Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
20. Gelisah Pemicu Masalah


__ADS_3

Dea lebih sering berdiri di ambang pintu dapur hari ini, dengan alasan memastikan bahwa semua kinerja pelayan restoran bisa maksimal. Alhasil, semua karyawan menjadi panik, bahkan tidak bisa sekadar leha-leha sebentar di kala restoran tidak terlalu ramai.


Namun, dibandingkan peduli pada semua karyawan, mata Dea lebih suka terpusat pada pria yang selalu bolak-balik di hadapannya mengantarkan pesanan: Ben. Ia masih tampak sangat santai, bahkan sesekali menunjukkan senyum pada Dea yang membalasnya dengan tatap menyelidik.


Padahal, gadis itu berniat mencari tahu dengan siapa Ben kencan nantinya. Dea sempat berasumsi bahwa dirinya yang akan diajak, tetapi mengingat bahwa lelaki itu memintanya pulang duluan, Dea jadi ragu sendiri.


Pria itu memiliki kekasih lain?


Itu yang selalu Dea pikirkan sejauh ini setelah pengakuan pulang terlambatnya Ben tadi, dan seketika membuat gadis itu tanpa sadar meremas lengan tangan dengan kuat.


Siapa orang itu? Dea bertanya lagi, dalam hati.


Ia melihat kedekatan Ben dengan karyawati lainnya, dan memang dekat. Ben tipe ramah pada semua orang, dan tidak ada yang dibeda-bedakan. Bahkan, ketika Dea memperhatikan lebih lanjut, sikap Ben sama manisnya ke gadis lain walau tidak disertai godaan mesum.


Pria itu terlihat disukai oleh banyak mata dari para gadis yang Ben ajak bicara, dan Dea malah kurang nyaman dengan hal itu. Sikap ramah Ben membatasi penyelidikan Dea tentang adanya cinta lokasi di sini.


Maka jika demikian, ada satu kemungkinan bahwa Ben sebenarnya belum putus dari mantan kekasihnya. Dea memicingkan matanya, menatap curiga. Setelah yakin bahwa ia tidak akan menemukan sesuatu yang penting di sini, maka Dea memilih untuk meninggalkan pintu dapur. Secara spontan, suara embusan napas dari semua orang terdengar.


Ben disenggol oleh salah satu rekannya yang membisikkan pertanyaan, “Itu bini lo kenapa ngawasin seintens tadi? Bikin ngeri.”


Ben hanya mengangkat kedua bahunya tidak acuh ketika nampannya terus diisi. Ia balas mendekatkan wajah ke rekan kerja tadi untuk membisikkan sesuatu.


...*...


Dea sudah mengecek CCTV hanya untuk mengawasi Ben, tetapi sampai malam tiba, pria itu tidak menunjukkan gelagat aneh sama sekali. Bahkan ia tidak pernah mengeluarkan ponselnya sama sekali.


Sampai, waktunya ia harus pulang, Dea hanya bisa berjalan lesu meninggalkan ruangannya. Ketika melewati dapur, Ben juga tampak bersiap pulang. Bahkan mengulurkan tangan pada Dea seolah meminta sesuatu.


“Sini, De, biar saya anter pulang,” kata Ben.


“Anter?” Sensitivitas Dea dalam bahasa Indonesia meningkat mendengar satu kata ini. Kenapa Ben bukan mengatakan ‘pulang bareng’?


“Iya, biar nggak nyasar ke tempat lain.” Ben memperjelas ucapannya disusul dengan senyum tipis.


Dea sempat merotasi bola matanya malas, lalu menyerahkan apa yang pria itu minta. Ia bersiap mendahului, tapi Ben lebih cepat meraih lengannya, sehingga bisa berjalan sejajar.


“Dea aneh hari ini, ada masalah?” tanya Ben, penasaran.


Dea menggeleng malas pada awalnya, “Nggak papa.”

__ADS_1


“Di aturan ada larangan bohong loh, De.” Ben memindahkan tangannya dari pergelangan tangan Dea ke pundak seberang gadis itu, sehingga bisa merangkul gadis yang balas menatapnya dengan mata melotot itu.


“Kamu ... ish!” Dea mengentakkan sepatunya dengan keras—marah—tetapi Ben malah tersenyum lembut.


Mereka tiba di parkiran, masing-masing menuju ke pintu mobil berseberangan untuk memasuki kursi bagian depan. Ben lebih dahulu mengenakan sabuk pengaman dan menyalakan mesin sebelum bertanya lagi.


“Jadi, mau cerita ada masalah apa sampai bikin karyawan lain sampai tegang seharian ini?”


Dea tidak langsung menjawab, memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Enggan memberitahu pria itu bahwa seharian ini pikirannya diganjal oleh ucapan Ben tentang kencan dengan pacar, sementara Dea sekarang diantar pulang.


Sedikit perasaan tidak rela terbesit dalam hati Dea. Gadis itu berpikir bukan karena cemburu, hanya sekadar ... enggan uangnya dipakai berpacaran oleh Ben bersama perempuan lain.


Namun, jika Dea pikir-pikir lagi. Uang itu bukan lagi miliknya karena membayar jasa Ben. Jadi, Dea seharusnya tidak punya hak untuk mengatur-atur di kemanakan uang itu.


Tetapi, tetap saja! Batin Dea menolak jika Ben berduaan dengan perempuan lain, saling menatap intens dengan makanan, lilin, dan minuman di atas meja.


Dea tidak rela jika uangnya habis hanya untuk ... sial! Kenapa Dea malah memikirkan makan malam Ben bersama perempuan antah-berantah itu jika masalahnya adalah uang?


Dea secara spontan memukul pelipisnya sendiri untuk menyadarkan diri. Pikirannya sedang korselet! Gadis itu bahkan memiliki lebih banyak uang. Apa yang Ben miliki masih terlalu sedikit. Jiwa pongah Dea hendak menghibur, tetapi rasanya ... masih tidak nyaman.


Gadis itu menggeleng kasar, sampai sesuatu menyentuh puncak kepalanya, dan dipaksa menoleh ke arah Ben.


Dea segera memukul lengan Ben dari tubuhnya, dan memasang ekspresi malas.


“Nggak usah sok-sokan deket!” kata Dea, sinis. Ia bahkan menunjukkan tinjunya pada pria itu, memancing gelak tawa kecil dari Ben.


“Umur berapa, sih? Ajaib.”


Ben seolah tidak pernah belajar dari masa lalu, bahwa gadis satu ini sangat sensitif ditanyai umur, maka, ancaman kepalan tangan tadi segera mendarat di bahu Ben. Menyebabkan sebuah ringisan sakit keluar dari pria itu.


“Astagfirullah, De ....” Ben berdecak takjub, tetapi si lawan bicara tidak lagi menimpali.


Dea kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela hanya untuk melihat jalanan yang semacet kepalanya. Gadis itu meletakkan siku di jendela, dan menggigiti ujung kukunya, kebingungan membaca perasaan tidak nyaman dalam diri. Dea benar-benar tidak paham dengan perasaannya saat ini. Kesal, jengkel, dan hanya mau melihat Ben menderita karena sudah membuat Dea bertingkah aneh seperti ini.


Hingga sebuah dering suara ponsel membuat Dea bergerak cepat melirik ke arah Ben. Pria itu mengangkat telepon tanpa mengalihkannya dari jalanan. Ia tampak fokus mendengarkan ucapan seseorang di seberang sambungan.


Dea merasa penasaran, bahkan tanpa sadar membuat dirinya agak condong ke Ben agar bisa mendengar apa yang keduanya rencanakan. Namun, tidak ada yang bisa didengar kecuali suara Ben sendiri. Hasilnya, Dea mendapat tatapan curiga dari sang suami.


Gadis itu segera menyudutkan posisi duduknya, ketika ia mendengar Ben menyahuti si penelepon.

__ADS_1


“Oke, saya segera ke sana.”


Dea menipiskan bibir, marah. Tangannya saling meremas kuat mengalihkan jengkel, tetapi tidak bisa membantu sama sekali. Di saat panggilan sudah dimatikan, Dea juga membuka ponselnya agar terlihat ber-chat ria dengan orang lain dan mengabaikan Ben. Berharap, bahwa pria itu akan sedikit penasaran dan mereka bisa barter informasi.


Namun, hingga leher Dea terasa pegal menunduk, ia sama sekali tidak mendapatkan pertanyaan apa pun dari sang suami. Dea mendengkus geli. Ia hanya bisa menjatuhkan ponselnya di paha, bersandar malas, lalu memejamkan mata agar bisa menghemat energi.


Sampai Dea merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. Kenapa waktu untuk mencapai rumah terasa sangat lama? Sempat berpikir bahwa ini hanya perasaan Dea saja, tetapi saat ia mulai membuka mata perlahan, ia menyadari ada sesuatu yang aneh.


“Ben?” Dea memanggil kebingungan, sementara si sopir tidak menyahut. Ia semakin keheranan, ketika mobil berhenti bukan di tempat seharusnya.


Parkiran restoran yang sudah tutup.


“Ngapain ke sini?”


“Ketinggalan barang, De. Temenin masuk, ya?” ucap Ben, yang tidak menginginkan balasan sama sekali. Ia gegas mematikan mesin, membuka sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.


Ketika Dea menunjukkan gelagat dingin enggan memenuhi permintaan tadi, Ben sudah membukakan pintu untuknya. Bahkan, bantu melepaskan sabuk pengaman, serta mengulurkan tangan. Dea masih enggan, tetapi melihat wajah memelas bocah itu, ia akhirnya menuruti permintaan Ben.


Dea memiliki salah satu kunci restoran, jadi bisa dengan mudah membukanya. Lalu, pintu mulai dibuka, Ben menggenggam tangan perempuan itu saat masuk, dan menutup pintu ketika Dea sibuk mencari sakelar lampu.


Ketika dinyalakan, tampaklah ruangan kosong. Dea beralih pada Ben, memberikan isyarat pada pria itu untuk mencari barangnya yang hilang.


“Di ruangan VIP kayaknya, De,” kata Ben, lalu menarik Dea ke sana dengan lembut.


Dea dibiarkan membuka pintu lebih dahulu, lalu mendorongnya hingga menampilkan sebuah ruangan yang tampak aneh, bermodalkan cahaya dari luar. Dea tidak mengenali ruang VIP-nya yang biasa terisi beberapa sofa dan meja di bagian tengah.


Gadis itu meraba tembok, menyalakan lampu. Lalu, terlihatlah dua kursi yang saling berhadapan terhalang sebuah meja kayu. Di atasnya sudah terdapat dua piring berisi steik, dua gelas berkaki dengan minuman berwarna merah di dalamnya, pot berisi bunga mawar, dan juga tiga lilin untuk memperkuat kesan romantisnya.


Dea masih bingung. Sempat merasakan debar kuat oleh sebuah harapan bahwa ini disiapkan untuknya, tetapi mengingat obrolannya dengan Ben terakhir kali, gadis itu meragu. Ia berbalik untuk bertanya, tetapi bibirnya mendadak kelu ketika melihat pria yang selalu ia anggap remaja labil itu, kini sudah mengenakan jas dengan dalaman seperti kemeja berwarna biru tua.


Gadis itu hanya bisa membuka-tutup bibir, bingung bertanya apa, sementara Ben memberanikan maju hingga Dea harus mundur agar tidak terlalu berdekatan dengan suaminya. Namun, hasil dari tindakannya, Dea semakin masuk ke dalam, dan pintu berhasil ditutup Ben.


Usaha untuk menghindar, terhenti ketika Ben menahan pinggang Dea. Gadis itu masih mencoba menjauh, tetapi gerakannya seketika diblokir oleh Ben yang menahan tengkuknya.


Debar ketakutan Dea semakin bertambah saat pria itu mulai menurunkan posisi wajahnya untuk mendekat. Ia sempat melihat Ben menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai tipis.


“Kencan pertama kita, semoga kamu suka ...,” bisik Ben dengan suara lirih, seolah takut orang luar akan mendengar padahal suasana sangat sepi, “... Sayang.”


Dea melotot, lalu bertambah dua kali lipat lebarnya setelah protes yang hendak dilayangkan bibirnya dibungkam oleh ciuman Ben.

__ADS_1



__ADS_2