
"Mariana!" teriak Bima tertahan, melihat Aaron menelungkup dengan tubuh penuh darah.
"Dia seorang mimikri," kata Mariana tenang. "Dia lah yang membebaskan Galang dan mereka berdua membuat kekuatan secara diam-diam tepat di bawah hidungmu."
"B-bagaimana kau tahu, Mariana?" tanya Bima, menatap bingung pad istrinya.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu, tetapi aku tahu. Bagaimana caraku menjelaskannya?"
"Apa yang kau tahu dan sejak kapan?"
"Aku tidak tahu. Hanya saja saat melihatnya datang bersamamu tadi, aku seolah telah lama sekali mengenalnya dan aku benar-benar mengenalnya. Sebetulnya, sejak kakek mengembalikan penglihatan ku, setiap kali melihat seseorang, aku merasa telah mengenalnya sejak dia bayi, bahkan kakek ku sendiri."
"Kau merasa mengenal seseorang sejak dia bayi bahkan jika usianya jauh lebih tua darimu?"
"Sudah ku katakan, bahkan kakek ku dan kakek mu sendiri. Tetapi aku tidak terlalu menyadarinya sebelum ini."
"Bagaimana kau tiba-tiba menyadarinya, sekarang?" tanya Bima masih menatap penasaran.
"Karena dia... saudaramu. Aku mengenalinya sebagi putra ayahmu."
Bima mengerutkan kening.
"Ya. Saat dia datang, aku tahu dia mimikri, yang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu. Kemudian aku mencoba untuk menggali seluruh perjalanan hidupnya, karena aku seolah sudah mengenalnya dan tahu bahwa dia putra ayahmu, dengan wanita lain, bukan ibu mu."
"Kau... mengenali ayahku?"
Mariana mengangguk. "Ya. Aku tahu."
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Sejak aku mengetahuinya, kita bahkan belum sempat berbicara sebagai orang normal."
__ADS_1
Bima berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Apa kau kengetahuinya dari kakek?"
Mariana mengangguk. "Ya. Dan jangan salahkan kakek tidak menceritakannya padamu, karena melanggar pesan seseorang yang sudah meninggal, bagi mereka adalah sebuah pengkhianatan terhadap arwah mendiang."
Bima diam, mencoba untuk dapat tetap berpikir jernih.
"Tetapi aku tidak pernah berjanji pada mendiang ibumu, untuk tidak memberi tahu kebenarannya padamu."
"Dan apa maksudnya itu?" tanya Bima.
"Yang aku maksud adalah, aku bisa memberi tahu mu kalau kau ingin."
Bima diam, mencoba berpikir kembali apakah mengetahui siapa ayah kandungnya dapat memperkecil urusan yang sudah-sudah.
"Kau, Aaron, dan Galang adalah tiga bersaudara dari satu ayah." Tanpa menunggu, Mariana sudah mengatakannya.
"Galang?!" tanya Bima kaget.
Bima terdiam. Kalau begitu, bayi Sarah sebenarnya adalah sepupunya, batin Bima.
Dia membuang pandangannya ke arah jalan raya, menghindari tatapan Mariana. Ternyata, yang di maksud kakek kekuatan mengerikan adalah semengerikan ini. Mariana tidak hanya dapat membaca aura dan maksud seseorang dalam radius ratusan meter, tetapi dia juga dapat melihat masa lalu yang telah dilewati seseorang. Benar-benar mengerikan. Apa pun, tak akan dapat disembunyikan darinya.
"Nyonya." Panggilan Marco menyadarkan Bima dan Mariana.
"Ke mana kita harus pergi sekarang?"
Marco, yang sudah selesai mengurus tubuh berdarah Aaron, menoleh ke belakang, menatap langsung kepada Mariana.
"Ke rumah Kakek, Marco."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
"Bima. Apa kau sudah menyiapkan anak buah mu?"
Bima menoleh, menggeleng pelan. "Aku akan segera menghubungi mereka.
"Satu di roof top gedung pencakar langit apartemen sun glow, satu lagi di tempat parkir lantai teratas mall Giant Otsuka, di dalam mobil jeep hitam."
Bima mengangguk, segera menelepon anak buahnya dan memerintahkan dua orang untuk menuju lokasi yang disebutkan Mariana.
"Berhenti di depan, Marco." Mariana menunduk di antara bangku sopir dan penumpang depan menatap jauh ke jalan raya.
"Ya, di sana. Berhentilah di bawah pohon flamboyan itu."
Marco menurut, lalu menepi.
Mariana mempersiapkan senapan jarak jauh yang sejak tadi digenggamnya, begitu mobil Marco menepi dan berhenti.
"Apa anak buah mu sudah siap?" tanya Mariana, mulai mengangkat pistol dalam mode membidik.
"Belum, Mariana. Dia belum memberi kabar. Semoga yang dia ini bukan termasuk pengkhianat."
Mariana menggeleng cepat. "Tidak ada. Dia hanya membawa dua anak buah dan aku sudah membereskan keduanya sebelum sekarang."
"Apa?!" tanya Bima kaget.
"Aku tidak suka mengulang perkataan yang sudah jelas maknanya. Jadi, sekarang ikuti saja permainanku."
"Mereka sudah di lokasi, Mariana."
"Minta mereka menunggu di kejauhan."
__ADS_1
Bima kembali mengangguk, mengetik sesuatu di ponselnya.
"Aku akan mengurus yang dua. Turunkan kacanya tepat setelah aku memberi kode," jawab Mariana.