
Tidak ada obrolan antara Dea dan Ben setelah perdebatan kecil mereka setelah gadis itu mandi tadi, sampai makan malam selesai, dan keduanya kembali bertemu di kamar.
Dea tidak terlalu menganggap serius apa yang Ben katakan, bahkan dengan santai duduk di kasur sembari bersandar pada kepala ranjang. Di pangkuannya sudah ada laptop untuk mengecek pekerjaan. Hanya sesekali—ketika Ben entah melakukan apa hingga menghasilkan suara yang cukup nyaring—Dea melirik pria itu.
Sisanya? Bodo amat.
Sampai sisi kosong tempat tidur bergelombang kuat, mengacaukan keseimbangan Dea hingga hampir jatuh. Beruntungnya, tangan perempuan itu dengan cepat berpegangan pada lengan Ben yang kebetulan terulur padanya.
Setelah sadar dengan apa yang perempuan itu lakukan, Dea segera menjauhkan tangannya dengan wajah masam. Tidak lagi peduli dengan setiap gerakan yang dibuat oleh Ben, walau konsentrasinya hampir tidak bisa dikumpulkan pada satu titik untuk fokus bekerja.
Sampai pada suatu menit, tidak lagi ada pergerakan di sampingnya. Dea awalnya gengsi untuk melirik, tetapi atas dorongan penasaran, ia hendak mengecek kondisi Ben, dan menemukan bahwa pria itu masih duduk bersila menghadap dirinya. Bahkan Ben memamerkan senyum manis, ketika ia mengetahui bahwa gadis itu penasaran padanya.
"Ngapain sih? Sana tidur!" pinta Dea dengan nada tegas.
"Obrolan kita masalah mantan Dea itu belum selesai, ya!" kata Ben dengan nada tegas yang dibuat-buat. Senyumnya mengacaukan segala bentuk kekesalan yang berusaha pria itu bangun. "Dea selesaiin kerjaan dulu, baru kita bahas."
Jemari Dea langsung kaku di atas keyboard. Sejujurnya, ia sedang tidak membuka laporan karena tidak bisa fokus akibat perbuatan Ben, sehingga ia hanya mengetik asal di laptop. Namun jika jujur, ia akan dicerca lagi oleh Ben mengenai kepergiannya bersama Elvan tadi.
Tapi—Dea berdebat dengan pikiran sendiri—jika ia terus menghindar, Ben akan selalu membahas ini sampai selesai. Dea tidak terlalu paham karakter nano-nano pria ini, tetapi berkaca dari Dika yang ketika gadis itu tidak sengaja membuat kesalahan—sang adik akan selalu membahasnya sampai merasa menang.
Jadilah, Dea menurunkan layar laptop hingga menyisakan sedikit ruang. Dea lebih dahulu berdecak, untuk menunjukkan kekesalan yang mendominasi, sembari melirik Ben.
"Oke, dengerin!" kata Dea memulai, enggan disalahkan lebih lanjut. "Aku emang sempat ke apartemen Elvan, tapi ...." Dea segera mempercepat sanggahannya untuk mencegah pria itu memotong, "Aku cuman paling 10 menitan di sana. Cuman minum minuman bentar, ngobrol dikit, pulang. Cuman itu, Ben! Jangan kekanak-kanakan deh, sampai masalah sepele kayak gini kamu bikin serius!"
"Sepuluh menit itu cukup kali buat ngapa-ngapain De," kata Ben dengan suara teramat lirih, tetapi berhasil membuat Dea melotot lebar. "Gini, De, saya nggak mau bahas masalah tadi."
Dea mengangkat sebelah alisnya, ketika merasa bahwa dugaan jika pria ini dan adiknya memiliki karakter mirip. Ben ternyata jauh lebih 'unik' lagi, dan Dea tidak bisa memprediksinya. Ia menunggu penjelasan lanjutan dari pria itu.
"Gimana kalau kita bikin sejenis perjanjian, De?"
"Perjanjian?" Kewaspadaan Dea segera meningkat, sembari ia menegakkan punggung untuk semakin teliti mendengarkan penjelasan Ben.
Cukup dirinya saja yang membuat perjanjian pra-nikah, pria ini jangan sampai mengekangnya.
__ADS_1
"Perjanjian kayak apa?" tanya Dea lebih lanjut, ketika pria itu sibuk mengambil beberapa lembar kertas HVS dari bawah selimut, yang sudah ditulis tangan sendiri.
"Baca sendiri, De." Ben menyerahkan beberapa lembar kertas itu pada Dea.
Perempuan itu sontak melotot ketika ia menerima lembaran kertas, dan membaca isi surat yang benar-benar detail poin-poin aturannya.
"Astaga, banyak amat!" Dea mengeluh, tetapi matanya tetap bergerak melakukan scan kilat ke setiap poin di surat. "1.1 Dilarang menerima ajakan dari lawan jenis tanpa ada alasan mendesak. Hukuman untuk jenis pelanggaran. 1.2 Dilarang mengirim-terima pesan dari lawan jenis tanpa kepentingan lebih dari lima pesan. 1.3 Dilarang keluar bersama lawan jenis tanpa izin pasangan—"
"Kamu mau ngekang saya?" tanya Dea dengan nada jengkel. Ia tidak lagi lanjut membaca isi surat perjanjian.
"Ye, siapa yang mau ngekang Dea? Itu aturan buat diri saya juga, biar nggak deket sama perempuan lain juga."
"Emang ada yang mau deketin kamu?"
"Astaga ...." Ben berlagak kaget, bahkan sampai membekap mulut sendiri. "Dea sih, nggak peduli banget sama saya. Nggak denger ya, apa yang Pak Kahar bilang tentang saya dulu?"
"Gagal move on dari pacar pertama?" tebak Dea.
"Bukan. Saya itu banyak yang ngejar."
"Apa pun itu, De, ini sama sekali nggak ngekang atau merugikan Dea. Coba deh mikir, De. Andai nih ya, salah satu keluarga Dea yang temui Dea sama cowok lain sementara Dea udah menikah, tanggapan mereka gimana?" tanya Ben, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung memasang tatap melotot, dan membuat garis melintang menggunakan jari telunjuk dari titik leher sebelah kiri ke sebelah kanan seolah menyembelih. "Mampus, De."
Dea masih memasang tampak egois, berlagak enggan mendengarkan Ben.
"Makanya, saya mau bikin nama Dea tetap baik di mata semua orang dengan aturan itu. Nanti setelah atau hampir setahun, baru deh saya yang langgar, biar nama saya yang buruk di mata keluarga Dea, dan kita didukung buat pisah."
Barulah setelah mendengarkan ini, penasaran Dea kembali tergugah. "Kenapa kamu pengen banget rusak nama baik kamu sendiri?"
"Orang miskin mah, apa-apa demi uang, De, nggak punya nama baik. Lagian, saya juga sebatang kara. Nggak bakalan ada yang peduli sama nama baik saya, plus saya yakin semuanya bakalan berlalu seiring waktu, jadi ya ... bodo amat lah."
"Oke," kata Dea dengan suara malas. Ia menjulurkan telapak tangannya ke arah Ben, meminta sesuatu. "Pulpen."
Ben segera mengambil benda yang dimaksud dari bawah selimut, memberikannya pada Dea.
__ADS_1
"Baca aja dulu semuanya, De. Masih bisa revisi aturan sebelum tanda tangan."
"Males, besok. Saya ngantuk."
"Aturannya dimulai dari hari pertama pernikahan ya, De, cuman telat saya kasih aja. Berakhirnya pas anniversary pertama kita," jelas Ben.
"Hm," jawab Dea, malas.
Perempuan itu mencari lembar terakhir untuk tanda tangan di atas garis yang tertulis namanya. Begitu mudah menuangkan garis inisial namanya, membuat lingkaran, garis naik turun, dan bentukan abstrak di bagian ujung. Terakhir memberikan garis melintang dari awal sampai akhir. Kertas itu akhirnya dipindahkan pada Ben untuk ditandatangani pria itu.
"Oke, karena Dea sepakat aturannya dimulai dari hari pertama pernikahan, maka Dea harus siap sama hukuman karena ngelanggar aturan 1.1."
"Hukuman?" Dea langsung menegang di tempat, dan segera meraih kertas itu lagi dari tangan Ben untuk mengecek kebenaran dari ucapan pria itu.
Mata Dea langsung melotot saat membaca poin kelima, di mana tertera jenis-jenis hukuman untuk setiap pelanggaran.
"Di situ, 5.1 untuk yang pertama kalinya, bebas gerepe dari si pemberi hukuman pada si penerima hukuman sampai si pemberi hukuman puas. Untuk yang kedua dan selanjutnya, si pemberi hukuman bebas melakukan apa pun pada si penerima hukuman—"
"Ogah, anjir!" pekik Dea, sembari melemparkan kertas pada Ben. Pria itu buru-buru mengamankannya sebelum usaha menulis manual sampai pegal sia-sia. "Keenakan kamu: asal ... gerepe? Anggur?" Dea tersendat saat mencoba mengelak. "Lagian, saya mana tau!"
"Kan saya bilang dari awal, baca dulu yang bener. Abis tanda tangan, udah nggak bisa direvisi. Di aturan nomor 5.2 juga dijelaskan, segala protes, penolakan, dan percobaan pelarian dari hukuman 5.1 akan ditolak, dan diberikan sanksi yang lebih berat: kurungan dalam kamar, hanya berdua, selama 24 jam tanpa peduli hari."
"Tap—" Dea hendak menyela.
"Di nomor 5.3, percobaan protes lanjutan, perjanjian akan dibawa ke pengadilan hukum keluarga besar untuk—"
"Ben, stop!" Dea melotot, muak mendengarnya.
Namun, pria itu malah menyipitkan mata, dan menggosok tangan seolah bersiap menerkam mangsa.
Dea sudah menyudutkan diri ke kepala ranjang, bahkan hendak turun, tetapi Ben lebih cepat menahan kakinya. Pria itu sangat sigap memosisikan diri di depan Dea dengan menumpukan kedua tangan di samping tubuh gadis itu. Laptop dipindahkan dengan mudah ke atas nakas, sebelum tangan Ben bertengger di pinggang Dea.
"Sekarang udah nggak tremor, De," bisik Ben, sembari menurunkan rabaannya hingga ke ujung kimono tidur Dea dan menyentuh paha dalam perempuan itu. "Ayo bikin boneka hidup."
__ADS_1