia kalau mau pisah sama kamu. Rencana awal memang begitu kan? Kalian harus cerai, supaya dia tidak manfaatkan kekayaan keluarga kita.”
“Tapi nyatanya, Ben bukan tipe matre, Mas. Dia punya alasan tersendiri, dan bukan tentang uang niatan utamanya. Aku yakin ... dia sebenarnya punya perasaan sama aku, tapi nggak tahu kenapa, dia seperti dibatasi dinding yang nggak terlihat, sehingga ketika kami dekat, dia harus sadar sama keberadaan dinding itu, dan lagi-lagi, dia jaga jarak dari aku,” keluh Dea. “Aku beneran bingung, Mas.”
“Makanya, ceraikan laki-laki yang bikin kamu bingung,” balas Dion dengan santai. “Lagian, kalau ada laki-laki yang bisa buat kamu hidup tenang, aman, terjamin, dan sudah meyakinkan, kenapa masih pilih laki-laki yang tidak jelas.”
Sekaranglah, Dion mulai berubah serius. Ia juga mencondongkan tubuh ke depan, untuk membuat suasana di antara mereka semakin intens.
“M—maksud Mas apa?” Dea sekarang kehilangan senyum bahagia palsunya. Ia mulai tidak nyaman dengan perubahan sikap Dion. “Pembahasan ini bukan rencana awal kita, Mas.”
“Sejak kapan kamu peduli sama rencana awal?” Dion membalas telak. “Saya cuman mau menyadarkan kamu, De. Kamu nggak perlu sampai kayak gini cuman buat laki-laki yang nggak bisa hargai kamu. Serius ... saya sampai merasa ... kasihan sama kamu yang rela lakuin apa pun demi suami nggak berguna kamu itu.”
“Namanya juga suami-istri, Mas. Untuk sekarang, aku yang harus berjuang mempertahankan pernikahan ini. Suatu saat nanti, mungkin Ben yang harus ambil tugas ini. Kami harus saling mendukung, Mas.”
“Kalau kamu menikah dengan pria tepat, kamu nggak perlu kayak gini, De. Laki-laki yang tepat, yang akan selalu berjuang untuk pernikahan. Bukan istri yang harus merendahkan diri cuman buat pertahankan suami yang nggak jelas.” Dion mulai membawa tangannya untuk menggenggam jemari Dea yang berada di atas meja. “Misalnya ... saya, De. Saya nggak bakalan pernah sia-siakan kamu satu detik pun, De. Andai kamu mau menikah sama saya.”
Dea berusaha untuk menarik tangan sendiri dari genggaman Dion, tetapi gagal. Walau pria di depannya terlihat sangat santai, tapi cekalan tangan Dion sangat kuat.
“M—Mas ....” Dea mencoba menyadarkan sang kakak, tetapi tidak memiliki efek berarti.
“Kamu kemarin bilang, kalau kamu luluh sama godaan Ben?” tanya Dion sembari mencondongkan tubuh ke depan. Berhasil membuat Dea merasa terintimidasi dan secara spontan menjauhkan diri dari sang kakak. “Saya bisa berikan kamu perasaan lebih dari yang Ben berikan ke kamu, De.”
Dion bergerak dengan cepat. Dalam sepersekian detik, ia susah berdiri, memiringkan wajah, dan mempertemukan bibir mereka dalam kondisi kaku.
Dea melotot sempurna, dan belum sempat bereaksi, ciuman itu sudah terpisah secara kasar oleh keberadaan seorang pria yang berdiri di samping mereka.
__ADS_1
Dea melotot sempurna, menyadari bahwa suaminya sudah datang. Ia benar-benar gugup, hendak memberikan penjelasan, tetapi lebih dahulu, suaminya memberikan pelajaran untuk Dion.
Ben langsung menarik pundak Dion dengan kasar tanpa memedulikan keseimbangan pria itu. Abai saat iparnya itu langsung jatuh terjengkang ke belakang, akibat perbuatan Ben. Dibanding menoleh si pria yang jatuh, Ben langsung menarik istrinya berdiri di belakangnya.
Setelah itu, Ben menarik kerah baju Dion dengan kuat, sementara gigi-giginya saling menekan, menunjukkan betapa besar kemarahan yang sedang ia rasakan saat ini.
“Berani-beraninya kamu ....” Ben tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Ia memberikan Bogeman mentah di wajah Dion sekuat tenaga. “Beraninya kamu sentuh istri saya.” Ia memberikan pukulan lain.
Namun, Dion tidak bertahan di bawah begitu lama. Sebab, sedikit kelengahan Ben berhasil dimanfaatkan Dion. Ia menarik Ben agar bisa berdiri, sementara si lawan jatuh tengkurap di lantai.
“Ya. Saya cium istri kamu. Kamu mau apa, hah?” balas Dion, tidak mau kalah. Ia membalik tubuh Ben untuk memberikan pukulan tanpa jeda, sehingga si lawan sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk melawan.
Dea yang sempat membeku, secara spontan menarik Dion dengan paksa, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kemarahan Dion. Dea tidak tahan melihat suaminya yang disudutkan dalam pukulan, sehingga ia lupa diri dan mengambil senjata dari sekitar demi menghentikan penyerangan membabi-buta itu.
Maka, kursi pilihannya.
Dea tidak sempat memikirkan apa pun, dan langsung menghantamkan kursi kayu tersebut ke kepala Dion menggunakan kekuatan maksimal.
Begitu sukses menjatuhkan lawan dengan rembesan cairan merah kental dari robek*n di kep*la Dion.
*
Sejak tiba di rumah sakit, Dea sama sekali tidak peduli dengan sekitar. Tidak ada satu hal pun yang bisa menenangkan atau menghentikan tangisnya. Bahkan fakta bahwa kondisi basah dari kaus tempatnya bersandar saat ini, Dea tetap melanjutkan tangisnya.
Ben tanpa henti memberikan usapan lembut di bahu Dea. Menenangkan sang istri, bahwa tindakannya telat. Namun, setiap kali Dea melihat bagaimana Dion dipukul dengan kekuatan penuh sampai berdar*h, Dea tidak bisa abai begitu saja.
Selama puluhan menit, Dea sama sekali tidak pernah meninggalkan pelukan Ben di kursi tunggu. Ia sama sekali tidak lelah, dan Ben juga tidak memberikan keluhan apa pun. Sampai akhirnya, kedatangan keluarga lain berhasil mengalihkan fokus Dea.
“Dion bagaimana?” tanya Kahar, cemas.
Dea langsung mendongak, dan berjalan cepat ke sang papa untuk memeluk dengan erat. Ia melanjutkan tangisnya, bahkan lebih parah dari sebelumnya, di pelukan Kahar.
“Aku ... nggak sengaja beneran. Seriusan, nggak sengaja, Pa. Aku nggak sengaja. Plis, aku nggak ada niatan buat bikin Mas Dion terluka, Pa .... Seriusan .... Aku ... nggak ....”
Ucapan Dea terhenti bersamaan dengan beban yang Kahar tanggung menjadi lebih berat. Ia memberikan isyarat pada Ben, yang langsung siaga mengambil alih sang istri. Dea terkulai lemas, dengan mata memejam sempurna.
__ADS_1
“Kamu bawa dia periksa. Dia pasti terguncang karena masalah ini,” kata Kahar yang langsung diangguki oleh Ben.
Saat Ben sudah memosisikan tubuh Dea di atas kedua tangannya, Kahar memberikan ultimatum lain.
“Setelah itu, datang ke sini, Ben, kita harus bicara tentang masalah ini.”
Ben sempat gugup, tetapi tetap memberikan anggukan patuh.
*
Kahar mengajak Ben ke tempat yang lebih sepi demi mendapatkan penjelasan rapi. Jika di ruang tunggu di mana istrinya yang cemas berlebihan berada, bisa saja obrolan terganggu akibat perasaan sayang Diana pada Dion.
“Jadi, kenapa Dea tiba-tiba serang kakaknya kayak gini?” tanya Kahar. Ia memberikan kesempatan pada Ben bernapas sebentar, sebelum memberikan jawaban.
“Saya ragu Pak Kahar akan percaya sama ucapan saya.”
Sebelah alis Kahar langsung naik, tertarik dengan obrolan ini. “Katakan saja.”
“Dion ....” Ben menatap lurus pada Kahar untuk menunjukkan keseriusannya dalam berbicara. “Dia bersikap kurang ajar ke Dea dengan mencium Dea di kafe.”
“Cium?” Kahar mengulang satu kata itu dengan kerutan tidak nyaman di keningnya.
Ben mengangguk berat. “Cium ... bibir.”
Kahar langsung menegakkan punggung mendengar jawaban itu. Ia sempat menghela napas panjang.
“Saya tahu sulit untuk dipercaya, tapi—“
“Saya percaya,” potong Kahar semena-mena. “Saya nggak terkejut sama sekali, tetapi tetap kecewa sama tindakan Dion.”
“Nggak ... terkejut?” Sekarang, giliran Ben yang kebingungan.
Kahar mengangguk perlahan, sebelum memulai penjelasannya.
Tentang alasan mengapa ia lebih memilih orang lain menikahi putrinya, dibanding dengan anak angkat yang ia besarkan sendiri.
__ADS_1
...****************...