Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
59. Akhir Perdebatan


__ADS_3

“Saya bakalan taruh penyadap di hape dia, jadi selama hapenya nggak dalam kondisi lowbat, kita bisa dengar apa saja yang dia bicarakan nantinya.” Begitu ucapan Dion saat datang ke restoran siang harinya untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh sang adik.


Dea sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan kehamilan aslinya pada Ben setelah apa yang terjadi tadi pagi. Sebelum menemukan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dion, ia berniat tidak akan pernah jujur pada suaminya.


Dea berniat untuk melanjutkan aksi saling diam dan tidak peduli sampai Ben yang akan memulai bicara padanya. Namun, pria itu terlihat sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk bicara dengan Dea.


Beberapa kali, Dea sengaja menampilkan dirinya di ambang pintu dengan alasan untuk menilai pekerjaan para karyawannya. Namun, tujuan utamanya adalah obrolan dari Ben. Paling minimal pertanyaan, ‘Kenapa di sini, De?’


Namun, tidak ada.


Suaminya lalu-lalang mengantar pesanan, bahkan terlihat seperti tidak menyadari keberadaan Dea. Bahkan meski istrinya itu sudah mengentakkan kaki dengan kasar di lantai demi menunjukkan kekesalan, Ben tetap santai melewatinya dan mengantar pesanan ke meja konsumen.


Dea mendengkus geli, dan langsung kembali ke ruangan setelah itu. Ia tidak berniat bicara sampai kapan pun selama Ben tidak memulai obrolan, tetapi malam ini, Dea yang baru saja menyalakan mobil mendadak dipenuhi perasaan tidak nyaman dan ganjal.


Sangat sulit untuk sekadar mengendarai mobil untuk pulang. Perempuan itu hanya bisa menggenggam setir mobil dengan lemah, tanpa memiliki daya untuk menginjak gas.


Sampai, ketukan di jendela membuat perempuan itu menoleh. Ia mendapati Ben sebagai pelakunya.


“Kamu nggak papa, De?” tanya Ben, dengan gurat cemas di wajahnya.


Dea memalingkan wajah ke depan, sebagai bentuk isyarat bahwa dirinya sedang tidak baik-baik sekarang ini. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu, malah mengutarakan kalimat lain.


“Naik sini!” kata Dea dengan tegas. “Kamu yang bawa mobil. Aku lagi males.”


Ben mengangguk sekali, kemudian merotasi mobil untuk tiba di bagian kemudi. Sementara Dea hanya berpindah posisi duduk ke samping.


Mobil mulai dikendarai Ben dengan mudah, meluncur meninggalkan area restoran. Suasana di dalam ruangan begitu sunyi dan dingin. Dea hanya sesekali melirik suaminya untuk mencari tahu apakah Ben mau membuka topik obrolan atau tidak. Ternyata jawabannya adalah opsi kedua.


Ben sama sekali tidak pernah berminat untuk angkat suara, bahkan sekadar melirik Dea pun tidak. Hal ini meningkatkan kemarahan dalam diri perempuan itu sehingga ia langsung memalingkan wajah ke arah jendela.


“Kamu kenapa nggak istirahat di rumah aja?” tanya Ben, yang ketika Dea menoleh padanya, pria itu tetap fokus pada tugasnya tanpa melirik sebentar pun kepada sang istri. “Bukannya perempuan yang keguguran harus istirahat dulu, ya?”


Dea mendengkus kasar. “Nggak jadi.” Hanya dua kata itu yang bisa Dea keluarkan dengan nada ketus. Ia sama sekali tidak memiliki minat untuk memberitahu keberadaan calon bayi mereka di perutnya.


“Kenapa berubah rencana lagi?” Sekarang, Ben balas dengan nada jengkel, yang memicu kemarahan Dea semakin menggebu dalam hati.


Namun, perempuan itu coba tahan dengan deru napas memburu.


“Kamu memang suka lihat orang tua kamu kecewa berat nantinya, kalau kamu kelamaan tunda berita keguguran itu? Mumpung mereka belum makin sayang sama anak yang belum ada wujudnya itu, De. Bikin beritanya sekarang.” Ben mengusap rambutnya dengan kasar untuk menunjukkan betapa frustrasinya ia sekarang. “Kamu beneran nggak bisa hargai orang dikit aja, De?”


“Jangan sok nuntut kalau kamu sendiri juga nggak bisa ngertiin orang!”


“Ngerti kayak gimana lagi sih, De? Kamu pura-pura supaya aku keluar dari perusahaan, udah aku turutin. Apalagi yang aku nggak ngerti, hah? Bagian mana lagi?”

__ADS_1


Ben dengan cepat menaikkan intonasi suaranya menjadi lebih tinggi, hingga Dea harus menyudutkan posisi duduknya merapat ke jendela demi menghindari amukan pria itu.


Napas Dea sempat terjeda sejenak, akibat syok dengan cara bicara pria itu.


Dea mengepalkan tangan dengan erat di atas pangkuan, serta merapatkan bibir begitu kuat di saat matanya mulai memanas oleh cairan asin yang siap jatuh.


...*


...


Dea bergerak gelisah di tempat tidur setelah ia berbaring satu jam yang lalu. Berbagai jenis posisi tidur, sama sekali tidak ada yang berhasil menenangkan dirinya. Menyamping, tengkurap, telentang, meringkuk, bahkan sesekali membiarkan kepalanya jatuh menyentuh lantai, sementara kakinya tetap di atas ranjang. Namun, tidak ada yang berhasil merenggut kesadarannya.


Perempuan itu tetap sulit memejamkan matanya lebih dari lima menit.


Dea mengubah posisinya menjadi duduk dengan punggung sedikit bungkuk. Melirik pada Ben yang telah tidur pulas dengan nyaman, ia merasa iri.


Iri pada ketenangan yang pria itu rasakan, sementara Dea benar-benar gelisah setelah bentakan Ben di mobil tadi.


Iri pada selimut yang memeluk tubuh pria itu, membuat Dea diam-diam ingin menggantikan tugas si selimut.


Iri dan dengki pada bantal guling yang dipeluk mesra oleh Ben, dengan bibir pria itu menyentuh ujung si guling.


Hanya sebuah bantal guling yang bahkan tidak bernyawa, tetapi entah mengapa, Dea merasa sangat muak. Benci! Amarah yang sudah ia tahan sejak kemarin malam, serta tadi di mobil, dan campuran kecemburuan saat ini, dengan cepat meluap sampai sulit dikendalikan.


Dea tidak bisa berpikir jernih, dan langsung menarik bantal yang dipeluk mesra oleh suaminya secara sepihak. Ia dikendalikan oleh amarah, langsung menduduki si bantal, dan berniat melayangkan berbagai jenis pukulan dengan kekuatan maksimal demi melampiaskan semua perasaan kesal, marah, dan cemburunya. Namun, sebuah suara berhasil menghentikan pergerakan kepalan tangan Dea.


“Males,” jawab Dea tidak acuh. Ia membatalkan niatnya untuk menghajar si guling, demi menghindari tuduhan gila dari Ben. Sebagai gantinya, ia menyingkirkan si pelakor dengan membuangnya ke lantai.


“De.” Ben tidak segan menegur. Sebab, tidur nyamannya diganggu karena gulingnya direbut, tetapi istrinya malah membuang benda itu. “Siniin kalau kamu nggak mau pake.”


Ben baru saja hendak turun dari ranjang demi memungut si bantal guling, tetapi Dea dengan cepat menarik dirinya dan mendorong sampai kembali jatuh berbaring di tempat tidur.


“Beg0!” maki Dea dengan nada dingin, yang langsung membuat Ben mengerutkan kening karena heran.


Ben baru saja ingin meminta penjelasan lebih lanjut tentang makian tanpa alasan itu, tetapi Dea sudah mengangkat sebelah tangannya, mengambil tempat dan posisi di samping Ben, lalu menarik tangan tadi untuk bertengger di perutnya. Perempuan itu mendongak, melirik wajah suaminya dengan tatap sinis.


“Udah punya istri, malah milih guling.”


Ben mendengkus geli. Ia melipat bibirnya ke dalam demi menyembunyikan senyumnya. Pria itu memasrahkan diri, sekaligus memperbaiki posisinya agar nyaman menyamping memeluk Dea.


Hal sama dilakukan Dea, agar tidak menjadikan lengan Ben sebagai bantal demi kenyamanan pria di depannya ini.


Ben menarik selimut dan menutupi hampir seluruh tubuh mereka kecuali leher ke atas. Didorong oleh perasaan yang hangat, ia mengecup singkat puncak kepala Dea sebelum kembali memejam untuk melanjutkan tidur.

__ADS_1


Dea sendiri akhirnya menemukan kenyamanan yang ia cari. Hanya butuh beberapa menit, ia sudah memasuki alam mimpi bersama suaminya.


...*...


Pagi-pagi sekali, Dea dibangunkan oleh gejolak di perutnya. Ia tidak sempat menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata atau sekadar mengumpulkan semua kesadarannya. Langsung turun dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi hendak membuang sesuatu yang meminta keluar dari tubuhnya itu.


Namun, saat ia memutar kenop dan mendorongnya, pintu sana sekali tidak terbuka. Dea dengan tidak sabaran memukul pintu dengan kepalan tangannya.


“Bentar, De, lagi mand—“


Ucapan Ben tidak dapat diselesaikan dengan sempurna karena Dea sekali lagi memukul daun pintu begitu keras. Bukan hanya sekali, tetapi terus berulang sampai Ben segera membukakan pintu.


Pria itu berniat mengeluarkan sedikit kepalanya untuk menanyakan maksud Dea, tetapi ia sudah didorong bersama pintu sampai kehilangan kendali tubuh. Hampir jatuh andai Ben tidak berpegangan di tembok.


“De ....” Ben memanggil, menanyakan maksud perempuan itu. Namun, ia tidak dapat mengajukan kalimat panjang setelah melihat bagaimana Dea begitu sibuk dengan muntahannya di kloset.


Ben langsung dipenuhi oleh perasaan khawatir. Ia ikut berjongkok di samping Dea untuk mencari tahu.


“De—“


Dea kembali muntah, ketika Ben mencoba bertanya apa yang salah pada istrinya ini. Ben langsung segan, dan bantu merapikan rambut Dea agar tidak mengganggu kegiatan perempuan itu. Sebab tidak ada ikat rambut di sini, ia dengan setia menggenggamnya, sembari memberikan pijatan lembut di leher Dea.


Istrinya mulai tenang dengan deru napas berat. Ben bantu memberikan air untuk Dea mencuci wajah agar sedikit lebih segar.


Namun, perempuan itu malah semakin terlihat lemas seolah tenaga dan jiwanya baru saja dikeluarkan bersama dengan muntahan tersebut.


“Gimana perasaan kamu sekarang, De?” tanya Ben, khawatir. Ia mengambil handuk untuk mengelapi wajah Dea yang berkeringat di kening. “Mau aku kerokin, De?”


Sebuah pukulan kecil, segera mendarat di lengannya. Ben mendesis kaget.


“Kenapa, De?” tanya Ben kebingungan. “Nggak pernah dikerokin, ya? Itu cara paling ampuh buat hilangin masuk angin, biar nggak mual lagi. Atau aku beliin jamu sasetan di luar? Biar lebih enakan.”


“Nggak ngaruh, Ben.” Dea menjawab dengan nada malas. Ia berdiri dengan sedikit oleng akibat efek mengantuk. Beruntung, Ben begitu sigap berdiri dan bantu menuntun sang istri keluar dari kamar mandi.


Namun, belum sampai di tempat tidur, Dea sudah mengerem langkahnya dan berbalik 180 derajat. Ia melirik Ben lebih dahulu, kemudian menurunkan pandangannya sampai pinggang sang suami.


“Minimal pake handuk lah, Ben. Kalau ada yang mendadak masuk kamar terus lihat belalai kamu, gimana?”


Ben sempat terkejut di awal, tetapi kemudian ia melipat bibirnya ke dalam menahan senyum geli.


“Ya kan, kondisinya darurat, De.” Ben beralasan. “Ya udah, aku mau lanjut mandi.”


Namun, Dea segera menahan tangan Ben sehingga pria itu tidak bisa menuruti niatnya.

__ADS_1


“Sebelum itu, tanggung jawab dulu,” kata Dea sembari maju selangkah sampai ujung jari mereka bertemu. Ia berjinjit, dan melingkarkan lengannya dengan mesra ke leher Ben, sebelum memiringkan kepala untuk memberikan ruang pertemuan bibir mereka.



__ADS_2