
“Jangan katakan ini ke Dea atau Dika, ya. Mereka nggak perlu tahu tentang Dion. Cukup mereka tahu, kalau mereka bertiga adalah saudara yang sempurna.”
Ucapan Kahar menjadi penghalang Ben untuk mengutarakan kebenaran pada Dea. Sebagai gantinya, pria itu berakhir gelisah tanpa ujung sejak keluar dari ruang kerja sang papa mertua.
Sebelum pergi, Ben meminta waktu berpikir pada Kahar, dan langsung dituruti. Ben dianggap sedang mempertimbangkan kesanggupannya dalam mengelola perusahaan, padahal pria itu sejujurnya sedang memikirkan beberapa hal tentang tindakan Dion sebelum ini. Dari kemarin malam, sampai pagi ini, pria itu menutup malam dan memulai hari dengan memikirkan sang ipar.
Sifat posesif Dion terhadap Dea, dan pengamatan berlebihan sang ipar pada adiknya—terasa terlalu berlebihan. Ben masih ingat dengan baik kejanggalan ketika Dion secara paksa membawa Dea pulang dari kontrakannya. Bahkan tidak mau menunggu sang adik berpakaian lebih dahulu.
Ben merasa ada yang janggal, dan kini, setelah diberitahukan faktanya. Ben semakin tidak nyaman, tetapi kali ini, dicampuri oleh perasaan cemburu.
“Ben, kamu nggak dengerin aku?”
Pertanyaan itu membuat Ben langsung menoleh terkejut ke arah samping. Ia mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk untuk mendengarkan saksama ucapan sang istri.
“Iya, De? Kamu bilang apa?” tanya Ben, menuntut.
Dea menghentikan kegiatan mengeringkan rambut sejenak, dan balas menatap datar pada suaminya.
“Kamu seriusan nggak dengerin?” tanya Dea, dengan suara masam. “Ah, nggak jadi! Udah nggak seru kalau siaran ulang!”
Ben mendengkus geli. Ia melupakan sejenak masalah semalam, dan memilih turun dari ranjang. Ben menghampiri Dea yang kembali sibuk dengan alat pengering rambutnya. Ia membuat setiap langkahnya menjadi sangat perlahan, sampai akhirnya tiba di belakang sang istri.
“Sini.” Ben mengambil alih alat dari tangan Dea. Ia membuat sang istri menghadap lurus ke cermin, lalu mulai melanjutkan kegiatan Dea tadi. “Jadi, kamu ngomong apa tadi? Aku nggak fokus, soalnya mikirin sesuatu.”
“Mikirin apa?” Dea langsung penasaran, bahkan mengalihkan pandangan pada Ben melalui bayangan pria itu di cermin.
“Tentang ....” Ben memanfaatkan beberapa detik waktunya untuk memikirkan tentang bagaimana caranya ia menjelaskan pada sang istri. Ketika ia menemukan ekspresi menuntut di wajah Dea, Ben buru-buru tersenyum. “Gaya apa lagi yang harus kita pakai supaya proses pembuatan anaknya bisa berhasil.”
Dea secara spontan menyikut pinggang Ben, yang dengan mudah dihindari oleh pria itu. Sebab, Ben sangat tahu, bahwa istrinya akan selalu KDRT jika membahas masalah pembuatan bayi, padahal, Dea sendiri akan menjadi yang paling bersemangat ketika mereka melakukannya.
“Apa sih, De?” balas Ben, dengan nada geli. Ia berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya geli.
__ADS_1
“Kamu nggak mikirin masalah di hotel kemarin, Ben?” tanya Dea, yang diam-diam merasakan keanehan dari perubahan sikap Ben saat ini.
“Nggak lagi,” jawab Ben. Ia mematikan alat pengering, lalu mengambil sisir untuk merapikan rambut Dea. “Fokus utama kita sekarang cuman satu: saling fokus ke diri kita sendiri.”
Kening Dea berkerut aneh, jelas tidak bisa langsung memahami maksud ucapan Ben.
“Maksudnya?” Maka, perempuan itu bertanya untuk menuntut lanjutan penjelasannya.
“Nggak bakalan ada yang bisa ganggu hubungan kita, kalau kita berdua saling peduli. Bodo amat lah, mereka mau ngapain juga. Asal nggak usah diladenin. Kan yang jalani hubungan kita berdua, orang luar nggak bakalan bisa apa-apa kalau bukan salah satu dari kita yang ladeni mereka.”
Dea melengkungkan bibirnya sedikit ke bawah, kemudian mengangguk teratur. Menyetujui gagasan sang suami.
“Jadi, De.” Ben menghentikan sebentar kegiatan menyisirnya demi bisa memandang lurus pada sang istri. Ekspresi santai yang semula ia tunjukkan, kini memudar tanpa bekas. Hanya ada wajah serius dalam ekspresi Ben saat ini. “Jangan ... pernah ... peduli ... dengan orang lain yang mau mencampuri urusan hubungan kita.”
Dea sekali lagi mengangguk patuh, khas seorang anak kecil yang dinasehati ayahnya.
“Termasuk Dion,” lanjut Ben, dengan rahang menegas. “Jangan pernah dengerin apa yang dia bilang, kalau dia coba-coba ikut campur urusan hubungan kita. Ini peringatan serius dari suami kamu, Dea.”
...*
...
“Saya mau bicara serius.” Kahar membuat suasana makan yang santai menjadi sedikit tegang setelah ucapannya itu.
Seketika, semua menghentikan kegiatan makannya. Termasuk Ben yang langsung mempertemukan tatapnya kepada Dion.
“Ben, akan bekerja di perusahaan Papa,” lanjut Kahar, yang langsung menampilkan ekspresi terkejut pada Diana, Dea, dan Dika. Lalu secara berangsur, ketiganya mulai menampilkan ekspresi berbeda.
“Cie ... Ben naik level, cie ....” Dika yang paling pertama menyambut dengan penuh semangat.
“Nggak bisa, Pa!” tolak Dea dengan tegas. Bahkan ia langsung memukul meja setelah mengutarakan penolakan tersebut. “Ben bisa apa, Pa? Dia bisanya cuman anter makanan, ngepel lantai, Pa. Dia nggak punya keahlian—“
__ADS_1
Dea langsung mengerem ucapannya ketika melihat sang kakak memasang sebuah senyum menyeringai untuk merendahkan ke arah Ben.
Kahar baru saja akan menanggapi ucapan putrinya, tetapi Ben langsung menyela.
“Pak, saya minta waktu buat pikirin ini, sambilin masih kerja di restoran,” kata Ben dengan suara rendah hatinya.
Dea langsung menarik lengan Ben secara kasar mendengar hal itu. “Kapan Papa nawarin ini ke kamu? Kamu nggak cerita aku sama sekali?”
“Soalnya belum pasti, De, makanya aku nggak cerita,” jawab Ben.
“Seenggaknya cerita, Ben. Aku mungkin bisa bantu buat bicara sama Papa biar nggak nuntut kamu kerja di perusahaannya. Aku tahu, kamu cuman bingung mikirin cara nolak Papa, ‘kan?”
“Dea ....” Kahar memanggil penuh peringatan.
“Apa sih, Pa?” Dea balas memelas. “Aku bukannya mau batasi Ben jadi pelayan doang. Tapi ... logis aja, Pa. Dia nggak punya pendidikan apa pun, sedikit pun, Pa, sebagai pengusaha. Papa mau, usaha Papa langsung turun kalau Ben kerja di perusahaan Papa?”
“Kan ada yang namanya belajar, Mbak.” Dika balas menyela, yang langsung mendapat tatap tajam dari Diana. Sang ibu memberi peringatan agar si bungsu tidak ikut campur karena tidak memiliki pengetahuan apa pun dalam topik obrolan keluarga yang lain.
“Berapa tahun buat belajar, Pa? Aku sama Mas Dion aja harus belajar bertahun-tahun, dan itu pun harus mulai dari nol beneran. Ben? Dia langsung ditawarin tanpa belajar atau usaha sama sekali? Seriusan, Pa? Papa paling logis di sini. Masa hal sepele kayak gini, Papa nggak pikirin!”
“Sudah, De. Papa sudah pikirin!” Kahar mencoba meyakinkan, tetapi ekspresi keras di wajah putrinya tidak berkurang sama sekali.
“Aku nggak setuju!” balas Dea dengan tegas. “Ben nggak bisa kerja sama Papa! Dia nggak bakalan bisa.”
Dika maupun Kahar ingin menyela, tetapi ucapan lugas dari Ben sudah menutup diskusi tegang pagi ini.
“Saya setuju sama Dea, Pak. Jadi, maaf, saya nggak bisa terima tawaran Pak Kahar kali ini.”
Dea menghela napas lega, disusul oleh Dion yang melakukan hal yang sama.
...****************...
__ADS_1