Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
Syarat


__ADS_3

Langkah Bima terhenti tepat di tengah pintu. Bima menoleh, memastikan Mariana masih berada di sana dan memang dialah yang sedang berbicara.


"Aku tidak sedang menakut-nakutimu. Kau tidak harus terpancing," kata Bima datar.


"Tidak. Sama sekali tidak. Aku akan menikahimu, meskipun jika menolak menikahimu tidak akan mengancam nyawaku."


Bima mengerutkan kening.


"Aku tidak bermaksud menolakmu, tadi. Hanya saja, hanya kau tidak tahu... Maksudku, keluargaku...."


"Berbicaralah yang jelas."


"Begini. Maaf. Maksudku, keluargaku, kau tidak mengenal orang tua dan saudara-saudaraku. Mereka, mereka akan menolakmu tidak cukup dengan kata tidak." Mariana mencoba menjelaskan.


Bima mengangguk sekali. "Baiklah. Soal itu akan kita hadapi nanti. Yang penting kau setuju dengan perjanjiannya, bahwa kita hanya menikah di atas kertas untuk menggugurkan kewajiban atas hukum adat yang menimpa kita."


"Kau tidak tahu keluargaku. Mereka akan menghinamu habis-habisan."


"Apa kau takut keluargamu merendahkanmu karena menikahi pria tuna susila sepertiku?" tanya Bima datar.


Mariana terdiam.


"Aku mengerti."


"Tidak!" Mariana menggeleng keras. "Kau sama sekali tidak mengerti. Aku, aku hanya...."


"Yang terpenting sekarang, kau mau menerima hukum adat di sini atau tidak. Urusan keluargamu akan kita hadapi nanti setelah urusan ini beres." Bima berkata dingin.


"I-iya. Aku... Aku akan menghubungi ayah."

__ADS_1


Bima mengangguk sekali kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Mariana yang masih berdiri tegang di sisi ranjang.


Di sudut lain kota besar tempat Mariana dan kedua orang tuanya tinggal, ponsel di saku Jordan, ayah Mariana, bergetar.


Jordan segera menariknya dari saku dan melihat nama yang berkedip di bagian depan. Mariana.


"Mariana! Kemana saja kau hah?!" bentak ayah Mariana dengan wajah memerah campuran antara panik, marah dan lega.


"Papa. Maafkan Mariana. Mariana... sedang dalam masalah," jawab Mariana di seberang.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Mariana tidak bisa menjelaskannya di sini, Papa. Tetapi sebentar lagi Mariana akan pulang, mungkin dengan beberapa orang yang akan menjelaskan apa yang terjadi."


"Jangan berbelit, Mariana. Katakan saja. Kau tahu Papa tidak menyukai teka-teki."


"Tapi Mariana sungguh tidak bisa mengatakannya lewat telepon, Papa. Mariana minta maaf."


"Papa. Mariana mohon mengertilah."


"Aah, baiklah-baiklah. Cepat pulang kalau begitu dan jangan membuat Papa menunggu lebih lama lagi."


"Baik, Papa. Mariana akan segera pulang. Tolong persiapkan saja Papa dan Mama untuk menghadapi hal terburuk yang akan Mariana bawa pulang."


"Ya, ya, ya. Tapi tolong jangan pernah katakan kau telah menghancurkan perusahaan Papa."


"Tidak, Papa. Ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan yang Mariana pimpin."


"Oh, baguslah. Kalau begitu tidak akan ada yang lebih buruk dari itu. Aku akan menunggumu dengan berita apapun yang kau bawa."

__ADS_1


"Terima kasih, Papa."


Mariana memutus sambungan, matanya terpejam. Tanpa dia sadari, air matanya kembali menetes mengingat kejadian mengerikan malam itu bersama mantan kekasihnya.


"Maafkan Mariana, Papa. Mariana akan menyelesaikan ini dengan cara Mariana sendiri. Maaf mengecewakan papa," bisik Mariana, seorang diri. Lalu dia melangkah ke arah pintu, menuju ruang tamu.


"Bagaimana, Nona?" tanya salah saru tetua, saat melihat Mariana muncul.


"Saya memiliki satu syarat," jawab Mariana datar, menatap setiap mata yang ada di sana termasuk Bima.


"Nona, kau sedang menjalani hukuman, dan hukuman ini dijatuhkan tanpa syarat."


"Tapi saya memiliki syarat yang harus kalian penuhi." Mariana berkeras.


"Tenang. Biarkan dia berbicara." Pimpinan para tetua, Syah Sinaro, mengangkat tangan untuk menenangkan. Semua mulut langsung terdiam, menelan kembali setiap ujapan yang sudah ada di ujung lidah masing-masing orang.


"Saya, ingin kalian menutupi kejadian yang sebenarnya, dan katakan saja apa yang terjadi seperti bagaimana kalian menangkap basah kami pagi tadi."


"Apa maksudmu?" Bima berdiri, bertanya kaget.


"Itu syarat yang aku miliki."


"Apa kau, kau bermaksud mengakui telah berbuat zina denganku?" tanya Bima dengan tatapan dingin.


"Itu syarat yang aku ajukan padamu, Bima." jawab Mariana masih dengan sara datar yang sama.


"Tenang...." Syah Sinaro kembali mengangkat tangan. "Apa kami boleh mengetahui alasanmu, Nona?" tanya laki-laki tua itu.


"Tidak bermaksud untuk bersikap kurang sopan, Tetua. Tapi saya pikir yang berhak tahu hanyalah Bima, karena dia yang akan menjalani hidup bersama saya," jawab Mariana masih sama tenang dengan sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


Tetua dari para tetua itu mengangguk paham. "Baiklah. Bisa dimengerti. Kami menerima syaratmu."


Mariana mengangguk sekali.


__ADS_2