Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
Draft


__ADS_3

"Mariana Sayang... tolong. Aku bisa im*oten kalau kau menyiksaku seperti ini, Mariana." Bima merintih.


"Benarkah?" tanya Mariana, beranjak duduk di pang*uan Bima lalu memagut Bi*ir Bima yang sudah bergetar dan memucat.


"Mmmhhh...." Bima mendesah panjang. "Fade into me, Baby."


Mariana tersenyum sinis. "Tidak."


"Aaah... Baby. Kau menyiksaku."


"Bukankah kau menginginkan sebuah hukuman?"


"Ya. Tapi bukan yang seperti ini."


"Bukankan kau membiarkan semua keburukan itu terjadi padaku saat itu?"


"Dari mana kau mendapatkan video itu?"


"Galang."


"Akan ku bunuh dia!"


"Dalam keadaan terikat seperti ini?" tanya Mariana mencibir.


"Lepaskan aku, Sayang!"


"Tidak!"


"Kapan kau bertemu Galang?"


"Sering."


"Sayang...." Gigi Bima berkeretak.


"Kenapa? Cemburu?"


Bima menggeleng tajam.


"Kau dengar, Sayang? Dulu Galang sering kali membelai daguku seperti ini...." Mariana membelai lembut rahang Bima dengan punggung jari-jarinya.


Bima membuang muka. "Jangan memancingku!"


"Tapi kau melihatnya sendiri, bagaiman dia membelaiku dengan lembut dan merayuku waktu itu."


"Mariana...!" Bima mengertak tajam.


Mariana tersenyum puas, menggoyang sedikit posisi duduknya.


"Aaah...!"


"Kenapa, Sayang? Apa boy kecilmu terganggu?" tanya Mariana menggoda.


"Berhentilah menyiksaku, Mariana. Dan ayo selesaikan ini, Sayang."


"Menyelesaikan ini? Tidak!" jawab Mariana. "Ini bahkan belum separuh dari hukuman yang aku siapkan untukmu."


"Aaah my God!" Bima mengerang pasrah.


"Bangun, monster! Aku ingin melihatmu datang," bisik Mariana tepat di telinga Bima, lali menyapukan ujung hidungnya yang lancip sepanjang rahang pria itu.

__ADS_1


"Mhaaah rianaah...."


Mariana menarik dagu Bima, melu*at bibirnya dengan lembut. Saat Bima bersiap membalas, Mariana melepaskannya.


"Kau tampak sangat merah, Kawan. Apa kau hampir meledak?" Mariana membelai ujung kepala Bima dengan lembut.


Bima menggeleng frustasi, berteriak sangat kencang sambil menarik kuat ikatan tangan yang dibuat Mariana hingga tangannya terlepas.


Bima menarik penutup matanya dengan murka lalu melemparnya. Tubuhnya membungkuk, satu tangannya merengkuh tubuh Mariana yang berada di pangkuannya sementara tangan yang lain membuka ikatan kakinya.


"Kau memaksaku, Mariana. Jangan salahkan kalau aku bertindak kasar padamu!" Bima melempar tubuh Mariana hingga terlentang, dan mengungkungnya dalam dekapan.


Mariana tersenyum sinis. "Hancurkan aku, Leo Atlas!" katanya menantang.


"Tidak...." Bima menggeleng pelan. "Jangan mulai memancing singa tidur, Mariana."


Mariana tersenyum, lengannya mengungkung leher Bima. "Buka topeng mu, Big Leo."


"Dari mana kau mengetahui semuanya, Sayang?" tanya Bima tenang dan dalam, meski tatapannya tampak jelas tak sabar.


"Kakek," jawa Mariana.


"Kakek? Kakek siapa?"


"Kakek kita, tentu saja. Kau tahu, mereka bersahabat."


"Ya, aku tahu." Bima mengangguk. "Apa para tua bang*a itu membongkar peti mati?"


Mariana mengangguk. "Dan menunjukkan seluruh isinya padaku."


Bima mendengus panjang, lalu mulai menggosok ujung hidungnya sepanjang rahang Mariana.


"Dan kau mempercayai mereka?" bisik Bima terdengar sensual dengan suaranya yang serak rendah.


Bima menggeleng kecil. "Tidak. Tentu saja tidak. Percaya pada mereka saja."


Mariana mengeratkan pelukan, menyambut bi*ir Bima yang mengusap lembut rahangnya.


Mariana membuka mata, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Dia bergerak sedikit, memastikan tulang-tulangnya masih utuh.


"Bima...." Mariana bergumam saat tangannya tak bisa menemukan tubuh Bima di belakangnya. Mariana terlentang perlahan dan menemukan dia tidur sendirian.


Mariana duduk, melongok ke arah kamar mandi. Pintunya sedikit terbuka dan lampunya mati.


Mariana mendengus pelan, bergeser turun dari tempat tidur. Tepat kakinya menginjak lantai, matanya menatap hidangan di atas meja dengan catatan yang bersandar ada gelas susu.


Maaf aku pergi dulu, Sayang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan segera. Aku sudah menyiapkan susu dan cream soup untuk mu, semoga saat kau bangun itu belum dingin. Aku juga sudah menyiapkan beberapa baju di dalam almari untukmu.


Y'r Love - Leo At


Mariana tersenyum, menaruh kertas pesan suaminya kembali di atas nakas sementara tangannya meraih gelas susu yang sudah dingin. Mariana melirik jam, jarum jam menunjuk pukul 10 siang.


Mariana keluar dari kamar mandi saat mendengar ponselnya berdering. Nama Bima berkedip di layar.


"Ya, Bima."


"Sayang. Kau sudah bangun?"


"Sudah mandi."

__ADS_1


"Bagus lah. Aku ingin kau pergi ke MBC sekarang juga. Kau bisa pergi dengan sopir...."


"Apa aku tidak boleh pergi sendiri?"


"Tidak. Aku khawatir."


"Hei. Yang masuk sungai itu bukan aku. Mobil ku bahkan tak pernah tergores sedikit pun, Bima." Mariana protes.


Bima menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi kau harus berhati-hati di jalan. Aku tidak ingin kau kenapa-napa, dan jangan temui siapa pun di luar tanpa aku."


Mariana tersenyum. Ada rasa hangat di dalam dirinya mengetahui begitu posesifnya Bima padanya.


"Aku berjanji."


"Baiklah. Pakai baju yang pantas, karena kau datang sebagai CEO."


"Apa?!"


"Lakukan."


Mariana cemberut, tetapi Bima telah memutus sambungan telepon sebelum dia menjawab.


Mariana mengganti bajunya dengan blazer ruffle putih dipadu rok pendek berwarna gelap, yang sangat pas membalut tubuh indahnya. Dua kali dia berputar di depan cermin, memastikan penampilannya sudah cukup pantas untuk menyandang jabatannya. Sepatu high heels hitam dengan tali tipis membingkai kaki jenjangnya yang putih mulus. Mariana meraih tas tangan putih dari dalam almari tas, berputar sekali lagi di depan cermin, kemudian berjalan keluar.


Memasuki pintu bangunan bertingkat, seorang dengan seragam serba hitam membuka pintu sambil membungkuk rendah.


"Berdirilah yang tegak, Pak. Itu lebih keren untuk mu."


Satpam itu seketika berdiri tegap dengan dada membusung.


"Nah, itu lebih baik." Mariana berjalan masuk di mana setiap orang yang berada di balik meja seketika berdiri dan membungkukkan badan.


"Terima kasih. Tapi aku ingin kalian tetap berdiri tegak dengan gagah setiap kali aku lewat," jawab Mariana tenang, bibirnya membentuk senyum manis.


"Bu Direktur. Selamat datang." Seseorang dengan kecantikan seorang bidadari surga berjalan mendekat menyapa Mariana, tubuhnya membungkuk sedikit sebelum kembali tegap.


"Yumi?"


Wanita yang disapa Yumi tersenyum lebar. "Saya, Nyonya."


"Kenapa kau berada di sini?" tanya Mariana menatap penasaran.


"Saya selalu setia pada Anda, bukan pada perusahaan, Nyonya. Kemana Anda pergi, maka saya akan mengikuti Anda."


Mariana mengerutkan kening.


"Saya sudah di sini menjadi sekretaris Tuan Marco yang menduduki posisi wakil Anda selama Anda mengambil cuti. Dan setelah Anda kembali, saya siap bekerja kembali bersama Anda, Nyonya."


Mariana menambah porsi senyumnya lebih ramah, matanya berbinar cerah.


"Siapa yang meminta kalian menyambut ku seperti ini?" tanya Mariana tenang dengan suara rendah dan sangat ramah.


"Tuan Leo Atlas, Nyonya."


Mariana tersenyum mencibir tapi ada raut bangga di wajahnya.


"Jangan berlebihan menyambut ku. Aku hanya manusia biasa sama seperti kalian, bukan Dewa."


Wanita di depan Mariana kembali membungkuk sekilas.

__ADS_1


"Di mana Tuan Leo Atlas?" tanya Mariana.


"Mereka menunggu Anda di ruang rapat, Nyonya. Silahkan ikuti saya." Yumi melangkah terlebih dulu, memimpin jalan menuju lift yang akan membawa mereka ke ruang rapat.


__ADS_2