Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
RUMAH MINIMALIS


__ADS_3

"Kau yakin akan membangunkan pasukan singa untuk mencari Nyonya Mariana, Bos?"


"Hmm."


Jawaban yang sudah cukup membuat Marco paham bahwa induk singa yang telah lama tertidur, kini bangkit kembali.


Ponsel Marco berdering, dia segera mengangkatnya.


"Ya!"


"...."


Marco melirik Bima sekilas. "Batalkan seluruh penerbangan. Gunakan nama Lion untuk memastikan mereka mematuhi perintah."


"...."


"Aku bilang gunakan kekuasaan Lion. Leo Atlas telah bangun dan siap kembali memimpin Singa Belang dan seluruh peradaban Lion."


Marco mematikan ponsel, kembali mengantonginya.


"Apa katanya?" tanya Bima dingin.


"Kita ke Bandara Internasional. Sarah melakukan pembelian tiket untuk keberangkatan tercepat."


"Pukul berapa pesawatnya take off."


"Tiga menit dari sekarang."


Mobil seperti melompat sejauh lima puluh meter dari tempatnya sebelumnya. Marco mencengkeram laptopnya lebih erat, buku-buku jarinya memutih.


"Ke mana penerbangannya."


"Houstonvill."


Bima membelok tajam di perempatan, laptop yang sedari tari dicengkeram erat oleh Marco, tak ayal tetap terbanting saat tangannya reflek meraih dashboard untuk menjaga tubuhnya tetap di tempatnya, meski sabuk pengamannya bekerja lebih baik dari pada kedua tangannya.


"Oh, kau menghancurkan hidupku, Bos!" Marco mengeluh.


"Seharusnya kau membeli yang lebih baik."


Marco mendengus pelan, mengamati laptopnya yang untungnya tak tergores sedikitpun.


Bima membelok masuk ke sebuah rumah, memarkir sembarangan dan segera turun.


"Siapkan black lion," katanya sambil berjalan setengah berlari menaiki tangga memasuki mansion besarnya.


Penjaga menatap Marco yang menyusul di belakangnya, memastikan perintah Tuannya tidak salah.


"Kau tidak salah mendengan. Leo Atlas telah bangun dan siap berburu, jadi siapkan tunggangannya," kata Marco juga tidak berhenti untuk menatap yang diajaknya berbicara. Dua penjaga bertubuh kekar itu menyeringai, lalu berbalik dan memasuki garasi besar dengan pintu baja hitam mengkilat.


Lima menit kemudian Bima turun, mengenakan pakaian serba hitam yang menjadi ciri khasnya. Di lehernya menggantung kalung emas panjang dengan bandul singa. Leo "Bimantara" Atlas telah kembali.


Bima berjalan mendekati Mclaren Speedtail modifikasi warna hitam mengkilat dengan cutting sticker kepala singa menutup bagian belakangnya. Bima duduk di belakang kemudi, menginjak pedal gas pada posisi netral. mesin mobil meraung buas bagai singa atlas. Gambar singa di bagian belakang menyala merah saat Bima menginjak pedal rem. Benar-benar mobil yang mematikan, semematikan orang yang kini duduk di belakang kemudi dengan buku-buku jari memutih.


Setelah Marco duduk dan menutup pintu, mobil melompat pada kecepatan 0-100km/jam dalam waktu 2.4 detik. Raungan mesinnya dengan sendirinya menyingkirkan para pengendara lain dari jalan, memberinya akses bypass menuju bandara Internasional.


Dengan kecepatan 483km/jam, Bima dan Marco berhasil mencapai bandara hanya dalam waktu 7 menit kurang 24 detik.


Bima memarkir mobilnya sembarangan, berlari memasuki bandara.


"Tuan."


Seorang berpakaian hitam-hitam berlutut dihadapannya begitu Bima masuk.

__ADS_1


"Kami siap mendapatkan hukuman. Pesawat lepas landas dua puluh detik sebelum perintah kami tiba."


Bima menarik nafas panjang, matanya memindai tajam seluruh area bandara.


"Paksa mereka membuat pendaratan darurat di bandara terdekat dan siapkan pesawat untuk menyusulnya." Bima berkata tenang, namun terkesan dingin dan mematikan. Pria yang berlutut di depannya segera berdiri, menunduk dan berbalik cepat.


"Kau meninggalkan taring mu, Bos?" tanya Marco, menatap Bima.


Bima berbalik, berjalan menuju garasi pesawat pribadi tanpa melalui penjagaan.


"Mereka hilang banyak setelah kejadian itu. Kalau aku menendangi satu-satu setiap mereka yang bodoh dan tidak becus, apa kau pikir kau sendirian mampu melayani kemauanku yang sangat banyak?!" tanya Bima dingin.


Marco mengerut. "Kau benar, Bos. Kau tidak meninggalkan taring mu. Kau hanya lupa mengasahnya lebih tajam. Tapi tetap saja dengan itu kau masih bisa menghabisi lima banteng sekaligus," kata Marco takut-takut.


Di hanggar pesawat pribadi...


"Mulet, Hanoi, Elka. Bawa anak buah mu dan geledah pesawat yang ditumpangi Sarah. Bawa dia padaku, hidup atau mati."


Tiga orang yang disebut mengangguk tegas.


"Mulet, kemarikan seragam mu."


Mulet menatap bingung, terapi tidak membantah. Dia melepas seragam hitamnya, menyisakan kaus dalam tanpa lengan yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. lalu menyerahkan bajunya pada Bima.


"Pakai itu." Bima menyerahkan jas hitamnya. "Gunakan ini selama di perjalanan atau saat menggeledah pesawat." Bima mengambil kacamatanya dan menyerahkannya pada Mulet. Tanpa banyak bertanya, Mulet menerimanya dan mengenakannya.


"Segera berangkat dan hubungi Marco tentang perkembangan sekecil apa pun."


Ketiganya mengangguk, berbalik dan mulai menaiki tangga pesawat.


"Bos, apa kau pikir tiket pesawat itu hanya jebakan?" tanya Marco, berbisik di belakang Bima.


Tanpa menghentikan langkah Bima mengangguk, lalu melempar kunci mobil pada Marco. Marco menangkapnya dengan gesit.


"Kau pikir, di mana Sarah saat ini?"


"Aku belum bisa menebaknya. Tapi aku yakin dimana pun dia berada, Mariana bersamanya."


"Apa kau pikir Sarah juga yang telah menguras rekening bank Mariana?"


"Tidak ada lagi."


"Kau pikir, bagaimana keadaan Mariana sekarang?"


"Jangan tanya aku kalau kau tidak ingin aku menabrakkan mobilnya!" jawab Bima tajam dan dingin, membuat rahang Marco seketika terkatup rapat.


"Bagaimana kau menyimpulkan bahwa Sarah tidak berada di pesawat, Bos? Maaf, tapi aku sangat penasaran."


"Apa kau tidak berpikir dia mencoba menjauhkan kita dari Mariana?"


"Ya. Tetapi aku tetap saja tidak tahu bagaimana kau bisa menyimpulkannya secepat itu." Marco terus mencerca.


Bima menarik nafas panjang, bersandar. "Pesawat lepas landas satu setengah menit sebelum jadwal. Jadi ku perkirakan itu terjadi tepat saat orang-orang kita memasuki area bandara. Sarah bukan wanita bodoh. Semua ini sudah dia perhitungkan dan dia sengaja memancing kita menggunakan chip dan tiket pesawat itu."


"Kalau memang begitu, kenapa kau terlihat sangat tenang." Marco melirik sekilas, mengerutkan kening.


"Karena aku tahu Sarah tidak akan menyakiti Mariana dalam posisi dia hamil. Terlebih anak itu bukan anak ku. Ku pikir Sarah tidak akan terlalu membenci anak itu dibanding darah daging ku."


"Apa kau pikir Mariana berada di apartemennya, Bos?"


Bima menggeleng. "Tidak. Dia pasti pergi ke suatu tempat dan memesan tiket atas nama orang lain. Sarah memiliki beberapa identitas palsu."


"Menurutmu ke mana dia, Bos?"

__ADS_1


"Aku belum mempunyai pandangan. Tetapi kita akan segera menemukannya."


"Kalau begitu kemana kita sekarang pergi?"


"Mansion."


Marco mengangguk, dan mobil melaju lebih cepat.


Sampai di mansion, Bima langsung ke ruang kerjanya.


"Jangan biarkan siapa pun masuk." Perintahnya pada dua orang yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. "Kecuali Marco."


Bima menutup pintu bahkan sebelum para pengawalnya sempat menjawab.


Sementara itu di Kota Frontes, Mariana turun dari pesawat dan mencoba menghubungi seseorang yang nomor ponselnya telah diberikan oleh Sarah.


"Pak, apakah saya bisa pergi ke pusat belanja dulu untuk memberi beberapa keperluan?" tanya Mariana, setelah dia duduk di dalam mobil pria yang menjemputnya.


Pria itu mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya akan mengantar Anda ke pusat perbelanjaan di kota."


Tak terasa, tiga jam lamanya Mariana berputar-putar di pusat perbelanjaan. Dia membeli beberapa pakaian, keperluan mandi, kosmetik dan bahan makanan. Dia membayarnya dengan menggesek kartu yang diberikan oleh Sarah. Hatinya berdebar, berharap kartu itu berisi cukup uang untuk membayar seluruh belanjanya yang menggunung.


Mariana membelalak kaget saat melihat isi di dalam kartu ATMnya dua kali lipat dari limit kartu lamanya. Sarah benar-benar wanita baik. Tidak menyesal dia telah berkorban untuknya, karena dia sama sekali tidak membiarkannya hidup susah bersama bayinya.


Mariana berjalan menuruni eskalator, mendorong trolinya yang penuh berisi barang-barang, kembali ke tempat parkir. Sungguh bodoh dia tadi menolak di antar oleh pria kiriman Sarah, sekarang dia kerepotan membawa seluruh barang-barangnya dengan perut yang membuncit.


Keluar pintu pusat perbelanjaan, pria tinggi kurus yang menunggunya di samping mobil berlari menyambut.


"Kenapa tidak menelepon saya, Nyonya?" tanya pria itu, mengambil alih troli dari tangan Mariana.


Mariana tersenyum, menahan pinggangnya yang terasa nyeri dengan tangan kirinya.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?"


Mariana mengangguk. "Ya, Pak. Hanya perlu istirahat. Bisakah kita pulang lebih cepat? sepertinya saya perlu rebahan."


Pria itu mengangguk, mendorong cepat troli belanja ke samping mobil dan memasukkan semua barang, lalu mengembalikan troli ke tempatnya dan segera membantu Mariana yang sedikit kesulitan berjalan, menuju mobil.


"Tidak lama lagi, Nyonya. Rumahnya sekitar dua puluh menit dari sini."


Mariana mengangguk.


Tepat dua puluh menit dari saat pria itu bilang, Mariana turun dari mobil dan memandang rumah kecil asri yang dikelilingi taman bunga indah dan sangat terawat.


"Apa ini rumah Sarah?"


Pria itu mengangguk. "Ya, Nyonya. Sudah lama sekali tempat ini ditinggalkan, sejak Nyonya Sarah melahirkan putranya."


"Apa selama hamil Sarah tinggal di sini?"


"Benar, Nyonya." Pria itu kembali mengangguk.


"Rumah yang sangat cantik."


"Secantik Nyonya Mariana dan Nyonya Sarah."


Mariana tersenyum, pipinya memerah.


"Baiklah, Pak. Bisakah Bapak membantu saya memasukkan barang-barang belanjaan saya ke dalam rumah. Setelah itu Bapak bisa pulang dan istirahat."


"Baik, Nyonya. Kalau memerlukan apa pun, telepon saja saya. Rumah saya tiga blok dari sini, jadi saya bisa segera datang."


Mariana mengangguk, tersenyum berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2