Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
BUKAN ANAK KU


__ADS_3

"Semua ini adalah dokumen bukti pengalihan saham atas nama Hendra, dan sekaligus bukti permainan pemindahan dana dalam jumlah besar ke rekening pribadiku." Mariana menjawab mantap, wajahnya masih tampak datar dan dingin.


Hendra memelotot, perlahan warna kulit di wajahnya memucat.


"Silahkan di lihat dan di buktikan sendiri. Kalau kalian masih belum yakin dengan kebenarannya, aku membawa orang-orang yang mungkin bisa membuatmu benar-benar percaya apa yang telah dia lakukan."


"Tidak! aku sama sekali tidak melakukannya. Dia pasti memalsukan dokumen-doku...."


Ayah Hendra mengangkat tangan, menghentikan putranya yang sudah kembali berdiri dan berteriak murka.


"Duduk! Aku yang akan membuktikan kebenarannya." Ayah Hendra berkata dingin dan sangat mengancam. Hendra seketika diam, kembali duduk perlahan dengan tatapan kacau.


Ayah Hendra mengambil dokumen di atas meja, mulai memeriksanya satu per satu. Kemudian, perlahan badannya memutar, menatap ayah Leo dan Nico di sebelahnya. Ketiganya menundukkan kepala di atas kertas, berdiskusi dengan suara rendah.


Brak!


Ayah Hendra membanting seluruh dokumen kembali ke atas meja. Tatapannya menyorot tajam, ada kemarahan besar yang coba dia tahan sekuat tenaga di dalam dirinya.


"Paman...." Mariana menyapa. Laki-laki itu menoleh sedikit.


"Tidak perlu melakukan itu. Biar kami yang mengatasinya. Usiamu tidak muda lagi untuk melakukan hal itu tanpa resiko kau yang akan cidera."


Pria di samping Hendra mengerut heran, menatap Mariana penuh selidik.


Mariana tersenyum. "Aku tahu. Tetapi jangan tanya bagaimana aku tahu, karena aku tidak dapat menjelaskannya padamu."


"Kenapa?" tanya pria itu dengan suara rendah.


"Karena aku tidak pernah tahu jawabannya. Aku hanya tahu bahwa aku bisa, tidak pernah tahu kenapa aku bisa melakukannya.


Pria itu mengangguk mengerti, lalu menarik nafas panjang sekali lagi.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Mariana."


"Bukan aku, Paman. Tetapi Bima. Karena saham perusahaan kakek di beli oleh Four Trainer Group yang berada di bawah kendali Bima."


"Four Trainer Group?" bisik ayah Nico.


Mariana mengangguk.


"Leo Atlas?"


Mariana kembali mengangguk.


"Apa kau benar-benar Leo Atlas?" tanya ayah Leo pelan, nadanya menurun drastis dari saat-saat sebelumnya.


"Apa Paman perlu bukti?" tanya Bima datar.


Ayah Leo cepat-cepat menggeleng. "Tidak, Nak. Tidak perlu. Sungguh aku tidak meminta bukti apa pun. Aku hanya...."


"Tidak menyangka?" potong Mapala.


Ayah Leo menelan ludah, tidak berani mengangguk.


"Apa paman pikir aku juga semudah itu menerima kenyataan, bahwa dialah pria misterius yang selama ini merajai bisnis dunia?" tanya Mapala.


"Leo Atlas, Sang Glory. Dua raja bisnis terbesar yang menguasai dunia, tetapi tidak pernah menampakkan dirinya. Siapa yang menduga kalau keduanya sebenarnya adalah anak dan bapak."


Bima menoleh Mapala, menatap kaget.


"Sang Glory. Adalah ketiga kakek yang menciptakan seluruh kekacauan ini."


"Ketiga kakek?!" sergah Leo dan Nico bersamaan.


Mapala dan Mariana mengangguk.


"George Sasmita, Leonardo Sandiago, Jeremy Silas. Sang GLoRy." Mariana menjelaskan dengan tenang.

__ADS_1


Beberapa wajah membentuk raut pemahaman dengan sangat cepat sebelum saling mengangguk satu sama lain.


"Jadi... apakah kalian masih ingin mempertanyakan soal keabsahan surat jual beli saham milik kakek?" Bima mengembalikan ke topik semula.


Semua kepala mendongak, menatap Bima dengan tatapan hormat.


"Sebagai anak tertua dari Kakek, saya mewakili seluruh keluarga meminta maaf kepada Tuan Leo Atlas atas ketidak sopanan kami. Mohon Tuan tidak menghancurkan dan mengambil alih seluruh perusahaan Sasmita." Ayah Hendra berlutut, menunduk dalam di hadapan Bima.


Bima berdiri, menunduk, meraih lengan pamannya dan menariknya berdiri. "Berdirilah, Paman. Kalian adalah para keturunan sang Glory. Jangan membuat diri kalian serendah dan sehina itu di depan ku." Bima mengingatkan.


"Aku tidak akan pernah membuat masalah, dengan seorang yang tidak mengusikku. Ingatlah, bahwa singa tidak pernah merasa perlu untuk menunjukkan bahwa dirinya buas. Tetapi cobalah untuk bertingkah di depannya, maka dia akan menerkam mu bulat-bulat."


Semua kepala tertunduk dalam, tidak ada yang berani menjawab.


"Aku tidak akan pernah menghancurkan perusahaan kalian. Tetapi aku akan mengambil alih kepemimpinannya. Saham yang aku pegang, tentu saja akan dialih namakan pada istriku, dan Mapala. Dan aku akan merombak seluruh tatanan pejabat ekskutif di perusahaan itu, di bawah kepemimpinan Mapala, karena istriku sudah memegang perusahaan lain."


Beberapa kepala mengangguk segan, kecuali Hendra.


"Satu lagi, Paman. Aku benar-benar meminta maaf padamu, harus melepas Hendra dari perusahaan, karena selama ini dia lah ulat busuk yang menggerogoti laju perekonomiannya."


"Lakukan yang terbaik untuk perusahaan, Bima." Ayah Hendra mengangguk yakin.


"Tapi, ayah!"


"Hukuman mu dengan ayah belum selesai, Hendra."


Brak!


Semua orang membelalak terkejut saat Mariana dan Mapala menerjang ke dan secara bersamaan.


"Sudah aku bilang kau tidak bisa memikirkan apa pun tanpa kami tahu niat buruk mu, Breng*ek!" teriak Mapala, mencabut pistol dari pantat Hendra.


Hendra memucat, dengan kaki Mariana menekan lehernya.


"Apa yang kalian lakukan. Mariana! I-itu bisa membunuhnya." Ayah Mariana dan Mapala berdiri, mendekat dengan ragu.


"Apa?!"


"Tikus pengerat di dalam keluarga kita sebenarnya adalah Hendra. Dia bahkan jauh lebih buruk dari Galang, karena tanpa adanya dendam pada keluarga, dia telah memiliki niat untuk menghancurkan keluarga kita dan menguasai perusahaan. Kalau Paman mengijinkan, biarkan dia menjadi urusanku dan Bima."


Ayah Hendra, dengan wajah memerah menahan amarah yang hampir meledak, mengangguk menyetujui.


"Urus dia. Beginilah kalau membesarkan anak yang bukan darah daging ku sendiri!" jawab ayah Hendra, dengan geraman rendah.


"Paman...."


"Ayah...."


"Kakak...."


Ayah Hendra menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan.


"Ya. Ini semua salahku. Bayi Keyla kala itu tak terselamatkan. Dia mati di dalam kandungan Keyla beberapa jam sebelum dia terlahir ke dunia. Apa penyebabnya, aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mencoba untuk mencari tahu."


Hening. Semua orang membeku, termasuk Mariana dan Mapala yang segera menunduk menatap Hendra yang berada di bawah kaki Mariana.


"Hendra lahir tanpa ibu. Perawat di rumah sakit dihebohkan dengan kaburnya orang tua Hendra dengan meninggalkan putranya."


Hentakan nafas kecil dari ibu Hendra terdengar sangat keras, membuat kepala-kepala menoleh padanya.


"Keyla dalam kondisi yang kurang sehat setelah melahirkan. Aku tidak ingin memperburuk kondisinya dengan kematian putranya. Maka aku meminta agar mereka menukar bayiku yang meninggal dengan bayi yang ditinggalkan orang tuanya."


Hampir semua yang hadir menahan nafas.


Mariana memejamkan mata, kepalanya menunduk seolah menatap Hendra.


"Ooh!" Mariana memekik, menahan kepalanya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Mariana!" Bima meraih tubuh Mariana yang limbung, membawanya kembali duduk.


"Ada apa, Mariana?" tanya Bima cemas.


"Ya. Aku tidak bisa melihatnya karena selama ini yang Hendra tahu Paman dan Bibi adalah ayah dan ibunya. Itu kenapa detail kecil ini terlewat olehku," jawab Mariana.


"Apa kau tahu siapa orang tua Hendra?" tanya Paman Mariana.


Mariana mengangguk.


Semua diam membeku, menunggu.


Mariana menggeleng kecil.


"Katakan, Mariana. Karena aku akan memulangkan dia kepada orang tuanya. Aku telah membesarkannya, dan biarkan orang tua yang telah melahirkannya yang kini bertanggung jawab atas sifat yang mendarah daging dalam diri anak ini."


"Ayah...." rintih Hendra.


"Jangan pernah panggil aku ayah lagi."


Hendra yang telah terduduk, menunduk lesu.


"Baiklah. Kalau begitu, katakan siapa orang tuaku, Mariana."


"Kau tidak bisa melakukan apa pun padanya, Hendra!" desis Mariana.


"Itu hak ku. Toh aku tidak mengganggu keluarga kalian," jawab Hendra dingin.


"Kau putra Hortensia, dengan...."


Beku. Hening. Tegang.


"Thompson."


"Thompson?!"


Mariana mengangguk.


"Tapi...."


"Aku tidak pernah tahu. Karena Tompson juga tidak pernah tahu dia memiliki seorang putra. Hortensia hanya membawa Sarah pulang sebagai bayinya, dan meninggalkan Hendra di rumah sakit. Hendra dan Sarah, kembar."


Bima berdiri mendadak, bersiap keluar dan mencari Thompson di rumah sakit.


"Berhenti!" Hendra berdiri cepat, menahan langkah Bima.


"Aku tahu siapa Sarah. Aku yanng mengirimnya untuk menghasut Mariana agar pergi darimu, atas informasi Galang. Aku akan menemui mereka."


Bima berniat mencegah, tetapi Mariana menahannya. Bima menoleh.


"Biarkan. Dia tidak akaan melakukan apa pun. Dia mencintai Sarah."


Bima mengerutkan kening.


"Ayah, Ibu...." Ibu Hendra yang telah berlinang air mata, mendongak menatap putranya.


"Terima kasih sudah membesarkan aku dan merawat ku penuh cinta. Maaf mengecewakan kalian. Maaf aku tidak pernah bisa menjadi seperti yang kalian harapkan. Aku pergi. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi."


Lalu Hendra berbalik, melangkah pergi.


Tangis ibu Hendra pecah seketika, tetapi tanpa ijin suaminya, dia sama sekali tidak berani beranjak dari tempatnya untuk mengejar putra semata wayangnya.


"Mariana...."


"Sarah akan sembuh. Mereka akan bahagia. Sarah... mengandung putra Hendra."


Semua mata membelalak, menatap kaget informasi terakhir yang di bawa oleh Mariana.

__ADS_1


_____________TAMAT______________


__ADS_2