Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
70. Perubahan Sikap


__ADS_3

Ben sarapan dengan perasaan gundah akibat kecemasan berlebih tentang ancaman pertanyaan dan interogasi yang mungkin akan dilakukan oleh keluarga sang istri.


Namun ternyata, sampai ia menyelesaikan sarapan, tidak ada obrolan apa pun dalam ruangan. Sempat membuat Ben lega, tetapi setelah ia berdiri dari kursinya, pertanyaan dari Kahar tiba-tiba menghampirinya.


“Dea kenapa belum turun, Ben?”


Ben segera membatalkan niatnya meninggalkan ruangan, dan memusatkan arah tubuh menghadap sang mertua.


“Masih tidur, Pak,” jawab Ben lugas.


“Kata dokter kemarin bagaimana?” tanya Kahar lebih lanjut. Kali ini, ia bahkan meletakkan sendok dan garpunya hanya agar bisa memfokuskan segala perhatian pada si menantu.


“Kata dokter, masih aman, Pak. Cuman buat pastiin, saya diminta buat bawa Dea ke rumah sakit, periksa lebih lanjut.”


Kahar mengangguk-angguk menerima jawaban tersebut, tetapi tidak serta-merta langsung membuat Ben lega. Anggukan yang mertuanya berikan itu memiliki kesan seolah ‘ayo lanjut ke pertanyaan berikutnya yang lebih menegangkan’.


“Kenapa Dea bisa kayak gitu? Kalian berantem? Masalah apa?” Rentetan pertanyaan tersebut diajukan oleh Kahar hampir tanpa jeda. Ia belum memberikan Ben kesempatan untuk membalas, tetapi sudah mengajukan pernyataan lain. “Dea nggak biasanya kayak gitu. Beberapa kali memang pernah minum, tapi itu kalau datang ke pesta dan dipaksa sama temennya. Teler sampai kayak semalam, dia nggak pernah. Berarti masalah ini lumayan besar bagi Dea. Dan saya nggak bisa tutup mata begitu saja lihat anak perempuan saya jadi kacau seperti itu.”


Ben langsung meneguk ludah secara kasar setelah ucapan Kahar barusan yang seolah memberikan peringatan tegas bagi dirinya. Ia hampir tidak memiliki keberanian untuk menjawab, tetapi karena semua orang menuntut penyebab, maka Ben hanya bisa mengikuti permintaan mereka.


“Ada sedikit kesalahpahaman antara saya dan Dea, Pak.”


“Kesalahpahaman jenis apa?” Kahar semakin menuntut, dengan sebelah alis yang terangkat. Menuntut jawaban lebih lanjut.


Sebelum memberikan jawaban, Ben lebih dulu mengusap tengkuknya kebingungan. Ia memberanikan diri memberikan jawaban lugas.


“Dea kira saya selingkuh, Pak.”


Mendapatkan respons terkejut dari tiga orang dalam ruangan tersebut—sementara Dion melirik malas—Ben segera melanjutkan penjelasannya agar tidak ada kesalahpahaman yang lebih parah.


“Padahal, saya cuman ketemu sama temen ayah saya, Pak, laki-laki usia sebaya dengan Pak Kahar. Entah bagaimana, Dea malah mengira anak perempuan dari temen ayah saya itu adalah kekasih saya, padahal dia sendiri sudah menikah dan sedang hamil besar sekarang. Saya sudah jelaskan kemarin, tapi nggak tahu kenapa, Dea malah jadi seperti semalam.”


Ben langsung meneguk ludah secara kasar setelah mengatakan setengah kebenaran itu. Ia sempat khawatir jika Dion mengatakan sejujurnya pada keluarga besar, tetapi beruntungnya tidak.

__ADS_1


Kahar menghela napas panjang, kemudian mengambil sendoknya lagi dengan niatan untuk melanjutkan sarapan.


“Saya pikir, masalah yang sangat besar: kamu beneran sakiti anak saya,” ucap Kahar dengan suara yang lebih bersahabat kali ini. “Tapi ternyata ... perasaan Dea sudah kelebat besar sama kamu, Ben, jadi hal sepele kayak gini bisa bikin dia terluka parah.”


Ben tetap diam di tempat, mendengarkan petuah dari sang mertua.


“Jadi tolong ... jaga perasaan dan cinta Dea ke kamu, Ben.”


Ben sempat mengangguk kecil secara formal, tetapi karena menyadari satu kata dari ucapan Kahar barusan, ia langsung diam membeku di tempat.


Cinta?


Ben hanya berpikir bahwa Dea sekadar nyaman dengan dirinya. Tidak sampai separah itu.


Diam-diam, Ben semakin takut mengambil langkah berikutnya. Karena salah pilih, bisa membuat Dea terpuruk lebih dari kemarin malam.


...*...


Rasa lelah di sekujur tubuh sempat membuat Dea enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk duduk demi tuntutan pekerjaan.


Berulang kali, Dea mengusap wajah secara kasar demi menghilangkan bekas kantuk sekaligus membuat dirinya semakin sadar. Ia juga merenggangkan otot leher yang terasa nyeri, sembari melirik ke jendela dengan gorden terbuka lebar. Keningnya yang memang sudah berkerut, kini terlihat semakin heran.


Di pikirannya timbul pertanyaan heran, sekarang sudah jam berapa?


Dea menoleh ke nakas untuk melihat jam di malas yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Ia langsung melempar selimut, dan turun dari tempat tidur. Mengabaikan denyut sakit di keningnya, Dea berjalan cepat menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia sempat mendengar suara pintu kamar dibuka, sehingga Dea menunda sejenak keinginannya. Hendak melayangkan protes ke sang suami.


“Kenapa nggak bangunin aku, Ben? Aku telat berangkat sekarang. Ada pertemuan yang harus aku datangi hari ini.”


Ben sama sekali tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap kemarahan sang istri. Ia malah semakin masuk dengan santai ke kamar, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Menunggu Dea menyelesaikan kegiatan pembersihan tubuhnya.


Setelah sang istri keluar terburu-buru dengan balutan handuk, Ben masih diam memperhatikan.


Hal itu akhirnya disadari Dea. Ia menghentikan kegiatannya mengambil pakaian dari lemari, demi melihat suaminya.

__ADS_1


“Kamu kenapa nyantai di situ? Nggak masuk kerja? Kenapa lagi? Mau ke tempat rahasia lagi, gitu?” tanya Dea penuh protes. Ia memasang wajah malas, lalu membanting pintu lemari dengan kasar. Ia berbalik, hendak berpakaian.


“Nggak,” jawab Ben, tenang. “Mau antar istri aku periksa ke rumah sakit.”


Dea langsung menghentikan kegiatannya demi menoleh pada sang suami. Tidak mengerti.


“Dokter suruh kamu periksa langsung ke rumah sakit. Takut bayi kita kenapa-napa setelah kamu ... minum semalam.”


Dea semakin tertegun di tempat dengan pandangan nanar bercampur kebingungan. Sesekali juga meneguk ludah dengan kasar.


“B—Ben ....” Dea memanggil dengan suara lirih bergetar. Secara otomatis, ia menunduk sembari mengusap perut sendiri. “A—aku beneran ... lupa kalau aku sekarang nggak sendiri.”


Ben memperhatikan perubahan ekspresi tenang istrinya menjadi panik.


“Ben, anak kita nggak papa, kan? Aku lumayan banyak minum kemarin, sampai lupa .... Kemarin aku pulang sama siapa? Terus ... Mama-Papa tahu masalah kemarin malam?” Di setiap pertanyaan yang Dea ajukan, kepanikan perempuan itu semakin bertambah.


“Kalau kata dokter, karena kamu nggak kesakitan dan nggak pendarahan sama sekali, ada kemungkinan bayi kita nggak kenapa-napa. Cuman kamu disuruh periksa ke rumah sakit,” jawab Ben. “Semua orang tahu masalah kemarin malam, dan yang antar kamu ke sini ... Dion.”


Dea semakin terkejut mendengar hal itu.


Ben berdiri, masih dengan ekspresi sama. “Kamu siap-siap. Aku antar ke tempat pertemuan kamu dulu, baru ke rumah sakit.”


Dea bergeming di tempat. Masih terlihat kebingungan mengambil keputusan.


“Ben, kamu marah?” Dibanding memilih salah satu yang didahulukan antara pertemuan dan pemeriksaan, Dea lebih peduli dengan perubahan sikap suaminya.


Ben tidak menjawab. Meneruskan langkahnya keluar kamar, lalu menutup pintu dengan rapat sebelum bersandar di sana.


Pria itu menghela napas panjang.


Kalau sifat berisik, kepo, dan pengganggu ala Ben dulu tidak berhasil membuat Dea membenci dirinya, maka Ben harus menggunakan sikap lain agar Dea tidak lebih serius menyukainya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2