Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
DIA ANAK KU


__ADS_3

"B-Bima...." Mariana membeku dalam kungkungan lengan Bima.


Bima mendekat, Mariana memejamkan mata, nafasnya memburu dan jantungnya berlompatan tak karuan.


Bima mendaratkan kecupan di kening Mariana dengan sangat lembut.


"Aku akan membuatnya menjadi anak ku. Apa kau setuju?" bisik Bima lirih di telinga Mariana.


Mariana mengangguk patah-patah, matanya masih terpejam rapat, nafasnya memburu semakin cepat. Seluruh tubuhnya meremang, saraf-saraf permukaan kulitnya bereaksi cepat.


"Apa kau mengizinkanku?"


Mariana kembali mengangguk.


Bima tersenyum melihat ekspresi Mariana.


"Apa kau takut?"


Mariana kembali mengangguk.


"Aku tidak seperti mantan kekasihmu yang gila itu, Mariana. Aku tidak akan memaksamu kalau kau belum siap. Aku hanya ingin kau tahu, aku siap menerima anak ini sebagai anak ku." Bima mengendurkan kungkungannya, bergerak menjauh.


Mariana membuka mata, menahan lengan Bima yang sudah diturunkan dari sisinya. Bima menatap Mariana, menunggu.


"Lakukan. Buat aku mencintai anak ini."


Bima tersenyum, menggeleng. Tidak dengan keterpaksaanmu, Mariana.


Kini giliran Mariana menggeleng. "Tidak. Aku ikhlas."


Bima kembali tersenyum, membawa Mariana ke tempat tidur dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Dengar, Mariana. Masa kehamilanmu masih sangat muda. Kalau kau mau, kita pergi memeriksakannya ke dokter dan tanyakan apakah aman untuk kita melakukannya sekarang."


"Dokter sudah menjelaskannya padaku. Dia mengizinkan kita melakukannya selama tidak ada bercak atau flek yang muncul setelahnya."


Bima tertawa. "Kenapa kau jadi agresif sekali, Mariana?"


"Kau kan suamiku, apa itu salah?"


"Tidak, tentu sja tidak. Tapi... tetap saja aku tidak akan melakukannya sekarang."


"Kenapa?"


"Tidak sebelum kau mengizinkanku tidur dengan memelukmu di kamar."


Mariana berdiri cepat, menatap Bima dengan galak. "Memangnya siapa yang menyuruhmu tidur di luar, heh? Aku tidak pernah memintamu untuk tidur di sofa sama sekali. Kau yang mau!" katanya sewot.


Bima mengangkat alis, kemudian tertawa. "Baiklah, Mariana. Baiklah. Kau jadi mengerikan sekali kalau seperti ini. Jangan-jangan waktu itu kau yang memaksa mantan pacarmu, bukan dia."


Plak! Tamparan kali ini tidak selembut tadi.


"Aku tidak serendah itu!" Mariana memelotot marah.


"M-mariana... tentu saja. M-maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bercanda. Tentu saja kau tidak serendah itu, aku tahu." Bima tergagap, mendapati wajah marah Mariana. Aura kemarahan membungkus tebal tubuhnya, membuat Bima gelagapan.


"S-sayang... tenanglah. Tolong."


Mariana membeku, menelan ludah dengan kasar.


"Mariana...."


"Kau memanggilku apa?" tanya Mariana dingin.


Bima menggaruk kepalanya. Melihat aura kemarahan di tubuh Mariana perlahan menghilang, Bima mulai lega.


"S-sayang... kau istriku, dan aku menyayangimu. Apa itu salah?" tanya Bima, mengulum senyum.


"Salah!" Mariana sewot, berbalik kasar dan berjalan ke pintu, membukanya dan keluar.

__ADS_1


Di dalam, Bima mengeluarkan ponselnya, mengetik dengan sangat cepat.


Siapkan rumahku. Kami akan menempatinya. Dan mengirimnya pada Marco. Lalu Bima keluar, mencari-cari Mariana.


"Kau sedang apa?" tanya Bima, melihat Mariana duduk sendirian di ruang tamu sambil membawa stoples kacang goreng.


Mariana diam, tidak merespon. Mulutnya sibuk mengunyah.


Bima duduk di sampingnya, merengkuh pinggang kecil Mariana. Meski tengah hamil, tapi pinggang seksi itu belum tampak melebar.


"Apa kau pernah membaca, bahwa kadar esterogen pada wanita hamil itu lebih tinggi?"


Bima mengangkat alis.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Kalau begitu kau harus lebih sering membaca."


Bima menarik ponselnya, mengetik beberapa kata kunci. Bima mulai membaca, semakin lama kerutan di alisnya semakin tebal. Kemudian pria itu terbahak.


"Mariana, jadi kau ingin aku melakukannya dengan alasan itu?" tanya Bima.


Mariana menggeleng. "Bukan satu-satunya alasan.


"Jadi?"


"Bukankah sudah aku katakan. Buat aku mencintai anak ini, atau aku tidak akan bisa memaksa hatiku untuk menerimanya."


"Kau masih membencinya?" bisik Bima, menatap Mariana serius.


Mariana mengangguk.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Bima pelan.


Mariana mengangguk, masih memandangi toples kacang yang isinya sudah berkurang seperempatnya.


"Kenapa kau ingin aku yang melakukannya?"


"Bukankah kita hanya menikah di atas kertas, untuk menggugurkan kutukan itu?"


Mariana diam, hanya menghela nafas panjang.


"Masih banyak laki-laki lain di luar sana yang lebih baik dariku, Mariana. Aku hanya gelandangan, tak punya rumah, tak punya pekerjaan."


"Tapi kau sudah berjanji untuk menjagaku dan anak ini," protes Mariana.


"Apa kau juga berjanji untuk menjaga anak ini?"


"Setelah dia menjadi anak kita?"


"Apa kau benar-benar berpikir begitu?"


"Ya."


"Kau yakin, Mariana?" Bima menatap Mariana, berkonsentrasi mengamati aura kebohongan dalam diri Mariana, yang tertutup bayang-bayang transparan yang menghalangi Bima untuk membacanya lebih jelas.


"Besok, adalah tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan kita, tiga bulan yang lalu. Selama ini kita berbagi rumah, berbagi makanan, berbagi sofa dan meja makan yang sama. Mungkin tanpa kau sadari, kau bahkan membagi perhatianmu cukup banyak untukku. Kalau pun kau tidak, tapi di dalam diriku telah tumbuh perasaan yang berbeda untukmu, Bima."


Bima membeku, menatap kaget Mariana.


"Tidak apa-apa kalau kau tidak. Aku tidak akan memaksa dan pernikahan ini akan tetap hanya sebatas perjanjian di atas kertas." Mariana melanjutkan.


"Tidak! tidak seperti itu."


Mariana menatap Bima, tersenyum. "Tidak apa-apa. Sudah ku bilang aku tidak memaksa. Maaf sudah terbawa perasaan oleh semua perhatian yang kau berikan." Mariana berdiri, menaruh toples kacang di atas meja dan berlalu pergi.


"Mariana." Bima mengikuti berdiri, tapi Mariana sudah berjalan cepat ke kamarnya.


"Mariana...." Bima memanggil lebih lembut, menarik lengan Mariana. Tetapi Mariana mengelak. Dia masuk ke dalam kamar, menutupnya dengan sedikit keras dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


"Mariana, please. Buka pintunya dan dengarkan aku." Bima mengetuk pintu dengan lembut. Tidak ada jawaban.


"Mariana...." Bima mulai menggedor. Dia menempelkan telinganya pada daun pintu, dan bisa mendengar isakan dari dalam sana yang jelas keluar dari bibir Mariana.


"Mariana buka pintunya." Bima mengetuk lebih keras.


"Mariana. Buka!" teriak Bima mulai tersulut amarah.


Diam. Tak ada sahutan atau respon apa pun dari dalam sana. Bima menggedor lebih keras, balasan yang dia dengar hanya tangisan Mariana yang juga terdengar lebih keras.


"Mariana, Please. Buka pintunya, Mariana." Bika kembali menggedor.


"Urus perceraian kita besok, aku akan menandatanganinya segera." Suara Mariana terdengar serak.


"Apa?!"


Tidak ada jawaban.


"Kau gila, Mariana!"


Diam.


"Mariana, buka pintunya!" Bima kembali menggedor.


"****!" Bima menendang pintu kamar Mariana. "Aku akan mendobrak pintunya kalau kau memaksaku, Mariana," ancam Bima.


Brak! Pundak kekar Bima menabrak pintu.


Brak! Dua kali, sebelum terdengar bunyi kunci pintu di putar. Bina berhenti, menunggu.


Pintu terbuka, Mariana muncul dengan wajah basah dan sembab.


"Pergmmbbb...."


Bima menerobos masuk, menerjang Mariana dan menciumnya. Mariana berontak, tetapi Bima mengunci tubuhnya pada dinding di samping pintu.


"Bima!" Mariana mendorong kasar tubuh Bima, nafasnya terengah-engah. "Bisa tidak sih lebih lembut sedikit memperlakukan wanita hamil!" bentak Mariana.


"Kau memaksaku, Mariana." Bima menatap dingin wanita yang memucat di hadapannya.


"Aku tidak memaksamu. Sudah ku bilang aku tidak pernah memaksamu untuk bisa menermmmbbb...."


Bima kembali mengunci bibir Mariana dalam pagutan.


"Berhenti mengatakan aku tidak mencintaimu, Mariana." Bima melepas pagutannya, berbisik di sisi telinga Mariana.


"A-aku...." Mariana tergagap, nafasnya tersengal.


"Aku menginginkanmu sejak pertama melihatmu dibawa para bajingan itu. Itu kenapa aku membuntuti kalian dan menyelamatkanmu." Bima berbicara geram, bibirnya bergemeretuk, tapi ujung hidungnya yang panjang menyapu leher Mariana dengan lembut.


Mariana menelan ludah, nafasnya semakin memburu.


"B-bima, sudah."


"Kenapa, Sayang? Bukankah kau menginginkannya?"


"T-tidak sekarang...."


"Tetapi tubuhmu tidak menolak."


"I-itu...."


Bima menendang pintu kamar hingga tertutup, lalu menguncinya. Bibirnya tidak beranjak dari leher jenjang Mariana.


"Bimaaah...." Mariana mendesah panjang saat Bima menggigit pundaknya lembut.


Bima membawa Mariana ke tempat tidur, menidurkannya dengan sangat perlahan, seolah Mariana gelas kristal yang mudah sekali pecah jika dia memperlakukannya dengan kasar.


"Kau siap mengandung anak ku dan menjaganya untukku, Mariana?" Bima menatap Mariana dengan intens.

__ADS_1


Mariana mengangguk patah-patah.


__ADS_2