Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
41. Sebuah Jalan Sesat


__ADS_3

Sarapan menjadi waktu terbaik untuk keluarga besar mendiskusikan sesuatu. Termasuk pagi ini. Suasana tenang yang semula tercipta sejak dimulainya makan, mulai diisi oleh beberapa obrolan santai.


“Karena Ben nggak bisa terusin usaha Papa, jadi Dika yang harus gantiin Papa nanti.” Kahar berbicara, seketika membuat sang objek obrolan menghentikan kegiatan menyendok makanan dan melirik masam pada sang papa.


“Pa, aku masih sibuk kuliah!” balas Dika, memelas. “Lagian, aku nggak suka jadi pengusaha. Aku sukanya di bidang seni. Aku suka sama apa yang aku lagi kerjain sekarang ini.”


“Terus, siapa anak Papa yang bisa lanjutin usaha Papa, Dik?” tanya Kahar, dengan memasang ekspresi marah yang dibuat-buat.


“Mas Dion tuh, udah cukup,” balas Dika. Kali ini, ia tidak lagi menyembunyikan ekspresi masam dari wajahnya.


“Dion mau urus usahanya sendiri. Papa nggak suka rekrut orang asing dalam perusahaan keluarga, kecuali menantu yang emang punya status jelas dalam keluarga kita,” jelas Kahar, yang seketika membuat Dion langsung sibuk dengan kegiatan makannya dalam posisi kepala tertunduk dalam.


“Aish!” keluh Dika, tidak puas dengan masalah saat ini. “Aku nggak mau!”


“Dika ....” Kahar memanggil dengan suara panjang untuk memberikan peringatan pada sang putra, tetapi Dika enggan mengalah saat ini.


Pemuda itu gegas berdiri dengan suara kasar sampai terdengar derit keras dari peraduan kursi kayu dan ubin putih. Ia mengabaikan separuh makanan di atas piringnya, bahkan tidak peduli untuk minum. Dika hanya menyeret tas secara paksa, membawa ke punggungnya, lalu meninggalkan ruangan.


“Dika! Dika ...! Habisin sarapan dulu, Dik!” Diana terus memanggil, bahkan hendak mengenal kepergian sang putra. Namun, ucapan Kahar menghentikan niatannya.


“Nggak usah dikejar, Ma,” kata Kahar dengan suara tegas. “Dia kebiasaan, dari kecil nggak pernah nurut kecuali atas apa yang memang dia mau.”


Kahar dengan santai meminum airnya ketika Diana memasang ekspresi kebingungan, dan Dea saling memandang dengan suaminya. Sementara Dion, hanya bisa sibuk makan seolah tidak terjadi apa-apa.


Sementara Ben, mulai menunduk dalam usai memutus pertemuan pandangannya dengan Dea, karena sibuk pada pikiran dan sebuah ketakutan dalam dirinya.


Bahwa masalah ini, bisa saja semakin rumit jika Kahar belum menemukan keputusan tepat mengenai penerusnya.


Sementara Ben—pria itu melirik ke arah Dion yang dibalas oleh sang ipar dengan tatapan tajam—cemas pada apa yang akan terjadi ke depannya.


...*


...

__ADS_1


“Kenapa bukan kamu aja yang lanjutin usaha Papa, De?” tanya Ben ketika di jam istirahat, ia menghabiskan makan siangnya di ruangan Dea. “Kamu bisa urus, ‘kan?”


“Bukan cuman masalah bisa aja, Ben,” kata Dea. Ia menjedanya sejenak karena sibuk menyesap minumannya beberapa teguk demi melancarkan makanan sampai ke perut. “Perusahaan Papa itu udah besar banget. Banget! Jadi, jangankan kamu, Ben. Aku aja ragu mampu ambil tanggung jawab sebesar itu. Aku nggak berani. Restoran ini aja, Mas Dion sama Papa selalu dukung aku buat bikin banyak cabang. Tapi aku tetep nggak berani buka usaha yang terlalu besar.”


Ben mengangguk-angguk kecil sembari mengunyah demi memberikan pembenaran atas alasan Dea.


“Yang aku heranin, Ben, kenapa Papa ngotot mau ngasih usahanya ke orang-orang yang nggak pantas,” kata Dea, yang seketika terlihat terkejut atas ucapannya sendiri, hingga membeku di tempat.


Dea merasa bersalah karena mengatakan hal-hal tidak baik untuk suaminya.


Namun, Ben malah terlihat melebarkan mata seolah menuntut mengapa sang istri mendadak diam.


“Kenapa?” tanya Ben. “Lanjutin, De.”


Merasa ragu, Dea sedikit yakin dengan ekspresi santai suaminya. Jadi, ia mulai menjelaskan opininya lagi.


“Menurut aku, ngapain papa pusing nyari pengganti, sementara Mas Dion ada. Kalau cuman pake alasan Mas Dion mau bangun usaha, papa bisa hasut Mas Dion sampai mau. Papa ahlinya hasut-menghasut,” kata Dea. “Kayaknya, aku yang harus gantiin papa buat hasut Mas Dion.”


Padahal, Ben juga orang asing yang secara beruntung menikahi putri Kahar. Sehingga memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan jabatan tinggi secara mudah.


Sementara Dion, hanya sekadar ....


“Aku mau temuin Mas Dion dulu, mumpung masih jam istirahat,” kata Dea sembari meminum minumannya sampai tersisa seperempat gelas. Ia berdiri terburu-buru, dan hanya mengambil ponsel dari atas meja. “Kamu di sini aja dulu sambilin istirahat, Ben. Aku bakalan pulang sebelum jam istirahat habis.” Dea mengatakan itu dengan segenap kepercayaan dirinya.


Sementara Ben dengan pikiran yang masih loading, sibuk memikirkan masalah status ini.


Dion hanya sekadar ... anak angkat yang tidak diberikan kesempatan untuk mengambil alih jabatan Kahar. Di sisi lain, status anak angkat yang Dion terima ... berkesempatan membuat pria itu memiliki Dea.


Bukan sebagai adik-kakak saja, tetapi memiliki kemungkinan untuk menjadi ... sepasang kekasih bahkan suami-istri.


Ben langsung berdiri cepat usai pemikiran ini mendatangi kepalanya.


Mengabaikan makanan dan kondisi meja, bahkan tidak menyentuh gelas minuman sama sekali. Langsung mengejar Dea secepat yang ia bisa.

__ADS_1


...*


...


“Kenapa masih kerja di sini kalau Mas mau bangun usaha sendiri?” tanya Dea setelah mendaratkan dirinya di sebuah sofa panjang tanpa sekat. Ben yang diberi kesempatan menjadi sopir ke sini, ikut duduk di samping istrinya. “Mas paling cocok buat gantiin papa. Kenapa nggak mau, Mas? Mas terlalu giat kerja, sampe nggak peduli jam istirahat sama sekali, dan Mas mau ninggalin perusahaan ini gitu aja? Mas ... aku nggak pernah paham cara pikir Mas gimana!”


“Nggak usah dipahami, De,” balas Dion santai. Ia meninggalkan pekerjaannya dengan menutup laptop, kemudian menghampiri sofa yang diduduki sang adik. Dion langsung memepetkan tubuh pada sang adik. “Mas nggak bisa gantiin Papa. Dika nggak mau dan nggak bisa. Kamu aja yang gantiin Papa, De, kamu bisa dan peluang besar buat bisa bikin perusahaan ini makin besar.”


“Aku takut, Mas,” jawab Dea jujur. “Aku ... restoran aja nggak terlalu aku kembangin dengan baik, apalagi punya papa. Aku takut ....”


“Dea bisa! Mas bakalan dukung Dea dengan baik. Percaya sama Mas, De.”


Sementara kakak-adik ini sibuk dengan obrolan mereka, Ben malah fokus pada kedekatan keduanya. Ia segera merapatkan tubuh pada sang istri, lalu menyelipkan tangan secara susah payah ke pinggang Dea.


Dea mengangguk kecil. “Aku tahu Mas sebaik itu, tapi ... aku takut sama diri sendiri.”


Dion menghela napas panjang, seolah sangat berat dengan masalah yang sedang melanda mereka saat ini, dan respons sang kakak membuat Dea mulai dilingkupi rasa penasaran. Merasa ... ada sesuatu hal lain yang menekan sang kakak, dan entah apa itu.


“Kenapa, Mas?” tanya Dea, khawatir.


“Andai Mas bisa gantiin papa, De,” ucap Dion dengan suara lesu.


“Ya udah! Gantiin!” kata Dea dengan suara merengek manja, sembari menggoyang-goyangkan tubuh Dion.


Ben langsung melotot mendengar bagaimana suara istrinya barusan. Berbanding terbalik dengan cara mereka mengobrol yang didominasi oleh debat.


“Mas ... cuman punya satu cara buat gantiin papa, De,” kata Dion. Pria itu memandang kosong dan lurus ke depan, seolah sedang sibuk dengan pikirannya. Membuat Dea semakin antusias menunggu lanjutan ucapan Dion.


“Apa, Mas?” tanya Dea penasaran. “Aku bakalan bantu kalau aku emang bisa bantu Mas lanjutin usaha Papa.”


“Iya, De,” jawab Dion. “Cuman kamu yang bisa bantu Mas.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2