
Niatan untuk berkata jujur pada Dea terpaksa ditunda oleh Ben saat ia bersiap untuk pulang tetapi pusing dan sakit kepala tidak tertahankan kembali menyerang. Pria itu susah payah menahan diri sendiri agar tetap berdiri tegak, demi mencegah kepanikan dari banyak orang tentang kondisinya. Berharap bahwa ia bisa memesan taksi sebelum kehilangan kesadaran.
Namun, rencana Ben tidak dapat dipenuhi. Pria itu kalah oleh sengatan sakit yang tidak tertahankan di kepala. Diiringi tetesan cairan kental berwarna merah dari hidungnya semakin membuat beberapa orang yang lewat langsung menghampiri Ben.
Di saat itulah, Ben tumbang dan tidak sadarkan diri setelah merasakan hantaman lantai dingin yang keras.
...*...
Saat baru pertama kali membuka mata, hal pertama yang Ben temukan adalah ruangan asing yang didominasi warna putih dengan beberapa campuran biru yang menenangkan. Ketika pria itu memejam perlahan sembari mengubah posisi kepala, ia kembali membuka mata untuk memindai sekitar. Saat itulah, Ben menemukan sesosok pria bertubuh tinggi tengah berdiri di sampingnya, terlihat sangat dingin dengan campuran angkuh yang sangat kentara.
“Sekarang, suka tungguin saya bangun, Dion?” tanya Ben menyindir, dengan dengkusan geli yang dikeluarkan bersama tarikan di sudut bibirnya membentuk sebuah seringai meremahkan—sekadar mengimbangi keangkuhan Dion.
“Nggak.” Dion menjawab dingin, kemudian memindai tubuh Ben dengan saksama. Ia balas tersenyum samar, terkesan menghina. “Saya lagi tungguin kamu mati.”
“Sayangnya, belum.” Ben menjawab santai, lalu menarik napas panjang yang diembuskan secara perlahan melalui bibir tersenyumnya.
“Kenapa belum?”
“Saya belum bosan hidup di dunia,” jawab Ben. Ia mengangkat sedikit dagunya, demi mempertegas sikap. “Omong-omong, kenapa kamu yang ke sini? Kenapa bukan Dea?”
“Kamu mau bebani dia dengan biaya rumah sakit? Sekaligus beritahu penyakit mematikan kamu yang sama sekali nggak ada harapan buat sembuh itu, cuman supaya Dea mau buang-buang duit dan waktu selama ngerawat kamu?” balas Dion dengan nada sinis. “Saya bukan kakak kandung Dea, tapi saya besarkan dia lebih dari sekadar adik kandung. Saya yang pastikan dia baik-baik saja dan selalu maju di depan dia saat Dea menghadapi masalah atau tekanan hidup. Dan kamu, suami yang bahkan belum satu tahun dia nikahi, malah mau berikan Dea beban besar?”
Ben diam, sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas ucapan Dion. Namun, ekspresinya tetap terlihat tenang dan santai. Seolah tidak terpengaruh dengan ucapan pria di sampingnya itu.
__ADS_1
“Seberapa besar kemungkinan kamu bisa sembuh total? Nggak ada harapan, ‘kan? Jadi, kenapa kamu masih harus bicara jujur sama Dea, kalau ujung-ujungnya, hasil dari kejujuran kamu cuman buat bebani dia?” Dion merendahkan posisi wajahnya untuk memperkuat aura intimidasi dalam dirinya. Gigi-gigi Dion saling menekan, sementara pandangannya mulai menajam. “Menikah dalam kondisi asing, maka kamu juga harus pergi seperti orang asing yang cuman datang bertamu. Dijamu dengan baik, kamu harusnya bersyukur. Jangan jadi tamu kurang ajar yang membebani orang lain.”
Ben sempat tertegun sejenak, tetapi tetap tidak mengalihkan pandangannya yang mengarah langsung ke mata Dion. Sudut bibirnya terangkat, sebelum balas ucapan pria itu.
“Kamu terlalu takut saya membebani Dea.” Ben memulai balasannya. “Kamu jangan-jangan dipungut Pak Kahar karena dibuang keluarga kamu yang anggap kamu beban, ya?”
Seketika, ucapan tenang dan lembut Ben berhasil memicu api amarah dalam diri Dion. Pria itu langsung mengepalkan tangan dengan kuat di sisi tubuhnya. Rahangnya semakin menegas maksimal, dan ketika Ben semakin melebarkan senyum—Dion kehilangan kendali dirinya.
Pria itu menarik kerah baju Ben untuk memaksanya setengah duduk. Ben masih merasa pusing, tetapi tidak memberikan permintaan atau permohonan agar dilepaskan dari kemarahan Dion, karena memang ini yang ia inginkan sekarang.
“Saya pastikan,” kata Dion dengan gigi-gigi menggertak kuat, “Dea akan membuang kamu sesegera mungkin. Secepatnya. Saya bersumpah. Kamu tidak akan bisa melakukan apa pun saat hari itu tiba.”
Dion melepaskan cekalannya dengan kuat, membuat Ben terbaring kasar di tempat tidurnya. Namun, sama sekali tidak memberikan ekspresi kesakitan, Ben malah mengusap kusut di bajunya. Semakin memperkuat aura menantang dalam dirinya.
Dion segera menyingkir dari hadapan Ben setelah itu. Ia meninggalkan ruangan, menyisakan Ben seorang diri.
Lalu secara perlahan, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Menyiratkan emosi yang kuat dalam dirinya.
...*...
Ben membiarkan dirinya terlambat tidur hanya demi mengecek beberapa setruk dan buku catatan. Beberapa kali, ia sampai harus menggaruk pelipis ketika ada sesuatu hal yang dirasa kurang. Namun, saat tidak menemukan sebuah solusi, Ben akan mendesis rendah dalam hati, kemudian memejam kuat demi menenangkan gejolak tidak nyaman dalam dirinya.
Tindakan Ben tersebut, diam-diam menarik perhatian Dea yang sama sekali tidak bisa tidur akibat kegiatan asing suaminya. Ben hampir tidak pernah sesibuk itu. Apalagi berurusan dengan lembaran kertas dan juga buku.
__ADS_1
Ada yang salah, tetapi Dea tidak mengerti bagian mana. Ia terus memperhatikan diam-diam selama beberapa menit, sampai akhirnya Dea terpaksa harus memejam saat Ben mendadak melirik ke arahnya.
Dea begitu gugup, sampai memejam terlalu kuat. Berharap hal ini tidak akan memicu kecurigaan Ben, tetapi salah.
Tempat tidur mendadak saja bergerak, membuat ketakutan Dea semakin kuat. Perempuan itu bertahan dalam posisinya sekarang, sampai wajahnya diusap lembut oleh sebuah jari milik Ben—sebagai usaha untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Dea.
“Kamu kecapean akhir-akhir ini,” kata Ben memberitahu. “Kondisi kamu juga makin melemah, wajah pucat, dan emosi kurang stabil. Kamu harus perbanyak istirahat, jadi ... tidur sekarang, ya?”
Namun, bukannya mengindahkan saran dari sang suami, Dea malah membuka matanya. Memperjelas kebohongannya yang pura-pura tidur.
“Kamu nggak ada niatan buat marahin aku yang udah sembarangan jambak temen deket kamu?” tanya Dea dengan suara lirih.
Ben sempat menghentikan kegiatan usapannya demi mencerna ucapan Dea. Ia tersenyum tipis, lalu berpindah menyisiri rambut sang istri dengan sangat lembut.
“Nggak marah, cuman ....” Ben menatap geli pandangan ketakutan Dea saat ini. “Kenapa? Kenapa bisa kamu ngerasa aku selingkuh, De? Kenapa bisa Radea Dasha yang anggun dan dewasa ini, berubah jadi istri ganas yang siap nerjang apa pun demi suaminya? Kenapa bisa ....”
Dea menghindari pandangan Ben selama beberapa saat, sebagai usaha untuk meyakinkan diri sendiri. Di saat itulah, tangannya mulai bergerak naik, dan berhenti setelah tiba di depan dada Ben. Ia mencengkeram kaus pria itu dengan lembut.
“Mungkin ....” Dea menjawab ragu sembari melirik suaminya. “Karena pertama kalinya, aku ngerasain yang namanya ... cemburu buta. Aku benci lihat ... milik aku didekati perempuan lain. Aku ... takut ....”
“Takut?” Ben tidak paham dua kata terakhir istrinya. Sementara di sini, Dea yang ganas. Malah perempuan itu yang cemas tanpa alasan.
Cengkeraman Dea menguat, bahkan tanpa sadar berhasil mencakar kulit Ben di balik kaus, tetapi pria itu sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
“Aku takut ... kehilangan kamu, Ben.”
...****************...