
"Aku ada di sini."
Bima menoleh kaget mendengar sebuah suara yang telah lama sekali dia rindukan.
"Mariana?" katanya, membeku di tempatnya.
"Ya. Ini aku."
Bima ingin berlari memeluknya, tetapi ragu. Entah apa yang membuatnya ragu, dia sendiri pun tidak dapat menemukan alasannya.
"Aku minta maaf telah pergi dari mu." Mariana menatap Bima penuh rindu, sedikit senyum terukir di sudut bibirnya.
"K-kenapa kau melakukan itu?" tanya Bima, berjalan ragu mendekati Mariana.
"Karena...."
"Apa Sarah mengancam mu?"
Mariana diam.
Bima memejamkan mata dan menarik nafas untuk menenangkan emosinya yang mulai bergolak.
"Tidak." Mariana menggeleng cepat saat melihat sorot api kemarahan di kedalaman mata Bima.
"Jangan melindunginya, Mariana."
Mariana kembali menggeleng. "Aku tidak berusaha melindunginya sama sekali. Alasan kepergian ku karena Sarah, ya. Tetapi aku pergi tidak karena paksaan. Aku memutuskan sendiri untuk pergi."
Bima berhenti tepat di depan Mariana, menunduk menatap bayi mungil di dalam gendongan Mariana.
"Apa... dia... anak ku?" tanyanya ragu.
Mariana ikut menunduk menatap bayinya, kemudian mengangguk. "Ya."
"Bagaimana bisa?" tanya Bima. Tangannya terangkat ragu, lalu diturunkannya kembali.
Mariana menatap Bima. "Saat kita melakukannya, aku tidak dalam keadaan hamil."
Bima mengerutkan kening.
"Aku minta maaf, tapi aku telah meminum obat untuk menggugurkan kandunganku."
Bima kembali menatap Mariana bertanya-tanya. "Tapi, kau tidak pernah keguguran. Bukankah kalau kau kedapatan... aku akan mengetahuinya?"
Mariana tersenyum. "Apa kau lupa dokter sempat melarang kita berhubungan selama beberapa waktu karena kandunganku lemah?"
Bima berpikir sejenak, lalu kembali menatap bayi mungil di tangan Mariana, lalu dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi bayi mungil itu.
"Siapa namanya?" tanya Bima lembut.
"Leo Sandiago **."
Bima membelalak kaget. Tetapi melihat wajah Mariana yang biasa saja, dia memutuskan bahwa mungkin pemilihan nama itu hanya kebetulan.
"Mm... Mariana. Boleh aku menggendongnya?" tanya Bima ragu.
Mariana tersenyum lebar. "Tentu saja."
Buma menerima bayi mungil dari tangan Mariana, dan menggendongnya perlahan.
"Nyonya Mariana, sebaiknya Nyonya duduk. Saya akan membawakan minum untuk Nyonya." Marco berjalan mendekat, mempersilahkan istri bosnya itu untuk duduk. Mariana tersenyum, lalu duduk.
"Sayang. Di mana kau ingin menyiapkan kamar untuk bayi kita?" tanya Bima, beranjak duduk di samping Mariana.
Mariana diam, menatap Bima yang menggendong Leo dengan gerakan kaku.
__ADS_1
"Sayang...."
"Eh, sebenarnya.... Bima. Aku minta maaf. Sebenarnya aku datang ke sini untuk mengurus perceraian kita." Mariana menunduk, berbicara dengan sangat pelan.
"Apa?!" teriak Bima kaget, membuat makhluk mungil di gendongannya berjengit.
"Ssssst..." Bina berdiri, mengayun pelan bayinya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Mariana?" geram Bima, berbisik.
"Aku benar-benar minta maaf."
"Apa ini karena pria tua bangka itu?" tanya Bima sengit.
"Pria yang mana?" tanya Mariana, mendongak menatap Bima.
"Tidak perlu berpura-pura. Aku telah melihat kalian dan aku tahu kau tinggal bersama pria itu!"
"Pria yang mana yang kau maksud?!" Mariana berdiri, menatap Bima galak.
"Aah sudah lah. Aku akan kabulkan permintaanmu, tetapi dengan syarat bayi ini aku yang akan mengasuhnya."
"Apa?!" ganti Mariana yang berteriak kaget.
"Kenapa? Sebuah perceraian suami istri, setiap siapa yang berselingkuh akan kehilangan hak asuh anaknya. Itu sudah hukum yang berlaku, Mariana."
"Tidak...." Mariana menggeleng pelan.
Bima tidak peduli, dia keluar dari ruang kerjanya membawa Leo di gendongannya.
"Bima! Kembalikan anak ku!" Mariana berteriak, mengejar Bima keluar ruangan. Marco yang sedang berjalan membawa minuman, membeku di tempatnya.
"Kau bisa keluar sekarang!" kata Bima dingin, meninggalkan Mariana menaiki tangga.
Bayi Leo mulai menangis, tahu sesuatu tengah terjadi pada kedua orang tuanya.
"Dia meminta hak asuh Leo dan mengusirku."
Marco mengerutkan kening. "Bagaimana bisa?" tanyanya bingung.
"Aku...." Mariana menghapus air matanya yang segera keluar lagi. "Aku meminta bercerai darinya."
Marco menyeringai tajam.
"Masuklah, Nyonya." Marco membawa lengan Mariana untuk kembali masuk ke dalam ruang kerja Bima.
"Minumlah untuk menenangkan pikiran." Bima menyodorkan segelas air lemon yang di bawanya.
"Aku tidak ingin kehilangan Baby Leo." Mariana terisak.
"Saya tahu, Nyonya. Tapi, apa yang membuat Nyonya memutuskan untuk berpisah dari Tuan?" tanya Marco tenang, duduk di sudut paling jauh dari tempat Mariana.
"Aku...."
"Katakan, Nyonya. Saya akan membantu sebisa saya."
Mariana terdiam, menunduk.
"Aku...." Wanita itu kembali terdiam, tangannya bergerak menghapus sisa air mata di pipinya.
"Aku tahu masa lalu Bima."
"Dari Nona Sarah?"
Mariana mengangguk patah-patah.
__ADS_1
"Masa lalu yang mana yang Nyonya maksudkan?" tanya Marco tenang.
"Semuanya. Siapa dia sebenarnya dan bagaimana dia menelantarkan anaknya."
Marco tersenyum. "Apakah Nyonya tahu alasan Tuan menelantarkan putranya?"
Mariana terdiam.
"Dia tidak pernah peduli pada anaknya. Dia tidak ingin mengakuinya," kata Mariana kemudian.
Marco menggeleng. "Itu bukan cerita yang sebenarnya, Nyonya."
Mariana mengerutkan kening.
"Saya tidak akan membuat pembelaan apa pun untuk Tuan Bima, Nyonya. Tetapi saya bisa memberi tahu Nyonya, bahwa keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu."
Mariana mendongak, menatap Marco. "Apa maksudmu? Apa kau ingin mengatakan padaku bahwa Sarah berbohong?" tanya Mariana tegas.
Marco kembali tersenyum. "Sebaiknya Nyonya bertanya sendiri pada Tuan Bima. Karena saya bahkan tidak memiliki ijin untuk menyampaikannya."
Mariana menghembuskan nafas panjang.
"Katakan saja padaku, aku yang memberimu ijin," katanya kesal.
Marco menggeleng, masih tersenyum.
"Kalau Nyonya enggan bertanya pada Tuan Bima secara langsung, sebaiknya Nyonya menemui Tompson. Dia jauh lebih mengerti dari saya dan dia memiliki ijin khusus untuk membuka rahasia itu asalkan dia bersedia."
"Siapa Tompson?"
"Sama seperti saya. Dia orang kepercayaan Tuan."
"Di mana aku bisa menemuinya?"
"Di showroom. Atau kalau dia tidak berada di sana, mungkin dia sedang mengurus perusahaan finance Tuan Bima yang sedang bekerja sama dengan perusahaan Sasmita Group."
"Perusahaan Sasmita?"
"Ya, Nyonya. JkA telah hancur beberapa hari yang lalu dan Sasmita Group sedang mengajukan kerjasama dengan BSF, perusahaan Tuan Bima yang dikelola di bawah Tompson."
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Marco?"
Marco mengangguk. "Tentu saja, Nyonya. Saya akan menjawabnya selama saya memiliki hak untuk itu."
"Mmm... sebenarnya, siapa Bima?"
Marco mengerutkan kening.
"Bukankah Nyonya sudah mengetahuinya?" tanya Marco.
"Ya. Aku tahu dia dulu ketua gengster, dan saat Sarah mengandung anaknya, Bima lebih memilih sibuk dengan perusahaannya alih-alih mengakui bayi di dalam kandungan Sarah. Dan aku juga tahu kematian ibunya menghancurkannya dan membuatnya melepas segala kemewahan yang dia miliki. Tapi aku masih penasaran, siapa dia sebenarnya."
Marco mengangguk. "Dari mana Nyonya mendapatkan ide untuk memberikan nama putra Nyonya?"
Dari Bima, tentu saja. Aku mengambil nama belakangnya meski kami tidak terbiasa menggunakan nama marga, karena itu aku menambahkan ** yang berarti Junior. Dia adalah Bima versi Junior."
Marco mengangguk-angguk paham. "Dan Anda menambahkan nama Leo di depannya?"
Mariana tersenyum. "Sebenarnya aku mengambil nama itu karena seseorang menginspirasiku. Dan aku berharap putra ku kelak akan sehebat dia."
Marco kembali mengerutkan kening, menatap penasaran.
"Kau tentu tahu Leo Atlas. Meski tidak ada yang tahu siapa dan bagaimana dia, tetapi namanya sudah mendunia sebagai raja bisnis. Perusahaannya bercecer di mana-mana. Itu kenapa aku memberinya nama Leo. Karena aku berharap anak ku kelak sehebat pria itu, siapa pun dia."
Marco mengangguk, tersenyum. "Saya yakin dia akan sehebat Leo Atlas," katanya.
__ADS_1
"Ya. Ku harap juga begitu."