Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
14. Ulat vs Benalu


__ADS_3

"Bibirnya tebel, Bu, pakai lipstik apa?"


Godaan dari banyak karyawan mulai terdengar ketika Dea memasuki restoran. Sebagian ada yang sekadar berdeham singkat, bersiul, atau mengucapkan selamat atas pernikahan. Beberapa lagi di antara mereka memberitahukan posisi Ben siang ini.


"Ben ada di dapur, Bu. Mau saya panggilin buat ke ruangan Ibu? Pastinya belum puas bulan madu yang kepangkas dong ya?"


"Kami lagi semangat kerja ekstra, Bu. Kalau misal mau liburin Ben buat ikhtiar bikin penerus restoran, kami bisa handle kerjaan Ben, Bu."


Namun, Dea sama sekali tidak peduli dengan suaminya. Jadi meluruskan langkah menuju ruangan kerjanya hanya untuk mengecek kondisi restoran. Sisanya, diawasi langsung oleh orang kepercayaan. Karena Dea juga masih harus mengurus cabang lain.


"Ya. Tidak perlu, thanks." Dea hanya menjawab dingin sebelum masuk ke ruangannya. Setelah itu menutup pintu dengan bantingan keras hanya agar semua orang tahu bahwa dirinya sedang jengkel diganggu seperti itu.


Dea meneruskan langkah ke meja kerjanya. Perempuan itu baru saja membuka laptop, ketika salah satu tangannya menekan tombol interkom untuk menghubungi bagian dapur.


"Kopi satu, ke ruangan saya."


Setahun memberitahukan perintah itu, Dea sekarang fokus pada pekerjaannya mengecek data laporan di laptop, dan disesuaikan dengan laporan dari bawahannya. Sesekali mengangguk, kadang juga keningnya mengerut kecil.


Sampai, pintunya diketuk dua kali. Dea sama sekali tidak meninggalkan tatapannya dari laptop ketika mendengar hal biasa itu.


"Ya. Masuk." Dea mempersilakan, sembari terus menelusuri laporan selama dirinya berlibur di dalam terjangan masalah kemarin.


Namun, di saat santai bekerja pun, masalah masih saja muncul.


Masalah dalam bentuk manusia bernama Adam Bentala. Pria itu yang membawakan kopi padanya.


"Kenapa kamu?" tanya Dea dengan intonasi sedikit meningkat.


Ia sudah mual dengan godaan saat baru sampai tadi. Jadi, Dea enggan berurusan lagi dengan Ben setidaknya sampai pulang bekerja.


"Kenapa kalau saya?" Ben balas bertanya, keheranan.


"Yang lain kan ada."

__ADS_1


Ben sudah meletakkan kopi di atas meja, tetapi karena obrolan ini seru, maka ia memilih duduk di salah satu kursi dengan sebelah alis terangkat.


"Kan saya lagi luang. Jadi kenapa harus orang lain?"


Dea mendengkus geli. Ia semakin tidak suka kondisi sekarang ini, apalagi Ben yang duduk di hadapannya. Dea ingin beristirahat sebentar dari pria bernama Ben.


"Ya sudah. Silakan keluar." Dea memerintahkan tanpa intonasi. "Jangan lupa status kalau kamu di sini cuman bawahan saya. Jadi, setidaknya di sini, jangan ngelunjak kayak di rumah!"


Sebelum Ben sempat berdiri, Dea sudah lebih dulu mengarahkan pandangannya ke laptop tanpa mau menoleh ke arah Ben. Perempuan itu hanya meraba untuk mendapatkan cangkir kopi.


Saat sedang menyesap kopi tersebut, Ben juga keluar dari ruangan. Membuat Dea merasa lega. Namun, baru saja ia meletakkan cangkir di tempatnya, pintu ruangannya sekali lagi diketuk.


Dea padahal baru saja memperingatkan pria itu. Inginnya Dea adalah berteriak memaki Ben, tetapi karena posisinya sedang di restoran dan menjaga image adalah hal utama, maka Dea lebih dahulu mengatur napas agar bisa tenang.


"Ya, masuk!" Kali ini suara Dea lebih tegas dari sebelumnya.


Pintu terbuka, dan sekali lagi menampilkan wajah Ben. Dea sudah mengetatkan rahang dengan mata nyalang ke arah pria itu.


Namun, Ben semakin membuka pintu hingga lebar dan menampilkan pria lain di sampingnya.


"Silakan masuk, Pak. Saya siapkan kopi sebentar," kata Ben dengan ramah, tetapi tidak dengan intonasinya yang sangat datar.


Padahal, Ben baru kemarin menceramahi Dea agar tidak dekat dengan si tamu, tetapi sekarang malah ia yang membiarkan tamu itu masuk bersama istrinya sendiri.


Dea masih tercengang di sini. Ia padahal sudah menutup urusan apa pun dengan si tamu setelah putus, tetapi entah kebetulan apa, pria itu sangat sering muncul di depannya setelah pernikahan. Bahkan sekarang ini, di depan suami Dea secara langsung.


Tamu itu ... Elvan Dexter.


Ben meninggalkan mereka, tanpa menutup pintu. Elvan berinisiatif untuk melakukannya sendiri sehingga muncul privasi antara dirinya dan si mantan kekasih.


"Ternyata cerita orang beneran ya? Kamu ... nikah sama pegawai kamu sendiri?" tanya Elvan dengan nada terheran-heran sembari mendekat ke arah meja Dea. "Saya nggak tau kalau kamu seputus asa itu cari pengganti saya, De."


Elvan dengan santai duduk di kursi tamu tanpa peduli tatap menilai dari Dea.

__ADS_1


"Siapa yang izinin kamu duduk?" tanya Dea dengan nada dingin. Ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Elvan barusan sehingga balas lebih sinis. "Kamu kenapa jadi mirip ulat bulu sekarang, Van. Muncul cuman bikin geli dan jijik. Saya nggak kenal sosok kamu sekarang ini."


Elvan sempat terlihat syok mendengarkan balasan Dea barusan, tetapi segera menetralkan perasaan dengan sebuah senyum tipis.


"Kamu—" Elvan menjeda sejenak ucapannya ketika mendengar suara pintu dibuka.


Ben sudah muncul dengan membawa secangkir kopi yang sama seperti milik Dea sebelumnya—yang ia yakini sebagai kesengajaan Elvan memesan agar semakin terlihat dekat dengan Dea.


Tanpa mengatakan apa pun, Ben meletakkan kopi tersebut di depan Elvan. Tidak ada sikap kasar atau ramah. Hanya tampilan datar.


Ketika Elvan siap merogoh saku untuk mengeluarkan tip, Ben sudah mundur untuk berdiri di samping Dea.


"Selain jadi pelayan, kamu juga merambat jadi bodyguard supaya dapat gaji tambahan? Kalau begitu saya bantu. Ini tip dari saya."


Ben tersenyum tipis tanpa minat. Sekadar menarik kedua sudut bibir dengan malas.


"Beberapa menit lalu, saya pelayan. Tapi sekarang, saya suaminya. Jaga dia nggak perlu jadi bodyguard, karena itu memang kewajiban saya."


"Jaga?" Elvan mengulang satu kata itu dengan nada geli.


"Ya. Saya harus pastikan istri saya aman dari ujung kaki sampai setiap cabang dari rambutnya. Jangan sampai terkena ulat bulu dan buat istri saya alergi."


"Lebih baik ulat bulu, bisa urus diri sendiri dan berkembang jadi lebih baik daripada benalu yang dari lahir sampai mati cuman numpang di hidup orang lain."


"Benalu punya banyak manfaat, dan bisa digunakan. Ulat bulu apa? Cuman hama tanpa kegunaan sama sekali. Yang penting diri sendiri, tanpa peduli orang lain."


Elvan langsung merenggangkan otot rahangnya mendengar hal itu. Ia sempat melirik ke arah Dea yang diam-diam tersenyum menyimak.


"Dua ... satu." Dea bersuara, memancing tatapan dua pria itu. Ia turut menunjukkan dua jari kanan yang mengarah ke Ben, dan satu jadi kiri ke arah Elvan.


Elvan terlihat mengerutkan kening tidak suka, dengan tangan mengepal berada di atas meja.


Ben yang menyadari hal itu langsung tertegun. Padahal ia sedang membela Dea. Bisa-bisanya perempuan ini malah asyik menghitung skor.

__ADS_1



__ADS_2