Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
11. Dijemput Paksa


__ADS_3

Dea benar-benar dalam masalah sekarang ini. Ia berjalan keluar dari kamar sembari terus menjelaskan pada sang kakak yang secara terang-terangan menunjukkan ekspresi tidak percaya.


"Mas, beneran. Ini ... aish, si mesum itu nggak bilang apa-apa, Mas! Aku nggak bakalan izinin andai aku tahu kalau dia mau ninggalin jejak di aku, Mas!" Dea susah payah menjelaskan. Ia bahkan memelas, agar hal ini tidak bocor ke keluarga besar demi menjaga nama baiknya. "Mas ... percaya sama aku, Mas."


Dion tetap bergeming. Matanya begitu teliti memperhatikan setiap background yang dilewati Dea, sampai menyimpulkan sesuatu. Keningnya mengerut tidak suka.


"Dea di mana sekarang?" tanya Dion penasaran.


Dea menghentikan langkahnya secara mendadak. Tiba-tiba tertegun saat ia baru memikirkan satu hal ini.


Bisa-bisanya Dea bebas berkeliaran di sekitaran rumah menunjukkan dirinya yang tinggal di kontrakan Ben.


"Itu bukan kamar hotel kan, De? Kamu di mana sekarang, hah?! Kenapa kamu kayak tinggal di gudang gitu, De?!" Kali ini, suara Dion meninggi karena syok. Membuat Dea kebingungan menjawab.


Perempuan itu menyilangkan telunjuk dan jari tengah kanannya sibuk memikirkan jawaban, tetapi sentakan kalimat Dion membuat Dea kembali blank.


"Kalian nggak ke luar negeri, De? Astaga ... Ben di mana?! Kalian di mana sekarang? ****! Share lokasi, saya jemput kamu sekarang! Saya nggak suka kamu ada di gudang kayak gitu, De! Bagusan gudang tempat barang-barang produksi saya malahan, daripada tempat itu, De!"


"Mas, ini itu ... aku sama Ben ...." Dea berhenti menjelaskan, ketika Ben sudah dari arah kamar mandi dalam keadaan menggosok kepala menggunakan handuk.


"Kalian apa?" balas Dion menuntut dengan suara lebih keras. "Cepetan bilang sekarang, atau saya yang turun tangan buat cari sendiri?! Kalau saya yang langsung cari, saya nggak bakalan Ben masuk rumah kita lagi!"


"M—mas!" Dea tidak setuju dengan gagasan itu, karena penolakan untuk keluar negeri didasari olehnya. "A—aku sama Ben ada masalah dikit, jadi nggak berangkat. Aku sama Ben hidup baik-baik aja kok, Mas. Mas nggak perlu khawatir."


"Saya yang cari sendiri!" ucap Dion dengan suara tegas, lalu mematikan sambungan telepon begitu saja.


Dea hendak menyela, tetapi ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa bisa mengatakan apa pun. Pundak perempuan itu seketika luruh, ketika mengulurkan ponsel pada Ben.


Ketika pria itu sudah maju untuk mengambilnya, Dea menarik tangan lebih cepat sebelum melayangkan pukulan keras ke lengan pria itu. Ben tersentak kaget sembari mengaduh kesakitan. Ia berusaha menghilangkan bekas sakit yang dibuat Dea dengan mengusap lengannya tersebut.


"De—" Ben hendak protes, tetapi tatap nyalang Dea membuatnya menghentikan kalimat.

__ADS_1


"Apa? Mau protes, hah? Ini apa?" Dea dengan jengkel menunjuk lehernya yang memerah. "Kamu ngapain saya, hah?!"


"Itu apa, De? Bukannya pas kepentok jatuh itu, ya?"


"Mana ada! Kepala saya yang kepentok kamu, kenapa malah leher yang merah?!"


"Itu kissmark, De, biar pas kita jalan-jalan nanti, semua orang tahu kalau Dea udah ada yang punya."


"Bikin malu, Ben!"


"Nggak papa, De, itu wajar kok buat yang udah nikah," balas Ben negosiasi. Namun karena Dea masih memasang ekspresi jengkel tanda tidak terima atas jawaban barusan, maka Ben mencoba solusi lain. "Jadi, apa? Mau balas dendam?" tanya Ben.


Dea bergeming, tampak berpikir.


Ben lebih dahulu menghela napas panjang, terdengar berat, kemudian maju ke arah Dea hingga mereka hanya berjarak selangkah. Pria itu turut menekuk lutut hingga wajahnya bisa sejajar dengan Dea.


"Nih, bikin juga di saya. Biar impas." Ben memberikan akses ke kulit lehernya yang bersih, tetapi Dea malah mendorong wajah Ben sampai pria itu hampir kehilangan keseimbangan.


"Ampun, De ... ampun."


Dea tidak mau menghentikan aksinya sama sekali, dan Ben tampaknya enggan berusaha untuk melepaskan diri dari setiap serangan yang sang istri berikan. Sampai Dea sendiri yang kelelahan dan menggeram kuat karena kesal.


"Ini gimana sekarang? Dion udah mau ke sini?" ucap Dea, kesal bercampur frustrasi. "Gara-gara kamu sih, maksa buat pindah ke sini! Ribet jadinya!"


"Emang kenapa, De, kalau Dion sama keluarga besar tahu kita di sini? Kayaknya lebih mendingan deh, daripada Dea ketahuan tinggal satu tempat sama mantan pacar."


"Ben, kamu itu kekanak-kanakan, tau, nggak?! Saya sama Elvan itu udah nggak ada apa-apa! Kamu ...." Dea menggeram sangat kuat menyerupai harimau marah. "Saya benci kamu!"


Setelah mengatakan itu, Dea bergegas masuk lagi ke kamar. Mengobrak-abrik isi koper untuk mengeluarkan pouch make up.


Ben menyusul, memperhatikan semua kegiatan Dea dengan bersandar di ambang pintu. Sama sekali tidak merasa bersalah, pria itu malah menarik sudut bibirnya—tampak sangat puas.

__ADS_1


Dea duduk di sudut tempat tidur, menghadap jendela agar ia bisa mendapatkan pencahayaan yang pas selama ia menutupi noda di lehernya.


"Nggak mandi dulu, De?" tanya Ben, berhasil menghentikan pergerakan Dea sebentar.


Perempuan itu tampak bingung sesaat, kemudian mencium aromanya sendiri. Walau Ben yakin bahwa tidak mandi satu hari saja tidak akan membuat perempuan itu langsung bau, tetapi Dea tetap terlihat tidak nyaman.


Ben yang membaca kondisi, bergerak otomatis untuk memberikan handuk kering yang bersih untuk Dea. Sementara perempuan itu langsung pergi dari kamar ke belakang.


Kesempatan itu dimanfaatkan Ben untuk mengambil ponselnya lagi. Tanpa beban, mengirimkan alamatnya untuk Dion. Setelah terkirim, Ben berpindah ke kontak iparnya yang lain: Dika. Mengirimkan pesan ke sana.


^^^Udah beres;)


^^^


Lalu menghapus untuk diri sendiri pesan tersebut. Dengan begini, Dea tidak akan tahu, bahwa apa yang sudah Ben lakukan adalah atas himbauan dari adik dan papa mertuanya sendiri.


...*...


Selama mandi kilat dalam kedinginan, Dea sudah merencanakan banyak hal pagi ini. Yakin bahwa Dion mustahil datang terlalu awal karena masih harus mencari alamat, sehingga Dea sudah mempertimbangkan untuk meninggalkan kontrakan ini dan pindah ke apartemen nantinya.


Namun, baru saja melewati ruang tengah hendak ke kamar, ekor mata Dea menangkap ada pemandangan aneh di dekat pintu utama. Perempuan itu mendadak berhenti, dan menoleh dalam gerakan slow motion ke arah ruang tengah.


Secara berangsur, matanya melotot dengan sangat lebar. Mulutnya turut membulat sempurna ketika mengetahui ada tiga pria yang amat ia kenali tengah berdiri di dekat pintu.


Salah satu pria juga memasang ekspresi sejenis dengan Dea: sang adik, Dika. Namun sedikit berbeda, karena pemuda itu tampak takjub lalu tersenyum bangga pada Ben.


Sementara Dion memasang ekspresi dingin, dengan rahang menegas sempurna. Matanya menatap nyalang, ketika ia mulai melangkah cepat ke arah Dea untuk mencengkeram tangan sang adik agar bisa diseret pergi.


"Dea, pulang sama saya sekarang!"


__ADS_1


__ADS_2