Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
PERUSAHAAN PENDATANG


__ADS_3

Bima menatap jam dinding di atas tempatnya berbaring. Sudah hampir waktu makan malam, tetapi Mariana belum juga pulang. Meski marco memberinya kabar setiap menit, tetap saja Bima khawatir, karena Mariana membawa kendaraan sendiri dalam kondisi hamil muda.


Bima bangkit berdiri dari posisi tidurannya, pergi ke dapur. Dia membuka kulkas, mengintip persediaan di dalamnya, lalu menutupnya lagi. Bima duduk di kursi makan, mengeluarkan ponsel di sakunya, menggeser icon layarnya hingga terbuka. Kemudian jarinya mengetik dengan serius, menu untuk wanita hamil muda.


Setelah memilih-milih menu selama sepuluh menit, Bima kembali membuka kulkas dan mengeluarkan seluruh bahan.


Selesai memasak, Bima kembali ke ruang tamu, menunggu. Sepuluh menit yang lalu Marco memberi kabar bahwa istrinya telah keluar dari restoran dan sedang berjalan pulang.


Berkali-kali Bima melirik jam dinding, cemas menunggu Mariana yang tak kunjung datang, hingga suara pintu terbuka membuatnya menoleh.


"Kenapa malam sekali?" tanya Bima dingin. Mariana berbalik, menutup pintu di belakangnya menggunakan kaki.


"Ada apa? Bukankah biasanya kamu lebih malam dari ini," katanya sewot.


"Tapi kau sedang h... sakit."


"Aku baik-baik saja," jawab Mariana datar.


"Dari mana?"


"Bertemu teman di restoran." Mariana menjawab datar, sambil berlalu ke kamarnya.


"Kenapa harus pergi ke restoran? Aku memasak untukmu di rumah." Bima mengikuti di belakang Mariana, menahan pintu yang hendak ditutupnya.


"K-kau...." Mariana berbalik, menatap tidak percaya.


"Kau sudah berbelanja, dan kau bersedia berbagi denganku. Apa salahnya kalau aku menyiapkan makanan untukmu, sementara kau bekerja mencari uang untuk kehidupan kita."


"Eh, tidak. Tidak ada yang salah. Sebenarnya, aku ke restoran hanya untuk minum kopi dan bertemu temanku saja. Aku... aku butuh bercerita dengannya." Mariana menunduk, volume suaranya menurun.


"Apa kau keberatan kalau membagi masalahmu denganku?"


Mariana mendongak, menatap Bima ragu-ragu.


"Baiklah, tidak usah. Toh aku hanya bisa menjadi pendengar, tidak mampu memberikan solusi," kata Bima. "Bersihkan dirimu, lalu makanlah. Aku sudah menyiapkannya di dapur." Bima berbalik, melangkah pergi dari pintu kamar Mariana.


"Eeh...." Mariana mengulurkan tangan untuk mencegah Bima pergi, tapi Bima sudah menghilang ke ruang tamu.


Mariana menatap sudut tempat punggung Bima menghilang, kemudian tersenyum. "Aku tidak membutuhkan solusi. Aku hanya butuh tempat untuk berbagi beban ku saja," gumam Mariana, lalu berbalik dan menutup pintu. Sementara di ruang tamu, Bima tersenyum mendengar gumaman Mariana.


Bima berjalan keluar, mengangkat telepon.


"Ya, Marco."


"Aku sudah menangkap orang bank yang mengeluarkan rekening koran nona Mariana."


"Biarkan dia di sana dulu. Aku akan menemuiki setelah Mariana lebih baik."


"Apa kita akan menaruhnya di bawah, Bos?"


"Jangan. Taruh saja di level 2."


"Bima...?" Sebuah suara lembut memanggil dari arah belakang. Bima terkesiap, segera mematikan sambungan teleponnya dan mengantonginya.


Sial! sejak kapan dia berdiri di sana, batin Bima.


"Ada apa?" tanya Bima, ekspresinya kembali datar.


"Sedang apa kamu di sini? Apa kamu tidak ingin menemani aku makan?"


Bima mengerutkan kening.


"Tidak enak rasanya makan sendirian. Aku tidak terbiasa."


Melihat wajah Mariana yang biasa saja, Bima memutuskan wanita itu tidak sempat mendengar percakapannya.


"Baiklah, ayo." Bima menjawab datar, lalu melangkah masuk.


"Kau mau di siapkan minum apa?" tanya Mariana, setelah Bima duduk.


"Air lemon saja," jawab Bima.


Mariana menyiapkan dua gelas air putih, lalu duduk dan menyendok soup.


"Sudah agak dingin. Aku membuatnya sudah agak lama."

__ADS_1


"Tidak apa. Ini enak sekali. Apa kau suka memasak?" tanya Mariana setelah menelan sesendok besar soup.


"Apa kau terbiasa makan sambil mengobrol?" tanya Bima.


Mariana menatap Bima sejenak, menggeleng. "Sebenarnya tidak. Tapi, aku tidak keberatan makan sambil mengobrol. Aku selalu melakukannya saat makan bersama teman-temanku di restoran atau cafe. Apa kau merasa tidak nyaman?"


Bima menggeleng. "Tidak."


Mariana mengangguk, tersenyum. Senyumnya manis sekali kali ini. Begitu tulus dan natural.


"Apa kau keberatan kalau aku membahas masalah kantor di meja makan?" Mariana balas bertanya.


Bima kembali menggeleng. "Tidak," katanya singkat.


"Aku... aku bingung."


Bima menatap datar, tangannya menyuap makanan ke mulutnya.


"Apa yang membuatmu bingung?"


"Itu perusahaan keluarga."


"Memangnya kalau seseorang memiliki perusahaan keluarga, dia harus bekerja di sana?"


Mariana kembali menggeleng. "Tidak, bukan begitu. Tapi akan lebih baik kalau kita meneteskan peluh di perusahan milik keluarga sendiri, bukan. Kakek susah payah merintisnya, apakah kita cucu-cucunya akan meninggalkannya begitu saja dan memilih bekerja di tempat lain."


"Memangnya seberapa besar saham yang kau miliki di sana?" tanya Bima. Dia hanya ingin melihat rekasi Mariana saat mendengar pertanyaan semacam itu.


Mariana menunduk, menggeleng. Mulutnya mengunyah perlahan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


"Tidak banyak?"


Mariana kembali menggeleng. "Aku tidak memegang saham."


Bima mendengus panjang.


"Kenapa?" tanya Mariana, mendongak.


"Tidak masalah. Toh aku juga tidak memiliki apa-apa. Kalau pun kau keluar dari perusahaan, kita akan mencari usaha lain," jawab Bima tenang.


"Mmm... Bima," kata Mariana.


Bima mendongak sedikit, mengendikkan kepala.


"Bima, kalau aku bangkrut dah harus mengembalikan uang perusahaan dalam jumlah yang sangat banyak, apakah kamu akan tinggal, atau pergi dariku?"


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Yah, karena... karena seperti yang sudah aku katakan, aku berada dalam masalah besar di perusahaan. Surat pengunduran diri yang kamu buat, tidak berarti aku tidak akan di tuntut untuk mengembalikan uang, kan."


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Entahlah. Aku tak tahu apa kamu bisa mengerti atau tidak dengan apa yang akan ku ceritakan, tapi aku tidak butuh kamu memahami ku atau memberi solusi. Aku hanya ingin berbagi permasalahan ku supaya beban ku terasa lebih ringan."


Bima mengangguk, masih menatap datar.


"Aku... mereka... entahlah. Tapi tim audit, atau tim yang memeriksa keuangan kantor menemukan kejanggalan pada aliran kas kantor. Dan setelah ditelusuri, mereka menemukan kesenjangan yang hilang itu ditransfer ke rekening pribadi ku oleh rekening kantor." Mariana menunduk, raut wajahnya antara jengkel dan sedih.


"Apakah kau menerima uangnya?"


Mariana menggeleng. "Tentu saja tidak. Rekening pribadiku tidak pernah menerima uang dari rekening perusahaan selain gaji."


"Kalau begitu kenapa kau harus takut."


Mariana menggeleng. "Aku tidak takut. Aku hanya bingung bagaimana semua itu bisa terjadi. Aku sama sekali tidak pernah merasa melakukannya, tapi mereka menemukan rekening koran bank ku," jelas Mariana sedih.


"Apa kau pikir keluarga mu telah berbuat curang dengan memanipulasi data bank mu?" Bima terus memancing percakapan, ingin tahu sejauh mana Mariana mencurigai keluarganya.


Mariana mengangkat bahu. "Besar kemungkinannya, kan."


Bima kembali mengendikkan bahu dengan wajah datar.


"Kalau aku jadi kau, aku akan keluar dari perusahaan dan buktikan kemampuanmu di luar."


"Tidak mudah mencari pekerjaan di jaman seperti sekarang, Bima."

__ADS_1


"Kau seorang CEO."


Mariana tersenyum masam. "Hadiah dari kakek?"


Bima menurunkan bibir dengan acuh. "CEO tetaplah seorang CEO, mau itu hadiah atau bukan. Dan kau sudah membuktikan bahwa perusahaan yang kau pimpin tidak berakhir kolaps."


"Hhh...." Mariana mendesah lelah, menelungkupkan sendok dan garpunya di atas piring yang masih bersisa sedikit. "Kau pikir semudah itu mencari perusahaan yang membutuhkan seorang CEO. Dan sekarang kau sudah menandatangani surat pengunduran diriku, jadi kita tinggal menunggu surat tuntutan itu datang lalu kita akan benar-benar hidup di kolong jembatan," keluh Mariana pelan.


"Apa kau takut?" tanya Bima.


Mariana menatap nyalang. Jelas egonya terlalu tinggi untuk mengatakan ya, tetapi Bima tahu dia cemas.


"Aku tidak takut hidup di kolong jembatan, kalau saja aku t...." kalimatnya menggantung. Bima mengangkat alis, menunggu.


Mariana diam, menunduk, tangannya mengaduk-aduk susus di gelasnya.


"Aku apa?" tuntut Bima. Bima tahu Mariana hampir saja mengatakan bahwa dirinya hamil, tetapi dia mengeremnya tepat waktu.


Bima tersenyum. Senyum manis penuh pengertian yang baru pertama kali ini Mariana lihat, dan seketika membuat perutnya bergolak, yang tidak ada hubungannya dengan pergerakan janin di dalamnya.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Mariana galak, untuk menutupi kegugupannya.


"Aku tahu di mana kau bisa menemukan pekerjaan." Bima menjawab, melenceng dari apa yang diinginkan Mariana.


Mariana menatap Bima kaget. "Apa?"


"Temanku yang akan meminjamkan rumah pada kita, memintaku untuk memimpin cabang perusahaannya yang berada di sini. Tapi seperti yang kau lihat, aku...." Bima menggeleng.


Mariana membelalak tidak percaya. "Benarkah?" tanyanya.


Bima mengangguk yakin. "Ya. Aku bisa menawarkanmu padanya kalau kau mau."


"Tapi... apakah dia belum mendapatkannya, sekarang?"


"Belum. Dia baru menghubungiku tadi, saat kau memanggilku."


"Tapi, ke mana CEOnya yang lama?"


"Dia baru melebarkan sayapnya di kota ini. Jadi, perusahaan itu masih baru. Yah, memang kau harus merintis bersamanya. Tapi aku yakin temanku adalah orang yang sangat cakap."


"Tapi... Temanmu menawarkan pekerjaan itu untukmu."


Bima menggeleng. "Aku tidak bisa."


"Tapi kau bisa belajar."


"Kalau kau tidak mau, ya sudah. Biar dia mencari yang lain saja." Bima menenggak habis sisa air lemon di dalam gelas, lalu berdiri dan melangkah pergi dengan tenang.


Mariana memelototi punggung Bima yang berjalan menjauh.


"Selalu saja pergi begitu saja di saat pembicaraan sedang serius. Kau tak pernah memberiku kesempatan untuk berpikir dan memilih!" gerutu Mariana, sambil membereskan piring bekas mereka makan dan mencucinya.


Usai mencuci piring, Mariana berjalan ke ruang tamu, di mana Bima sedang bergelung di sofa sambil memainkan ponsel.


"Mmm... Bima," sapa Mariana.


Bima menoleh, lalu duduk.


"Bolehkah aku meminta waktu satu hari saja untuk berpikir dan memutuskan. Aku... maksud ku, aku akan melihat kondisi perusahaan besok. Kalau tidak memungkinkan bagiku untuk kembali, aku akan mengalah dan mundur."


Bima kembali mengendikkan kepala dengan acuh. "Terserah kau saja."


"Tapi, apakah... apakah teman mu bersedia menunggu. Apakah itu tidak terkesan, aku hanya menjadikan perusahaannya sebagai pelarian setelah aku tersingkir dari perusahaan keluargaku?"


"Duduklah." Bima menepuk sofa di sampingnya, memberi isyarat kepada Mariana untuk duduk.


Mariana berjalan mendekat, tapi alih-alih duduk di samping Bima, dia memilih sofa singgel di depannya.


Bima menarik nafas panjang. "Temanku baru memulai perusahaannya. Dia mencari orang-orang yang dapat dia percaya untuk memegang perusahaannya. Dia belum akan membuka perusahaan itu, sebelum mendapatkan orang-orang yang dia inginkan. Jadi, aku yakin dia bisa menunggu."


Mariana berkedip dua kali, kemudian senyumnya terkembang. "Terima kasih, Bima. Aku tidak menyangka kau memiliki teman sehebat itu."


Bima tersenyum masam, lalu kembali bergelung di tempatnya.


Mariana berdiri, berjalan perlahan ke kamarnya. Bima menatap punggung Mariana yang menghilang di balik pintu yang tertutup.

__ADS_1


__ADS_2