
Ben hampir kehilangan pertahanan diri sendiri setelah mendengar pengakuan Dion tersebut. Ia tetap berusaha duduk tenang di tempat, padahal dirinya sudah dipenuhi oleh perasaan gelisah yang tidak berujung.
“Y—ya. Aku tahu kalau Mas emang cinta sama aku,” kata Dea dengan sangat kentara terdengar gugup. Seolah berusaha untuk terlihat tidak tahu apa maksud ucapan sang kakak. “Aku juga sayang sama Mas, sama Dika juga.”
Ben semakin mempertajam indra pendengarannya ketika rasa penasaran semakin bertumbuh pesat selama menunggu lanjutan penjelasan dari sang kakak ipar.
“Saya cinta kamu lebih besar daripada yang kamu rasakan ke saya atau ke Dika, De.” Dion terdengar tidak lagi ragu saat hendak mengatakan kejujuran perasaannya. “Saya cinta kamu sebagaimana seorang laki-laki ke perempuan, De.”
Hening. Ben tidak mendengarkan balasan dari Dea. Ia turut tegang dengan penuturan Dion, dan selama menunggu respons yang akan Dea berikan.
“Mas.” Dea mulai bersuara setelah hening beberapa menit. Ben langsung memperbaiki posisi duduknya agar bisa mendengarkan dengan saksama balasan dari sang istri. “Mas lupa minum obat ya? Kok bicaranya ngaco gini.”
Dea tertawa keras yang terdengar sangat garing karena dipaksakan. Perempuan itu sangat jelas berusaha terlihat polos dan normal, dan Ben tahu sendiri bahwa hal itu sangat sulit dilakukan olehnya.
“Dea,” kata Dion dengan suara yang lebih rendah dan intens. “Saya serius.”
Dea semakin membeku. Ia hanya bisa memandang lurus pada kedua mata sang kakak untuk mencari tanda-tanda bercanda, tetapi Dea tidak dapat menemukannya kecuali hanya ada keseriusan pada sang kakak.
“Saya bahkan berencana mau menikahi kamu setelah kontrak pernikahan kamu dan Ben sudah berakhir, De,” lanjut Dion, yang semakin membuat Dea tidak bisa bereaksi.
Ben mulai kehilangan kesabaran, dan mencoba bertahan lebih lama dalam penyamaran dengan meremas paha dengan sangat kuat demi melampiaskan kekesalannya.
“M—Mas ....” Dea bersuara dengan sangat gugup bercampur kebingungan. “Mas aneh, deh. Otak Mas kayaknya lagi eror hari ini.”
Dea berdiri cepat sampai menimbulkan suara nyaring dari gesekan kursinya dan lantai, disusul oleh Dion yang Enggan menjauh dari sang adik.
“Aku bakalan temui Mas besok aja buat lanjutin pembahasan kerjaan kita,” kata Dea sembari memperbaiki posisi tasnya di pundak. “Aku harus pulang sekarang sebelum Ben tahu posisi aku sekarang ini.”
“Dea ....” Namun, Dion tidak langsung membiarkan sang adik meninggalkan dirinya. Jadi, ia menahan lengan bawah Dea sehingga sang adik kembali fokus padanya. “Saya serius, De. Nggak ada gangguan otak dan sejenisnya. Saya beneran cinta sama kamu, dan mau menikahi kamu, De.”
Secara tegas, Dea mengentak tangan Dion sampai terlepas sempurna. Ia mundur karena perasaan syok yang tidak berujung. Tampak sangat ketakutan dengan sang kakak untuk hari ini.
__ADS_1
“Aku bakalan temuin Mas kalau udah waras,” kata Dea dengan nada bercanda. “Mas jaga kesehatan, ya? Aku nggak mau Mas-ku ini kenapa-napa.”
“Standar laki-laki yang akan kamu sukai, semuanya berdasar ke saya, kan, De? Kamu selalu bilang, kamu cari suami yang seperti saya,” kata Dion yang memang benar adalah kenyataan. “Kenapa nggak nikah sama saya aja secara langsung? Saya pastikan, De, kamu bakalan bahagia sampai akhir hayat.”
“Mas ....” Dea memanggil dengan suara frustrasi.
“Kita bakalan bisa bangun usaha Papa dengan lebih baik kalau kita sama-sam—“
PLAK!
Ben berdiri tepat di depan Dea untuk memberikan tamparan tersebut kepada sang kakak ipar.
...*
...
Wajah Dea sudah memerah sempurna, seharusnya terasa perih karena sudah berulang kali ia mengusap wajah secara kasar. Namun, perempuan itu tetap mengulanginya beberapa kali, seolah ingin menyadarkan diri sendiri.
“Ben, aku tadi mimpi aja, ‘kan? Tadi ... itu cuman mimpi, ‘kan? Yakin, aku pasti mimpi. Bangunin aku sekarang.” Dea berbicara dengan nada bingung. Ia melirik cemas pada Ben, dan mengguncang pelan lengannya. “Nggak, nggak mungkin ... Mas Dion .... Aku pasti gila. Gila.”
Dea tidak lagi mengusap, sekarang menampar wajah kanan-kiri, dan Ben segera menahan kedua pergelangan tangan perempuan itu.
“Udah, De. Udah.”
“Aku .... Nggak bisa mikir jernih. Gimana bisa, aku mimpiin hal seaneh itu?” Dea tertawa kering, secara jelas memaksakan hal itu. Seolah menertawakan pikirannya sendiri. “Gila. Aku padahal nggak pernah mikir kayak gini. Kenapa bisa, aku mimpi kayak gitu.”
“Dea ....” Ben memanggil dengan suara lembut. Ia balas menggenggam lembut pergelangan tangan istrinya. “Kamu jangan kayak gini, De. Ini bukan kesalahan kamu.”
“Salah aku, Ben, aku yang mikir aneh-aneh. Aku seharusnya nggak mikir aneh, sampai mimpi—“
“De!” Kali ini, Ben secara jelas memotong ucapan istrinya dengan lebih tegas. “Kamu nggak usah pikirin itu. Dion yang nggak waras. Kamu jangan bebani diri sendiri kayak gini, Sayang.”
__ADS_1
Dea semakin terlihat frustrasi. Ia menyandarkan kepalanya di jendela, sembari memandang kosong ke depan. Ujung kuku dari jemarinya ia gigit karena gugup, sembari memikirkan semua ini.
“Aku nggak salah denger beneran, serius?” tanya Dea dengan suara bergetar tidak percaya. “Mas Dion ... aku .... Aku nggak mau percaya sama ingatan sendiri, Ben. Plis, kasih tahu aku secara jujur. Apa ... apa yang sebenernya aku sama Mas Dion bicarain? Kamu tadi nguping, kan?”
Efek dari Dea, Ben juga tertular kebingungan dan frustrasi. Ia bimbang harus menjelaskan dari mana, tetapi ia tahu, bahwa Ben harus menjelaskan sekarang agar Dea lebih waspada pada sang ipar.
“Dion memang bukan kakak kandung kamu, De.”
Sekarang, Dea melotot ke arah Ben. Ia memandang tidak percaya. “Kamu tahu?”
Secara ragu, Ben memberikan dua buah anggukan untuk membenarkan pertanyaan sang istri.
“Itu alasan, kenapa Pak Kahar mau aku atau Dika yang gantikan beliau. Karena Pak Kahar nggak mau, perusahaannya diteruskan oleh orang yang bukan dari keluarganya,” jelas Ben dengan tenang.
Berhasil membuat Dea membekap mulut yang terbuka lebar dengan keempat jemarinya. Masih sulit mempercayai ini.
“Masalah suka sama kamu, itu nggak menutup kemungkinan, De. Dia over protektif sama kamu. Lebih dari saudara kandung. Aku udah mulai ngerasa aneh, pas dia marah kamu tinggal di kontrakan saya. Dia jadi orang paling marah, kalau kita ngapa-ngapain. Dia nggak bisa bikin aku berpikir positif.”
Dea masih bungkam. Ia hanya bisa memalingkan wajah ke arah lain.
“Nggak usah dipikirin, De. Kamu sekarang udah tahu, jadi ... tolong jaga jarak sama Dion. Setelah tahu ini, aku makin nggak suka kalau kamu berurusan sama dia,” kata Ben, yang sama sekali tidak berhasil membuat Dea meninggalkan kebungkamannya. “Kenapa masih kepikiran, De? Udah. Jangan terlalu stres. Serius, aku khawatir sama sikap kamu sekarang ini. Kamu cuman perlu fokus sama aku, dan lupain aja sama semua ucapan Dion. Anggep aja angin lalu, atau omongan nggak berguna.”
Dea menggeleng pelan, yang tidak dilihat Ben sama sekali. Ketika perempuan itu menoleh ke Ben, pandangan cemasnya berubah. Ia sempatkan meneguk ludah sekali, lalu menimpali ucapan Ben.
“G—gimana, Ben?” kata Dea dengan suara frustrasi. “Yang Dion bilang, ada benernya. Jujur, semua standar laki-laki yang aku sukai, semua ada sama dia.”
Ben balas memandang Dea beberapa detik, menunjukkan kerutan tidak suka di keningnya.
“Aku bisa aja move on gampang dari Elvan, karena sikap egois dia. Tapi sama Mas Dion? Gimana caranya ... aku bisa nggak peduli? Dia ... tipe cowok aku banget. Gimana sekarang, Ben?”
...****************...
__ADS_1