Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
PERNIKAHAN


__ADS_3

Pernikahan tanpa tamu undangan. Hanya di hadiri 3 orang saksi dari pihak wanita, 3 orang saksi dari pihak pria, orang tua mempelai wanita, dan seorang kakek perwakilan dari mempelai pria.


Usai pernikahan yang sangat singkat itu, mereka bubar. Hanya ada jabat tangan dan ucapan terima kasih, tanpa bingkisan apa pun untuk para tamu yang hanya kurang dari sepuluh biji.


Ayah Mariana berbalik dan langsung masuk ke dalam rumah begitu pernikahan putrinya dinyatakan sah. Tidak ada ucapan selamat, apalagi terima kasih kepada para saksi undangan.


"Sabar, Mariana. Perlahan, papa pasti akan luluh. Dia hanya masih terlalu marah." Ibu Mariana memeluk putrinya sambil meneteskan air mata.


"Mariana tidak apa-apa, Mama. Mariana baik-baik saja," jawab Mariana tenang. Meski dadanya terasa sakit menahan kecewa akan kehidupannya, tetapi Mariana berusaha tersenyum di depan ibunya agar wanita kesayangannya itu tidak merasa sedih.


"Aku baik-baik saja, Mama. Jangan menghawatirkan ku," jawab Mariana.


"Yah. Mama harap kau juga akan tetap baik-baik saja setelah ini," kata ibunya, melirik ke arah Bima.


"Apa maksud Mama?" tanya Mariana.


"Bukan apa-apa, Mariana. Maaf, Mama tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tetapi, kau tahu kan, suamimu itu gelandangan. Tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan. Bagaimana dia akan membuatmu bahagia kalau uang sepeser saja dia tidak punya," bisik ibu Mariana.


Mariana menghela nafas panjang.


"Mama jangan khawatir. Bagiku, kebahagiaan bukan hanya soal uang, Ma. Yang penting Bima bisa membuat mariana bahagia, uang bisa kami selesaikan berdua."


"Ck!" Ibu Mariana berdecak kesal. "Memangnya perhiasan bisa dibeli hanya dengan cinta," desisnya.


Mariana tersenyum hambar.


"Mariana." Mariana menoleh.


"Bisa kau tunjukkan padaku di mana kamar kita? Aku ingin berganti baju."


"Oh, ya. Tentu saja." Mariana berbalik, berjalan menuju tangga lantai dua.


"Berhenti!" Sebuah seruan lantang menghentikan langkah kaki Mariana.

__ADS_1


"Kamarmu tidak di sana. Kalian tidur di kamar pembantu!" Ayah Mariana berteriak lantang, menunjuk kamar pembantu di belakang dengan tangan kirinya. Mariana mengerutkan kening.


"Papa. Aku tidak akan tidur di kamar pembantu."


"Tidak ada kamar di manapun di rumah ini kecuali kamar pembantu,yang boleh kau tiduri, perempuan kotor!"


Mata Mariana memerah, tetapi wajahnya mengeras.


"Jangan khawatir, Papa. Aku juga tidak akan tidur di manapun di dalam rumah ini. Aku ke atas hanya ingin mengemasi pakaianku saja," jawab Mariana dingin.


"A-apa maksudmu, Mariana?" tanya ibu Mariana tergagap.


"Ibu, Aku sudah menikah. Tentu aku tidak akan tinggal di sini lagi. Aku akan pergid an tinggal bersama suamiku di rumahnya," jawab Marina tenang.


Bima membelalak kaget, menatap Mariana tidak percaya.


"Dia tidak mempunyai rumah. Kau akan tinggal di kolong jembatan?!" tanya ayah Mariana mencibir.


"Bima mungkin tidak punya rumah kemarin. Tapi sekarang dia punya dan kami akan tinggal di sana. Terima kasih sudah merestui pernikahan kami, Papa." Usai mengatakannya, Mariana kembali berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Bima mengikuti, meski dengan tataoan bingung.


"Cepat bantu aku mengemasi barang-barngku, lalu kita akan segera pergi." Mariana menarik koepr besar dari bawah almari,membukanya dan mulai memasukkan barang-barang dengan serabutan.


"Tunggu."


"Aku tidak mau berdebat!"


"Bukan itu."


"Jangan memaksaku!"


"Berhenti!" Bima mencengkeram lengan Nadia, menghentikan gerakannya melempar barang-barang ke dalam koper.


"Jangan menaruhnya seperti ini. Barang-barangmu sangat banyak, nanti tidak akan muat."

__ADS_1


"Aku tidak akan membawa semuanya," jawab Mariana tidak sabar.


"Pergilah mandi dan dinginkan kepalamum akan menata kopermu. Siapkan barang apa saja yang imgin kau bawa, lempar saja di sini biar aku menatanya."


Mariana ingin protes tapi Bima memutar badannya dan mendorong pelan pinggang wanita itu.


"Kenapa kau...."


"Jangan banyak bicara. Kerjakan saja sebelum toleransi waktu yang diberikan ayahmu habis."


Mariana menelan ludah, berbalik dan segera meraup barang-barang yang dia perlukan.


"Di mana kita akan tinggal?" bisik Mariana, di tengah gerakannya mengumpulkan barang-barang.


"Aku punya teman yang tinggal di luar negeri. Mungkin aku bisa menghubunginya untuk meminjamkan rumahnya untuk kita tinggali."


"Apa?" Mariana menatap Bima heran. Meminjam sebuah rumah? Apa pria di depannya ini sudah sinting.


"Ya. Aku akan menghubunginya untuk meminjam rumahnya. Toh dia tidak akan pulang dalam waktu dekat. Dan dia memang pernah memintaku untuk tinggal di rumahnya selama dia berada di luar negeri."


"Apa temanmu menetapndi luar negeri?" tanya Mariana.


Bima mengangkat bahu dengan acuh. "Sepertinya begitu. Sudah lama sekali tidak pernah pulang."


"Kenapa dia tidak menjual saja rumahnya?"


"Dia ingin tetap memiliki rumah untuk tempatnya pulang saat berlibur kesini."


"Tapi bagaimana kalau temanmu datang?"


"Jangan khawatir. Dia baru saja mengunjungi rumahnya bulan lalu. Dia tidak akan pulang lagi dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun."


Mariana menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Tapi untuk malam ini, kita terpaksa tidur di tepi jalan. Karena aku harus meminta ijin temanku dulu sebelum kita bisa menempati rumahnya."


Mariana mengangguk. "Tidak masalah," katanya pasrah.


__ADS_2