Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
13. Sidang Keluarga


__ADS_3

Sidang segera diadakan setelah Dea dan Ben sudah datang ke ruang keluarga. Kali ini, Dika juga menghubungi Kahar dalam bentuk video call, sehingga anggota keluarga ada di sini mendengarkan penjelasan dari si pengantin baru.


Dea baru saja duduk di salah satu kursi, disusul oleh Ben di sampingnya. Hal itu langsung membuat mata Dion memicing tidak suka, tetapi ia hanya bisa merotasi bola mata karena jengkel, kemudian memalingkan wajah ke arah Diana.


"Jadi? Kalian nggak ke luar negeri?" tanya Diana keheranan. "Kenapa?" tuntut wanita itu. Ia melirik Dea sebentar, lalu Ben, menunggu jawaban.


Dea tampak kebingungan, karena di sini dia yang memaksa agar Ben tidak ke bandara hari itu. Inginnya menjawab jujur, tetapi Ben malah mendahului dengan suara jelas.


"Pas dalam perjalanan, saya lagi gangguan kesehatan, Tante, jadi terlambat sampai ke bandara," kata Ben, bohong. "Jadi ya ... Dea sarankan supaya kami ke apartemennya buat tinggal selama lima hari supaya keluarga nggak ada yang kecewa karena kami batal ke luar negeri."


"Dea punya banyak uang. Apa susahnya beli tiket lagi? Atau tinggal bilang aja, kami bisa beliin baru."


"Bukan masalah bisa beli baru, Tante," kata Ben lagi, menengahi. "Masalahnya ... kami malu karena nggak bisa menghargai tiket hadiahnya. Jadi, kami malu pulang sebelum lima hari itu. Maaf, Tante."


Dion mengembuskan napas kasar, memancing semua perhatian mengarah padanya kecuali Diana yang masih fokus pada permasalahan utama.


"Kalian yang nggak jujur ini, jauh lebih nggak menghargai kami loh," kata Diana dengan nada kecewa.


"Maaf, Tante, saya belum bisa berpikir dewasa."


Dea melirik dengan sinis ke arah Ben. Entah mengapa, ia merasa bahwa kalimat itu ditujukan padanya.


"Jadi, drama handukan doang ke sini, itu karena apa? Nggak malu, usia tiga-satu keliaran di jalan cuman pakai handuk doang? Walaupun pakai mobil, tetep aja ... malu-maluin!"


Di saat Ben bersiap untuk buka mulut menjawab dengan kebohongan, Dion sudah memotongnya lebih cepat.


"Saya yang paksa Dea pulang, Ma, nggak sempet tunggu dia pakai baju," kata Dion sembari menatap lurus pada Ben. Seolah menantang sang ipar untuk menjadi pahlawan bagi Dea. "Saya sebagai kakak yang selalu berusaha memastikan adik saya hidup makmur dari ujung kuku sampai ujung rambut, nggak ikhlas lihat adik saya malah tinggal di kontrakan yang bahkan lebih buruk dari gudang rumah. Dea, saya, Dika, sama Papa kerja banting tulang sampai lupa waktu supaya kami sekeluarga nggak ada yang hidup menderita. Tapi ada orang asing yang malah seenaknya bawa Dea tinggal di tempat kumuh dan kotor! Saya jelas marah, Ma! Saya nggak mau buang waktu semenit aja buat Dea lebih lama di rumah itu!"

__ADS_1


Diana tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia menarik napas berat, kemudian mengembuskannya dengan panjang.


"Lagian, kaca mobil saya gelap kok, Ma. Palingan cuman pas berangkat sama pas tiba di rumah aja Dea kelihatan di luar. Sisanya enggak."


"Tetep aja, Dion ...." Diana membantah ucapan sang anak. "Adik kamu ini perempuan. Harga diri harus nomor satu, lebih dari apa pun. Ada di rumah kumuh dua menit nggak bakalan bikin nama dia jadi buruk. Beda sama keluar cuman handukan doang, bisa-bisa dia dianggap perempuan murahan atau bahkan gila! Lain kali, jangan gegabah kayak gini!"


"Sorry, Ma ...."


Diana mulai melunak disusul helaan napas panjangnya. Ia beralih ke arah ponsel Dika yang menampilkan wajah suaminya.


"Papa nggak mau nambahin?" tanya Diana.


"Nggak usah, Mama udah lengkap ngasih ceramahnya," kata Kahar. "Cuman mau tanya. Ben sama Dea mau beli tiket baru lagi?"


"Nggak usah, Om."


Pasangan itu secara kompak menjawab secara bersamaan. Mereka sempat saling berhadapan sebentar, ketika tawa kecil Kahar terdengar.


"Baru bulan madu tiga hari, kalian sudah sekompak ini. Bagus sekali perkembangan hubungan kalian."


...*


...


Dea baru saja bangun di pagi hari ketika ia melihat sosok pria sedang berpakaian di depan cermin besarnya. Perempuan itu menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatan, dan memastikan bahwa pria itu adalah biang masalahnya sejak pernikahan terjadi.


"Kamu mau ... berangkat kerja, Ben?" tanya Dea saat menyadari bahwa Ben mengenakan pakaian khas pelayan restoran—kemeja putih dan celana navy.

__ADS_1


"Iya, De." Ben menjawab setelah melirik sebentar ke arah istrinya.


"Sepagi ini?" Dea melirik jam digital di atas nakas dan jendela kamar secara bergantian. Masih jam tujuh pagi.


"Ya kan Dea bebas datang ke restoran kapan aja, saya nggak bisa, harus tepat waktu."


Dea membenarkan hal itu dengan gumaman berat, sembari menarik guling untuk dipeluk erat. Hendak melanjutkan tidur. Kelopak matanya sudah berat dibuka, sehingga ia hanya melirik Ben seadanya.


"Kamu nggak kepengen saya naikin jabatan biar waktu kerja kamu bisa lebih ringan, dan gaji kamu jadi lumayan?" tawar Dea dengan suara serak yang kadang melemah ketika ia hampir tertidur lagi. "Ini salah satu opsi pembayaran di surat kontrak. Atau kalau mau uang cash, bisa juga. Bebas pilih."


Dea menguap lebar, ketika kantuk ini sulit ditahan. Padahal ia menunggu jawaban dari Ben.


"Nggak usah, De. Makasih tawarannya, tapi saya masih mampu biayai diri sendiri." Ben selesai mengancingkan kemejanya. Ia hanya perlu memasukkan dompet di saku belakang dan ponsel di saku depan, lalu siap.


"Ya udah. Terserah." Dea malas menanggapi lagi. Ia merasa sangat lelah dengan drama kemarin, jadi berniat memperbanyak stok tenaga lebih dahulu sebelum menghadapi kenyataan pahit bahwa ia sudah menikah dengan pria menyebalkan. "Palingan nanti kamu juga ngemis sama saya minta uang."


Namun, sesaat setelah memejam itu, Dea merasakan ada hal aneh menyentuh sudut keningnya. Ketika ia membuka mata, Dea menemukan wajah Ben tepat di depannya. Perempuan itu melotot lebar, sembari menjauhkan diri secara spontan, memicu reaksi senyum dari sang suami.


"Saya berangkat ya." Ben mengusap sisi kepala Dea sembari memamerkan senyum terbaiknya. Sama sekali tidak peduli dengan wajah syok Dea setelah tahu bahwa Ben baru saja mencium keningnya.


Setelah berpamitan, Ben menegakkan tubuh—berdiri. Lalu meninggalkan kamar yang pemiliknya masih tercengang atas kejadian barusan.


Dua kalinya Dea dicium di tempat yang berbeda, dan walau kali ini lebih singkat dan sepele, Dea merasakan bahwa dadanya menghangat karena kecupan ini.


Sialnya, ketika Dea menyentuh dadanya yang sebelah kiri, ia merasakan detak di sana jauh lebih keras dari biasanya. Ia masih tercengang, dan ketika kesadaran mulai mendatanginya, Dea meneguk ludah secara kasar.


Pria itu dengan sialannya membuat Dea kehilangan kesadaran sesaat hanya karena ciuman singkat.

__ADS_1



__ADS_2