
Dea sebelumnya selalu berpikir bahwa suaminya memiliki kadar fisik standar, dengan mines sifat menyebalkan yang mustahil akan dilirik oleh banyak perempuan.
Namun, saat ia meninggalkan tempat persembunyiannya yang tenang dan memilih menyimak bagaimana interaksi Ben selama bekerja dengan duduk di salah satu meja restoran—Dea seketika berubah pikiran.
Tidak jarang ia melihat beberapa lirikan menggoda dari para gadis muda yang tidak tahu malu diarahkan pada Ben. Dea merasa sangat kesal, sehingga ia mencengkeram sumpit di tangannya begitu kuat. Apalagi ketika Ben malah balas tersenyum pada para pelanggan, pria itu terlihat seperti penggoda.
Sialnya, Ben memang semenggoda itu. Walau tidak memiliki tubuh yang terlalu berotot—tangan, perut, dan dadanya yang keras sudah menunjukkan sosok pekerja keras dalam dirinya. Apalagi dengan sifat sabar dan mudah membujuk rayu, Dea sangat yakin bahwa suaminya bisa dengan mudah memiliki banyak gadis untuk menjadi kekasih hati daripada Dea yang sudah tua.
Tekanan di sumpit kayu semakin kuat, disertai dengan gigi-gigi yang saling menekan. Dea melampiaskan kekesalannya sendiri dengan menyiksa tubuhnya. Sampai akhirnya, bunyi patahan dari dua kayu yang ia tekan membuatnya terkejut. Dea secara spontan menjatuhkan kayu tersebut karena syok, dan semakin kaget saat menemukan sepasang tangan lain tengah menyentuh pergelangan tangannya.
Saat mengangkat pandangan, Dea menemukan sosok Ben sebagai pelakunya. Pria itu terlihat sangat peduli dan teliti dalam memeriksa tangan Dea yang sedikit memerah.
“Kalau mau latihan karate, bilang dong, Bu. Nanti saya siapkan si rumah bata buat Bu Dea belah.” Ben berujar dengan nada bercanda, berhasil membuat beberapa pasang mata mengarah geli pada mereka.
Menyebabkan Dea merasa sangat risi, sehingga secara paksa menarik dua tangannya dari genggaman Ben. Ia lalu memalingkan pandangan ke arah lain demi menghindari sang suami.
Ben juga tidak memiliki usaha lebih untuk membujuk atau mencari tahu mengenai perubahan sikap istrinya. Atas tuntutan pekerjaan, Ben segera berpamitan dari si bos demi melanjutkan tugas.
Sementara Dea kembali meremas pinggiran meja dengan kuat.
Bertekad membuat Ben menyesal sudah memilih gadis lain dibanding dirinya sendiri.
...*...
Dea sibuk memilih deretan pakaian dari lemarinya untuk dikenakan setelah ia membersihkan tubuh. Tangannya berhenti di sebuah hanger yang menggantung sehelai kain berwarna merah menyala.
Dea dengan penuh tekad mengganti kimono mandinya menggunakan pakaian tersebut. Tidak lupa perawatan diri dengan lebih terburu-buru daripada kemarin-kemarin, karena ia harus siap sebelum suaminya datang ke sini.
__ADS_1
Tepat setelah Dea mengenakan lipstik merah menyala, pintu kamarnya terbuka. Dari bayangan di cermin, Dea sempat melihat suaminya terdiam di ambang pintu dengan tangan masih memegang gagangnya. Lalu meneguk saliva begitu kasar.
“De ....” Bahkan, ketika Ben memanggil, suara pria itu sempat tersendat di tenggorokan akibat pemandangan di depan saat ini.
Dea hanya melirik sekilas. Ia tidak lagi peduli, tetapi sempat mendengarkan suara pintu yang dikunci. Barulah Dea mengangkat pandangan lagi demi menemukan bahwa suaminya mulai berjalan mendekat ke arahnya.
Dea membiarkan, bahkan tetap duduk dengan tenang di tempatnya. Sampai, Ben berdiri tepat di belakang punggungnya, dan meletakkan dagu di pundak terbuka Dea—pria itu memejam sembari menghirup panjang aroma feminin dari tubuh istrinya.
Namun, ketika Ben berniat menikmati aroma wangi itu melalui sebuah ciuman di leher, Dea dengan budu-buru menghindar.
“Aku lagi ngidam mau pakai pakaian gini, plus make up sebelum tidur,” kata Dea yang tidak sepenuhnya salah.
“Ngidam mau aku juga nggak, De?” tanya Ben dengan suara rendah sensual tepat di samping telinga sang istri.
Sempat membuat Dea meneguk ludah dengan kasar, tetapi kemudian ia samarkan fakta tersebut dengan bergegas berdiri cepat bahkan terkesan kasar.
Di saat itulah, Ben kembali mendekat. Pria itu berlutut di samping ranjang, demi bisa memperkecil jarak antara wajahnya dan telinga Dea.
“Yakin nggak kangen aku, De?” tanya Ben, sembari meletakkan telapak tangannya di pinggang sang istri. “Kalau kamu nggak kangen, aku yang kangen.”
Ketika Ben berniat menaikkan rabaannya, Dea dengan sangat kasar menampar keras punggung tangan suaminya. Lalu berbalik hanya untuk mendorong bahu Ben agar segera menjauh.
“Aku lagi Ilifil sama laki-laki yang nggak bisa jujur sama pasangan sendiri!” kata Dea dengan tegas, lalu kembali ke posisi berbaring semula.
Ben langsung merapatkan bibir dengan kening berkerut dalam. “Masih masalah kemarin, De? Kamu nggak percayaan banget sama aku, De.”
“Aku terlalu takut percaya, Ben, karena sakitnya setelah dikecewakan ... itu sakit banget. Lebih buruk dari luka fisik biasa,” jawab Dea dengan suara yang secara bertahap berubah memelan.
__ADS_1
Sekarang, Ben membisu di tempat. Ia benar-benar merapatkan bibir sekaligus mengurangi hasr*tnya setelah apa yang Dea sampaikan.
Bahkan walau Ben harus menekan keinginannya dengan sangat kuat sampai merasakan batin yang sedikit terluka, pria itu tidak masalah. Tetap merapatkan bibir akan fakta sebenarnya.
Pria itu berdiri, berbalik, dan meneruskan perjalanannya ke kamar mandi.
Dea merasakan pipinya basah oleh tetesan cairan yang berasal dari matanya sendiri. Fakta bahwa Ben lebih memilih menyembunyikan kebenaran daripada istrinya sendiri berhasil membuat perempuan itu terluka. Cukup dalam.
...*...
Berniat berangkat lebih awal seperti kemarin, Dea hendak mengambil bekal di ruang makan. Di saat itu, ia didatangi oleh Dion yang belum siap bekerja.
“Udah mau berangkat aja sekarang, De?” tanya Dion yang berhasil mengambil alih perhatian sang adik.
Dea memberikan anggukan sebagai jawaban.
“Kenapa harus kamu yang berkorban, sementara dia yang salah, De? Harusnya dia yang kamu usir, atau suruh berangkat awal. Bukan malah kamu sendiri yang abai sama keluarga besar cuman karena gengsi sama laki-laki kayak Ben.” Dion dengan sangat rutin memberikan hasutan sembari menilai perubahan ekspresi sang adik.
Namun, Dea sama sekali tidak mengindahkan ucapan pria itu. Membuat Dion diam-diam menggeram dalam hati karena kemarahannya. Ia tidak suka dengan sikap lamban sang adik dalam berpisah dari Ben.
Dion membutuhkan perpisahan yang lebih cepat, agar sesegera mungkin bisa masuk ke dalam kehidupan pribadi sang adik. Maka, Dion menggunakan cara lain untuk bisa menghancurkan hubungan Ben dan Dea.
“Kamu denger obrolan Ben dan pacarnya semalam, De?”
Sang adik menegang sempurna dengan mata melotot sempurna. Dea menggeleng kecil sembari menatap takut pada sang kakak.
“Kayaknya mereka telponan setelah kamu tidur, De,” kata Dion dengan susah payah menahan senyum di sudut bibirnya. “Saya dengar kalau ... mereka berencana ketemuan di waktu dekat ini. Kamu mau gerebek mereka, De?”
__ADS_1
...****************...