Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
45. Demi Dea


__ADS_3

Kondisi rumah tidak lagi sama, terutama atmosfer antara Ben, Dea, dan Dion. Ketiganya tampak gugup ketika tidak sengaja saling bertemu pandang. Kecuali saat Dea dan Dion. Hal itu membuat Ben merasa semakin tidak nyaman.


Perasaan Ben mengatakan bahwa dirinya sudah terancam saat ini. Apalagi setelah pengakuan Dea, bahwa semua kriterianya sungguhan berdasar pada Dion, Ben benar-benar takut. Tidak adanya ikatan antara mereka, jelas memperbesar kemungkinan adanya perasaan istimewa.


Ben tidak mau jika hal itu sampai terjadi.


Pria itu begitu berat berpikir. Bahkan pandangannya terlihat kosong ketika melirik ke depan. Sesekali menghela napas panjang, menunjukkan betapa gusar dirinya. Namun, tidak ada yang peduli kecuali satu orang saja.


“Kenapa, Ben?” tanya Dika. Ia bahkan membatalkan keinginannya untuk memasukkan makanan di sendok ke mulut, hanya demi menunjukkan kepedulian pada sang kakak ipar. “Kamu kayak orang stres gitu. Kepikiran apa kamu? Mbak Dea ngasih hukuman ke kamu, Ben?”


Karena otak Ben terlalu sibuk memikirkan hubungannya ke depan, ia sontak gugup saat diajukan pertanyaan demikian. Pria itu menegakkan punggung secara spontan, dan melirik kanan-kiri seolah ingin meminta jawaban. Namun, Dea hanya melirik penuh arti padanya. Sementara Dion, hampir tidak pernah mengubah tatap tajamnya, jika ia berhadapan langsung dengan si adik ipar.


“Nggak,” kata Ben sembari menggaruk kecil bagian pelipisnya. “Cuman ... kepikiran kerjaan.”


“Nggak usah kerja, Ben. Tuh bini pinter nyari duit, manfaatin lah.” Dika memberikan opsi yang langsung membuatnya mendapatkan pelototan lebar dari sang kakak.


Bukannya takut, Dika malah semakin memamerkan seringai senang atas kemarahan sang kakak.


“Soalnya, tuh bini kayaknya udah nggak bisa dipake produksi bayi, jadi ya, pake produksi uang aja, Ben. Kamu tinggal nyari cewek lain—“


“Dika!” Diana langsung menginterupsi ucapan si sulung, ketika Dea sudah berdiri dari kursinya mengambil ancang-ancang hendak menampar.


Bukannya ketakutan pada pelototan sang kakak, Dika malah tertawa kecil. Sangat suka menjalani hobi satu ini.


“Bercanda kali, Ma. Ben bukan orang yang kayak gitu,” balas Dika santai, lalu lanjut memasukkan makanan ke dalam mulut. “Cie ... yang beneran takut kalau Ben selingkuh. Cie ....”


Dea merotasi bola matanya, beriringan dengan embusan napas kasar yang menunjukkan usahanya mengurangi kadar amarah dalam diri. Ia duduk kembali di kursinya, tetapi tidak memiliki minat makan sama sekali. Hanya mengambil gelas panjang berisi air, lalu meneguknya dua kali. Perempuan itu berakhir terduduk malas, dengan kedua lengan terlipat depan dada.


“De, belum mau berangkat? Saya mau ke kantor,” kata Dion tiba-tiba. Pria itu hampir sama seperti Dea, menyisakan separuh besar dari makanan mereka di piring.

__ADS_1


Dea tanpa ragu langsung memberikan dua buah anggukan mantap. Ia dengan yakin berdiri, mengambil tas dan blazer-nya, kemudian meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apa pun. Bahkan, sekadar melirik pada anggota keluarga lain pun, tidak.


“De ....” Ben memanggil, bahkan ikut berdiri. Hendak mengejar kepergian mereka berdua, tetapi suara Dika menghentikan keinginannya.


“Biarin ajalah, Ben. Mereka emang gitu. Songong sama gengsian,” kata Dika dengan santai.


Sementara Ben yang tampak sangat ragu untuk kembali duduk, melirik penuh arti pada Kahar. Ia menenggak ludah dengan kasar, dan secara jelas memamerkan pada sang mertua, bahwa ....


Ben takut jika Dea membalas perasaan Dion.


“Pak,” kata Ben dengan nada agak tergesa. “Saya mau terima tawaran Pak Kahar buat kerja di perusahaan.”


Ini demi Dea. Ben bertekad seperti itu.


...*...


Ben mencoba untuk mendapatkan segenap perhatian Dea selama di restoran, tetapi perempuan itu selalu menyibukkan diri dengan bekerja. Bahkan mengunci pintu ruangannya, dan melarang jika Ben yang membawakan makan siangnya.


Namun, mendadak saja, Ben terpikirkan sesuatu.


Apa ini siasat Dea agar mereka berpisah secepat mungkin, dan ia bisa menikah dengan Dion? Atau, ini usaha Dea, agar di dalam ruangannya itu, ia bebas berbicara dan mengobrol bersama Dion?


Ben tidak tahu, tebakan mana yang benar. Apa pun itu, semuanya terasa menyakitkan. Membuatnya hampir tidak bisa fokus bekerja. Namun, demi profesionalisme dan menjaga nama baik Dea, pria itu memaksakan diri agar tetap fokus.


Sialnya, kondisi semakin diperumit ketika Dea berniat pulang lebih awal.


“Kamu berangkat ke sini naik motor, kan?” tanya Dea, ketika ia berniat masuk ke dalam mobilnya. “Kalau kamu pergi sama aku, motor mau kamu apain? Aku juga nggak mungkin ninggalin mobil cuman buat masuk angin gegara naik motor kamu.”


“Dea kenapa malah marahnya ke aku? Yang salah bicara Dika, kenapa malah aku yang Nerima kemarahan kamu?” Ben menuntut. Niatnya menaikkan intonasi suara, tetapi karena masih di kawasan restoran, ia dengan susah payah menahan suaranya agar tetap seperti berbisik.

__ADS_1


“Nggak tau,” kata Dea dengan malas. Ia mengangkat kedua bahunya tidak acuh. “Muka kamu mendukung banget, buat lakuin apa yang Dika bilang tadi.”


“De ....” Ben mendesis kesal atas ucapan aneh istrinya ini. “Jujur sama aku. Kamu cuman jadiin alesan Dika, buat jaga jarak sama aku, ‘kan? Cuman supaya kamu bisa deket sama Dion?”


Dea tidak menjawab, tetapi ekspresi santai yang terkesan menantang dari perempuan itu, membuat Ben yakin bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah ‘ya’.


“Kamu sendiri yang kebingungan kemarin. Kamu yang syok, kamu yang heran. Kamu yang ketakutan. Kamu ... kenapa bisa malah jadi kayak gini, De?” Ben memelas, setengah frustrasi mengenai apa yang Dea lakukan saat ini.


“Lagian, kita juga bakalan bercerai di anniversary pertama kita nanti, Ben.”


“Ya. Setelah satu tahun pernikahan nanti. Sekarang, kamu masih istri aku. Sebagai suami kamu, aku nggak mau kamu deket sama laki-laki mana pun tanpa izin aku!” kata Ben dengan penegasan kuat. Bahkan, ia memperjelasnya dengan ekspresi wajah serius.


Sayangnya, Dea sama sekali tidak terlihat terpengaruh. Perempuan itu tetap tenang, lalu lanjut menaiki mobilnya.


“Ya, terusin aja larangan kamu,” kata Dea sembari menutup pintu mobil dengan kuat. “Aku nggak keberatan buat akhiri pernikahan ini secepat mungkin.”


“De?” Ben semakin tercengang atas keputusan Dea saat ini. “Kamu ....”


“Mau aku bayar kompensasi berapa?” tantang Dea.


Pria itu masih sulit berpikir setelah melihat sikap sang istri. Namun segera, Ben memperbaiki postur tubuhnya menjadi lebih tegap, serta berdeham kecil untuk melancarkan tenggorokan.


“Mahal, De,” kata Ben pada akhirnya. “Yang jelas, kamu yang punya banyak uang ini, bakalan aku bikin kesulitan buat bayar dendanya.”


Dea menarik sudut bibir, antara tertarik pada ucapan sang suami, atau sekadar menantangnya.


“Oke. Lanjut diskusi ini di rumah nanti.” Kaca jendela mobil dinaikkan Dea.


Sebagai isyarat penutupan obrolan kali ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2