Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
57. Di Dua Tempat Berbeda


__ADS_3

Kebaikan dokter yang merawat Ben, membuatnya kesulitan untuk meninggalkan rumah sakit. Ia seperti terjebak, tetapi juga tidak bisa melawan permintaan sang dokter sebab ini demi kebaikannya sendiri.


"Kondisi kamu drop parah, Ben. Jangan tinggalkan rumah sakit sebelum kondisi kamu membaik." Begitu kata sang dokter dengan suara tegas, enggan dibantah.


Ben dengan wajah pucat dan lemas, tetap memberikan senyuman geli atas kepedulian berlebihan si dokter.


"Dokter nggak perlu khawatir," kata Ben dengan nada santai. "Saya nggak bakalan laporan ke Ayah kalau Dokter nggak jaga saya dengan baik. Nggak perlu terlalu peduli kayak gini, Dok, apalagi harus korbankan waktu luang Dokter buat saya."


"Ini bukan cuman sekadar janji ke ayah kamu, Ben," kata si dokter sembari mengecek hasil laporan yang ia bawa sekarang ini. Setelah selesai, ia beralih memandang Ben melalui kacamata perseginya. "Kamu sudah saya anggap anak sendiri. Saya jelas nggak mau anak saya kenapa-napa."


Ben meredupkan senyumnya, dengan pandangan yang berubah kosong. Ia menarik napas panjang, guna melegakan sedikit sesak dalam dadanya akibat tekanan pikiran yang ia rasa akhir-akhir ini.


"Kamu masih belum beritahu istri kamu, Ben?" tanya si dokter, menebak. Ia tidak memerlukan tanggapan apa pun, sebab diamnya Ben sudah menjadi pengganti jawaban 'iya'. "Kalau kamu memang nggak mau didukung sama istri kamu, minimal kasih wasiat, Ben. Ntar dia jadi janda, suruh milih yang waras dikit. Jangan kayak kamu. Disuruh berobat aja, kayak disuruh perang."


Ben tertawa kecil mendengarnya. "Dia lebih suka jadi janda, Dok."


Si dokter balas mendengkus panjang. "Kalian berdua ternyata sama-sama nggak waras. Harusnya kamu tadi saya bawa ke RSJ, bukan ke sini."


"Ya, harusnya, Dok." Ben sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan pria itu, malah menanggapinya dengan jenaka sembari mengangkat kedua bahu tidak acuh.


Dokter Ridwan bangkit dari duduknya di pinggir ranjang pasien. Ia sekali lagi menunduk untuk melirik catatan yang dibawa, membuat ekspresinya kembali serius.


"Saya sekarang nggak main-main, Ben. Nggak juga ngasih harapan palsu ke kamu seperti kemarin-kemarin," kata dokter Ridwan sembari memandang lurus pada Ben. "Kondisi kamu, semakin parah kuadrat. Kalau kamu nggak rutin berobat akhir-akhir ini, usaha kita tahun-tahun kemarin bakalan berakhir sia-sia. Uang, kesempatan, dan waktu yang kamu korbanin buat pengobatan ini, bisa berakhir sia-sia, Ben. Jadi, tolong keseriusan kamu. Kita harus tekan penyakitnya supaya kamu bisa lebih sehat lagi menjalani hidup. Pikirkan kesakitan ibu kamu selama melahirkan kamu, Ben. Jangan malah sia-siakan kesakitan beliau cuman karena sikap pecundang kamu ini."


Ben diam sejenak. Sejujurnya, ia baru memikirkan tentang orang tuanya sekarang. Sedikit tergugah, ketika dokter Ridwan membahas tentang ibunya, dan dibenarkan oleh Ben dalam hati. Nyawa yang ia dapatkan hari ini, sebagian besar dibantu oleh ibunya, dan dibesarkan oleh ayahnya.

__ADS_1


Namun di sisi lain, biaya dan usaha untuk pengobatan membuat Ben benar-benar ingin menyerah pada kehidupannya ini. Dokter Ridwan sangat senang membantu sebenarnya, tetapi sebagai manusia dengan kelebihan rasa segan, Ben tidak pernah mau membebani pria baik itu. Apalagi Dea.


"Ben ...." Dokter Ridwan memanggil dengan suara lirih.


"Iya, Dok. Nanti, kapan-kapan saya datang temui dokter lagi. Sekarang, saya harus pulang."


Dan sudah sangat hafal dengan kebohongan si pasien, dokter Ridwan berkacak pinggang. Pandangan malasnya ia arahkan pada Ben.


"Tidak ada pulang malam ini!" kata si dokter dengan tegas. "Karena kalau kamu paksakan, tengah jalan nanti, kamu bakalan balik rumah sakit dengan diantar banyak orang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Jadi, jangan paksakan diri. Malam ini, kamu tetap di sini!" mata Dokter Ridwan dengan tegas penuh penekanan.


Ben tidak diberikan kesempatan untuk menolak, karena si dokter sudah langsung pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan Ben yang memejam tidak berdaya di atas ranjang pasien.


Omong-omong, Ben mendadak kepikiran sesuatu, Di mana ponselnya?


Dea tidak tahu sudah berapa kali mencoba menelepon nomor Ben, tetapi sampai ponselnya kehabisan daya dan ia terpaksa harus men-charger ponsel sambil menelepon—tetap tidak ada jawaban.


Perempuan itu berakhir frustrasi, dan menjatuhkan dirinya di kasur empuk. Pandangan menerawang diarahkan ke langit-langit ruangan, mencoba menebak tempat mana yang suaminya datangi.


"Ben tadi susul Ibu ke rumah sakit." Begitu jawaban karyawan di restoran saat ia tanyai.


"Ben nggak pernah lagi mampir ke sini." Sementara itu jawaban dari ubi kos ketika Dea mencoba mencari ke sana.


Dea benar-benar merasa putus asa. Apalagi keterbatasan informasi tentang sahabat-sahabat dekat Ben, membuatnya buntu dalam mencari sang suami.


Perempuan itu memejam demi menenangkan pikiran yang semrawut. Ia berulang kali mengatur napas, untuk meyakinkan diri bahwa Ben tidak akan pergi ke tempat yang terlarang.

__ADS_1


Namun, ke mana pria itu pergi? Dea mengusap wajah secara kasar dengan rasa frustrasi.


Di saat ia merasa muak dengan posisi berbaring, ia menjadi duduk. Lalu bergeser ke pinggiran sudut tempat tidur dekat nakas, demi membuka laci dari sana. Mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sebuah map yang berisi tentang kontrak pernikahan mereka.


Semakin ke sini, Dea semakin merasa berat untuk melanjutkan kontrak ini. Bahkan sekarang, ia hanya sekadar menciptakan bayangan tentang Ben yang datang ke kelab, bersenang-senang dengan perempuan lain—padahal yakin suaminya tidak berbuat demikian—tetap saja berhasil membuat Dea merasa sesak karena sakit. Apalagi jika harus berpisah dengan pria itu.


Dea mengambil ancang-ancang hendak merobek kertas, tetapi mendadak urung ketika ia sudah berhasil menciptakan robekan kecil di ujung kertas. Mendadak saja terpikirkan sesuatu.


Jadi, ia meletakkan kembali kertas ke dalam map, kemudian memasukkan lagi ke laci sebelum ditutup seperti sediakala. Dea kembali tenang di tempatnya. Ia mengubah posisi menjadi setengah berbaring dengan bersandar di kepala ranjang.


Berulang kali menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Berharap dirinya bisa tenang, tetapi ....


Rasa mual menyeruak dari perutnya, naik ke kerongkongan. Buru-buru, Dea melompat turun dan berlari menuju kamar mandi. Ia mendorong pintu dengan keras tanpa memedulikan suara nyaring yang ditimbulkan.


Perempuan itu duduk bersimpuh dekat kloset, dan memuntahkan cairan dari perutnya berulang kali.


Sesekali, ketika gejolak itu mereda, Dea berniat kembali ke kamar. Namun detik berikutnya, ia kembali mual. Membuatnya terpaksa duduk bersandar di dinding kamar mandi untuk beristirahat. Kepalanya mendadak pusing, dengan tenaga yang nyaris terkuras habis hanya untuk sekadar mual.


Dea memejam dengan wajah pucat lemah. Ia memegangi perut sendiri, dan mengusapnya secara teratur. Selain perasaan tidak nyaman akibat mual, ada rasa penyesalan yang mulai mencuat dari sudut hatinya.


Andai tidak berbohong—tidak—andai kabar kehamilan asli ini diketahui lebih awal oleh Dea, tentu Ben tidak perlu kecewa. Pria itu mungkin akan berada di kamar ini, menemani dan membantu Dea, serta melayani perempuan itu.


Sayangnya, Ben sudah terlanjur kecewa, dan Dea hanya bisa menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang menyedihkan. Bersamaan dengan itu, setetes cairan asin mengalir dari celah mata kirinya, merembes membasahi wajah, lalu terjatuh ke ubin putih.


__ADS_1


__ADS_2