
Bima bangkit berdiri dengan cepat, tetapi kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.
"Mariana... kau selamat?" tanya Bima, menatap beku.
"Seperti yang kau lihat." Mariana berjalan masuk, mengangkat bahu dengan acuh.
Bima berlari menyambut Mariana, menubruknya agak terlalu keras dan memeluknya erat.
"Dari mana saja kau, Sayang."
"Aku tidak ke mana-mana. Aku tidak dapat menemukanmu, jadi aku ke rumah kakek dan tidur di sana, menunggu hingga aku bisa menghubungimu," jawab Mariana tenang.
Bina melepas pelukannya, mencengkeram kedua lengan Mariana dengan erat, seolah takut wanita itu akan lari darinya.
"K-kau di... rumah kakek mu?"
Mariana mengangguk.
"Kau baik-baik saja?"
Mariana kembali mengangguk.
"Kau tidak mengalami kecelakaan sama sekali?"
Mariana menggeleng. "Apa kau mengkhawatirkan ku?" tanyanya.
"Tentu saja, Mariana. Bagaimana tidak. Kau istriku, ibu dari putraku. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan mu." Bima mencengkeram kedua pipi Mariana dengan erat namun lembut.
Mariana tersenyum, menatap Bima dengan beribu rasa terima kasih.
"Terima kasmmbb...."
Belum selesai Mariana berucap, Bima sudah menyumpal mulut Mariana dengan bi*irnya.
Mariana menyambut ciuman Bima penuh kerinduan. Tangan Bima berpindah pada pinggang Mariana, menarik rapat tubuhnya.
"Tidak bisakah kalian mencari tempat yang lebih terhormat untuk melepas kerinduan selain di depanku!" Marco yang tersadar segera melangkah pergi dengan wajah panas dan mulut menggerutu. Pria itu keluar, menutup pintu sedikit lebih keras dari seharusnya.
Suara bantingan teredam menyadarkan Bima dan Mariana. Keduanya membelah diri dari penyatuan mereka, menatap ke arah pintu di mana Marco baru saja menghilang, lalu tertawa.
"Kau mengusirnya."
"Aku memang sudah mengusirnya sejak tadi, tapi dia keras kepala. Tahu rasa sekarang."
Mariana tertawa lirih.
"Tetaplah di tempatmu, Sayang." Bima mengecup sekilas bibir Mariana, lalu berjalan ke pintu. Dia melongok ke luar pintu sebelum menarik kepalanya kembali dan mengunci pintu.
"Kenapa kau mengunci pintu?" tanya Mariana.
"Melepas rindu," jawab Bima singkat dan datar seperti biasa.
__ADS_1
"Di sini? Di meja kerja seperti seorang sekretaris?" Mariana mencibir.
"Kemarilah, sayang. Aku sangat merindukanmu." Bima menarik tangan Mariana, membawanya ke meja kerjanya.
"Tidak adakah tempat yang lebih pantas untukku selain meja kerjamu?" Mariana bertanya, sementara Bima duduk di kursi kerjanya, tangannya terentang lebar. Wanita itu bersandar di kursi dengan kedua tangannya terlipat menyangga dua bulatan istimewanya.
"Tidak. Aku menginginkan mu di sini, sekarang juga." Bima menatap intens.
"Apa kau bermaksud mengenang masa lalu mu bersama sekretaris tercinta, Tuan Leo Atlas?" Mariana menunduk, menatap tajam mata Bima dari jarak kurang dari sepuluh senti meter.
Bima mengerutkan kening, menatap Mariana. "Dari mana kau tahu?"
Mariana kembali berdiri tegak, berputar dan berjalan menjauhi Bima.
"Aku.... bisa mengetahui segalanya hanya dengan membuka telapak tanganku, Tuan Leo Atlas." Mariana berbicara pelan, datar, dan terkesan dingin mencekam. Bima perlahan berdiri, berjalan di belakang Mariana sambil menjaga jarak.
"Kisah pilu seorang Bimantara Sandiago, alias Leo Atlas yang sangat misterius."
Bima menelan ludah dengan kasar, menatap punggung Mariana yang berjalan pelan ke tengah ruangan.
"Mariana...."
"Katakan padaku kenapa kau menelantarkan putramu dengan sekretaris mu, Sarah," kata Mariana dingin, berbalik cepat di tempatnya dan membuat Bima berhenti mendadak.
Mariana menatap tajam. Bima mencoba dengan sekuat tenaga untuk meraba auranya, tetapi ama sekali tak terlihat. Kabut tebal mengelilingi tubuhnya, seolah Mariana memang bisa mengendalikan tingkat ketebalannya.
"Mariana, aku...."
Mariana berjalan melewati Bima, kembali ke meja kerjanya.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Mariana masih berjalan pelan ke balik meja, lalu duduk.
"Aku tahu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu, tetapi aku tahu."
Mariana duduk di kursi Bima, menyilangkan satu kakinya hingga bagian atas pahanya terlihat.
Bima melirik sekilas, lalu memaksa menelan bulat-bulat liur yang mengalir deras di dalam mulutnya. Dia berhenti beberapa langkah dari Mariana, menjaga jarak.
"Kau jelas telah ikut menanam benih di dalam rahim Sarah tapi menolak mengakui bayi itu saat dia hidup di dalam rahim ibunya. Lalu kenapa kau memaksa untuk mengakui bayiku, padahal aku sendiri bahkan tak ingin dia ada."
"Mariana... itu berbeda. Aku saat ini... aku... sudah...."
Mariana mengangkat alis, menunggu.
"Aku mencintaimu. Dan anak di dalam perutmu."
"Jadi, kau tidak mencintai Sarah?"
Bima menggeleng patah-patah.
"Bagaimana bisa begitu?"
__ADS_1
"Karena dia hadir dalam hidupku, bukan di dalam hatiku. Dia menggodaku setiap hari. Aku pria normal, Mariana. Dan aku masih sangat muda meski sudah memiliki perusahaan sendiri yang telah lama di rintis oleh ibuku."
Dug!
Mariana ingat betul Kakek Bima mengatakan perusahaan itu pemberian kakek Tompson. Jadi, Bima benar-benar tidak tahu siapa ayahnya.
Marian menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan kembali fokus pada rencana yangs udah di susunnya.
"Jadi, kau tidak mencintai Sarah, atau anak mu?" tanya Mariana masih dengan tatapan menusuk.
"Tidak sama sekali. Dia itu iblis, Mariana. Jangan pernah mempercayai apa pun yang keluar dari dalam mulutnya. Mulut Sarah penuh bisa yang dapat meracuni mu, Mariana."
Mariana mencibir, beranjak berdiri. Tangannya bergerak melepas kancing blazernya , lalu melemparnya ke sandaran kursi.
Bima membuang muka. Agaknya, Mariana sedang berusaha mengetes pertahanannya. Wanita sengaja memakai kemeja putih super ketat dengan leher rendah yang mempertontonkan kemolekan tubuhnya yang luar biasa indah.
Mariana berjalan pelan di balik sepatu high heelsnya, mendekati Bima. Bima memucat, nafasnya berubah cepat.
"Jadi, kau tidak mencintainya?" tanya Mariana, tangannya yang lentik dengan jari-jari panjang membelai pundak Bima dengan lembut, lalu naik ke rahang kerasnya.
Bima kembali menelan ludah, menggeleng.
Mariana menarik tubuh Bima dengan cepat, mendaratkan Pria itu di kursi kerjanya sendiri, lalu membungkuk menantang di atasnya.
"Kalau kau tidak mencintainya, Lalu kenapa kau menyembunyikannya di apartemen lama kita, sementara dia mengusirku pergi ke sebuah kota kecil yang tertinggal," tanya Mariana, dengan tatapan tajam penuh ancaman. Bima menatap kaget, wajahnya gelagapan. Bukan karena ketahuan menyembunyikan Sarah, melainkan karena belahan dada Mariana yang begitu terbuka terpampang jelas di hadapannya.
"T-tidak, M-Mariana. Tidak. Aku m-memang men...jual apartemen k-kita dan... dan seseorang yang menempatinya saat ini bernama Ssarah. Tapi dia... dia S-sarah yang... berbeda." Bima gelagapan.
Mariana tertawa sinis, menarik dasi Bima hingga terbuka dan melepasnya. Kemudian langkahnya berjalan ke belakang kursi Bima, dan dengan sigap Mariana menarik kedua lengan Bima lalu menguncinya di balik kursi.
"M-mariana... Mariana apa yang akan kau lakukan. Mar...."
Bima tertegun, matanya memelotot tajam saat Mariana membuka laci mejanya dan menemukan pistol di dalamnya. Mariana mengambil pistol di dalam laci Bima, menarik pelatuknya dan menghadapkan moncongnya tepat di depan kepala Bima.
"M-mariana.... M-mariana tunggu. Tenanglah, Mariana. K-kita bisa mem-bicarakan i-ni." Bima membeku di tempatnya, sama sekali tak ingin bergerak.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Mariana dingin.
"Mariana... kau salah. Dengarkan aku dulu, Mariana. Jangan sampai kau menyesali perbuatan mu sendiri. Tolong dengarkan aku."
"Tidak ada lagi yang perlu aku dengar. Semuanya sudah jelas bagiku dan aku tidak bisa lagi dipermainkan."
"Mariana...."
Terdengar suara ribut-ribut di luar. Agaknya ada yang berusaha menerobos masuk. Bima sedikit menyesal telah mengunci pintu, karena kalau tidak Marco pasti akan bisa menolongnya. Bima tahu Marco memegang kendali CCTV khusus di ruangannya, demi keselamatannya.
Brak!
Dor!
Pintu menjeblak terbuka disusul suara tembakan teredam dan satu tubuh luruh terkulai di tempatnya.
__ADS_1
"Marco!"
Bima berteriak keras, kepalanya melongok ke arah pintu yang sudah dipenuhi anak buahnya.