
Di tempat lain...
Mariana duduk dengan kepala sedikit tertunduk, tatapannya sayu.
"Apa kau memikirkan ayah dan ibumu?" tanya Bima, mengelus kepala Mariana dengan sabar. Mariana menoleh, menatap Bima.
"Menurutmu apa kira-kira yang mereka pikirkan. Apa mereka memaafkan aku. Atau, mereka akan berbaik-baik padaku karena siapa kita sekarang?"
"Kita? Apa yang kau maksud adalah kau?" tanya Bima, mengerutkan kening. Tangannya bergerak turun meraih jemari Mariana dan menggenggamnya. "Dengar, Mariana. Aku tetaplah aku. Pria sederhana dengan belas kasihan temannya. Yang sedang bergerak naik itu, Kau."
Mariana menggeleng. "Aku tidak percaya kau sesederhana itu. Meski untuk saat ini kau belum membuka topeng mu, tapi aku yakin suatu saat aku akan menemukan pangeran tampan di balik sosok raksasa mu."
"Apa aku seseram itu?" tanya Bima protes.
Mariana tergelak, wajahnya kembali cerah. "Ya, saat aura dingin dan angkuh itu datang menyelimutimu, kau bahkan lebih menyeramkan dari raksasa beauty and the beast. kau lebih tampak seperti mammoth gunung salju yang begitu mendominasi kekuatan."
Bima menatap tidak setuju pada Mariana. "Mammoth?"
Mariana mengangguk yakin. "Kau tahu, Bima? Hanya orang-orang besar yang mampu mengeluarkan aura dingin mendominasi seperti yang kau lakukan tadi. Itu kenapa aku yakin suatu saat nanti aku pasti menemukan sosok pangeran tampan di balik topeng miskin yang sedang kau mainkan saat ini. Meski aku tak tahu apa alasannya, tapi aku yakin itu ada hubungannya dengan wanita yang pernah kau ceritakan padaku."
Bima diam, tatapannya lurus ke depan ke arah jalanan lengang.
"Jangan terlalu tinggi berekspektasi kalau kau tak ingin terjatuh."
"Aku tidak sedang berekspektasi. Aku hanya menebak, tanpa berharap lebih. Tetapi bagaimana pun instingku jarang sekali meleset."
Bima tersenyum miris.
"Apa kau mau menemui kedua orang tuamu?"
Mariana diam sejenak, sebelum menggeleng. "Tidak sekarang. Aku tidak ingin mereka menerimaku karena aku CEO perusahaan besar yang akan bersaing dengan perusahaan keluarga."
Bima mengangguk sekilas tanpa banyak bertanya lagi.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Kakek Mariana....
"Dia mengkhianati keluarga kita, Kakek!" Hendra berteriak murka.
Kakek Mariana tersenyum tenang sembari menyesap teh hijau di cangkir sango.
"Dia hanya berusaha untuk menyambung hidup, kalau kalian belum tahu. Suaminya tidak bekerja, tidak punya rumah dan tabungan, dia dilempar dari satu-satunya ladang tempatnya mencari uang dan di tendang dari rumah yang seharusnya bisa menjadi tempatnya berlindung saat badai menyerang. Tidak mudah melewati kondisi seperti itu tanpa merasa gila sedikitpun, Hendra. Terlebih lagi Mariana dalam kondisi mengandung, seperti katamu tadi."
"Ya. Tetapi dia tidak akan mungkin menduduki posisi CEO dengan tiba-tiba tanpa ada seseorang yang terlibat di dalamnya, Kakek. Kau tahu kan bagaimana kejamnya permainan di dalam sebuah perusahaan." Hendra bersikeras.
"Lalu apa yang kau inginkan dengan melaporkannya padaku. Aku terus terang saja agak kurang paham dengan maksud kedatanganku kemari membawa berita itu."
"Kek. Mariana pasti telah menjual tubuhnya. Anak itu benar-benar memalukan dan telah mencoreng-moreng nama baik keluarga ini."
Kakek Mariana mengerutkan kening. "Dari mana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu. Apa saat itu suami Mariana tidak tampak bersamanya?" tanya Kakek Mariana, mengerutkan kening.
Hendra menggeleng perlahan. "Dia bersama suaminya."
"Kalian ini memang seperti orang tak punya kerjaan yang lebih penting, ya. Untuk apa kau mengurusi kehidupan Mariana bahkan setelah kau menendangnya dari keluarga kita, kalau suaminya saja bahkan sama sekali tidak mempermasalahkannya. Kalau dugaanku, kalian sepertinya sedikit merasa iri pada keberuntungan Mariana," kata Kakek Mariana tenang, masih diantara sisa tawanya yang belum reda.
Ketiga pemuda di hadapannya membeku, tak mampu berkata-kata.
"K-kami.... Aku akui keberuntungan Mariana memang agak di atas rata-rata, Kek. Agak... membuat iri, ya." Leo mengakui malu-malu.
"Keberuntungan?!" tanya Hendra sengit, menoleh tajam ke arah Leo begitu kesadarannya kembali. "Itu bukan keberuntungan. Tapi karena dia menghalalkan segala cara termasuk menjual dirinya demi harta dan tahta."
Tawa rendah kakek Mariana masih terdengar. Laki-laki tua itu berdiri, membawa cangkir kopinya yang telah kosong ke dapur dan meletakkannya di wastafel.
"Cukup berguraunya, anak-anak. Lebih baik sekarang kalian kembali bekerja dan tunjukkan kalau kau memang sanggup untuk berkelakuan lebih baik dari Mariana," kata Kakek Mariana, sambil berjalan ke depan televisi dan mulai menyalakannya.
Hendra, Noel dan Leo bangkit berdiri dari tempatnya, merasa terusir mereka berjalan keluar kembali ke mobil dan meluncur pergi.
Hendra menjejak pedal gas dengan kecepatan jauh di atas rata-rata, membunyikan klakson keras-keras saat mobil hitam mengkilat menghalangi jalannya karena berbelok ke sebuah rumah makan mewah.
__ADS_1
"Bukankah itu mobil Hendra?" tanya Mariana lebih kepada dirinya sendiri.
Bima melirik ke arah mobil yang meluncur bagai buroq di jalanan lengang.
"Kenapa dia?" tanya Mariana menatap tempat dimana mobil itu baru saja menghilang.
"Tentunya kau sudah bisa menebaknya, kan," kata Bima tenang.
Mariana tersenyum kecil. "Apa itu begitu mempengaruhinya?"
Bima turun, lalu berlari ke sisi Mariana dan membuka pintu untuknya.
"Ku tebak, iya. Mereka semua tampak sangat terguncang dengan keberhasilan mu, terutama Hendra. Karena dia yang paling menginginkan kau menghilang."
"Kenapa begitu?" tanya Mariana, keluar dari mobil dan berjalan bersisian dengan Bima menuju pintu masuk restoran.
"Aku belum mengetahuinya."
"Apa kau akan mencari tahu?"
"Apa itu penting bagimu?"
Mariana menggeleng. "Tidak juga."
"Kalau begitu kenapa kita harus mengurusi kehidupan orang lain. Biar saja mereka mengurus kehidupannya sendiri dan kita kuga akan menikmati...." kata-kata bima menggantung. Di hadapan mereka saat ini, berdiri sosok wanita cantik ala-ala cewek korea dengan postur tinggi kurus dan kaki jenjang, mengenakan dress hitam bunga-bunga tiga senti di bawah lutut.
"Hai, Bima. Kebetulan sekali bertemu kalian di sini, bukan?" tanya wanita itu.
Buma membeku sejenak sebelum akhirnya tersenyum sinis. "Oh, ya. Kebetulan yang tertata, bukan," kata Bima dingin.
Bima menoleh Mariana yang menatap keheranan pada Bima dan wanita itu bergantian.
"Tidak perlu berkenalan, tapi kau harus tahu, Sayang. Dia Sarah, seperti yang sudah ku ceritakan."
__ADS_1