
Meski Ben mendengarkan semua obrolan Dea dan Elvan melalui earpods, pria itu nyatanya belum bisa tenang. Ia mengawasi dari kejauhan setiap manusia yang ada di sekitar mereka, dalam kondisi menyamar sempurna. Ben mengenakan masker serta kacamata hitam. Sehingga ia dan Dea sangat yakin jika tidak akan mengenali dirinya.
“Ada orang yang awasi kita.” Itu kalimat pertama yang Dea utarakan. Keduanya sedang duduk di pinggir kolam renang untuk berbincang.
Sementara Ben bergabung dengan banyak orang yang hanya bersantai di sekitaran kolam.
“Ipar kamu, masih suka nyari masalah?” tanya Dea, sembari melirik pada Elvan, menuntut jawaban.
“Udah enggak kayaknya. Lagi sibuk ngurusin anak saya,” jawab Elvan, lugas. Sehingga Dea sulit tidak bisa mempercayai pria ini.
“Terus?” Dea kembali menuntut. “Jujur aja, Van. Apa yang Ben bilang ada benernya. Nggak tau kenapa, kita jadi makin sering ketemu setelah pernikahan saya sama Ben. Kenapa bisa? Apa sekebetulan itu hidup kita? Selalu ketemu, kena masalah, dan ... terulang lagi. Aku nggak paham. Kayak siklus hubungan saya sama Ben selalu kayak gini.”
Elvan meletakkan foto yang Dea tunjukkan di tengah-tengah mereka duduk. Pandangannya mengarah lurus ke depan, disusul dengan tarikan napas panjang.
“Kamu nggak ngerasa kalau kebetulan ini, mungkin saja takdir Tuhan buat satukan kita lagi?” balas Elvan, sembari memandang lurus pada Dea.
Seketika, Ben yang mendengar itu langsung menegakkan punggung. Ia berniat menyusul dan menghampiri mereka, tetapi jawaban Dea berhasil meyakinkan Ben lagi terhadap sang istri.
“Takdir, takdir ndasmu!” Dea balas dengan tegas, mencibir. “Kalau kita emang ditakdirkan bersama, harusnya dari dulu kita nikah, atau kamu sabar tunggu saya siap! Tapi nggak ada di antara kita yang mau mengalah, makanya kita dipisahkan. Itu jelas menandakan kita memang nggak berjodoh. Dengan adanya masalah di antara kita bertiga, saya cuman mikir satu hal. Ada yang memang mau bikin hubungan saya sama Ben rusak.”
Seketika, Dea menatap tajam ke arah Elvan, begitu menusuk untuk mengulik kejujuran sang mantan.
“Saya harap, bukan kesengajaan kamu, Van.”
Seketika, Elvan menegang di tempat. Pria itu sempat mengalihkan pandangan ke arah lain, yang membuat mata Dea memicing tajam. Perempuan itu menangkap gelagat aneh dari sang mantan, sehingga Dea semakin menuntut.
“Elvan?” panggil Dea dengan suara dalam.
“Saya nggak ada urusannya sama hubungan kamu dan pelayan itu, De.” Elvan akhirnya menjawab lugas. “Saya cuman mau nawarin kamu buat persatukan lagi hubungan kita. Tapi misalnya kamu nggak mau, saya nggak bisa apa-apa.”
__ADS_1
Dea mengangguk kecil sebagai tanggapan. Menyetujui balasan dari Elvan. Namun, secuil sifat aneh Elvan membuat Dea tidak bisa tenang. Sangat takut jika apa yang Ben pikirkan adalah fakta.
“Oke.” Dea merasa takut untuk mengulik lebih jauh. Perempuan itu segera berdiri, sembari memperbaiki pakaiannya yang mungkin kusut setelah duduk. “Saya permisi.”
Dea baru saja akan berbalik, tetapi lengannya ditahan oleh Elvan. Sangat kuat dan tanpa persiapan, sehingga Dea dengan mudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke arah Elvan, dan sebuah kecelakaan terjadi di antara mereka.
Kecelakaan kecil yang membuat Dea melotot lebar dengan rasa ketakutan hebat dalam dirinya.
Ia jatuh di pangkuan Elvan, dan dipeluk oleh sang mantan.
...*
...
Amukan Ben adalah suatu hal yang pasti terjadi, sehingga Dea tidak berani langsung masuk ke kamar setelah kejadian di kolam renang tadi. Perempuan itu malah menghentikan sambungan rekaman Ben, dan pergi ke tempat lain.
Namun, Dea pada kenyataannya tidak bisa menghindar lebih lama. Perempuan itu harus kembali di jam yang sudah larut.
Perempuan itu secara hati-hati melangkah ke arah ranjang. Ia duduk di pinggirnya dengan sangat hati-hati, khawatir jika tindakannya berhasil mengusik singa yang sedang tenang.
Namun, hingga Dea terbaring dalam posisi menyamping membelakangi Ben, pria itu tidak kunjung mengatakan apa pun atau menunjukkan gelagat berniat memandang Dea sedikit saja.
Hak itu memicu penasaran dalam diri Dea. Apakah Ben tidak melihatnya datang? Atau Ben tidak melihat apa yang terjadi di kolam renang tadi? Atau ... ini bentuk amarah Ben lagi?
Yeah, Dea yakin jawabannya adalah opsi ketiga.
Perempuan itu langsung memejam erat sembari meremas bantal. Khawatir sekaligus kebingungan. Ia tidak suka kemarahan Ben, seperti yang dikatakan Dea sebelum rencana dimulai.
Bahwa kepercayaan Ben adalah hal utama terpenting lainnya untuk Dea.
__ADS_1
Namun di sisi lain, Dea juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi kemarahan Ben. Mentalnya bisa langsung di-smackdown oleh Ben jika berani berbicara.
Namun—lagi—berapa lama kebungkaman ini akan terjadi jika Dea tidak memulai obrolan lebih dahulu? Di sini, ia yang salah. Maka, jika dirinya saja malas meminta maaf, apalagi Ben.
“Ben.” Maka, Dea memberanikan diri memanggil sembari menoleh ke arah Ben.
Perempuan itu seketika bimbang, ketika melihat betapa seriusnya Ben dengan ponselnya. Ia bingung harus berhenti melanjutkan—dengan asumsi bahwa Ben belum mendengarnya—atau teruskan saja.
“Ben ....” Dea melunakkan suara agar terdengar manja. Berharap bahwa kali ini, Ben akan luluh dalam menanggapinya.
Ia menyentuh paha Ben, dan menggoyangkannya beberapa kali dengan tujuan mendapatkan fokus pria itu.
“Kamu marah?” tanya Dea basa-basi. “Yang tadi, beneran nggak sengaja. Elvan tahan tangan aku secara tiba-tiba. Aku nggak siap sama sekali, jadi badan aku nggak seimbang, jadi ... itu terjadi. Kamu lihat sendiri kan, kalau aku nggak ada sedetik pas kejadian itu. Aku langsung berdiri. Saking nggak sengajanya, Ben. Plis ... dengerin aku.”
Namun, Ben masih bergeming. Ia seolah tidak mengetahui keberadaan Dea saat ini, padahal perempuan itu yakin bahwa Ben sangat menyadari keberadaannya.
“Ben ....” Dea kembali memanggil, lebih memelas dari sebelumnya.
Namun, sekali lagi, perempuan itu tidak ditanggapi. Sekarang, Dea ikut marah karena dianggap tidak ada oleh pria satu ini.
Maka, Dea mulai merangkak bangun dengan menopang tubuh pada kedua paha Ben. Ia mengambil ponsel secara paksa, dan meletakkannya sembarangan. Dea membuat dirinya menjadi pusat perhatian Ben saat ini. Ia semakin mendaki tubuh Ben, hingga posisi wajah mereka sejajar.
“Maaf,” ucap Dea dengan suara lirih. “ Yang tadi beneran nggak sengaja.” Tangan Dea dipindahkan untuk berada di pipi Ben, mengusapnya dengan lembut, lalu mencoba memajukan wajah. Sedikit menyamping, berniat mencium suaminya lebih dahulu.
Namun, pertama kalinya, Dea ditolak. Ben memalingkan wajah ke arah lain. Dea membeku, kaget.
“Yang ada di kolam renang, adalah kesengajaan.” Ben berbicara dengan suara rendah. Ia menatap lurus dan serius ke arah Dea yang sama sekali bergeming.
“Pelakunya,” Ben mengambil ponselnya, demi menunjukkan sebuah foto seseorang di antara orang-orang asing, “Elvan sengaja tarik kamu, supaya menciptakan foto yang sempurna. Pelakunya ... Dion.”
__ADS_1
...*
...