Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
KEMATIAN SARAH


__ADS_3

Mariana berjalan mengikuti Yumi yang masuk ke sebuah ruangan rapat dengan pintu kaca.


"Selamat datang, Direktur muda Sandiago." Seseorang di ujung meja seketika berdiri saat Mariana memasuki ruangan.


Mariana menoleh dan melihat Marco menunduk sopan di antara beberapa orang yang segera mengikuti berdiri.


"Terima kasih, Tuan Marco." Dengan penuh percaya diri, Mariana berjalan ke kursi paling ujung yang telah disediakan Marco untuknya.


"Mariana!"


Mariana menatap pemilik suara yang menyebut namanya, tersenyum. "Benar," jawabnya sangat tenang.


"B-bagaimana bisa...."


"Tentu saja bisa. Bukankah Anda sudah tahu bahwa aku direktur perusahaan ini?" jawab Mariana tenang, sembari tangannya memberi isyarat kepada seluruh peserta rapat untuk kembali duduk.


"Tuan Marco, tolong bawa kemari surat perjanjian yang telah aku tanda tangani."


Marco berdiri, berjalan ke arah Mariana dan menyerahkan beberapa berkas di dalam tiga buah map berwarna biru muda.


Yumi menerima berkas, membukanya satu dan menaruhnya di depan Mariana. Mariana membaca beberapa poin dengan seksama.


"Jadi, sesuai pada perjanjian kita, MBC mendapat 30% dari total koin yang terpakai, bukan."


Beberapa kepala mengangguk.


"Aku sudah mempelajari semuanya, dan aku tahu ada selisih pemasukan pada dua perusahaan. Itu kenapa hari ini aku mengundang kalian semua untuk hadir di sini."


"Bukan kau yang mengundang kami, Ja*ang. Tetapi Tuan Marco."


Beberapa menoleh dengan tatapan kaget, melihat sikap kasar Hendra.


Mariana mengangkat tangan, memberi perintah kepada seluruh bodyguard yang berjajar di dinding untuk tenang.


"Tidak apa. Itu hak mereka untuk berbicara. Kalau ada lagi yang ingin menyampaikan pendapatnya, saya tidak menutup kesempatan."


Semua orang terdiam. Beberapa petinggi perusahaan tampak menatap Mariana dengan tatapan kagum sekaligus segan.


"Cukup dengan semua omong kosong ini! Aku mau pergi. Perusahaan Sasmita Group tidak memerlukan kerja sama dengan perusahaan murahan yang di pimpin seorang ja*ang tak tahu malu!" Hendra berdiri, membanting kasar setumpuk berkas yang dibawanya, ke atas meja.


Mariana tersenyum tenang, sama sekali tidak terganggu dengan sebutan kasar Hendra padanya.


"Silahkan, Tuan Hendra. Anda bisa menarik berkas kerja sama Anda saat ini juga," jawab Mariana.


"Kau terlalu besar kepala, Mariana. Baru juga menduduki posisi direktur, kau sudah sombong. Bukankah setiap lencana CEO yang kau miliki adalah sebuah hadiah belas kasihan, bukan karena kau mampu atau kau yang memiliki perusahaan," timpal Hendra pedas.


Mariana masih pada senyum tenangnya.


"Apa kau juga menggunakan tubuhmu untuk menggoda Tuan Leo Atlas, agar bisa menempati posisi direktur salah satu perusahaannya. Apa pria itu begitu buta hingga tergiur pada tubuh mu yang sudah bekas banyak pria!"


Mariana kembali mengangkat tangan saat Marco dan Yumi bereaksi.

__ADS_1


"Biar saja," katanya tenang.


"Kenapa? Kenapa melarang anak buah mu menyerang ku? Apa kau takut ketahuan seburuk apa dirimu?"


"Memangnya kau pikir aku seburuk apa?"


"Hah!" Leo mencibir. "Leo Atlas ternyata tak semengerikan beritanya. Nyatanya wanita pela*ur sepertimu pun bisa menundukkannya dengan mudah."


"Tolong jaga ucapan Anda, Tuan Hendra. Ini kantor. Jika Anda memiliki urusan pribadi dengan Nyonya Sandiago, tolong selesaikan di tempat lain."


"Aku tidak pernah memiliki urusan apa pun dengannya. Pribadi, maupun urusan pekerjaan. Sekarang aku akan mencabut kerja sama ku agar kaki ja*ang itu tidak akan pernah mengotori perusahaan ku." Hendra berjalan ke arah pintu, membawa beberapa berkas di tangannya.


"Silahkan menghubungi unit kerjasama di lantai dua, Tuan Hendra. Dan jangan lupa kau urus juga uang kompensasi pemutusan kontrak sepihak."


Langkah kaki Hendra terhenti sejenak. Kepalanya sangat ingin menoleh ke arah Mariana dan mengumpat wanita itu tentang penjebakan, tetapi dia ingat bahwa dirinyalah yang mengatur kenaikan uang kompensasi pemutusan sepihak agak perusahaan itu tidak pernah memutus kontrak dengannya, mengingat begitu banyak perusahaan lain yang berafiliasi dengan MBC.


Hendra menelan ludah, lalu meneruskan langkahnya yang tiba-tiba saja terasa berat.


Hendra tidak menuju unit kerja sama di lantai dua seperti yang dikatakan Mariana. Saat memasuki lift, jarinya menekan tombol B yang akan mengantarnya langsung ke lantai basemen. Keluar di lantai basemen, Hendra melangkah keluar langsung menuju ke mobilnya.


Brak!


"Ja*ang itu benar-benar sial!" teriaknya, menggebrak meja kerjanya dengan penuh amarah. Leo dan Noel saling tatap.


Begitu mencapai ruang kerjanya, Hendra berteriak murka menyuruh sekretarisnya memanggil Leo dan Noel.


"Ada apa sebenarnya. Dan siapa yang kau maksud itu?"


"Mariana?"


"Jangan sebut namanya!" teriak Hendra murka.


Leo dan Noel kembali saling tatap.


"Ada apa dengannya?"


"Dia direktur perusahaan MBC."


Leo dan Noel mengerutkan kening. "Bukankah Sarah sudah menyingkirkannya?"


"Tidak. Dia sudah kembali."


"Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu. Mungkin Sarah tidak sungguh-sungguh menyingkirkannya."


"Sial!" Noel meninju lengan kursi dengan geram.


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Leo. Wajahnya memerah, tetapi dia jauh lebih baik dalam mengendalikan amarahnya di banding dua keluarganya yang lain.


"Satu langkah lagi untuk menguasai seluruh perusahaan."

__ADS_1


"Apa sudah kau pastikan Sarah tidak mungkin ditemukan?"


"Ya. Aku sendiri yang melakukannya."


"Keyakinan mu tak dapat dipercaya!" teriak Hendra. "Periksa hasil pekerjaannya."


"Apa kau mulai meragukan ku?" tanya Leo.


"Tentu saja. Dua pekerjaanmu telah gagal, dan kau masih ingin aku mempercayai hasil pekerjaanmu? Lihat, Leo! Kau bilang Sarah bisa dipercaya untuk menyingkirkan Mariana, dan kecelakaan yang melibatkan mobil yang sama dengan milik Mariana kau yakini akan membuat mereka berhenti mencarinya. Kenyataannya? Ja*ang murahan itu kembali!"


Leo menelan ludah, mendengus pelan.


"Tenang, Hendra. Aku sudah memastikannya. Wanita itu tidak akan pernah muncul lagi ke permukaan bahkan tulang belulangnya."


Hendra mengangguk-angguk.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Noel mengulangi.


"Lakukan. Bunuh tia ban*ka itu dan pastikan hak warisnya jatuh ke tangan kita."


"Kau yakin?"


"Tentu saja aku yakin! Selama lebih dari setengah saham perusahaan ini berada di tangan Kakek, kita tidak akan bisa melakukan apa pun!"


"Tunggu."


Hendra dan Noel menoleh.


"Sebelum kita melakukan itu, aku ingin kita bertiga menandatangani perjanjian bahwa saham kakek akan dibagi tiga kepada kita sama rata."


"Apa kau mulai meragukan ku?!" Hendra berdiri, menggebrak meja sekali lagi, memelotot marah pada Leo yang balas menatapnya tenang.


"Tidak." Leo menggeleng. "Aku hanya tidak ingin lupa diri. Aku takut, suatu hari aku lupa diri dan mengubah sedikit wasiat kakek agar menjadi milikku seluruhnya. Apa kalian lupa akulah yang paling ahli di bidang pemalsuan?"


Hendra dan Noah saling pandang.


"K-ku rasa dia ada benarnya, Hendra. Lebih baik kita membuat perjanjian tertulis, atau dia akan lupa diri. Jangan lupa soal keuangan perusahaan yang mengalir ke dalam rekening pribadi Mariana, yang hingga detik ini belum terdeteksi."


Hendra menatap tajam selama beberapa detik, sebelum mengangguk singkat dan kembali duduk.


"Aku yang akan membuat surat perjanjiannya, bukan kau," kata Hendra tajam.


"Silahkan saja. Mengubah hal sekecil itu tidak harus aku yang memiliki soft filenya," Leo menjawab tenang.


"Setiap kalimat yang kau ucapkan terekam kamera pengawas, dan aku akan menyimpan rekamannya sebelum kau mengubahnya.


Leo tertawa hambar.


______________________


Mohon maaf dua hari tidak update, karena harus melaksanakan tugas negara. Maaf kalau dalam minggu ini akan ada banyak lobang, karena pekerjaan sedang padat dan menguras pikiran. Semoga tidak mengecewakan.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2