Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
Aku Mau


__ADS_3

"Kakek... Aku tidak melakukan apa pun padanya."


"Hukum tetaplah hukum. Kalau kita melanggar, akan ada balasannya dari alam."


Semua pria yang ada di sana mendesah.


"Ku pikir dia betul. Bukan kami tidak mempercayaimu, tapi alam akan bereaksi."


"Tapi bukan aku yang melakukannya." Bima mencoba mengelak.


"Bima. Kupikir kau lebih paham tentang hal ini lebih daripada kebanyakan yang lain. Kau yang lebih tahu posisi wanita itu. Jika masih memungkinkan untuk mencari pelaku, maka aku tidak akan ragu untuk...."


"Tidak kau benar." Bima memotong. "Dia seperti yang kau perkirakan, meskipun berbeda."


Bima menoleh kakeknya. "Kakek, dia seperti... Seperti... Mapatih."


Laki-laki tua itu mengangguk singkat tanpa membuka mulut.


"Seperti apa?" Seseorang lain bertanya.


"Tidak. Sudah cukup untuk masalah ini." Kakek Bima berdiri. "Nona, aku minta maaf. Tapi, kami harus menikahkan kalian demi keselamatan semuanya."


"Apa?!" Mariana mengikuti berdiri dengan cepat. "T-tapi kenapa... Kami tidak melakukannya."


"Hukum desa kami agak berbeda, Nona. Kami tahu kau hanya korban, tetapi itu sudah keputusan kami."


"Tapi ak...."


Bima meraih tangan Mariana. "Mariana, tenang."

__ADS_1


Bima menatap para tetua, mengangguk sopan. "Boleh aku meminta ijin untuk berbicara dengannya?"


"Silahkan." Pimpinan para tetua mengangguk cepat sebelum kakek Bima membuka mulut.


"Terima kasih, Syeh Sinaro." Hanam mengangguk lalu membawa Mariana masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak menolak dan diam saja?" Mariana menunjuk wajah Bima dengan tatapan geram.


"Ssst... Tenanglah. Tenang. Dengarkan aku."


"Apa lagi rencanamu?"


"Kau percaya padaku?"


"Tergantung," jawab Mariana sewot.


"Lalu?" tanyanya.


"Kita harus tetap menikah. Ini sudah keputusan adat."


"Tidak!"


"Tapi kau dalam bahaya."


"Memangnya apa pedulimu?"


"Peduliku? Tentu saja aku tidak peduli padamu. Tap..."


"Kalau begitu jangan pernah berpikir aku akan menikah denganmu!" Mariana memotong.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini kalau menolak hukum adat. Itu sudah..."


"Lebih baik aku mati daripada menikahimu."


Bima terkesiap. Matanya menatap marah wanita yang semalam seperti kucing kecil yang kehilangan induk ini.


"Baiklah," kata Bima akhirnya. "Aku akan mengatakan pada para tetua agar menyiapkan peti matimu sekalian."


Bima berbalik, melangkah pergi.


"Eeh... Tunggu!" Mariana memanggil, tapi Bima tidak berhenti. Tangannya meraih handel pintu dan menariknya hingga terbuka.


"Tunggu. Tunggu, Bima. Tunggu." Mariana mengejar, meraih lengan Bima dan menahan pintu.


Bima menatap dengan tatapan datar.


"Maaf. Aku, aku minta maaf. Tapi, apakah benar-benar akan seserius itu jika aku menolak menikah denganmu?"


Bima mengangkat bahu, tangannya kembali meraih pintu.


"Tunggu! Dengarkan aku. Aku... Maksudku bukan begitu. Aku hanya, aku..." Mariana tidak bisa menyusun kalimat di dalam kepalanya dengan baik.


"Dengar, Mariana. Tadinya aku hanya akan menikahimu di atas kertas. Aku berjanji untuk tidak menyentuhmu kalau memang kau merasa tidak siap menikah denganmu. Tapi bagaimanapun, hukum adat harus tetap dijalankan. Tetapi kalau kau memang menolak, tidak apa. Aku siap menghadapi resikonya." Bima menjelaskan dengan suara dingin.


"Apa maksudmu?" tanya Mariana kaget.


"Aah sudahlah. Percuma dijelaskan juga, karena kau akan tetap menolak. Tidak masalah. Aku sudah memberitahumu konsekuensinya, jadi sekarang seharusnya kau sudah siap menghadapinya. Permisi,aku harus segera menemui para tetua." Bima menyingkirkan tangan Mariana dengan lembut.


"Tunggu! Bima, tunggu. Aku... Mau!"

__ADS_1


__ADS_2