
Niatnya menunggu Ben pulang untuk diselidiki—sehingga Dea punya balasan ceramah untuk pria itu agar bukan hanya dirinya yang dianggap selingkuh—tetapi pertahanan perempuan itu terlalu lemah. Ia kehilangan kesadaran pada pukul sebelas malam, dan bangun-bangun, sudah ada tubuh pria di sampingnya.
Dea juga menemukan satu kebencian lain pada dirinya saat ini: sejak kapan ia sangat suka memeluk tubuh Ben ketika di alam mimpi. Perempuan itu bergidik ngeri, tetapi sama sekali tidak berniat untuk menjauhkan diri atau bangun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat berat untuk melakukan itu, sehingga Dea mengulang lagi kebiasaan yang mulai ia bentuk sejak kemarin: memandangi Ben setiap kali bangun tidur.
Perempuan itu awalnya hanya ingin menyentuh kulit Ben saja, menyusuri pinggiran wajah pria itu dengan telunjuknya. Namun, ketika mengingat bahwa dirinya semalam dipermainkan—serta kemungkinan besar Ben selingkuh saat pergi tanpa informasi—amarah seketika menguasainya. Dea menekan ujung telunjuknya ke pipi Ben, sampai suara ringisan terdengar.
“De, ngapain?” Ben segera menggeser posisi wajahnya agar terbebas dari jari berbahaya Dea. Ia mengusap bekas tusukan Dea, sebab kuku perempuan itu cukup panjang.
“Dari mana kamu semalem? Kenapa pergi nggak ngasih info? Aku nungguin kamu setengah jam, Ben! Kamu pikir aku orang luang apa? Aku sibuk! Tapi demi kamu aku malah habisin setengah jam secara sia-sia di mobil nungguin, tapi nggak ada hasil!” Dea melotot, sembari mengetatkan giginya dengan sangat kuat. Tidak lupa menarik kerah baju Ben untuk memberikan kesan mengintimidasi. “Kamu dari mana semalam, hah? Dari mana?! Karyawan lain bilang kamu udah pulang duluan, tapi nggak ada tuh pas aku sampe di rumah? Kamu ke mana? Jangan-jangan kamu ini—“
Cup!
Dea langsung membeku di tempat, bahkan napasnya juga sempat berhenti. Bibirnya yang baru saja dikecup singkat, langsung berubah kelu.
“Gimana aku mau jawab kalau Dea nggak bisa berhenti bicara?” Ben memperbaiki posisi badannya agar menghadap Dea secara langsung. Ia turut melingkarkan tangan di pinggang perempuan itu, demi merapatkan tubuh sampai tidak ada celah. “Aku emang pulang cepet karena ya ... ada keperluan dikit. Terus Dika minta tolong beliin barang di luar, jadi ya, aku keluar. Pas sampai rumah, eh diajakin Dika main bareng. Jadilah, sampai kamar tengah malam.”
“Kok aku nggak percaya?”
“Kenapa nggak bisa percaya?”
“Kamu pulang ke rumah lebih cepet, tapi nggak ke kamar duluan?”
“Karena aku ditarik Dika langsung buat mabar.”
Dea masih memicingkan mata, tampak curiga. Ia masih belum puas dengan jawaban itu.
“Emang kenapa sampai nungguin aku segitunya? Kangen, ya?” Ben menaik-turunkan alisnya menggoda.
Seketika, berhasil membuat Dea bergidik ngeri, lalu mendorong tubuh Ben agar dirinya bisa segera terbebas dari jerat pelukan lelaki itu.
__ADS_1
“Jijik!” balas Dea setelah mengubah posisinya jadi duduk. Ia mengusap setiap lengannya seolah menghilangkan debu dari sana. “Sana, mandi duluan!”
Ben menuruti perintah itu, gegas turun dan berdiri menjulang di samping tempat tidur. Namun, tidak langsung melangkah.
“Ayo, mandi bareng, De!” ajak Ben, dan ia tidak membiarkan perempuan itu menolak lebih lanjut. Ia sudah membungkuk, dan membawa tubuh perempuan itu dengan kedua lengannya begitu mudah.
Dea melotot sebentar karena syok. Setelah kesadarannya pulih, ia segera melayangkan pukulan keras di bahu Ben.
“Turunin! Turunin, Ben!”
“Kita udah mau telat, De! Kamu sih, nggak bangunin dari tadi, malah sibuk lihatin aku!”
“Aku ogah ya, lihat-lihatin kamu! Kayak kehabisan pemandangan penarik aja!”
“Masa sih? Aku ngerasa diperhatiin tadi, loh.”
“Enggak, Ben! Aku ... ish, jijik banget perhatiin kamu! Udah bocah, ileran juga.”
“Bodo—argh!” Dea memukul lagi sekali, tetapi pria itu malah menyembunyikan kesakitannya dengan gelak tawa.
“Saking sukanya perhatiin, sampai nggak sadar udah sampe,” kata Ben, dan ia memperjelas ucapannya dengan menendang pintu kamar mandi sampai tertutup rapat.
“Ben, turun—“
Dikabulkan sebelum Dea menyelesaikan kalimatnya. Perempuan itu diturunkan. Dea mengacungkan telunjuk dengan gigi-gigi saling menekan, hendak melayangkan protes lain, tetapi Ben sudah lebih dahulu menarik kausnya dengan mudah. Membatalkan semua kalimat protes yang akan perempuan itu keluarkan, bahkan kini melotot dengan tubuh kaku.
“Ayo, ayo! Aku bantu bukain ....” Ben mengangkat kedua tangannya dengan bagian telapak menghadap ke Dea, tidak lupa menggerakkan jemari seolah berniat menerkam.
Dea bergerak mundur, sembari menyilangkan tangan depan dada. Ia mencoba melindungi diri sendiri, tetapi Ben terus menekannya hingga perempuan itu sudah mentok di dinding.
__ADS_1
Sekarang, Ben benar-benar menguncinya. Pria itu berdiri, mempertemukan ujung jari kaki mereka, meletakkan sebelah lengannya di samping kepala Dea, sementara satu lagi membantu perempuan itu untuk mendongak.
Ben mendekatkan wajahnya ke arah Dea, dengan kondisi sedikit miring ke kanan. Ia menarik sudut bibirnya sedikit, sehingga pria itu mengubah aura cerahnya menjadi misterius. Ia tampak puas melihat kondisi Dea yang tidak berkutik, dan ketika napasnya sudah mencapai bibir perempuan itu, Ben menggeser arah jatuh ciumannya di leher terbuka Dea.
Dea secara otomatis menarik napas karena terkejut. Sensasi kenyal dari bibir Ben mengirimkannya sensasi geli yang menyenangkan, sehingga Dea memindahkan posisi tangannya ke tubuh tanpa penutup milik sang suami. Bahu Ben diremas kuat untuk menyalurkan sensasi ciuman yang pria itu berikan.
“Ben ....” Dea memanggil dengan suara lirih. Kakinya mendadak lemas, dan hampir sulit menopang tubuh sendiri. Matanya memejam, bahkan tanpa dirinya sendiri sadari.
Ben sama sekali tidak melepaskan bibirnya dari kulit Dea, tetapi tersenyum melihat kondisi sang istri. Dea tidak pernah kuat pertahanan dalam urusan ini, sehingga Ben bisa membawa kedua tangannya ke pinggang sang istri, karena Dea sudah memberikan akses penuh dengan mendongak secara otomatis.
Dea merasakan sensasi dingin di punggungnya, jadi membuka mata untuk melihat kondisi sendiri. Kimono tidurnya sudah teronggok begitu saja di lantai dekat kakinya, tetapi ia tidak peduli. Bahkan, ia memberanikan diri merapatkan tubuh pada sang suami, memeluk Ben untuk membalas pria itu.
Turut menggigiti kulit Ben, sampai tawa kecil dikeluarkan pria itu. Ia sempat tersenyum sebentar, sampai bibirnya kembali berkerut saat menemukan ada hal aneh di kulit Ben.
Dea padahal baru menggigit sekali, tetapi ....
Kenapa ada banyak lebam di tubuh suaminya saat ini?
Dea melotot lebar ketika pikirannya mulai dipenuhi oleh banyak imajinasi panas tentang Ben semalam. Hal itu melahirkan banyak amarah, sekaligus memberikan kekuatan tambahan untuk Dea sehingga bisa memutar posisi mereka jadi terbalik. Dea sekarang yang menekan Ben ke dinding.
“Jawab dengan jujur!” kata Dea penuh peringatan, sangat serius—terlihat jelas dari bagaimana matanya menatap Ben yang tampak kebingungan. “Kamu dari mana semalam? Bekas kissmark di badan kamu ... jangan bilang kalau Dika yang habis cipokin kamu!”
“De ....” Ben memanggil lirih, tetapi ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Dea sudah lebih dahulu mendaratkan telapak tangan secara keras di wajah pria itu.
“Berengsek!” Dea memaki, lalu memungut kimono tidurnya untuk ia bawa keluar kamar mandi. Tidak lupa membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara keras menggelegar.
Ben masih dalam posisi kepala menyamping akibat tamparan tadi. Kemarahan Dea benar-benar menghasilkan tenaga yang sangat besar, tetapi bukan itu sepenuhnya menjadi penyebab Ben tidak melihat kepergian sang istri tadi.
Barulah setelah pintu tertutup, ia gegas ke wastafel, mengalirkan air keran, dan membasuh wajah secara kasar. Menghasilkan air bekas cuci wajah yang berwarna merah.
__ADS_1