
Saat baru saja tiba di kamar, Ben menemukan Dea sedang bergerak gelisah mondar-mandir di depan ranjang. Ia secara perlahan menutup pintu kamar, sehingga tidak akan ada yang mendengar obrolan mereka.
"Kamu nelpon siapa, De?" tanya Ben serius.
Namun, Dea hanya melirik tanpa memiliki niatan untuk menjawab sedikit pun. Perempuan itu sibuk menggigiti ujung kukunya karena gelisah tanpa ujung selama nada sambung terdengar. Hingga sebuah suara bariton muncul dari ponselnya, Dea mulai bersemangat.
"Elvan, aku mau—"
Namun, Ben lebih cepat mengambil benda pipih itu dari telinga Dea, dan tanpa mempertimbangkan kemarahan sang istri, langsung saja mematikannya.
"BEN!" teriak Dea dengan keras, sampai urat-urat lehernya menonjol jelas. "Aku harus kelarin masalah tadi! Kamu nggak usah ikut campur!"
Namun, Ben yang masih terlihat serius tidak menyetujui keinginan Dea. Ia mengamankan ponsel tersebut di salah satu saku celana pendeknya.
"Hubungi dia nggak bakalan kelarin masalah, De, malah makin memperumit masalah, karena aku yakin, dia pasti bakalan ngambil alasan buat ketemu berdua lagi, dengan embel-embel nyari solusi buat masalah ini." Ben memberikan opini yang sangat masuk akal, tetapi sulit diterima oleh otak panik Dea.
"Nggak! Aku bisa kelarin sendiri!" kata Dea tegas. "Siniin hapenya, Ben!"
"Dengerin aku, De." Ben memaksa agar perempuan itu menghadap secara penuh padanya. "Fokus kita sekarang bukan minta konfirmasi dari orang yang ... memang dari awal mau hubungan kita kacau. Kamu mau minta tolong ke Elvan, gimana caranya? Yang ada, kamu makin memperburuk keadaan. Sekarang, coba tenangin pikian dulu."
Ben mendekat, untuk memeluk perempuan itu agar bisa berbagi ketenangan. Dea masih ingin berjalan tanpa tentu arah, sehingga ia sempat memberontak kecil di dalam pelukan Ben. Sampai akhirnya ia menyerah, dan melunak di dalam dekap pria itu.
Tidak ada yang bersuara di antara mereka pada awalnya. Ben terus menjaga kerapatan antara mereka, dan Dea hanya diam sedari tadi.
"Aku nggak tau ... aku cuman mau ... keluarga aku baik-baik aja, Ben. Aku ... nggak mau nama keluarga yang berusaha kami jaga jadi rusak gitu aja."
Ben mengangguk kecil beberapa kali, seolah ingin meyakinkan perempuan itu.
"Bisa diselesaikan," ucap Ben dengan sangat yakin. Ia menjauhkan wajah Dea sebentar hanya agar pandangan mereka bisa bertemu. "Dea cuman perlu percaya sama aku aja, oke?"
"Emang kamu bisa?" Dea dengan jelas meremehkan.
"Dih, nggak percaya." Ben balas mencibir. "Untuk selesaikan ini, gampang banget. Kita cuman perlu ... kelihatan deket."
...*...
__ADS_1
Dea mulai mengikuti setiap arahan Ben agar mereka benar-benar terlihat dekat. Sejak malam itu, keduanya hampir selalu menempel di luar kamar. Memancing banyak pandangan heran terhadap mereka, terutama Dion.
"Mau nyoba buktiin tuduhan itu nggak bener?" tebak Dion, yang sesuai dengan rencana. Ia hanya melirik sebentar, lalu fokus dengan kopinya.
Kahar melirik mereka sebentar, tampak datar. Tidak sebahagia sebelumnya.
"Papa beneran marah cuman gara-gara masalah gituan? Aku beneran ... nggak sengaja, Pa. Kalau aku tahu bakalan gitu ending-nya, jelas aku nggak bakalan pernah deketin dia."
"Itulah kenapa manusia harus pinter dalam bersikap, Dea." Kahar membalas dengan suara yang terdengar dingin. "Kamu sebelumnya sudah ditangkap basah pas di apartemen, depan suami kamu juga! Kalau memang nggak sengaja, kenapa nggak sengaja kamu sampai dua kali?"
Dea sekarang kehabisan kata-kata, dan hanya bisa memandang Ben seolah meminta bantuan.
"Maaf Pak Kahar, tapi saya pastikan mulai hari ini mantannya nggak bakalan pernah berinteraksi sama Dea lagi. Saya juga ... bakalan usaha sama Dea buat memperbaiki nama keluarga ini," kata Ben meyakinkan.
Kahar tampak masih tidak puas dengan jawaban Ben. Ia bahkan tidak lagi melirik menantunya itu.
Sudah sangat kecewa.
...*...
"Ayo, makan di meja depan, De. Biar sekalian bisa pamer ke pengunjung sama karyawan lain, biar kita kelihatan mesra," ajak Ben, yang sejujurnya terasa berlebihan bagi Dea.
Namun, perempuan itu tidak bisa menolak ketika Ben sudah menutup laptopnya semena-mena.
"Inget, De, selama misi ini masih berjalan, Dea nggak bisa nolak perintah aku!" kata Ben tegas, yang membuat Dea tidak dapat berkutik sedikit pun.
Perempuan itu akhirnya menuruti permintaan Ben, keluar dari ruangan. Tidak lupa, Ben yang memesan pada temannya makanan kesukaan Dea dan dirinya juga untuk dibawakan ke salah satu meja yang kosong.
Keduanya tidak bisa langsung sukses menjalankan makan siang yang romantis, karena Dea benar-benar terlihat sangat canggung. Ben sesekali melirik perempuan itu, kadang menggenggam tangannya untuk meyakinkan Dea.
"Seenggak menariknya aku, ya, De, sampai nggak mau ngelirik dikit aja?" tanya Ben, yang langsung membuat Dea membulatkan matanya kebingungan.
"Hah?" Dea hendak menyanggah tuduhan tersebut. Sehingga ia langsung menumpuk tangannya di atas tangan Ben. "Enggak. Enggak, Sayang ...."
Ben terkekeh mendengar bagaimana perempuan itu sangat kaku menyebutkan kata terakhir, tetapi ia sama sekali tidak menimpali.
__ADS_1
Makanan datang tidak lama kemudian, tetapi saat keduanya mengikuti arah kedatangan pelayan yang mengantar, Dea dan Ben malah fokus pada satu sosok yang baru saja masuk restoran.
Elvan, lagi.
"Cuek aja sama dia!" kata Ben, segera mewanti-wanti. Ia memegang kedua wajah Dea agar fokus pada dirinya saja. "Anggap dia nggak ada, lurus aja natapnya ke aku."
Dea mengangguki ucapan Ben, tetapi ia tampaknya sulit mengatur bola matanya untuk tidak melirik ke sosok Elvan, sehingga Ben yang harus bertindak. Ia menyendokkan makanan, dan mengarahkannya pada Dea.
"Sayang." Ben memanggil, dan Dea yang ragu mulai membuka mulutnya. Ini sedikit berhasil memusatkan perhatian sang istri padanya. "Aku boleh cobain menu kamu? Kayaknya enak."
Dea tanpa segan menyodorkan piringnya, yang seketika membuat Ben menatapnya malas sejenak.
Sementara Dea ikut berpikir: mau disuapi juga?
Perempuan itu sebenarnya geli, tetapi ia tetap mencoba. Menyendokkan makanannya pada Ben, dan pria itu benar-benar menyerupai bocah yang kegirangan saat membuka mulut menerima suapan sang istri.
"Lagi, lagi, Sayang." Ben terus meminta, dan Dea menyetujuinya.
Saat itu juga, Elvan berdiri tepat di samping meja mereka.
"Dea, saya mau bicara sebentar sama kamu," kata Elvan dengan suara tegas.
"Dea, Sayang ...." Ben juga mengambil alih fokus perempuan itu agar tidak mengikuti permintaan Elvan.
Dea tampak ragu pada awalnya. Bahkan, sendok yang akan ia sodorkan pada Ben hanya ia pegang saja dan ia biarkan mengambang di udara.
Ben yang muak dengan sikap perempuan itu merasa 'perintah' tidak akan bisa membuat Dea langsung tunduk begitu saja. Harus ada tindakan.
"Mau nyoba menu istimewa yang belum disediakan di restoran ini nggak, De?" tanya Ben.
Maka, Ben memegang tangan Dea yang menggenggam sendok. Perempuan itu sempat melotot dengan alis terangkat kebingungan ketika Ben melahap isi sendok, lalu bangkit berdiri, mencondongkan tubuh ke depan, lalu mencium bibir Dea.
Di depan semua orang dalam restoran.
__ADS_1