
"Jadi kalian berhasil?"
"Membutuhkan waktu 11 bulan dua hari sampai kami berhasil menemukannya. Rawa itu tidak berupa lumpur, tetapi seperti genangan air kecil berwarna keemasan. Terletak di kedalaman hutan dengan hewan-hewan mistis yang menjaganya di seluruh penjuru."
Kakek Mariana menarik nafas panjang sejenak.
"Di dalam naskah itu dikatakan, siapa pun yang berhasil meminum air rawa itu, maka dia akan menjadi seorang penglihat. Bisa menebak keinginan seseorang, sifatnya, atau nasib yang mendekatinya, melalui aura yang terpancar dari tubuh seseorang itu."
"Dan kalian meminumnya?"
"Kau pikir apa yang akan kau lakukan di usia remaja 17 tahun, jika menemukan hal sebesar dan seluar biasa itu?" Kakek Mariana membalas pertanyaan Bima dengan pertanyaan pula.
"Aku akan meminumnya," jawab Bima.
"Tentu saja." Kakek Mariana mengangguk. "Kami meminumnya. Reaksinya begitu cepat. Tubuh kami melayang, dan dalam sepersekian detik kami bisa melihat aura seluruh binatang yang ada di dalam hutan, termasuk yang astral."
Bima kembali membelalak kaget.
"Kami bertiga bersenang-senang selama beberapa tahun ke depan, mulai merintis perusahaan dengan kemampuan membaca peruntungan yang kami miliki. Di usia yang sangat muda, kami bertiga sudah merajai bisnis kota. CEO muda kalau anak sekarang menyebutnya."
__ADS_1
"Kekuatan kami terus berkembang. Kami bahkan bisa membaca prediksi pasar saham dengan kekuatan yang kami miliki. Saham-saham mana yang akan hancur, menunjukkan bayang-bayang kelam dan posisinya memudar."
"T-tapi, kenapa keturunan kalian tidak mewarisi kemampuan kalian, sementara ibuku dan aku mewarisinya?" tanya Bima penasaran.
"Karena hanya kakekmu yang bertahan hidup dengan ritual-ritual, sementara kami berdua dikuasai oleh harta dan kekayaan. Kakekmu kaya, yang paling kaya di antara kami, tetapi dia mampu mengendalikan diri untuk tidak dikendalikan oleh kekayaannya."
Bima kembali diam, menatap Kakek Mariana. Dia mulai paham kenapa ketiganya kini terpisah. Rupanya kekayaan telah mengubah tujuan dan jalan pikiran masing-masing.
"Baiklah, Kakek. Aku mengerti. Aku akan menjaga wasiat kakek sebaik mungkin. Terapi aku tidak berjanji bisa bersikap baik kepada Mariana. Aku hanya mampu sebatas berjanji untuk tidak menyakitinya dan mengecewakan kakek."
Kakek Mariana tersenyum, mengangguk. "Terima kasih kau bersedia membantuku. Kasihan cucuku."
"Boleh saya menemui Mariana sekarang?" tanya Bima.
"Pergilah."
Bima mengangguk, lalu berjalan keluar ruang makan.
"Bima." Kakek Mariana memanggil. Bima menghentikan langkah, menoleh.
__ADS_1
"Jangan biarkan cucuku buta oleh harta, seperti aku dulu."
Bima mengangguk mengerti.
Masih terbayang-bayang kematian ibunya, Bima melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Tepat tangannya terulur membuka pintu, pintu kamar dibuka dari dalam oleh Mariana.
"Kenapa kau tidak makan? Bukankah kau tadi lapar." tanya Bima dingin kepada Mariana.
"Kapan kita pindah ke rumah temanmu?" Mariana balas bertanya.
"Kuncinya tidak ada. Dia membawanya ke luar negeri saat terakhir kali dia berkunjung."
"Apa?!" tanya Mariana. "Lalu di mana kita akan tinggal?"
"Aku sudah berbicara dengan kakek dan dia mengijinkan kita tinggal di sini untuk sementara."
"Tidak akan!"
"Hhh... Ya sudah. Kalau begitu kita bisa tinggal di kolong jembatan seperti yang saudara-saudaramu bilang. Nanti kau bisa mengirim mereka foto bulan madu kita di sana." Bina berjalan melewati Mariana, mengambil handuk di balkon lalu masuk kamar mandi. Mariana menatap Bima keheranan.
__ADS_1
"Ada apa? Apa aku berbuat salah. Kenapa kau sepertinya marah sekali padaku?" tanya Mariana. Terapi Bima sudah menutup pintu kamar mandi.