
Lebih daripada pelajaran yang Ben terima hari ini, pria itu jauh lebih lelah menghadapi sikap sang ipar yang sudah bisa ditebak bagaimana. Dion hampir tidak pernah peduli dengan semua pertanyaan Ben, dan selalu fokus memberikan perintah. Bahkan, sering tidak memberikan materi dasar. Sehingga Ben merasa seperti orang bodoh di kantor.
Kondisi berantakan Ben sedikit menjelaskan kondisi pikirannya saat ini. Rambut acak-acakannya menjadi isyarat betapa frustrasi dirinya menghadapi Dion. Keringat yang melembapkan wajahnya, mengutarakan betapa panas pikirannya saat ini. Belum lagi beberapa cibiran dari karyawan lain yang secara terang-terangan mengejeknya.
“Dia masuk ke sini cuman karena dia menantu Pak Kahar. Aslinya? Dia nggak punya keahlian apa pun di bidang bisnis. Tapi sok-sokan mau gantiin Pak Kahar. Nggak tahu diri banget.”
Ben tidak mau peduli sejujurnya, karena niatan utama ia menerima tawaran ini adalah Dea. Namun, semakin dipikirkan, semakin rumit isi kepalanya. Sehingga pria itu beberapa kali menggeram marah, dan melampiaskan kemarahannya dengan menarik gas motor sehingga kecepatan si kendaraan kian meningkat membelah malam.
Tubuh lelahnya menuntut untuk istirahat, sementara pikirannya enggan berhenti untuk memutar setiap cibiran di kantor tadi, serta sikap Dion.
Ben merasa ... muak. Sangat. Pengap di kepalanya semakin tidak tertahankan. Sangat menyesakkan, bahkan helm yang membalut kepalanya terasa begitu berat sampai Ben merasa sulit untuk menopangnya lagi.
Bukan hanya itu, Ben melihat jalan raya kini memiliki bayangan. Ia tidak bisa membedakan mana yang asli. Lampu-lampu terasa sangat menyilaukan mata, dan suara-suara kendaraan serta klakson kian memekakkan telinga. Debar kuat yang menyakitkan dalam dadanya menambahkan ketidaknyamanan tersendiri.
Ben sadar, bahwa kondisinya semakin memburuk. Ia baru saja memikirkan dua pilihan, antara berhenti untuk istirahat tetapi semakin pulang larut, atau teruskan agar bisa segera istirahat. Namun, jika ia teruskan perjalanan, maka ....
BRAK!
Terlambat.
Truk barang dari arah belakang dengan cepat menghantam motornya yang berbelok hendak menepi. Ben terpental meninggalkan motor, melayang di udara sepersekian detik, sebelum akhirnya menabrak aspal yang keras.
Tubuhnya tidak lagi bergerak.
...*
...
__ADS_1
Pertama kali membuka mata, Ben menemukan dirinya tengah berbaring dengan rasa nyeri hampir di seluruh tubuh. Bahkan, salah satu kakinya nyaris tidak bisa digerakkan, sehingga ia hanya bisa mendesis samar.
“Jangan banyak bergerak, Pak. Anda baru sadar.” Sebuah suara jernih yang lembut terdengar, membuat Ben segera menormalkan ekspresi kesakitannya demi melihat sosok perempuan dalam balutan pakaian serba putih khas perawat.
Ben melirik sekitarnya lebih teliti, menemukan bahwa ruangan yang ia tempati memiliki dominan warna cat berwarna putih, dengan kasur sempit, dan juga nakas berisi peralatan medis. Segera, ia menyimpulkan bahwa dirinya sedang ada di rumah sakit. Ben langsung teringat dengan kejadian sebelum dirinya berada di tempat ini.
“Anda mau menghubungi keluarga Anda, Pak?” tanya si perawat, sembari menyodorkan ponsel dengan layar retak dan sudut yang rusak cukup parah pada Ben.
Pria itu memberikan dua buah anggukan, lalu menerima ponsel. Ia hanya membuka layarnya, mengecek kondisi internal benda pintar itu, sampai si perawat keluar dari ruangan. Barulah, Ben langsung meletakkan ponsel di atas perutnya. Sama sekali tidak memiliki niatan untuk melakukan apa yang ia katakan tadi.
Setelah sedikit tenang, Ben mulai bergerak. Ia mencoba untuk duduk. Hal sederhana itu dilakukan dengan susah payah dan penuh perjuangan. Kepalanya pusing, dengan kaki yang hampir tidak bisa bergerak. Hanya sekadar menggoyangkan kaki kiri, pria itu sampai harus menahan napas dan memejam kuat.
Ketika Ben sedang sibuk memikirkan cara untuk pulang malam ini juga, pintu ruangannya kembali dibuka. Seorang dokter pria dengan senyuman ramah masuk, membuat Ben langsung menegakkan punggung demi menyambutnya.
“Dokter Ridwan di sini?” Ben menyapa dengan balas tersenyum, walau terkesan canggung.
“Ya. Saya di sini,” jawab si pria. “Kamu coba kabur dari saya, tapi lihat? Kamu sekarang datang ke sini, walau dikarenakan kecelakaan.”
“Untungnya, kamu nggak terlalu parah. Asalkan bisa jalan atau ada yang urus, kamu bisa pulang malam ini,” kata si dokter. “Tapi, sebaiknya, kamu pulang besok. Saya siap lembur walau harusnya pulang lebih awal, supaya kamu bisa periksa lebih mendalam.”
“Nggak usah, Dok,” kata Ben menolak dengan halus. “Lain kali deh, saya bakalan datang buat periksa.”
“Kapan lain kali itu, Ben? Kamu ke sini terakhir kali tiga bulan lalu. Saya minta buat datang rutin dua kali sebulan, kamu malah nggak nongol sama sekali,” kata dokter Ridwan, secara jelas menunjukkan kekesalannya yang didominasi oleh kekhawatiran. “Kamu katanya sudah menikah? Kenapa tidak telepon istri kamu? Supaya nggak terlalu khawatir karena kamu nggak pulang malam ini.”
“Nggak perlu, Dok,” kata Ben dengan senyum seadanya. “Saya tadi sudah kirim pesan, kok.”
Dokter Ridwan tidak banyak bertanya mengenai topik tersebut. Sebaliknya, ia fokus menjelaskan beberapa hal mengenai kondisinya yang didapatkan dari dokter yang menangani Ben sebelumnya. Sehingga dokter bidang bagian dalam itu hanya menyampaikan saja.
__ADS_1
“Kondisi kamu terakhir kali nggak termasuk baik, Ben.” Ridwan kali ini meredupkan senyumnya, dan memasang tatap serius. Menular pada Ben. “Saya minta bahkan terkesan paksa kamu buat datang temui saya, bukan cuman supaya kamu mau bayar saya. Enggak. Saya anggap kamu anak sendiri, makanya saya tuntut kamu banget buat temui saya, Ben.”
Diberikan kalimat seperti itu, Ben hanya bisa mengangguk kecil karena segan membalas sekaligus bingung memberikan tanggapan apa.
“Ini masalah serius, Ben,” kata Ridwan lagi. Semakin teduh tatapannya, semakin Ben sulit menekan perasaan khawatir dalam dirinya. “Kamu nggak mau hidup normal?”
Ben menggeleng kecil sebagai jawaban. Tentu, dirinya mau.
“Jadi, tolong ... fokus. Kamu beritahu istri kamu masalah ini?”
Ben tidak menjawab pertanyaan ini, dan Ridwan terlihat tidak terlalu menuntut jawaban.
“Alangkah bagusnya, kalau kamu didukung langsung sama istri kamu,” ucap Ridwan. Tatapnya berubah kosong ketika mengarah pada nakas. “Kamu nggak mau habisin waktu lebih lama sama istri kamu?”
Ben sekali lagi tidak menjawab, karena ia sejujurnya ‘mau’. Namun, takdirnya tidak jauh berbeda dari sebelum menikah. Sehingga, pria itu hanya bisa bungkam.
“Punya anak, urus anak sama istri kamu, habiskan masa tua bersama ... kamu nggak mau?”
Ben tertunduk dalam mendengarkan pertanyaan Ridwan. Semua jawabannya adalah ‘mau’ tetapi mulutnya kelu untuk berbicara. Ia tidak mau berharap tinggi.
“Kalau kamu punya peluang buat rasakan itu, tolong ... serius berobat, Ben. Tidak 100% bisa sembuhkan kamu, tapi bisa memberi kamu peluang untuk merasakan itu semua.”
“Tapi,” Ben akhirnya bersuara dengan nada ragu, “Nggak ada yang mau temani saya buat rasakan itu semua, Dok.”
Ben tersenyum, dengan tatap sendu bercampur kekosongan.
“Saya belum butuh umur yang panjang,” lanjut Ben, yang langsung membuat Ridwan menghela napas.
__ADS_1
Kecewa dengan keputusan Ben.
...****************...