Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
35. Di Pangkuan Ben


__ADS_3

“Kamu mau cari tahu apa lagi, De?” tanya Ben, setelah makan malam langsung diseret paksa oleh sang istri menyusuri lorong yang sama sekali tidak mengarah ke kamar mereka.


“Ikut aja!” balas Dea dengan tegas dan penuh penekanan. Namun, perempuan itu merasa tidak puas dengan jawabannya sendiri. Ketika ia menoleh, Dea mendapati ekspresi tidak nyaman dari sang suami. “Jadi gini,” maka Dea mencoba menjelaskan agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka, “Aku tuh curiga, ada sesuatu di antara kita bertiga. Aku baru ngerasa, kalau ada yang aneh dari setiap pertemuan kita dan Elvan. Kayak ... semuanya secara kebetulan mau memperburuk hubungan kita.”


“Kan, akhirnya kamu sadar juga. Aku sudah curiga dari awal sama dia. Dia itu sangat patut untuk dicurigai, karena di mana-mana, dia selalu aja di sekitar kita.”


“Tapi, Ben, daripada Elvan, aku nggak tau kenapa malah nggak suka sama tukang foto. Malah semalam, dia edit-edit aneh foto yang kamu terima itu. Seriusan, aku bahkan nggak nyentuh Elvan sama sekali. Bahkan sengaja ngambil jarak satu meter dari dia, Ben!”


Dibandingkan tertarik dengan ucapan sang istri, Ben malah merotasi bola matanya. Pria itu tampak tidak setuju dengan opini Dea.


“Ben!” Dea merasa kesal dengan respons tersebut, jadi Dea setengah berteriak. “Kamu nggak percaya aku?”


“Aku percaya kamu, tapi nggak sama Elvan!” balas Ben. “Emang dia yang mau bikin hubungan kita hancur, De. Ngapain kamu malah curiga sama seseorang yang bisa aja termasuk dari rencananya Elvan? Dia bisa aja mulai semuanya dengan merusak hubungan kita. Barulah, dia sok-sokan deketin kamu. Semua kemungkinan bisa aja terjadi, De.”


Namun, perempuan itu masih tidak mau mengalah. Tetap kukuh pendirian, dibuktikan dari caranya mengibaskan tangan di depan Ben untuk menghentikan topik saat ini.


“Kamu ikut rencana aku aja pokoknya!” kata Dea dengan tegas. “Aku bakalan ajak Elvan buat bicara lagi, dan tugas kamu adalah nemuin seseorang yang mencurigakan di sekitar kita. Kalau ada, kamu balas foto aja sekalian! Biar aku yang kasih pelajaran!”


Ben tampak sulit menyetujui ide ini, terlihat dari bagaimana ia merotasi bola mata dengan malas. Namun, demi Dea, pria itu hanya bisa mengangguk malas.


Dea langsung bersemangat. Di kamar mereka, perempuan itu sibuk chatting dengan sang mantan.


^^^Saya perlu bahas foto yang Ben terima pagi ini. Kamu ada waktu, Van?


^^^


Setelah mengirimkan pesan, Dea melirik malas ke sampingnya, di mana kepala Ben mengintip demi melihat isi chat-nya.


“Ben, aku ajak kamu di rencana ini. Kenapa masih nggak percaya?”

__ADS_1


“Dea ....” Ben balas dengan suara memelas. “Aku bukannya nggak percaya kamu. Aku nggak percaya sama mantan kamu itu, De.”


“Tapi aku sama Elvan nggak ngap—“


Ting!


Ucapan Dea terpaksa diinterupsi oleh suara notifikasi balasan dari Elvan. Perempuan itu buru-buru membaca, meski masih merasa tidak nyaman dengan sikap Ben yang terus mengintip.


Elvan Dexter :


Sorry, kayaknya nggak sempet, De. Saya sudah di parkiran, mau pulang.


Mata Dea melotot sempurna membaca balasan itu. Ia tidak bisa membiarkan Elvan pergi tanpa mengetahui satu petunjuk mengenai pengecoh hubungannya dan Ben. Namun, sang suami yang terus menempelkan kepala mereka demi mengintip isi pesan, membuat Dea benar-benar risi untuk mengetik balasan.


Sehingga, Dea memutuskan untuk menyelesaikan ketakutan pria ini lebih dulu. Dea menoleh ke arah Ben, dan tanpa aba-aba, ia langsung memajukan wajahnya untuk memberikan satu serangan kilat.


Sebuah kecupan di pipi Ben, yang berhasil membuat pria itu membeku kebingungan.


Sementara Ben, setelah diberikan vitamin kepercayaan dari sang istri, ia langsung mengiyakannya dengan anggukan kecil.


“Oke, Sayang. Nanti bilang aja kamu perlu apa, oke?” kata Ben, menyanggupi.


Dan Dea hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Ia sekarang bisa fokus pada chatting-nya lagi.


^^^^^^Saya nggak mau tahu! Kamu sudah bikin hubungan saya sama Ben renggang! Kita ketemuan, atau jangan pernah temui saya lagi sepanjang sisa umur kamu?!


^^^^^^

__ADS_1


Dea menambahkan stiker marah untuk memperjelas kesungguhannya saat ini. Ia tidak dapat meninggalkan aplikasi perpesanan dan kontak Elvan, sebab pesan tersebut langsung mendapatkan dua centang biru setelah baru saja terkirim.


Namun, kali ini Elvan tidak langsung mengetikkan balasan. Membuat Dea bertanya-tanya mengenai balasan pria itu. Ia mengetuk-ngetukkan ponsel di telapak tangan, sembari menunggu bunyi notifikasi.


Di saat itulah, Ben menarik lembut kedua bahu Dea untuk berbaring telentang dengan berbantalkan dua pahanya. Sang istri sempat syok pada awalnya, berniat untuk kembali duduk di pinggir ranjang. Namun, Ben menahan kening Dea dengan telapak tangannya.


“Kalau kayak gini, aku nggak bakalan baca pesan kamu, De,” kata Ben yang dibenarkan dalam hati oleh Dea.


Jadi perempuan itu pasrah saja. Ia membiarkan Ben mengusap dan menyisiri rambutnya dengan sangat lembut, sementara Dea menunggu balasan.


“Ben,” panggil Dea untuk memulai opini yang akan ia katakan. “Aku bukan bermaksud buat bela Elvan sampai ngelakuin kayak gini. Aku ... kenal banget sama Elvan. Aku yakin, dia nggak punya niatan sama sekali buat rusak pernikahan kita.”


Seketika, Ben langsung menghentikan usapannya.


Dea yang merasa khawatir, segera mencari padanan kalimat lain untuk memperbaiki suasana di antara mereka saat ini.


“Kalau emang Elvan berniat buruk, dan emang mau ajak aku buat ngelakuin sesuatu sejenis ... selingkuh, dia bakalan lakuin pas aku masih lajang, Ben. Ngapain dia nambah beban pikiran dengan rusak hubungan kita yang udah terikat. Buang-buang waktu banget buat seorang Elvan Dexter yang punya banyak kesibukan.”


Ben masih tidak luluh dengan penjelasan itu.


Sehingga Dea mengambil salah satu tangan Ben yang lain, untuk dibawa di atas dadanya.


“Dari kemarin, aku selalu mikir kalau apa yang kita lakuin ini nggak berguna, Ben. Kayak, sia-sia aja bikin orang lain percaya kalau aku bukan orang buruk seperti foto-foto mereka lihat. Tapi sekarang, aku mendadak semangat buat selesaiin misi ini dengan baik, karena alasan lain.”


Seketika, kalimat terakhir Dea berhasil mengundang rasa penasaran Ben. Pria itu mengerutkan kening, dengan wajah bingung yang kentara.


“Alasan, lain? Apa?” tanya Ben.


Dea menampilkan segaris senyum, sembari memegang tangan Ben di puncak kepalanya. Memberi isyarat agar pria itu melanjutkan kegiatan menenangkan tadi: mengusap rambutnya. Ben mengabulkan permintaan tanpa suara itu.

__ADS_1


“Aku dulu cuman mau jaga nama baik aja di depan klien supaya dapat kepercayaan mereka, tanpa peduli orang sekitar aku,” kata Dea dengan suara lemah. “Tapi sekarang, aku merasa punya kewajiban dan keharusan lain, alasan yang bikin aku semangat menjalani misi ini. Aku ... harus jaga hati dan kepercayaan kamu terhadap ikatan pernikahan kita ini.”



__ADS_2