
Ben tidak tahu pasti, sudah berapa banyak pil mereda nyeri ia minum sejak semalam, tetapi pagi ini ia minum lagi hanya agar bisa bersikap biasa saja di depan keluarga besar.
Walau hampir mustahil. Karena secara samar, pria itu masih tetap terlihat pincang.
"Ben, baru pulang?" Dika menjadi orang pertama yang Ben temui saat baru saja tiba di rumah. "Semalaman perasaan nggak pernah nongol. Ke mana aja, Ben?"
"Ada urusan di luar," kata Ben, disertai senyum canggungnya. "Yang lain udah pada sarapan?"
"Belum. Langsung aja ke ruang makan. Mbak Dea juga masih ada di sana. Cepetan gih. Semalaman full dia meriang gegara kamu nggak pulang-pulang."
Ucapan Dika ditanggapi Ben sekadar dengan senyuman tipis. Ia mengangguk kecil dan segera menyingkir dari ruang tengah tempat mereka berpapasan saat ini.
Awalnya mau ke ruang makan untuk bergabung dengan yang lainnya, tetapi karena pertimbangan beberapa hal: bahwa kondisi Ben belum pulih sepenuhnya, ketidaksiapan dirinya melihat interaksi mesra antara Dion dan Dea, serta belum adanya persiapan jawaban tentang kepergiannya semalam penuh, maka Ben mengurungkan niat dan segera ke kamar saja. Berniat untuk berangkat ke kantor sebelum keluarga besar melihat keberadaannya.
Ben hanya sekadar mengganti pakaikan saja. Tidak ada yang perlu tahu ke mana dirinya semalaman ini.
Itu rencana Ben, tetapi ia baru saja membersihkan tubuh ketika menemukan sosok lain di dalam kamar. Pria itu sempat berhenti di ambang pintu kamar mandi karena bingung harus melakukan apa. Menghampiri perempuan itu, atau kembali masuk ke kamar mandi.
Kebetulan, Dea sedang sibuk dengan ponselnya sehingga Ben memiliki kesempatan itu. Sayangnya, ketika udah saja berbalik untuk kembali ke kamar mandi, sebuah seruan sudah ia terima menyebut namanya.
"Ben."
Seketika, Ben menghentikan niatannya, dan menoleh ke sumber suara. Pada Dea yang sama sekali tidak menurunkan ponsel dari depan wajahnya, tetapi tatapan perempuan itu kini mengarah tajam pada sang suami.
"Aku tunggu penjelasan kamu," kata Dea dengan suara dingin. Memberikan kesan intimidasi yang sangat kuat dalam dirinya.
__ADS_1
Ben tanpa sadar menenggak ludah secara kasar karena kebingungan. Ia melirik kanan-kiri untuk memaksa otaknya mengarang alasan. Dan Dea begitu setia menunggu, dengan tatapan menuntut.
"Kamu gabung ke perusahaan Papa, bahkan tanpa ngabarin aku sama sekali, Ben? Serius?"
Pertanyaan Dea tersebut, sontak membuat Ben langsung melebarkan mata. Pria itu belum memberikan penjelasan apa pun, atau sekadar memikirkan jawaban atas tindakannya ini.
"Kalau bukan Mas Dion yang ngabarin, aku nggak bakalan tahu kalau karyawan aku ternyata resign demi jadi bos di perusahaan besar." Di akhir kalimatnya, Dea menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum sarkas. Ia merotasi mata, dan meninggalkan Ben sebagai objek pandangannya. Kembali pada ponsel, sementara dirinya kembali berbicara, "Aku nggak masalah kalau kamu nggak anggap aku penting. Seenggaknya, kabarin lah, Ben. Biar aku ngasih kamu ucapan selamat."
"Dea ...." Ben dengan mudah tidak tahan atas sikap sarkasme yang Dea tunjukkan. Ia akhirnya maju untuk mengikis jarak, sehingga ia bisa menjelaskan alasannya secara intens.
Namun, Dea malah berdiri, dan sedikit menyamping, memberikan kesan penolakan atas pendekatan yang Ben ingin lakukan.
"Aku nggak sempet bilang sama kamu, karena kita nggak pernah ketemu paginya," kata Ben menjelaskan. "aku rencana mau ngabarin kamu pas jam makan siang kemarin, tapi aku bahkan nggak bisa keluar dari kantor atau sekadar pegang hape pas jam istirahat, karena Dion selalu larang aku dengan dalih aku lagi sibuk belajar."
"Terus, semalaman penuh kemarin, kamu nggak ngabarin juga, Ben. Apa Mas Dion juga yang minta kamu buat jangan balik ke rumah kemarin malam?" Sekarang, Dea kembali melirik Ben dengan ekspresi malas. Ia memiringkan kepalanya, menuntut jawaban dari sang suami.
Dea langsung mengibaskan tangan, sama sekali tidak memiliki niatan untuk mendengarkan penjelasan suaminya. Ekspresinya semakin masam, tidak lagi disembunyikan untuk sekadar sarkasme. Dea benar-benar marah atas keputusan suaminya.
"Demi apa pun, Ben," kata Dea dengan penuh penekanan. "Kalau kamu bikin perusahaan Papa jadi kacau, aku serius bakalan jadiin kamu tumbal persugihan buat dapat uang lagi!"
Meski terdengar konyol dan bercanda, Ben sama sekali tidak tersenyum atau merasa tenang atas ucapan Dea. Ia sangat tahu, bahwa ucapan perempuan itu amat serius. Sehingga, Ben hanya bisa memberikan dua buah anggukan kaku.
"Aku bakalan berusaha buat jaga amanah," kata Ben dengan sangat yakin.
"Andai ini kayak ftv kisah nyata, Ben, di mana buat jadi pengusaha besar, cuman perlu tekad doang," kata Dea dengan dengkusan geli. "Padahal, satu keputusan salah dari orang penting perusahaan, bisa bikin ribuan orang di perusahaan Papa kehilangan pekerjaan, dan usaha Papa selama bertahun-tahun, bisa hancur gitu aja."
__ADS_1
Ben merasa semakin berat beban di pundaknya. Ia langsung memberikan anggukan patuh lagi untuk sang istri.
Dea menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara kasar. Terlihat, bahwa dirinya tidak lagi berminat untuk lanjutkan obrolan. Maka, Ben berbalik, menuju lemari. Ia membuka pintunya, dan memilih setelan untuk dikenakan hari ini.
Ketika sudah menarik kemeja dan celana bahan hitam, pergerakan Ben mendadak berhenti saat menemukan sebuah kotak tersodor di depan wajahnya. Ia menelusuri lengan yang memegang kotak itu, dan menemukan bahwa Dea yang memberikannya.
"Aku nggak pernah suka rayain kayak ginian, karena nggak penting-penting amat. Tapi karena kamu udah ngasih banyak hal kemarin sebelum pergi, jadi ...." Dea 5erluhat sangat berat mengatakan kalimat selanjutnya, bahkan harus meneguk saliva secara kasar, dan dengan gugup menatap lurus pada Ben. "Happy valentine. Thanks buat hadiah yang kamu kasih kemarin."
Ben diam-diam menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman puas. Ia dengan penuh semangat menerima kotak dari Dea. Belum sempat mengatakan terima kasih, Dea sudah menyingkir dari hadapannya, mengambil tas pundak, dan keluar dari kamar. Menyisakan Ben yang masih membatu di tempat, dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya.
Ben menyampirkan pakaian yang sudah ia keluarkan di pundaknya, lalu segera duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan tidak sabar. Kotak yang dilapisi kertas kado berwarna biru gelap itu segera dibuka olehnya penuh antusias.
Namun, Ben mencebikkan bibir ketika menemukan kotak lainnya di dalam sana. Ia kembali membukanya, masih bersemangat seperti sebelumnya. Namun, lagi, Ben menemukan kotak lain. Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi penuh semangat untuk membuka kotak lainnya, kotak selanjutnya, sampai kotak entah yang ke berapa, dan akhirnya tiba di kotak yang paling tipis.
Ben semakin penasaran dengan isinya. Ukurannya hampir sama dengan satu jari tangan, sehingga Ben kesulitan menebak isinya.
Ia kembali membukanya. Merobek setiap penutupnya, dan tidak menemukan kotak lain di dalamnya. Namun, terlihat ... kosong.
Ben terus merobek, membuka, dan akhirnya menemukan sebuah benda familier dengan bentuk pipih kecil nan tipis memanjang.
Ben menahan napas, ketika membalik benda kecil itu, dan menemukan dua garis merah di sana.
Sebuah testpack ... dengan tanda positif.
Mata Ben langsung melotot lebar, dengan binar takjub.
__ADS_1
"Dea ... hamil?"
...****************...