Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
KAKEK


__ADS_3

Bima mulai kembali uring-uringan. Fokusnya mencari Mariana membuatnya menyisihkan banyak masalah lain yang seharusnya juga ditanganinya, seperti menyingkirkan perusahaan keluarga Sasmita.


"Bos, mereka bilang perusahaan Sasmita meminta hasil audit."


"Urus saja," jawab Bima datar, menghadapi gelas kopinya yang sudah tidak mengepulkan asap meski masih terisi penuh.


"Bos...."


"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan. Dari pada kau buang-buang waktu mu, lebih baik cari tahu sampai di mana usaha mereka menemukan Mariana. Ini sudah hari ke dua dia menghilang. Temukan istriku hari ini juga!" Bima menggeram rendah, nadanya terdengar dingin mengancam.


Marco mendengus, tetapi berbalik dan pergi meninggalkan Bima sendirian di ruang kerjanya.


"Di mana si bodoh itu?!" Marco mendongak kaget. Tepat pintu menutup rapat, suara. teriakan penuh amarah menyambut kemunculannya.


"K-kakek. Siapa yang kakek maksud?" tanya Marco bingung.


"Siapa lagi kalau bukan bos mu?!"


"B-bos... ada di dalam." Marco menunjuk ruang kerja Bima dengan ibu jarinya.


"Biar ku gulai anak itu sekarang," ujar pria tua itu, langsung menerobos masuk kamar kerja Bima tanpa mengetuk pintu.


"Di mana kau sembunyikan bayi itu?!" teriak kakek Bima, begitu matanya menatap Bima yang mendongak di belakang meja kerjanya.


"Ada apa denganmu, Kek?" tanya Bima bingung, bersandar di tempatnya tanpa merasa perlu berdiri menyalami kakeknya.


"Di mana bayi Mariana?"


"Maksud kakek anak ku?"


"Terserah siapa kay menyebutnya." Pria tua itu berkacak pinggang di tengah ruangan.


"Ada bersama para pengasuhnya. Memangnya kenapa?" tanya Bima datar.


"Kenapa kau mengambilnya dari ibunya?!" tanya kakek Bima, menatap galak.


Bima mengerutkan kening.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?!" Kakek Bima menggeram.


Bima berdiri, berjalan dengan langkah tenang mendekati kakeknya.


"Bagaimana caraku memberikan bayi itu kepada ibunya, kalau ibunya sampai hari ini masih belum di temukan, Kek?" tanya Bima dengan suara rendah.


"Belum di temukan? Apa maksudmu?"


"Mariana kecelakaan. Mobilnya lepas kendali dan menabrak pembatas jalan di jembatan hingga masuk ke sungai. Hingga hari ini, tubuh Mariana belum di temukan."


Kakek Bima tertegun. "Kecelakaan?" gumamnya.


"Jadi, kakek tidak tahu?"


Pria tua itu menggeleng lemah.


"Pantas saja."


"Kapan itu terjadi?"


"Kemarin."


"Kemarin?"


Bima mengangguk.


Kakek Bima tertegun, menatap Bima dengan tatapan bingung.


"Tunggu," katanya. Lalu laki-laki itu sibuk mengeluarkan ponsel dari celananya.


"Halo. Ya, ini aku. Di mana cucumu?"


"...."

__ADS_1


Kakek Bima melirik Bima, sebelum kembali ke pembicaraannya.


"Baiklah."


"...."


"Nanti aku ceritakan. Aku juga belum tahu."


Lalu pria tua itu memutus sambungan dan mengantongi kembali ponselnya.


"Dari mana kau mendapatkan informasinya?" tanya kakek Bima, sembari kakinya melangkah ke sofa untuk duduk.


"Kakek berbicara dengan siapa. Apakah kakek Mariana?"


"Ya."


"Apa dia tahu Mariana kecelakaan."


"Tidak," jawab kakek Bima acuh. "Dan kau belum menjawab pertanyaan ku."


"Aku melihatnya."


"Kau melihatnya kehilangan kendali atas mobilnya?"


"Tidak. Tetapi aku melihat mobilnya diangkat dari dalam sungai. Korban belum di temukan dan... sampai hari ini."


"Dan apa yang kau maksud?" Kakek Bima menatap tajam cucunya.


Bima mendesah panjang, beranjak duduk di hadapan kakeknya.


"Mariana mencari ku di rumah yang kami tempati, tetapi aku belum tiba di sana karena memang aku tidur di sini. Aku tidak bisa mempercayai orang-orang di sana untuk mengasuh putraku. Tetapi, Mariana berpikir aku tidak akan ke sana dengan putranya. Lalu dia pergi ke apartemen kami."


"Kenapa kau tidak membawanya ke sini?"


"Aku merasa marah saat itu, Kek. Maaf. Mariana meminta bercerai dariku, dan aku mengancam akan menceraikannya, tetapi dia kehilangan Leo."


Kakek Bima mendengus panjang.


"Aku tidak bermaksud membuatnya menjadi sekacau ini. Kakek tahu aku hanya mengancamnya agar dia tidak meminta berpisah dariku. Dia telah benar-benar terhasut oleh ulah Sarah, Kek."


"Aku tahu."


"Kakek tahu?"


"Tentu saja. Karena dia datang pada Thomas untuk mencari penjelasan, dan Thomas menghubungi kami."


"Kapan itu terjadi, Kek?"


"Kemarin lusa."


"Jadi... waktu dia pulang ke rumah, dia...."


Kakek Bima mengangkat bahu sedikit."


"Tetapi dia datang ke apartemen saat tidak bisa menemukanku. Aku bekum sempat mengatakan padanya apartemen itu telah ku jual, atau ku sewakan tepatnya. Dia bertemu bibi yang dulu bekerja pada kami, bertanya kenapa aku kenghapus akses sidik jarinya dan mengubah sandi kunci pintu."


Kakek Bima mengerutkan kening."Dan?" tanyanya.


"Dan wanita itu mengatakan Sarah yang mengubahnya."


"Sarah?"


Bima mengangguk. "Sarah yang lain. Seseorang yang menempati apartemen itu bernama Sarah."


"Jadi?"


"Ku tebak Mariana berpikiran salah tentang aku dan Sarah. Itu membuatnya kacau dan... dan mungkin...." Bima tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Wajahnya memerah, matanya mulai terasa basah.


Kakek Bima menghela nafas panjang.


"Dan itu kah yang membuatmu berpikir bahwa Mariana membuat dirinya mengalami kecelakaan dan terjun ke dalam sungai?"

__ADS_1


Bima diam, kepalanya tersembunyi di kedua lengannya yang bertaut.


"Mariana tidak sepicik itu!" desis kakek Bima tajam.


Bima mendongak perlahan. "Apa maksud kakek?"


Pria tua itu tersenyum sinis.


"Apa kau tidak mengenali mobil istrimu sendiri? Apa kau bahkan lupa untuk mengecek gps yang kau pasang di mobilnya? Apa kau sama sekali tidak mencoba untuk menghubungi ponselnya?"


Bima menatap bingung.


"Aku mau pulang." Kakek Bima berdiri, berjalan ke pintu.


"Kek...." Bima menahan lengan kakeknya. "Apa kakek tahu di mana Mariana?"


"Gunakan otakmu, anak dungu," jawab pria itu, lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan cucunya lagi.


Sepeninggal kakek Bima, Bima meraung marah. Dia melempar tubuhnya ke atas sofa, membanting dirinya ke sandaran sofa dengan perasaan frustasi.


"Ada apa, Bos?" Marco memberanikan diri untuk masuk.


"Pria tua itu benar-benar berengsek! Mungkin sudah saatnya baginya untuk pergi meninggalkan dunia ini."


"Bos!" Bima menegur.


"Mariana sudah di temukan. Dia tahu di mana Mariana."


"Sudah?"


"Ya," jawab Bima mendesah kalah, tubuhnya bersandar pada sandaran sofa dengan kedua tangan terlentang lebar, seperti pria yang baru saja tertembak.


"Di mana Nyonya sekarang, Tuan. Kenapa Tuan tidak segera menyusulnya?" tanya Marco heran.


"Aku tidak tahu."


"Tidak?" Marco membelalak, menatap bingung.


"Tidak. Si tua ban*ka itu tidak memberi tahu ku. Dia malah menyuruhku melacak gps yang ku pasang pada mobil Mariana."


Marco mengerutkan kening, mencoba untuk mencerna kalimat Bima."


"Bos...."


"Hmm...." jawab Bima bosan. Matanya terpejam rapat pada wajahnya yang berkerut lelah.


"Apa bos sudah mencoba melacak posisi mobil Nyonya?"


"Tidak perlu. Kita tahu mobilnya berada di kantor polisi."


"Tetapi perasaanku mengatakan tidak, Bos."


"Apa maksudmu?" Bima membuka mata, beranjak duduk tegak.


"Entahlah, tapi perasaanku mengatakan...." Marco mengendikkan bahu.


"Aku tidak mengerti yang kau maksud."


"Begini, Bos. Ku pikir, kakek Bos hanya ingin menyampaikan bahwa kau salah. Nyonya tidak berada pada kecelakaan di jembatan itu."


"Tua bangka itu tidak mengatakan begitu."


"Bukankah dia meminta bos mengecek lokasi mobil Nyonya? Itu artinya...."


"Bahwa aku memang baik-baik saja."


Bima dan Marco menoleh bersama.


"Mariana...."


"Nyonya...."

__ADS_1


__ADS_2