Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
MENCARI BIMA


__ADS_3

Sarah pulang ke rumah Bima dengan perasaan yang jauh lebih ringan karena segala rahasia tentang Bima bahkan yang Bima sendiri tidak mengetahuinya, dia tahu.


"Leo...!" Mariana menaiki tangga, mencari-cari di mana putranya berada bersama Bima.


"Nyonya Mariana?" Seorang wanita muncul dari dapur, mendongak menatap Mariana yang sudah naik separuh tangga. Mariana berhenti, menoleh.


"Oh, Bibi. Di mana anak ku dan Tuan Bima?"


"Tuan Bima?"


Mariana mengangguk.


"Tapi, Tuan pergi membawa putranya sejak kemarin, Nyonya. Dia tidak pulang lagi sampai sekarang."


Mariana mengerutkan kening. "Ke mana dia membawanya?"


"Saya, tidak tahu, Nyonya. Data pikir Tuan dan tuan muda pergi bersama Nyonya, karena Nyonya juga tidak bermalam di sini."


Mariana menatap bingung pada wanita baya itu beberapa saat, sebelum dia berlari turun sambil merogoh tasnya mencari-cari ponsel.


Dua deringan, terdengar sambungan telepon Mariana di tolak. Mariana menatap ponselnya cemas. Dia mencobanya lagi, tetapi dia bahkan sama sekali tidak dapat tersambung dengan nomor ponsel Bima. Pria itu memblokirnya.


"Sial!" umpat Mariana pelan.


"Bibi, apa Bima mobilku ada di rumah?" tanya Mariana ragu, mengingat terakhir kali dia meninggalkannya di supermarket sekaligus kuncinya.


"Ya, Nyonya. Kunci mobil Nyonya ada di tempat biasanya."


"Mariana mengangguk, berjalan ke ruang tengah dan membuka lemari kecil yang berisi kunci-kunci yang tergantung rapi dengan namanya masing-masing. Mariana mengambil kunci mobilnya, yang masih setia menempel pada dompet pink bergambar beruang coklat.


"Apa Tuan Bima pergi ke Apartemen, Bi?" tanya Mariana iseng, saat memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas."


"Maaf, Nyonya. Tetapi saya sama sekali tidak tahu."


"Bibi punya nomor ponsel Marco?"


Wanita itu kembali menggeleng. "Tidak, Nyonya. Mana berani saya menyimpan nomor ponsel Tuan dan Tuan Marco."


Mariana menghembuskan nafas panjang, perlahan.


"Aku pergi dulu kalau begitu, Bi."


Mariana berbalik, segera berlari-lari kecil ke arah garasi.


Duduk di balik kemudi yang nyaman, Mariana menyalakan mobilnya. Kecemasannya bahwa mobilnya tidak akan bisa berjalan, sirna seketika saat dengan mudah mobil kesayangannya itu meraung rendah. Sepertinya selama dia pergi Bima tetap merawat dan menggunakan mobilnya.


Mariana menjejak pedal gas, mobil meluncur mulus keluar dari dalam kerangkengnya. Mariana mengemudi dengan cepat, menuju apartemen Bima, berharap pria itu berada di sana bersama bayinya. Dua puluh menit bergelut dengan kepadatan jalan, Mariana menghentikan mobilnya tepat di sisi lift yang akan membawanya ke kamar apartemen Bima di lantai enam.


Mariana memasukkan sidik jarinya untuk membuka pintu. Matanya membelalak kaget saat lampu menyala merah dan kode akses di tolak.


Mariana mencoba memasukkan kode akses angka menggantikan sidik jarinya. Mungkin lama tak dikenali, sistem tak mengenali sidik jarinya lagi. Tetapi lampu kembali menyala merah dan kode akses kembali di tolak. Mariana mencoba mengulanginya sekali lagi, tetap di tolak.


"Sial! Dia benar-benar menolak ku," batin Mariana merana.


Dia mencoba mengetuk pintu, berharap Bima atau pun Marco mendengar dan membuka pintu untuknya. Dia bisa menanyakan nanti kepada Bima, kenapa dia tidak lagi memberikan akses kunci pada Mariana.


Tiga kali Mariana mengetuk, suara langkah kaki terdengar dari balik pintu, sebelum akhirnya pintu mengayun terbuka.


"Bibi...." Mariana menyapa wanita yang muncul dari balik pintu.


"Nona. Tumben sekali Nona datang berkunjung." Wanita itu tersenyum lebar, menunduk kecil menyapa tuan rumahnya.

__ADS_1


"Bi, apakah Bima ada di sini?" tanya Mariana.


Wanita itu mengerutkan kening, lalu menggeleng. "Tidak, Nona."


Bahu Mariana merosot.


"Kenapa dia menghapus akses sidik jariku dan mengubah kode aksesnya, Bi?" tanya Mariana.


Wanita itu menggeleng. "Nona Sarah yang menggantinya, Nona."


Mariana membelalak kaget. "Sarah?!"


Wanita itu mengangguk, tapi raut wajahnya berubah cemas.


"Apa Tuan sering berada di sini dengan Sarah?" tanya Mariana menyelidik.


"Ma-maaf, Nona. S-saya tidak tahu. Saya hanya datang untuk bersih-bersih dan langsung pulang setelah selesai," jawab wanita itu. Mariana mengerutkan kening curiga.


"M-maaf, Nyonya. Silahkan masuk, saya akan menyiapkan minuman untuk Nyonya."


"Kenapa kau mengubah panggilanku?" tanya Mariana sarkas.


"M-maaf, tapi...."


Mariana berbalik kasar, pergi meninggalkan wanita yang masih berdiri ketakutan ditengah pintu.


"Jadi, Sarah sengaja menjauhkan Mariana dari Bima supaya mereka bisa berdua-dua tanpa ketahuan!" desis Mariana marah. Wanita itu memukul keras roda kemudi, sementara air matanya mulai meleleh jatuh membasahi kedua pipi.


"Kamu jahat, Bima. Kamu berbohong sama aku. Kalian semua membohongiku! Dan sekarang aku juga harus kehilangan putraku...." Mariana menangis sesenggukan, pandangannya berkabut terkena tumpukan air mata.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman mewah milik Bima, bayi laki-laki mungil dengan mata biru lautan dalam itu tak berhenti menangis.


"Marco!" teriak Bima.


Marco berjalan setengah berlari ke kamar Bima.


"Entahlah, Bos. Tiga orang asisten tak mampu membuatnya diam. Sepertinya dia kesakitan."


"Bawa dia kemari."


Bima pergi mengambil bayi Leo, lalu membawanya pada Bima yang masih berganti baju.


"Ada apa, baby Boy. Kau mencemaskan ibumu?" Bima menggendong bayi Leo, mengecup keningnya lembut. "Diam lah. Setelah ini kita akan segera menemuinya. Aku harus mengganti pakaianku dulu dan kau harus minum susu," kata Bima dengan suara yang sangat lembut. Bahkan Marco sampai melongo melihatnya. Sejak kejadian pengungkapan hasil tes DNA oleh ayah Bima itu, tatapan penuh damai itu seolah lenyap dari kehidupan Bima berganti sorot mata dingin dan tajam.


"Tidur lah yang tenang di sini sebentar dan habiskan susumu, biar Papa berganti pakaian." Bima menurunkan bayi Leo ke atas tempat tidur dengan sangat lembut, lalu memberikan botol susu yang segera di hisapnya dengan sangat kuat. Sementara Bima segera berganti baju hitam-hitam yang menjadi ciri khasnya sebagai Leo Atlas, meski di luar sana orang tak pernah mengenalinya sebagai Leo Atlas. Meski begitu, setelan hitam dan mobil tunggangannya yang bergambar singa selalu membawa aura kekuasaan yang dapat membuat siapa pun yang berpapasan dengannya akan bergerak minggir secara spontan.


"Oooaaa.... oooaaa...." tangis bayi yang begitu keras mengagetkan Bima. Seketika dia menoleh dan melihat anak itu masih menangis dengan wajah memerah hingga tak ada suara yang keluar dari mulutnya, padahal kedua bibirnya masih terbuka lebar.


Bima menatap satu senti di atas tubuh Bayi Leo, matanya membelalak kaget.


"Marco...!!" teriaknya sangat keras sembari tangannya menggendong bayi Leo.


"Ya, Bos." Marco mengintip ke dalam kamar tepat saat Bima menerobos keluar.


"Sesuatu terjadi pada Mariana. Cepat!" Marco berlari menuruni tangga, bayi Leo berada rapat di dalam dekapannya.


"Bos, tapi Bos. Bagaimana kau mengetahuinya? Apa dia menelepon mu?" tanya Marco, mengikuti berlari di belakangnya.


"Bayi ini bisa merasakannya. Dia tahu ibunya sedang dalam bahaya."


Bima masuk mobil dengan baby Leo di pangkuannya, sementara Marco melempar dirinya ke belakang kemudi. Dalam hitungan detik mobil hitam mengkilap itu sudah meluncur cepat di jalan raya.

__ADS_1


"Ke mana kita, Bos?"


"Rumah."


Marco mengangguk. Mobil melaju dengan kecepatan penuh, mengabaikan banyak rambu-rambu lalu lintas.


"Sial! Macet apa itu?!" tanya Bima geram.


Marco menekan-nekan bel dengan tidak sabar, meminta jalan. Tetapi kemacetan telah memenuhi seluruh ruas jalan hingga bahu jalan pun dilewati oleh para pengendara motor.


"Sial! Hubungi dia, Marco!"


"Kenapa tidak kau saja, Bos. Aku sedang menyetir. Bahaya menyetir dengan menelepon."


"Tapi nomornya aku blokir!" teriak Bima, tubuhnya terus bergoyang agar bayi di gendongannya sedikit tenang, karena bayi itu masih terus menangis meskipun. tidak sekencang sebelumnya.


"Kalau begitu buka saja blokirnya," kata Marco, kepalanya terus bergerak mengawasi celah sempit antara mobil di depannya untuk mencari sela.


"Di sini bosnya aku atau kau, Heh!" teriak Bima kesal.


"Biarlah untuk hari ini saja aku yang menjadi bosnya, Bos."


"****!" Bima mengumpat marah, tetapi tetap mengambil ponsel dan mulai menghubungi Mariana.


"Ponselnya mati."


"Apa jangan-jangan dia yang membuat kemacetan ini, Bos."


"Jaga ucapan mu atau aku akan memotong lidahmu!" geram Bima, tetapi tatapannya menatap cemas ke depan.


"Ada apa ini?" Marco menurunkan kaca, bertanya pada pengemudi mobil yang berpapasan dengannya.


"Mobil lepas kendali."


"Kecelakaan?"


Pria gondrong itu mengangguk. "Tunggal. Keluar dari pembatas jalan dan masuk sungai."


Kepala Marco bergerak perlahan, memutar ke arah Bima.


Bima menggeleng cepat. "Mariana tidak seceroboh itu. Lagi pula anak ini tidak bereaksi apa pun. Ayo cepat ke rumah. Aku menghawatirkan hal lain."


Marco mengangguk. Lima menit terjebak dalam barisan, begitu mobil berhasil lolos dari kemacetan, Marco kembali menjejak gas dan mobil meluncur bagai kilat.


Marco berlari menaiki tangga, masih dengan Leo di dalam dekapannya.


"Mariana!" teriak Marco. Matanya menatap cemas ke arah kamar mereka di lantai dua, berharap Mariana akan muncul dari balik pintu di atas sana.


Tetapi harapan Bima sirna saat yang muncul justru pelayan dapur. Wanita itu tergopoh-gopoh menghampiri Tuannya.


"Maaf, Tuan. Nyonya Mariana pergi membawa mobil. Sepertinya dia tadi mencari Tuan."


Marco dan Bima saling tatap.


"Ke mana dia pergi?"


"Saya... tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak mengatakan apa pun. Tetapi dia membawa mobilnya."


Marco menghela nafas, mengangguk. Satu tangannya merogoh saku, mencoba menghubungi kembali ponsel Mariana.


"Mati. Coba telepon dia." Matanya layu, menatap Marco tanpa semangat.

__ADS_1


__ADS_2