Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
SNIPER


__ADS_3

Marco mengikuti ke mana Mariana bilang mereka harus berjalan. Karena dengan kemampuan yang dimilikinya, Mariana seolah mendapat gambaran peta kehidupan di sekitarnya.


"Mmm... Bima."


Bima menoleh.


"Apakah kau juga bisa melihat segala seperti yang aku lihat?"


Bima menggeleng. "Tidak. Itu kenapa aku memintamu menuntun ke mana kita harus berjalan. Karena kau yang tahu di mana aura-aura jahat itu bersembunyi."


Mariana mengerutkan kening. "Tapi, aku hanya menuntun kita melewati jalan yang lebih terang."


"Kau hanya perlu belajar untuk merasakannya, Mariana."


"Bagaimana...."


"Pelajari milik kami. Apa yang bisa kau rasakan dari auraku.


Mariana menatap Bima sejenak, kemudian memejamkan mata. "Tenang," katanya kemudian.


"Hhm. Marco?"


"Tegang."


"Aaron?"


"Cemas."


"Mobil tepat di belakang kita?"


"Senang."


"Dua mobil di belakang kita?"


"Ambisi, takut, cemas."


"Dua di depannya lagi?"


"Senang."


"Kau tahu, Mariana. Itu kenapa aku memintamu menuntun kita."


Mariana membuka mata. "Kenapa?"


"Karena kau mampu membaca dalam jarak pandang yang sangat jauh. Sementara aku hanya berjarak beberapa meter, dan Marco hanya bisa melihat tanpa bisa merasa," jelas Bima.


"Apa bedanya?"


"Marco tidak dapat menebak perasaan dan maksud seseorang, hanya dapat melihat aura yang menyelimuti seseorang."


"Dan kau?"


"Aku bisa mengerti perasaan seseorang, tetapi tidak dapat membaca maksud yang sedang terbentuk di dalam kepalanya."


Mariana menarik nafas panjang, mengangguk. "Dulu aku begitu penasaran bagaimana bisa kakek selalu menangkap basah perbuatan ku bahkan terkadang itu belum aku lakukan. Sekarang aku tahu bagaimana dia bisa melakukannya."


"Ya. Aku masih ingat kau pernah mengatakannya saat...."


Kalimat Bima menggantung saat tangan Mariana mencengkeram erat lengannya, aura kesedihan membumbung tinggi melingkupi tubuhnya.

__ADS_1


"Ada apa, Mariana?" tanya Bima, menatap Mariana cemas.


"Kakek...."


"Ada apa dengan kakek?"


"Mereka.... Kakek...!" teriak Mariana histeris, kemudian memeluk erat tubuh Bima dan menangis di sana.


Bima memejamkan mata, menahan rasa panas yang tiba-tiba membakar bola matanya. Meski belum bisa melihatnya, tetapi dari aura gelap yang dipancarkan Mariana, Bima bisa menebak apa yang telah terjadi di kediaman kakeknya.


Mariana mendongak tiba-tiba, matanya yang bengkak dan berair menatap waspada.


"Berhenti!" teriaknya. Marco mengerem mobil dengan mendadak, kepalanya mendongak menatap center mirror. bunyi klakson mobil di belakangnya memekakkan telinga, diikuti umpatan kasar seseorang yang berada di balik kemudi.


"Bergeraklah secara normal, dan menepi dua puluh meter sebelum rumah kakek," katanya, balas menatap Marco dari center mirror.


"Bima... apa kau memiliki senapan jarak jauh?" Mariana menoleh Bima.


Bima mengerutkan kening.


"Mereka menyiapkan dua sniper untuk menyambut kedatangan kita. Kakek sudah meninggal, dan mereka bersiap untuk melenyapkan ku tepat setelah pemakaman kakek."


Bima menggeleng tidak percaya, tetapi dia menunduk ke belakang kursi Marco. Tangannya menyentuh sebuah tombol tersembunyi yang kemudian menurunkan AC mobil dan memperlihatkan kotak pipih panjang di dalamnya.


"Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya, Sayang. Aku tak pernah berhasil membidik dengan tepat sebelumnya."


"Aku bisa."


Bima menoleh kaget. "Kau yakin?"


"Kau pikir bagaimana caraku menembak Sarah saat dia dalam keadaan bergerak serampangan di antara banyak orang?"


Bima berkedip dua kali, mencoba berpikir logis.


Seringai kepuasan terlintas di sudut bibir Bima, dia menatap istrinya dengan tatapan terpesona.


"Menepi, Marco." kata Mariana, sementara tangannya meraih laras panjang yang berada di dalam kotak pipih yang kini terbuka di pangkuan Bima.


"Mariana... kau yakin kau akan melakukannya?"


Mariana mengangguk. "Apa kau bisa memerintahkan beberapa anak buah mu untuk menggantikan posisi mereka?"


Bima kembali mengerut tidak mengerti.


"Dengar, Bima. Kau ini ketua gengster tetapi bodoh. Harus ada seseorang yang menjawab panggilan bosnya, saat mereka meminta mereka bersiap menembak, bukan. Kalau tidak begitu, mereka akan segera menyadari kejanggalannya."


"Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Mariana?"


"Aku tahu kakek menitipkan sesuatu padamu untuk kita. Tetapi kita akan mengikuti permainan mereka, hingga mereka memerintahkan pasukan snipernya untuk menghabisi kita."


"Ke mana kau akan menyingkirkan dua orang itu?"


"Alam berikutnya, tentu saja. Itu kenapa aku membutuhkan pasukan mu untuk menggantikan mereka berdua, agar ketika Galang mengecek posisi, mereka masih berada di sana."


"Galang?"


Mariana tersenyum mencibir, kepalanya menggeleng.


"Tapi, Mariana. Aku memerintahkan mereka mengurung Galang di ruang bawah tanah mansion."

__ADS_1


"Apa kau pernah mengecek keberadaannya?"


"Tentu saja."


"Kau yakin dia terikat dengan benar?"


"Apa maksudmu?"


"Apa kau mengecek ikatan tangannya?"


Bima diam, menatap Marco yang duduk di balik kemudi, menunggu perintah selanjutnya dari Mariana. Marco melirik ke belakang, matanya menatap tegang.


"Marco...."


"Bos, a-aku... tidak pernah turun ke bawah. Hanya saat membawanya ke bawah dan menyerahkannya kepada para penjaga."


Bima diam.


"Aaron. Kau yang bertanggung jawab atas mansion selama ini. Apa kau pernah mengecek ke bawah?"


Aaron, tatapannya masih waspada menatap sekitar, pistol tergenggam erat di tangannya, menoleh sedikit.


"Ya, Bos. Tetapi Bajingan itu selalu terikat di tempatnya setiap kali aku turun."


"Kau dengar, Mariana?" tanya Bima.


"Tentu saja aku mendengarnya, Bima. Tetapi seseorang yang mengkhianati mu bisa saja mengatakan itu semua padamu," kata Mariana tegas.


"Apa maksud Anda, Nyonya?"


Marco dan Aaron bertanya hampir bersamaan. Mata Marco menatap tegang, auranya tampak sangat cemas. Berbagai pemikiran terlintas di dalam benaknya, yang membuat bibir Mariana terangkat membentuk senyuman.


"Seorang pasukan telah mengkhianatimu, Bima. Dan kau tak pernah menyadari itu."


"Mariana. Tidak ada yang bisa berbohong padaku dan Tompson di sana."


"Ada."


"Hanya kau mimikri yang tersisa setelah ibuku, Mariana."


"Tidak. Ada dua mimikri yang mampu mengendalikan diri dengan sangat baik."


Bima terdiam, wajahnya berubah tegang.


"Mapala?"


"Aku bahkan tak pernah tahu di mana Mapala berada, meski aku sangat merindukannya."


"Lalu?"


Mariana tersenyum masam. "Kau bahkan sangat mempercayainya," desis Mariana pelan.


"Mariana...."


"Kita akan segera tahu. Apa kau sudah menghubungi anak buah mu?"


"Siapa yang harus aku hubungi?"


"Biar aku yang melakukannya, Bos. Aku akan menghubungi...."

__ADS_1


Dor!


Suara tembakan teredam diikuti cipratan darah dan ponsel yang terpelanting jatuh saat peluru menembus jantung melalui bagian belakang kursi.


__ADS_2