
Bima berlari ke kamar, berharap saat membuka pintu dia menemukan Mariana di sana, sedang terlelap. Namun lagi-lagi dia harus dikecewakan. Tempat tidur itu kosong, tidak ada tanda-tanda Mariana baru dari sana.
Bima kembali turun dengan wajah cemas.
"Tidak bisa, Bos. Ponselnya mati."
Bima mendengus panjang. Dia menuju kotak kunci, membukanya. Benar, kunci mobil Mariana tidak berada di tempatnya. Bima menutupnya kembali. Tepat dia akan berbalik pergi, matanya menangkap tas tangan Mariana di atas nakas tepat di bawah kotak penyimpanan kunci.
"Tasnya...." bisik Bima rendah, tangannya meraih tas tangan kulit berwarna hitam milik Mariana.
"Dia meninggalkan tasnya," gumam Bima pelan, menunjukkan tas hitam di genggamannya pada Marco.
"Kalau begitu, Nyonya pergi tanpa membawa identitas?" tanya Marco menatap tas di tangan Bima.
"Sepertinya begitu."
Ponsel Bima berdering. Bima segera melihatnya, namun muncul sebuah nomor tak dikenal di layar.
"Ya, halo!" Bima menyapa dingin.
"T-tuan. Ini saya, Alberto."
"Ya, Albert. Apa nomor ponselmu baru?"
"Tidak, Tuan. Ini milik Arabella. Ponsel saya, mati. Ada sesuatu yang harus segera saya beritahukan, jadi...."
"Ya, ya. Katakan saja cepat." Bima memotong penjelasan Alberto.
"Ny-nyonya... Mariana baru saja mendatangi apartemen."
"Apa yang terjadi?"
"S-saya tidak bisa membuntutinya, Tuan. Tapi, Nyonya pergi sambil menangis."
"Siapa yang dia temui di atas?"
"Periksa siapa yang tinggal di apartemen lama ku."
"Baik, Tuan."
"Sial!" Bima mengumpat marah, mengantongi ponselnya dengan kasar.
"Kembali ke rumah. Leo tidak akan bisa kita bawa mencari Mariana." Bima melangkah keluar, segera dikuti Bima.
"Berhenti!" Bima berteriak, saat melewati jembatan tempat mobil yang terperosok ke sungai saat mereka berangkat. Matanya membelalak lebar melihat mobil Audy A8L warna kuning bergelantungan pada pengait sebuah mobil derek yang mengangkatnya dari aliran sungai.
"Bos...." Marco membelalak menatap mobil yang bagian depannya sama sekali tak berbentuk itu, pintu sopir terlepas dan bergelantungan pada engselnya.
Bima melangkah turun begitu Marco menepi, mendekati petugas yang sedang berusaha menarik mobil menggunakan crain yang terkait pada ujung mobil derek.
"Maaf, permisi, Tuan. Apakah... siapa korban pemilik mobil naas ini?" tanya Bima, satu tangannya menutup wajah bayi di dalam gendongannya agar tidak silau.
"Oh, ya. Korban masih belum bisa kami deteksi, Tuan. Tidak ditemukan identitas apa pun di dalam mobil dan di sepanjang aliran sungai, sementara pelat nomor polisi mobil juga terlepas. Entah bagaimana itu bisa terlepas depan dan belakangnya," jelas salah satu petugas penyelamatan yang mengenakan rompi orange.
Bima menahan nafas, menatap tajam mobil yang hampir tak berbentuk, padahal mobil itu anti peluru.
"Bagaimana caranya mengemudi," bisik Bima pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Lalu dia berbalik, kembali masuk ke dalam mobil.
"Apa dia sudah gila. Bagaimana caranya mengemudi sampai mobil lapis baja itu hancur. Pada kecepatan berapa dia menabrak beton pembatas itu," gumam Bima, masih melirik ke arah mobil saat Marco melaku meninggalkan tempat kejadian.
__ADS_1
"Bagaimana bisa mereka bahkan tidak menemukan mayatnya."
Bima kembali menggeleng. "Mungkin Mariana belum mati. Mungkin seseorang menyelamatkannya begitu mobilnya terjun ke sungai," kata Bima datar, tatapannya kosong.
Marco menatap bosnya dengan iba, pria itu diam tidak menjawab.
Bima berjalan cepat memasuki rumah, mencari pengasuh Leo.
"Bibi, tolong jaga dia baik-baik. Aku akan mencari ibunya."
"Memangnya kemana ibunya pergi, Tuan?" tanya wanita baya itu, menerima baby Leo yang tertidur pulas, dari tangan Bima.
"Terjadi kesalahpahaman di antara kami. Aku tidak taku dia kemana, Bi. Tapi aku akan segera menemukannya. Jaga dia baik-baik, dia penerus keluarga Sandiago. Dia anak ku."
Wanita baya itu membelalak sejenak, lalu cepat-cepat mengangguk. "B-baik, Tuan. Baik. Saya akan menjaganya melebihi nyawa saya sendiri. Jangan khawatir, percayakan bayi Leo kepada saya."
Bima mengangguk, mencium putranya sebelum pergi meninggalkannya bersama para pengasuh.
"Perintahkan seluruhnya untuk mencari jejak Mariana di sekitar sungai."
"Siap. Sudah, Bos."
"Kau memang yang terbaik."
Marco mengangguk tenang.
"Ke mana kita pergi sekarang, Bos?"
"Hubungi satpam apartemen itu, cari tahu siapa yang menempati apartemenku."
"Baik, Bos."
"Bos, wanita yang menempati apartemen lama kalian bernama Sarah," jelas Marco begitu selesai menelepon.
"Sarah?!" Wajah Bima berubah memerah.
"Tunggu dulu. Nama belakangnya berbeda. Dia bernama Sarah Edge, seorang DJ di sebuah club malam."
"Apa Mariana bertemu dengannya?"
"Tidak. Mariana menemui asisten rumah tangga kalian dulu. Mariana menanyakan kenapa kau menghapus akses sidik jarinya di pintu dan mengganti kode aksesnya, dan wanita itu mengatakan bahwa Sarah lah yang menggantinya."
"Apa?!"
"Jangan bilang kau mau marah padanya, Bos. Kau tidak memberi tahu wanita itu, juga istrimu, bahwa kau telah memindah tangankan kepemilikan apartemen itu."
"Sial!" Bima memukul dinding dengan kepalan tangannya hingga kaca di sisinya bergetar.
"Jadi Mariana salah paham, mengira aku dan Sarah...."
"Ku tebak dia mengira kalian sengaja menjauhkan dirinya dari tempat ini dengan tipu daya Sarah."
"Bodoh!" Kedua tangan Bima terkepal erat.
"Cari informasi di seluruh rumah sakit kalau ada yang menemukan Mariana."
Marco mengangguk, segera memerintahkan orang melalui ponselnya untuk melacak data seluruh rumah sakit dan tim penyelamat.
"Pastikan mereka menemukan tubuh Mariana kurang dari 24 jam dari sekarang, hidup atau pun...." Bima menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Ke mana kita sekarang, Bos?" tanya Marco, kembali berkonsentrasi pada kemudi.
"Pergi ke lokasi kejadian."
Marco mengangguk, meluncurkan mobil dengan kecepatan normal menuju lokasi kecelakaan.
"Apa yang Mariana pikirkan sebenarnya. Apa dia tidak kasihan pada putranya," Bima bergumam sendiri.
"Maaf, Bos. Tapi, belum tentu ini kecelakaan murni."
"Apa maksudmu?" tanya Bima, menatap Marco.
"Kau tentu tahu, Bos."
Bima menahan nafas sejenak, di dalam kepalanya terbentuk pahaman yangs sebelumnya sama sekali tak terpikirkan olehnya.
"Sarah."
Marco mengangguk.
"Aku tidak menuduh, Bos. Tapi... hanya waspada. Siapa tahu."
"Kemungkinannya sangat besar."
"Tidak." Marco menggeleng. "Hanya 50 50."
"Bagaimana mungkin?"
"Dengan kenyataan bahwa Nyonya sedang salah paham pada kalian berdua, kemungkinan dia menerjunkan diri juga sangat besar. Apa kau tidak ingat sehari sebelumnya kau mencoba untuk mengambil anaknya?"
Bima menelan ludah dengan kasar. Pikiran buruk berkelebat di dalam kepalanya dari berbagai sudut pandang.
"Bagaimana kalau dia benar-benar tak bisa ditemukan?" Bima berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Itu mustahil, Bos. Selamat atau tidak, Nyonya pasti ditemukan. Sungai di sini tidak berisi ikan piranha yang memangsa jasad manusia hingga tak bersisa."
Bima diam, tatapannya kosong."
"Ini semua salah ku."
Marco diam, meski dalam hati dia berteriak, Ya. Tentu saja semua ini salah mu!
"Kalau dia ditemukan selamat, akan kuberikan padanya apa pun yang dia inginkan asal dia selamat dan kembali kepada kami berdua."
"Apa kau akan membuka identitas Leo Atlas, Bos?"
Bima menarik nafas panjang, diam.
"Dia sangat mengagumi Leo Atlas. Nama putra mu di ambil dari nama Leo Atlas dengan harapan dia akan tumbuh hebat seperti pria itu."
Bika mengangguk. "Tidak. Aku justru berharap putraku tidak tumbuh sepertiku, yang hidup dalam banyak luka dan kekecewaan."
"Tapi bukan itu yang Nyonya harapkan. Dia berharap putranya tumbuh hebat seperti Leo Atlas."
"Leo Atlas tidak hebat."
"Leo Atlas sangat hebat, Bos. Maaf harus mengatakan ini, tapi kau yang kurang beruntung dalam hal ini, bukan Leo Atlas. Leo Atlas tetaplah yang terhebat."
Bima menoleh Marco, sejenak kemudian dia mengangguk setuju.
__ADS_1