
"Tunggu!" teriak Hendra lantang. Semua mata menatap kaget padanya, yang berjalan cepat bak monster mendekati podium.
"Hei, Mariana! Siapa laki-laki itu?!" teriaknya, sembari tangannya mengacung ke arah Bima di atas panggung.
Mariana mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" tanya Mariana bingung.
"Dengan siapa kau berdiri di sana. Apa kau mencoba menipu laki-laki lain. Kau sudah bersuami!" Hendra berteriak menuduh.
Hening. Kesunyian total kembali menyelimuti seluruh lokasi peresmian.
Para bodyguard bersiap maju, tetapi Bima mengangkat tangan menghentikan.
"Jangan. Biarkan dia berbicara," kata Bima dengan suara tenang dan dalam.
"Ha!" Hendra menyeringai menang. "Jadi, kau mencoba menipu seseorang, Mariana. Kemana suami kamu yang gelandangan itu?!"
"Apa maksud kamu, Hendra?" tanya Mariana, dengan tatapan antara geram dan bingung.
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Apa kau sudah menyerah hidup miskin dengan gelandangan itu, dan memutuskan untuk mencari mangsa lain lalu memintanya untuk menempatkan mu sebagai CEO kan."
Mariana paham, bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman.
"Apa yang kau maksud Bima?" tanya Mariana tenang.
"Mungkin begitu namanya. Aku tidak terlaku memperhatikan saat kalian menikah. Mataku agak sakit kalau terlalu lama memandang orang-orang tak berguna seperti kalian," jawab Hendra sinis.
"Apa yang kau maksud orang tak berguna itu aku?" Bima berjalan maju satu langkah, melepas kacamatanya dan menatap Hendra dengan tatapan tajam.
Hendra terkejut, kakinya refleks mundur satu langkah ke belakang.
"K-kau...."
"Ya. Aku," jawab Bima dingin.
__ADS_1
"B-bagaimana bisa... ini pasti... tidak mungkin." Hendra menggeleng tidak percaya, menatap Bima seolah sedang menatap hantu tanpa kepala.
"Kenapa tidak mungkin. Kalau kau saja bisa memutar balikkan keuangan perusahaan yang masuk ke kantongku menjadi seolah masuk ke dalam rekening istriku, lalu apa susahnya hanya sekedar berubah dari seorang gelandangan hina menjadi perwakilan seorang direktur perusahaan," jawab Bima dengan nada sedingin gunung es yang siap runtuh. Mariana sampai menolehkan kepalanya karena meski dulu Bima selalu bersikap dingin padanya, tapi tak pernah Mariana mendengar Bima berucap setajam dan mengerikan sekarang. Para bodyguard Bima saja sampai merinding mendengarnya, begitu pula para tamu-tamu undangan yang hadir saat itu.
"Ap-a maksudmu?!" tanya Hendra tergagap, sura angkuhnya yang tadi seolah tertelan ke dalam perutnya dan tak menyisakan sedikitpun di kerongkongannya.
"Yang aku maksud, kalau kau tidak duduk di tempatmu dengan tenang dan tidak mengganggu prosesi peresmian, maka aku akan membiarkanmu berada di sini dengan terhormat. Tetapi kalau kau masih bersikeras untuk berdiri di sana, maka jangan salahkan kalau aku menekan tombol yang membuat seluruh bodyguard di sini bergerak." Sekali lagi Bima berbicara dengan nada mengancam yang sangat mengerikan. Para bodyguard yang berseragam hitam segera mengambil sikap sempurna, siap bertindak kapan pun pria muda di atas podium itu mengangguk kecil.
Kondisi ini membuat rasa mencekam di seluruh area peresmian semakin menusuk tulang. Aura dingin dan tak tersentuh yang dipancarkan seluruh pasukan tegap berbaju hitam itu menyelimuti seluruh area, tak menyisakan sedikitpun kehangatan untuk bertahan.
Leo dan Noah yang lebih dulu tersadar dari kebekuan. Keduanya cepat keluar dari deretan kursi mereka, berjalan setengah berlari menuju depan panggung dan segera menyeret Hendra mundur.
"Tidak perlu pergi. Duduk saja yang manis seperti bayi yang mengenakan bedong." Seolah bisa membaca pikiran keduanya, Bima menyela saat dua bersaudara itu berusaha membujuk Hendra untuk mundur.
Bima kemudian mengangguk pada kedua pembawa acara di depannya, memberi mereka isyarat untuk melanjutkan.
Acara berlanjut dengan ketenangan yang khidmat dan kemeriahan yang elegan. Bima dan Mariana saling menggenggam saat pemotongan pita panjang, diikuti turunnya kain yang menutupi pintu masuk utama Paka Lea Land, menyuguhkan pemandangan berupa bangunan spektakuler yang membuat mata semua orang yang hadir di sama membelalak heran. Semua mulut menganga dalam keheningan.
"Ini benar-benar gila. Kalau begini caranya, tempat ini bisa menyaingi Disney Land."
Ayah Mariana menghela nafas panjang. Dalam hati dia membenarkan ucapan pasangan suami istri Jons di sampingnya yang mengatakan mereka pasti akan menyesal. Ya, sungguh terbentuk penyesalan besar di dalam hati ayah Mariana saat ini. Apa pun hubungan Bima dengan pemilik tempat hiburan paling mengagumkan ini, pasti lah dia memiliki kedudukan atau setidaknya hubungan yang sangat baik sehingga pria itu, atau wanita, menyuruhnya untuk mewakilinya meresmikan sesuatu yang sehebat dan sespektaluler ini.
Entah apa yang diucapkan oleh pembawa acara di depan, ayah Mariana sama sekali tidak mendengarnya. Dia hanya baru tersadar karen istrinya menyenggol lengannya dan saat melihat ke sekitar, dia melihat bahwa semua orang di atas panggung telah pergi menyisakan kedua MC sementara para tamu undangan yang duduk pun mulai berbondong-bondong pergi.
Ayah Mariana menghela nafas panjang, mengikuti istrinya berdiri.
"Papa!" Ibu Mariana menghentak lengan ayah mariana, menunjuk menggunakan dagunya. Ayah Mariana mengikuti petunjuk istrinya dan menemukan bahwa Mariana dan suaminya, Bima, tengah berjalan berdua diantara enam bodyguard kekar yang menjaganya, kembali ke mobil mereka.
"Kenapa tidak kau panggil!" desis ibu Mariana, menghentakkan kaki.
Ayah Mariana menggeleng. "Tidak usah. Dia akan datang kalau masih menganggap kita orang tuanya."
"Mana mungkin! Kau sudah menyakitinya, mengusirnya, merampas mobilnya, dan kau berharap masih di anggap sebagai ayah saat dia kaya dan telah menjadi CEO perusahaan raksasa bersama suaminya yang hebat? Oh, kau akan dilupakan!"
__ADS_1
Ayah Mariana menggeleng pelan. "Aku tidak mendidik Mariana untuk bersikap sebagai pendendam. Dia akan datang, tunggu saja." Lalu laki-laki tua itu berbalik, tepat saat Hendra memukul wajah Leo karena kesal.
"Ada apa ini?!" tanya Jundi, ayah Nathan, berjalan mendekat dengan di susul ayah Leo di belakangnya.
"Lihat anak bodoh ini, Paman. Dia terus saja merengek seperti bayi!"
"Siapa yang kau maksud seperti bayi, Hendra?" tanya Ayah Leo, menatap mata Hendra dengan penuh amarah sementara Nathan dan ayahnya membantu Leo berdiri.
"Anakku, tentu saja! Dia merengek seperti bayi meminta ikut masuk ke dalam sana bersama para penjilat itu!""
"Para penjilat?!"
Hendra menatap pongah.
"Tak ku sangka kau begitu bodoh, ya Hendra. Pantas saja Kakek sama sekali tidak mempercayaimu untuk duduk di kursi direktur dan lebih memilik Mariana. Ternyata kau begitu dungu."
"Dan bagaimana dengan anak-anakmu? Setelah aku berhasil menyingkirkan Mariana, apakah ada salah satu dari mereka yang menduduki kursi kekuasaan di perusahaan?" Hendra mencibir. "Tentu saja tidak ada. Hanya aku yang mampu duduk di sana dengan gagah berani!"
"Tentu saja kau yang duduk di sana. Karena siapa pun yang duduk di sana, selama kau dan ayahmu masih berada di dalam perusahaan, maka siapa pun mereka aku yakin akan tersingkir dengan tidak hormat seperti Mariana."
"Jangan bawa-bawa Ayah!"
"Kenapa memangnya. Takut kebohongan ayahmu tentang sakitnya yang membuatnya tidak dapat menemui tim auditor, terbongkar?" kata ayah Leo sinis.
"Kau seperti ular. Pemfitnah!"
"Tidak kah itu terbalik? tanya ayah Leo tenang.
"Apa maksudmu?!"
"Tidakkah kau yang berlidah ular dan suka membolak-balikkan keuangan kantor. Kau pikir aku tak tahu berapa harga tuksedo yang kalian bertiga kenakan malam ini."
Hendra, Bima dan leo menelan ludah dengan kasar, begitu pun ayah Mariana yang sejak tadi mencuri dengan melalui balik bahu ayah Nathan.
__ADS_1
Ayah Mariana membeku, tidak mengira mereka lah yang telah mempermainkan uang perusahaan, sementara anaknya menjadi korban dan di tendang dari dalam perusahaan. Ia bahkan ikut membenci anaknya karena kelakuannya dia anggap mencoreng nama keluarga besar mereka.
Ayah mariana berbalik, kepalanya menunduk menatap tanah paving yang berwarna warni. Kakinya melangkah pelan kembali ke mobilnya. Istrinya mengikuti di belakang sambil sesekali membuang ingus di atas saputangan biru muda berbordir bunga.