
Ekspresi terkejut Ben sudah bisa diprediksi oleh Dea, bahkan perempuan itu susah payah menahan diri agar tidak melontarkan tawa puas setelah melihat perubahan ekspresi suaminya.
Ben sempat memalingkan wajah ke arah lain, yang Dea tahu sebagai usaha untuk menormalkan ekspresinya. Perempuan itu juga menebak bahwa suaminya akan pergi setelah mendengar pengakuan ini—dan benar saja.
Ben menyingkirkan tangan Dea dari tubuhnya, kemudian bangkit untuk duduk. Ia menurunkan kedua kaki ke lantai, dalam posisi membelakangi Dea.
“Kamu tahu tujuan aku nikah sama kamu, ‘kan?” tanya Ben memastikan, bahwa istrinya ini tidak lupa dengan kalimat menyakitkan yang pernah ia sampaikan. Kalimat, yang membuat Ben serasa ingin menggig*t lidah sampai put*s karena sudah membuat istrinya terluka, sampai harus minum hanya demi melupakan ucapan terkutuknya itu.
“Ya,” jawab Dea santai, setengah jujur. Ia memang sudah mengerti alasan perubahan sikap suaminya, tetapi tidak sepenuhnya memahami tujuan asli pernikahan ini bagi Ben. Yang jelas, Dea sangat yakin bahwa penyaluran kebutuhan biologis bukan alasan utama. “Emang kenapa? Sebagai perempuan normal, aku juga butuh laki-laki. Jadi kenapa? Simbiosis mutualisme, ‘kan? Apalagi, kamu juga lumayan ... ganteng, unik juga yang paling penting, plus ... kamu makin menantang buat aku taklukkan setelah perubahan sikap kamu yang plin-plan ini.”
Ben bergeming sejenak, lalu mengambil boxer-nya dari lantai untuk dikenakan.
“Kalau kamu lihat gimana menggilanya aku nyerang kakak angkat kamu itu, dan gimana aku sampai lupa diri dengan minum minuman keras cuman karena ucapan kamu, kamu seharusnya paham ... seberapa besar aku mencintai kamu sekarang.” Dan kalimat Dea ini, seratus persen jujur. Bahkan, senyum perempuan itu meredup saat mengatakannya, menunjukkan betapa serius perasaan yang ia miliki walau dengan sedikit niatan menguji sang suami. “Aku ... cinta kamu, Ben.”
Pria itu berdiri. Ia berjalan tidak acuh menuju kamar mandi.
“Kalau lihat gimana cemburunya kamu aku deket sama Elvan dan Mas Dion, kamu juga harusnya punya perasaan yang sama kayak aku,” lanjut Dea, sembari bangkit dari posisi berbaringnya. Ia sama sekali meminta pria itu untuk berhenti melangkah, tetapi kalimat Dea selanjutnya berhasil menjeda pergerakan kaki Ben. “Kamu juga cinta aku, ‘kan? Bahkan aku yakin ... lebih dari perasaan aku ke kamu. Iya, ‘kan?”
Ben setengah menoleh pada Dea saat mendengar hal itu. Kedua tangannya di sisi tubuh mengepal kuat. Lalu lanjutkan perjalanan, dan masuk ke kamar mandi.
Dea merotasi bola matanya. Semakin muak dengan sikap suaminya ini, tetapi tidak masalah. Dia akan menguak semuanya sendiri.
Ah tidak juga. Dea tidak bisa sendiri. Ia harus memanfaatkan seseorang untuk membantunya.
__ADS_1
Opsi pertama yang hendak Dea mintai tolong adalah Elvan, tetapi mempertimbangkan betapa berbahaya ipar si mantan pacar, maka Dea membelokkan tujuan ke sang kakak sendiri.
Dion.
Dea mengambil ponselnya, lalu menghubungi sang kakak angkat.
*
Perjalanan pulang masih sama seperti kemarin, dingin tanpa ada suara di antara mereka. Dea juga tidak tertarik sama sekali membuka obrolan santai dengan suaminya, dan memilih memandang malas pada jendela sampai lehernya terasa pegal.
Perempuan itu mengeluarkan ponsel dari tas tangannya. Mengecek pesan dari kontak Dion, dan menemukan dua chat baru dari kakaknya itu. Setelah persetujuan kesepakatan yang terjalin antara mereka pagi tadi, sekarang adalah saatnya untuk mulai mencoba langkah pertama.
“Ben, nanti di kafe deket perempatan depan sana, kamu berhenti ya,” kata Dea tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel, sembari mengetikkan balasan untuk Dion. “Aku mau ketemu sama Mas Dion. Kamu nggak masalah nunggu sebentar kan?”
Ben bergumam malas sebagai jawaban. Ia mempertahankan sikap acuh setelah diskakmat oleh Dea pagi tadi. Namun meski demikian, pria itu masih penasaran dengan kegiatan Dea saat ini. Jadi, ia melirik tipis pada sang istri yang sibuk berbalas pesan dengan sebuah kontak. Sangat asyik, balasan pesan lain dari si lawan bicara datang kurang satu menit, dan Dea juga membalas lebih cepat dari seharusnya.
“Ben, kamu nggak papa?” tanya Dea, yang melihat jelas bagaimana rahang suaminya mengeras, dengan buku-buku tangan memutih saat meremas setir. “Kamu ikhlas nggak, mau tungguin aku?” Ia semakin menguji, sembari melipat bibir ke dalam demi mencegah senyum.
“Ya,” balas Ben santai. “Nggak ada masalah sama sekali.”
“Terima kasih ... suami pengertian aku.”
Dea semakin suka mengganggu Ben, dengan memeluk manja lengan pria itu, sampai kekuatan cengkeraman Ben pada setir mobil mulai berkurang. Dea merasakan dan menyadari hal itu semua dengan mudah, karena tingkat kewaspadaannya semakin meninggi selama menyusut sisi lain dari sang suami.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, mobil mulai berhenti di parkiran kafe yang Dea maksud. Ben sedang mematikan mesin mobil, ketika Dea sudah melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil penuh antusiasme.
Ben diam di dalam mobil, menemukan bahwa tujuan pertemuan Dea sedang duduk di dekat jendela kaca yang lebar, sehingga Ben bisa melihat kegiatan mereka. Hal itu sedikit membuat Ben lega, sekaligus merasa tidak rela secara bersamaan. Namun, ia mencoba bertahan di tempat persembunyian ini.
Sementara Dea semakin bersemangat membuat suaminya mengamuk. Ia mendatangi Dion dengan pelukan hangat, cipika-cipiki manis, kemudian menggenggam lengan sang kakak sembari melompat-lompat kegirangan. Perempuan itu berbicara dengan senyum yang sama sekali tidak memudar, membuat Ben memalingkan wajah sebentar ke arah lain demi meredakan kecemburuan dan ketidakrelaan.
Seharusnya, Ben yang diperlakukan seperti itu. Atau jika ia menemukan sang istri bersikap demikian pada pria lain, maka Ben seharusnya bisa keluar dari mobil dengan penuh kemarahan, memisahkan mereka, dan memukul pria kurang ajar yang mendapatkan pelukan hangat dari istrinya dengan mudah.
Sayangnya, semua keinginan yang hendak Ben lakukan itu, hanya bisa tertahan di pikiran saja. Ben hanya mampu melepaskan sabuk pengaman agar tidak merasa sesak oleh obrolan hangat mereka yang sangat riang. Sangat berbanding terbalik dengan pembicaraan antara Ben dan Dea akhir-akhir ini.
Diam-diam, membuat Ben iri pada kedekatan mereka. Andai tidak ada tujuan tersembunyi ini, Ben tentu tidak akan membiarkan istrinya merasakan setitik kekesalan hanya karena didiamkan suami sendiri.
Ben tidak akan membiarkannya. Namun, ia tidak bisa. Ben memilih menjalankan rencana utama.
Perasaan Ben semakin memanas ketika Dea mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya, kemudian diberikan pada Dion. Saat lawan bicara istrinya itu menerima hadiah, ia langsung membukanya dan memamerkan sebuah jam tangan bermerek dari sana.
Dion semakin membuat suasana kian mendidih dalam mobil, saat ia dengan tulus memandang lawan bicara sembari menggenggam lembut tangan Dea. Ben mulai membuka sedikit bagian pintu mobil, bersiap jika seandainya ia diharuskan untuk keluar dari sini dalam gerakan kilat.
Mereka mengobrol lebih intens sekarang, dan senyuman keduanya mulai meredup. Hampir menghilang sepenuhnya ketika Dion mulai bicara serius.
Ben mulai merasa waswas, sehingga ia turun dari mobil. Berdiri di samping mobil yang pintunya masih terbuka. Matanya tidak terjeda sama sekali dalam memandang istrinya yang sedang bersama pria asing.
Kewaspadaan Ben semakin meningkat, bahkan mulai melotot saat melihat bahwa Dion mulai melirik aneh saat tangannya berada di samping wajah Dea. Ben langsung membanting pintu secara kasar, lalu berlari memasuki kafe.
__ADS_1
Namun, terlambat. Ketika ia tiba dengan napas berseru cepat, ia menemukan Dea sudah dicium oleh kakak angkatnya.
...****************...