
Mariana duduk berhadapan dengan Tompson. Pria baya yang sisa-sisa ketampanannya masih terlihat jelas di wajah keriputnya.
"Maaf, Nyonya. Saya ragu apakah saya pantas menjadi seseorang yang akan menyampaikan ini kepada Nyonya, kalau bahkan Tuan sendiri tidak mengetahui latar belakang kehidupannya dengan pasti." Tompson menunduk sopan.
"B-bima... tidak mengetahui latar belakang kehidupannya?" tanya Mariana bingung.
"Kalau Nyonya berkenan, saya bisa menghubungkan Nyonya pada para tetua. Tetapi saya tidak bisa berjanji bahwa mereka akan bersedia membuka rahasia ini untuk Nyonya."
"Apakah itu terlalu mengerikan untuk aku ketahui, Paman?" tanya Mariana.
"Tidak. Tetapi terlalu rumit untuk dipahami. Kehidupan orang dewasa, Nyonya tahu begitu penuh lika liku. Bahkan kehidupan Nyonya dengan Tuan yang belum genap satu tahun saja sudah begitu rumit, bukan."
Marian menghela nafas perlahan, lalu mengangguk. "Tapi... Aku butuh sebuah alasan untuk bisa bertahan, Paman. Aku mohon, apa pun yang terjadi aku siap menerima hal terburuknya."
"Tidak ada yang buruk, Nyonya. Hanya terlalu rumit."
"Aku berjanji untuk berusaha memahami keadaanya. Dan aku berjanji aku akan mendengarkan apa pun yang Paman sarankan untuk ku."
Tompson terdiam, menatap Mariana sejenak seolah sedang mempertimbangkan.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan menghubungi para tetua terlebih dulu, lalu aku akan menceritakan pembukanya sambil kita menunggu mereka datang." Akhirnya Tompson mengangguk.
"Siapa yang Paman sebut sebagai tetua sebenarnya?"
"Beri saya waktu sebentar untuk menelepon."
"Baik, Paman. Silahkan." Mariana mengangguk.
Tompson beranjak dari tempatnya, berjalan menjauh sambil menempelkan ponsel di telinganya.
Lama kemudian, akhirnya pria itu kembali.
"Sebaiknya kita ke ruangan pribadi saya, Nyonya."
Mariana mendongak, mengangguk lalu berdiri mengikuti Tompson yang sudah lebih dulu berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu kayu bercat putih. Pria tua itu mendorongnya terbuka, kemudian masuk.
Ruangan kecil itu terlihat begitu tenang. Perabotnya bernuansa putih bersih mulai dari meja, kursi berlengan hingga cat dinding. Karpet bulu yang menutup seluruh lantai berwarna coklat muda senada dengan kaki meja kursi. Meja kerja di sudut ruangan berwarna hitam mengkilap dengan kursi kerja dan kursi tamu yang berwarna putih. Jendela kaca lebar menghadap ke jalan raya, langsung menyuguhkan keramaian kota yang tampak sibuk pada jam-jam saat Mariana berada di dalam ruangan itu.
"Duduklah, Nyonya. Nyonya mau minum apa?"
"Air putih saja, Paman."
"Air lemon?"
"Boleh."
__ADS_1
Pria itu melangkah ke lemari es, mengeluarkan dua botol limun dan mengambil gelas bersih dari atas lemari es, lalu menaruhnya satu di depan Mariana dan satu lagi di depannya.
"Jadi, apa yang bisa aku ketahui sambil kita menunggu kedatangan yang lain, Paman?" tanya Mariana, tidak ingin banyak basa-basi.
Tompson tersenyum. "Sepertinya Nyonya sudah tidak sabar untuk mengetahuinya."
"Benar. Karena aku menikahi Bima tidak dalam kondisi dia yang serba bergelimang harta. Dia pria sederhana, atau bahkan bisa di bilang miskin segalanya, pendiam, introvert, dan ya... dia agak dingin memang."
"Keadaan membentuk karakternya menjadi sekuat karang, Nyonya."
"Apa yang terjadi?"
"Saya, mengasuh Tuan Bima sejak dia usia dua tahun. Tuan dulu adalah anak yang sangat periang. Dia ceria, rasa ingin tahunya sangat tinggi, cerdas. Di usianya yang ke tiga, dia sudah mampu menghafal perkalian hingga 100. Ingatannya sangat tajam. Apa pun yang pernah seseorang katakan padanya meski hanya sekilas, dia pasti mengingatnya dengan baik."
Mariana mendengarkan dengan serius.
"Usia sepuluh tahun, Tuan sudah bisa masuk SMP terbaik di kota. Masih menjadi anak yang periang, banyak teman, cerdas, baik hati, toleransi dan rasa empatinya begitu tinggi. Hingga sesuatu terjadi, yang membuatnya selalu murung, dan dia mulai menutup diri."
"Apa yang mengubahnya, Paman?"
Tompson menunduk, raut wajahnya menunjukkan perubahan. Kesedihan terlukis di kedua matanya yang tiba-tiba meredup.
"Maafkan aku, Paman."
Tompson mendongak, kembali menatap Mariana, matanya berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Nyonya. Aku hanya menyesalkan apa yang terjadi padanya. Itu sangat buruk, membuat seorang anak yang ramah dan periang menjadi sangat tertutup."
"Seseorang datang pada Tuan Bima, memakinya sebagai anak haram di tengah kawan-kawannya yang sedang bermain dengannya. Dia dikatakan sebagai anak hasil perselingkuhan ibunya dengan lelaki bersuami. Wanita itu juga menunjukkan bukti medis yang resmi dikeluarkan oleh sebuah rumah sakit yang kala itu adalah satu-satunya rumah sakit yang bisa melakukan tes DNA."
"Jahat sekali," keluh Mariana, menatap Tompson tidak percaya. "Apa yang orang itu inginkan sebenarnya."
"Menghancurkan psikologis Tuan Bima."
"Kenapa?"
"Kecewa."
"Tetapi seorang anak tidak pernah tahu apa yang telah diperbuat orang tuanya. Kenapa dia yang harus menjadi sasarannya?"
"Begitulah kehidupan, Nyonya. Selalu ada yang di atas dan yang di tindas."
"Menindas anak-anak?!" geram Mariana marah.
Tompson tersenyum. "Beberapa orang merasa itu wajar asal bisa membuat hatinya yang sakit terlampiaskan. Meski itu juga tidak menolongnya untuk sembuh dari rasa sakit itu sendiri."
Mariana mendengus.
__ADS_1
"Siapa orang yang tega melakukan itu?!" desis Mariana geram.
"Ayah Tuan Bima."
"Ayahnya?!" tanya Mariana kaget, membelalak menatap Tompson.
Tompson mengangguk.
"Seseorang mengirimnya surat, mengatakan bahwa Tuan Bima bukanlah anaknya. Ayah Tuan Bima melakukan tes DNA dan hasil menunjukkan bahwa Tuan memang benar-benar bukan anaknya karena tidak ada kecocokan DNA sama sekali diantara mereka."
Mariana mengerutkan kening. "Tapi, kenapa ayah Bima setega itu padanya?"
"Bukankah sudah saya katakan, kekecewaan yang teramat dalam terkadang bisa membuat seseorang kehilangan pikiran sehatnya."
Mariana kembali mengangguk.
"Lalu siapa ayah Bima yang sebenarnya."
"Hingga detik ini Tuan Bima tidak pernah mengetahuinya. Karena hingga ibunya meregang nyawa, wanita itu tidak pernah mengatakannya sama sekali siapa ayah biologis Tuan yang sebenarnya."
"Apa Paman tahu siapa ayah Bima sebenarnya?"
Pandangan Tompson menurun. "Saya bukan orang yang tepat untuk mengatakannya, Nyonya.
"Jadi, Paman tahu?"
"Saya tahu, Nyonya," kata Tompson mengangguk.
Mariana membuang muka, melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan Tompson.
"Apa yang membuat ibu Bima menyembunyikan siapa ayah Bima sebenarnya, padahal Bima sudah mengetahui bahwa dia bukan putra ayah yangs elama ini diakuinya."
"Soal itu, saya tidak tahu. Tentunya dia punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahu Tuan kebenarannya."
Mariana kembali mengangguk. "Mmm... Paman. Kalau aku berjanji tidak memberi tahu Bima, apakah kau bersedia memberi tahu aku siapa ayah Bima yang sebenarnya?"
"Saya meragukannya, Nyonya."
"Ayolah, Paman. Kenapa itu begitu penting untuk dirahasiakan. Aku istri Bima. Aku hanya ingin tahu siapa pria yang sudah menanam benihnya di perut ibunya."
"Apakah itu penting untuk diketahui, Nyonya?"
"Tentu saja. Setiap anak ingin tahu siapa orang tua kandungnya. Mungkin itu pula yang membuat Bima tega menelantarkan putranya dengan Sarah, dulu, karena dia ingin membalas dendam."
"Itu tidak benar. Anak yang di kandung Bima bukan benih Bima. Dia bukan cucuku!" Suara dingin dan dalam memecah keheningan, membuat Mariana dan Tompson menoleh.
__ADS_1
"Kakek...."
"Tuan besar...."