Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
68. Keputusasaan Dua Manusia


__ADS_3

“Aku takut ... kehilangan kamu, Ben.”


Ben sempat tertegun sejenak mendengar kalimat lirih yang bercampur putus asa dari istrinya. Selama beberapa detik, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Sampai matanya mulai mengerjap beberapa kali, dan pria itu mulai tersadar.


Ben mencoba untuk mencairkan suasana dengan tersenyum geli. Ia menarik tangannya yang sebelumnya mengusap lembut rambut sang istri, agar bisa menciptakan jarak di antara mereka, tetapi Dea mencegah. Ia menahan tangan pria itu agar tetap berada dalam jangkauannya.


“Cie ... yang udah bucin berondong, cie ....” Ben berniat menggoda istrinya, agar Dea mengelak—seperti biasanya. Sehingga apa yang Ben sedikit khawatirkan, tidak terjadi.


Namun, ekspresi Dea sama sekali tidak kesal—dalam prediksi Ben. Perempuan itu tetap memandang lurus padanya, hampir tanpa berkedip. Menunjukkan betapa serius sang istri terhadap ucapannya tersebut.


“Takut kehilangan amat, De, kayak aku oksigen kamu aja.”


“Kamu emang bukan oksigen,” balas Dea sembari menunduk dalam kebingungannya mencari kalimat yang sesuai. Setelah dapat, ia kembali memandang suaminya dengan penuh keseriusan. “Tapi aku takut ... kalau kamu ngasih sikap yang sama ke perempuan lain. Aku nggak rela kalau kamu ketemuan sama perempuan lain yang nggak ada hubungannya sama kamu. Aku nggak rela kalau ... suatu saat nanti, kamu bakalan berpaling ke perempuan lain.”


Ben semakin kaku di tempat. Ia bingung membalas, jadi berniat untuk memalingkan pandangan. Napasnya ditarik panjang, kemudian tertahan otomatis saat Dea memaksa Ben agar tetap memandang padanya.


“Ben,” bisik Dea dengan suara lirih dan ekspresi lebih serius dari sebelumnya. “Kayaknya ... aku ... mulai ... berubah pikiran.”


Ben tidak bertanya lebih lanjut, hanya mengerutkan kening dalam kebingungan.


“Aku pikir, sekarang ... perjanjian pra-nikah kita nggak perlu dilanjutin. Nggak perlu ada batasan pernikahan. Aku mau kalau kita lanjut terus pernikahan ini, sampai anak ini lahir, dan kita rawat sama-sama. Aku mau kamu tetep jadi suami aku, dan kamu nggak perlu berusaha buat nyoba-nyoba nyari selingkuhan yang bakalan jadi alasan perceraian kita. Nggak perlu ada perpisahan. Aku ... mau selamanya pernikahan ini berlangsung.”


Permintaan itu diucapkan Dea dengan penuh harapan. Bahkan matanya melebar menyimpan permohonan mendalam. Namun, Ben sama sekali tidak menampakkan ekspresi tertarik. Malah berusaha menunduk untuk menghindari pertemuan langsung pandangan mereka.


Dea mulai peka dengan respons di luar kehendak yang ia terima dari Ben. Ekspresi permohonan tadi, seketika meredup berubah menjadi kecemasan yang mendalam.


“Ben.” Dea menuntut jawaban, bahkan mengguncang wajah Ben agar segera membalas. Dirinya benar-benar tidak sabar.


“Dea,” panggil Ben dengan suara lirih. Ia melanjutkan elusan lembutnya di rambut Dea dengan pandangan lurus penuh keberanian. “Kamu harusnya ingat pas aku tanda tangan perjanjian kemarin.”


Dea mengerutkan kening dalam diamnya. Sebagai bentuk pemberian kesempatan untuk Ben melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Aku terima pernikahan ini, karena durasinya cuman setahun. Itu alasan utama aku menikahi kamu,” ucap Ben dengan suara lirih dan hati-hati. Namun, bagaimanapun lembutnya ia berbicara, Dea tetap terguncang mendengarnya. Meski demikian, Ben sama sekali tidak berniat untuk meralat ucapannya. “Sampai sekarang pun, alasan aku tetap jadi suami kamu sampai sekarang, adalah waktu satu tahun tadi. Jadi ... maaf.” Ben semakin memelankan suaranya. Benar-benar tidak sanggup melihat cairan bening yang mulai terkumpul di mata istrinya. “Aku nggak bisa lanjut pernikahan seperti yang kamu mau.”


Dea menjatuhkan tangannya dari wajah Ben dengan kekecewaan yang kentara, lalu bertahap mengepal kuat saat tiba di depan dada Ben. Ia tidak perlu memejam, dan air matanya sudah jatuh membasahi pipi.


Perempuan itu memukul suaminya dua kali tanpa perhitungan sama sekali untuk menunjukkan bentuk kekecewaannya.


“Jadi, kamu ... nikah sama aku, sebenarnya buat apa, Ben?” tanya Dea dengan suara bergetar karena tenggorokan yang tercekat sakit. “Uang? Atau cuman sekadar nyoba tubuh aku, hah?”


Ben menelan ludahnya sekali untuk melancarkan tenggorokannya berbicara bohong. “Dua-duanya.”


Dea langsung menatap tajam pada Ben, dengan sklera memerah sempurna.


Merasa belum cukup, Ben menambahkan kesakitan telak untuk sang istri.


“Siapa yang nggak penasaran sama tubuh cantik perawan tua kaya seperti kamu, De? Nggak ada. Termasuk aku.”


Dea dengan kasar mendorong Ben sampai terjatuh dari tempat tidur. Ia lalu bangun dengan kasar, menunjukkan kemarahan yang bercampur air mata kekecewaan. Dea turun dari tempat tidur, meninggalkan ruangan ini dan suaminya.


Stadium akhir. Tidak ada harapan untuk sembuh.


Lima kata itu yang menjadi alasan mengapa Ben bukannya berbelok ke rumah Ridwan—sesuai kesepakatan saat siang hari—dan malah meluruskan arah motornya untuk pulang ke rumah.


Pria itu tiba di rumah lebih awal dari Dea, padahal seingat Ben, sang istri sudah lebih dahulu pulang dibanding dirinya.


Hal itu sempat membuat Ben khawatir. Namun berlandaskan alasan bahwa Ben belum mengenal jadwal pekerjaan Dea dengan baik, maka pria itu mencoba berpikir positif. Bahwa istrinya sedang sibuk dengan pekerjaan entah di mana itu.


Maka, ia dengan santai tiba di kamar. Niatan untuk membersihkan tubuh, ditunda sejenak oleh Ben. Pria itu malah duduk di kursi kerja Dea setelah menarik buku dari bawah tempat tidur.


Deretan angka dan list tulisan, kembali ia isi. Sesekali terlihat kebingungan dalam pertimbangan, dan seperti kemarin, Ben tetap berakhir dalam keputusasaan.


Pria itu tampak pasrah ketika mengeluarkan dompetnya, dan menarik sebuah kartu dari sana. Disisipkan di dalam buku, kemudian diletakkan di laci nakas paling bawah.

__ADS_1


Ben meninggalkan tempat kerja Dea, untuk memasuki kamar mandi. Membersihkan tubuh, lalu bersiap.


Sampai hampir tiba jam makan malam, Ben mulai gelisah saat istrinya sama sekali tidak menunjukkan diri.


“Dea ke mana, Ben, kok belum pulang?” tanya Kahar saat ia akan memulai makan malamnya.


“Tadi, sudah pulang lebih dulu, Pak, cuman saya nggak paham, kenapa Dea juga belum sampai dari tadi, Pak. Saya pikir, dia urus kerjaan di luar, makanya saya belum nyariin,” jawab Ben.


Tepat saat itu juga, sebuah seruan terdengar dari jauh.


“Nggak usah sok peduli. Udah telat. Saya bisa urus adik saya sendiri!”


Suara itu dari Dion yang berjalan dengan kedua tangan mengangkat tubuh lemas Dea. Pemandangan itu sontak membuat Ben langsung mendekat, disusul oleh Kahar, Diana, lalu Dika.


“Dea kenapa?” tanya Ben, sembari menyesuaikan ritme langkahnya dengan Dion agar bisa melihat wajah lemah Dea.


Saat itulah, Ben mulai mencium aroma asing dari kakak-adik itu. Ia memandang heran pada Dion, yang mendapatkan balasan tajam.


Dion tidak mengatakan apa pun, sampai ia meletakkan Dea yang bergerak gelisah berbaring di atas tempat tidur. Ben berinisiatif cepat untuk melepaskan sebelah sepatu Dea yang tersisa.


“Dea mabuk?” tanya Kahar, yang langsung mendapatkan semua perhatian orang di dalam kamar tersebut.


Dion menghela napas panjang, kemudian mengangguk.


“Kok bisa?” Sekarang, Diana yang berbicara dengan nada syok. “Dea kenapa bisa mabuk sih? Kok nggak mikir, dia lagi hamil. Kenapa ... kenapa malah minum, sih? Dia nggak biasanya gini, apalagi sampai teler. Kok bisa?” Diana terus menuntut jawaban dari Dion.


Sementara Dion memandang Ben sebentar seolah mengalihkan kesalahan pada pria itu.


“Coba tanya suaminya, Ma. Dia ngapain istrinya sampai seputus asa ini.”


Sekarang, semua pandangan menuntut, kini beralih pada Ben yang kebingungan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2