Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
HUKUMAN


__ADS_3

"T-tuan...." Marco melipat satu kakinya, berlutut di depan tubuh penuh darah yang tergeletak pingsan. Peluru menembus di bagian ulu hatinya, entah mengenai jantungnya atau tidak.


"M-mariana...."


Mariana diam, perlahan ia menurunkan kedua lengannya yang masih teracung dengan pistol di ujung genggamannya. Mariana menaruh pistol di atas meja, dengan langkah tenang dia berjalan ke arah pintu, di mana beberapa pengawal Bima masih membeku.


"Bereskan dia," katanya dingin sembari melangkahi tubuh Sarah yang tergeletak antara hidup dan mati.


Seluruh pengawal Bima menepi, masih menatap takjub pada Mariana yang berjalan ke arah tangga dan menaikinya.


"Tuan...." Satu pengawal yang lebih dulu tersadar, berlari ke arah Bima dan membuka ikatannya.


"Apakah dia mati?" tanya Bima, begitu kakinya dia berdiri menopang kedua tubuhnya.


Marco menggeleng, tangannya mengecek nadi Sarah.


"Tidak. Tetapi Nadinya melemah."


"Bawa dia ke rumah sakit. Dia tidak akan mati selama masih ada ikatan aliran darahku di dalam tubuhnya yang diciptakan oleh cenayang itu," kata Bima datar, berdiri dari tempatnya tanpa ingin mendekat sama sekali.


"Ke mana Mariana?" tanya Bima, saat Marco berdiri dan berjalan ke tempatnya, sementara anak buahnya mengurus tubuh Sarah.


"Apa kau tidak merasa bahwa itu terlalu mengerikan, Bos?"


Bima mengangguk. "Ya. Dari mana dia mempelajari cara menggunakan pistol dengan tepat sasaran," gumam Bima, kembali duduk di tempatnya.


"Bos, itu terjadi hanya dalam hitungan sepersekian detik, kau tahu? Dan Sarah dikelilingi banyak orang. Bisa saja pelurunya menyasar salah satu dari kami."


Bina menggeleng. "Tidak."


"Tidak?" tanya Bima tidak percaya.


"Aku melihat, kabut auranya semakin tebal, seolah di kendalikan. Kalau tebakanku benar, Mariana telah dikembalikan menjadi dirinya sendiri oleh Kakek Sasmita."


"Dikembalikan?"


"Ya. Mariana adalah pelihat, dan mimikri yang sangat kuat. Saat dia masih balita, kekuatannya bahkan mampu menyedot kemampuan saudara laki-lakinya."


"Pelihat?"


Bima mengangguk. "Ya. Kakek pernah mengatakannya padaku. Kakek Mariana sengaja mematikan kemampuannya karena terlalu besar. Dia merasa takut kalau seorang perempuan memiliki kemampuan sebesar itu, dia akan menjadi sangat mengerikan."


"Sudah terbukti, bukan?" tanya Marco, bergidik ngeri.


Bima tersenyum. "Ya," katanya mengangguk. "Kekuatan di dalam dirinya telah bangkit. Mariana, akan menjadi sangat mengerikan. Katakan pada semuanya, jangan ada satu orang pun yang berani menolak keinginan Mariana, atau dia akan menyesal dalam kuburnya."


***


"Sayang...." Bima membelai kedua pundak Mariana dari belakang, saat wanita itu masih menimang putranya yang tertidur lelap di dalam gendongannya. Mariana menoleh sedikit, laku kembali menatap putranya.

__ADS_1


"Tidurkan dia. Tubuhnya pasti lelah seharian berada di dalam gendongan mu. Tenanglah, kau akan memiliki dia sepanjang sisa nafas mu," bisik Bima.


Mariana menarik nafas panjang, lalu berjalan ke atas box bayi Leo dan menaruh bayi tampan itu ke dalamnya. Bayi itu terlelap dalam senyuman.


"Kau tidurlah dengan nyenyak, Sayang. Mimpilah dalam keindahan. Mami akan menyelesaikan urusan kecil mami dulu dengan papi." Lalu Mariana mengecup kening baby Leo.


Bima menelan ludah, ikut mengecup kening putranya dengan lembut. "Menangis lah yang keras kalau papi mu di siksa olehnya, Sayang. Kau dengar itu?" bisik Bima, sebelum melangkah mengikuti Mariana masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar kosong. Bima menoleh kamar mandi dan melihat lampunya menyala. Dia tersenyum lalu berjalan masuk dan menutup pintu kamar, tanpa menguncinya. Ingatannya di ruang kerja tadi masih sangat tajam, bagaimana moncong pistol itu hampir saya merenggut lepas nyawanya dari tubuhnya.


Bima mengerutkan kening, berjalan ke arah kamar mandi dan menempelkan telinganya di sana. Sepi.


"Mariana...." Bima mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.


Cklek!


Perlahan, Bima nekat membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci dan mendorongnya.


"Mariana...."


Tidak ada. Kamar mandi itu kosong.


Bima kembali keluar dari kamar mandi, matanya mencari-cari hingga matanya menangkap pergerakan kecil di balkon kamarnya. Bima tersenyum, berjalan ke arah balkon.


Tertangkap oleh matanya, Mariana menyandarkan bagian depan tubuhnya pada balkon. Wanita itu mengenakan kaos oblong Bima yang tampak sangat kebesaran di tubuhnya yang mungil. Ya, tidak menyangka akan membawa istrinya kemari, maka Bima tidak menyiapkan pakaian wanita di rumahnya.


"Mariana...."


Bima berjalan mendekat, sesuatu di bawahnya menggeliat melihat cara berpakaian Mariana.


"Maaf belum membelikanmu baju untuk di sini," bisik Bima, melingkarkan kedua lengannya pada perut Mariana yang kecil. "Tapi kau se*i di balik kaus itu."


Mariana diam.


"Apa kau masih marah padaku?" bisik Bima lagi.


"Tentu saja."


"Kalau begitu hukum aku."


"Kau yakin?" tanya Mariana, tatapannya menyipit mengerikan meski Bima yang menyandarkan kepalanya di puncak kepala Mariana sama sekali tidak dapat melihatnya.


"Ya. Asal kau berhenti marah padaku, hukum aku dengan apa pun yang kau inginkan."


"Baiklah." Mariana berbalik, menatap Bima datar.


"M-mariana, ap-apa yang...."


"Bukankah aku boleh menghukum mu sesukaku?" tanya Mariana dingin.

__ADS_1


"I-iya. Itu benar. Lakukan sesukamu, Sayang." Bima tergagap.


Senyum iblis terpancar dari wajah cantik Mariana, membuat Bima bergidik. Tetapi dia siap menerima apa pun yang akan dilakukan Mariana padanya, termasuk jika dia harus kehilangan nyawa sekali pun.


Mariana berjalan masuk ke dalam kamar, Bima mengikuti pada jarak aman. Mariana membawa Bima ke atas tempat tidur, lalu mengikat kedua tangannya pada kepala ranjang dengan posisi duduk.


"Sayang...."


"Jangan banyak bicara atau aku akan menambah hukuman mu!" desis Mariana.


"Tidak," kata Bima cepat-capat menambahkan.


Setelah mengikat Bima dengan sempurna dan memastikan tawanannya tidak bisa terlepas, Mariana pergi mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Menonton?" tanya Bima saat Mariana mengeluarkan kacamata VR.


"Kau yang akan menonton."


"Apa yang kau rencanakan, Sayang?" tanya Bima, jantungnya berdebar penasaran.


"Tunggu saja dan jangan banyak berbicara!" kata Marina galak.


"M-mariana...!" pekik Bima tertahan, begitu Mariana selesai mengoperasikan video pada perangkatnya dan menyambungkan perangkatnya pada perangkat VR yang telah menempel di kedua matanya.


"M-mariana sayang, apa yang...."


"Lihat saja dan nikmati hingga aku kembali. Jangan berani melepasnya atau melepas milikmu sebelum aku kembali. Jangan memejamkan mata juga!"


"Tapi, Mariana. Kau mau ke mana?" tanya Bima kebingungan.


"Makan," kata Mariana lalu bergerak ke pintu, membuka lalu menutupnya kembali.


"Sialan, Mariana! Kenapa kau menyiksaku seperti ini." Bima mengerang tidak berdaya di tempatnya.


"Aaahhh... Mariana...!" teriak Bima frustasi, belum genap sepuluh menit dia menjalani hukumannya. Bagian bawahnya terasa berdenyut sangat hebat. Rupanya Mariana sengaja menghukumnya seperti itu untuk menyiksanya. Dan dia akan benar-benar tersiksa malam ini, jika Mariana tidak bersedia menyelesaikannya.


"Tuhan... Marianaaa...!" Bima berteriak Murka, tak mampu berbuat apa pun dengan kedua tangan dan kakinya terikat di ranjang.


"****! Aaah...." Bima berteriak dan mendesah marah.


Duduk di sofa tepat di sisi tempat tidur, Mariana tersenyum puas melihat Bima yang berkeringat dan kebingungan.


"Mariana. Tolong hentikan, Sayang. Aku tidak akan tahan melihatnya. Oh my God! Akan aku bunuh baj**gan-baj**gan itu hingga seluruh keturunannya musnah tak bersisa!" teriak Bima murka.


"Aaaaggrrhhh...." tepat saat matanya menangkap kekejian paling menjijikkan itu, sesuatu yang hangat terasa menyentuh miliknya yang sudah sangat ranum.


"M-mariana...." Bima menggeleng bingung, berusaha melontarkan VR Box dari kepalanya.


VR Box terlepas dengan lembut dari kepalanya. Namun belum genap penglihatan Bima, sebuah kain hitam menggantikan posisi VR menutup kedua matanya.

__ADS_1


"M-mariana... apa lagi ini, Sayang?" tanya Bima.


__ADS_2