Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
7. Kesempatan dalam Kasur Sempit


__ADS_3

Dea santai menyantap sarapannya dengan santai, yang berbanding terbalik dengan Ben. Pria itu sedari tadi hanya memainkan sendok, sembari sesekali melirik Dea dengan tatap menunggu sesuatu.


“Apa?” tanya Dea dengan tegas, setelah menyadari bahwa sedari tadi, dirinya selalu diperhatikan. Secara spontan, ia membawa salah satu sisi rambutnya agak maju ke depan agar membatasi pandangan Ben, sementara sisi lainnya diselipkan di belakang telinga agar tidak mengganggu makan.


“Kenapa dia masih ada di sana?” Ben bertanya penuh selidik. Suaranya menelan, agar tidak ada yang mendengar obrolan mereka. “Kalian janjian beneran? Dan tunggu saya lengah, baru bisa saling ketemu?”


“Serius, Ben, kamu masih kepikiran itu?” Dea tampak muak, bahkan merotasi bola matanya, jenuh. “Enggak, Ben. Dia juga sewa apartemen di sana, jadi ya, mungkin aja dia beneran tinggal juga di sana. Emang kamu mau larang orang tinggal di tempatnya sendiri?”


“Maksudnya, kebetulan banget, De, dia munculnya sekarang.” Ben mendadak diam karena sibuk berpikir. Ekspresinya yang sangat serius memancing Dea untuk penasaran.


“Kenapa?” tanya Dea, ingin mencari tahu apa isi kepala pria di depannya ini.


“Ayo kita pindah kalau kamu sama dia beneran nggak punya urusan apa pun,” kata Ben, memutuskan. “Jujur, saya sebagai suami kamu nggak merasa aman kalau kamu itu satu tempat sama mantan pacar kamu itu. Gimana pun, kalian berdua pernah sama-sama punya perasaan, dan bisa aja kumat kalau kalian selalu berinteraksi lagi.”


“Ben, nggak bakalan. Kamu itu kekanak-kanakan banget.”


“Nggak bakalan mustahil, De, itu bisa aja terjadi.”


“Kenapa jadi kamu kekang saya sekarang? Kamu nggak punya hak buat batasi apalagi atur-atur hidup saya! Nggak ada pindah-pindah! Mau pindah ke mana lagi, selain di sini? Balik ke rumah, mustahil sekarang!” balas Dea lebih tegas.


Pria itu merotasi bola matanya karena jenuh. Ia lebih dulu menarik napas panjang, sebelum melanjutkan penjelasannya.


“Saya ... suami kamu sekarang, jadi berhak buat jaga kamu dari segala kemungkinan buruk yang ada. Kemunculan dadakannya sejak kemarin, itu udah termasuk mencurigakan, De. Apalagi sekarang, dia juga tinggal di sini. Mungkin Dea enggak berharap sama dia lagi, tapi pikiran dia siapa yang tahu? Bisa aja pas di-lift tadi dia nunggu kesempatan saya nggak ada di samping kamu, buat bisa pepet kamu lagi.” Ben menjelaskan serinci mungkin, tetapi merasa belum cukup ketika Dea hendak menyela. “Saya laki-laki, De, saya lebih paham isi otak dia dibanding kamu, walaupun kamu lebih kenal dia.”


Sekarang, Dea yang berpikir. Ia sebenarnya enggan memikirkan masalah ini, tetapi merasa bahwa sulit menenangkan Ben tanpa argumen kuat, jadi Dea harus memikirkan jawaban yang membuat pria ini tidak bisa berkutik.

__ADS_1


“Kalau kamu punya uang buat kita pindah ke apartemen lain, oke.” Dea menjawab santai, kemudian lanjut makan dengan tenang. Yakin jika Ben tidak akan bisa memenuhinya.


“Oke, kita pindah habis sarapan.”


Dea melotot ke arah Ben yang sudah mulai memakan sarapannya.


“Secepat itu?”


...*


...


Dea tidak bisa menutupi ekspresi jijik yang tergambar jelas di wajahnya saat mulai tiba di depan kontrakan Ben. Meski demikian, ia tetap menyusul suaminya hanya demi menilai seberapa buruk tampilan dalam ruangan tersebut, untuk menolak tinggal di tempat ini.


“Kamu ... mau ajak saya tinggal di sini?” Dea bertanya dengan nada terguncang, syok. “Saya kerja sampai lupa waktu cuman buat perbaiki hidup, bukannya tinggal di tempat sempit-kotor kayak gini!”


“Ogah!” balas Dea tegas, sembari melepaskan tangan Ben dari pundaknya secara paksa. “Saya mau balik ke apartemen. Terserah kamu mau tinggal di mana, saya nggak peduli.”


“Saya mau pulang ke rumah aja kalau gitu.”


Dea menatapnya geli. “Mau ngelapor? Cih, dasar bocah!”


“Mau CLBK sama mantan? Cih, dasar cewek!”


“Kamu tuh, ya!” Dea mengambil ancang-ancang hendak melayangkan pukulan di wajah Ben, tetapi pria itu malah memamerkan senyum ingin menunggu hadiah tersebut. Membuat Dea semakin jengkel hingga berakhir menggeram kesal.

__ADS_1


“De, saya udah ngalah kita nggak ke luar negeri demi Dea. Kenapa nggak mau ngalah selama lima hari tinggal di sini? Cuman lima hari aja, De, nggak bakalan lama, kok.” Ben kembali bernegosiasi, kali ini memanfaatkan perasaan perempuan yang mudah dimanipulasi. “Cuman lima hari banding 31 tahun umur Dea yang tinggal di rumah mewah ... ini nggak ada apa-apanya sama sekali, De. Cuman kayak mimpi sebentar tinggal di rumah kecil, sekalian motivasi Dea supaya makin semangat kerjanya biar nggak bakalan pernah tinggal di rumah kayak gini lagi.”


Dea terdiam, berpikir sejenak. Sementara Ben menunggu jawaban dengan senyum penuh harap.


Pada akhirnya, Dea hanya bisa merotasi bola mata karena jenuh. Ia mengembuskan napas secara kasar, kemudian memalingkan wajah ke arah lain.


“Cuman lima hari!” balas Dea, tegas.


Senyum Ben seketika berubah cerah. Ia mengiyakan hal tersebut dengan dua anggukan.


“Iya, cuman lima hari aja, De. Sekalian nambah pengalaman hidup jadi orang susah.”


Dea tidak membalas, tetapi ekspresi malasnya sudah menjadi jawaban bahwa perempuan itu tidak suka dengan pengalaman satu ini.


Ben yang membawa semua barang-barang ke kamar, diikuti oleh Dea dengan malas. Perempuan itu hanya melipat tangan depan dada, sembari menilai setiap ruangan.


“Ini kamar kamu? Ada kamar tamu?” tanya Dea, ketika melihat seisi kamar, dan merasakan ketidakpuasan di sini.


“Kamar tamu di kosan buat apa, De? Nggak ada lah,” jawab Ben. Ia terlebih dahulu meletakkan semua koper dan tas di samping lemari, kemudian melirik dengan senyum menyeringai penuh kemisteriusan ke arah Dea. “Kita tidur di sini, nggak pake batasan sama sekali.”


“Di sini? Kamar sesempit ini?” tanya Dea tidak percaya. “Ini cuman buat satu orang, Ben!”


“Cukup buat dua orang kok, dempetan tapi. Nanti bisa sambil peluk Dea.”


Dea sudah melotot syok mendengar hal itu, tetapi tampaknya belum cukup bagi Ben.

__ADS_1


“Sekalian penuhi janji buat Pak Kahar, De, buat bikinin cucu.” Ben berjalan mendekat, sangat pelan penuh perhitungan, sehingga membuat Dea secara otomatis mundur waspada. Pria itu begitu cepat berubah dari seseorang yang tampak santai dan kekanak-kanakan, menjadi sosok misterius penuh intimidasi. “Dea tahu kalau saya nggak pernah ingkar janji, kan?”



__ADS_2