Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
Nikah Paksa


__ADS_3

Mariana menatap Bima dengan kebingungan.


"Ada apa?"


"Kita dalam masalah."


Mariana segera bangkit dari posisi meringkuk di pelukan Bima, menarik selimut lebih tinggi dan menatap ketakutan.


"Ap-apa mereka kembali?" tanya Mariana ketakutan.


"Tidak mereka tidak kembali. Tetapi ini lebih rumit dari pada menghadapi mereka."


"Ada apa?"


Bima beranjak berdiri, lalu meraih baju kaus di atas lantai dan mengenakannya.


"Pakai jaketku. Mungkin itu masih bisa menutupi bagian bawahmu meski tanpa rok," kata Bima, tanpa menoleh Mariana.


Bingung, namun Mariana tetap beranjak. Bima benar. Jaket bertudung miliknya mampu menutup tubuh Mariana dengan sempurna hingga sebatas paha.


"Apa yang terjadi, Bima?" tanya Mariana, saat Bima bersiap membuka pintu. Bima menoleh. Bagaimanapun, Mariana harus tahu dulu apa yang akan mereka hadapi.


"Dengar. Aku tidak tahu bagaimana cara membelamu atau diriku sendiri nanti, tapi kita benar-benar sedang dalam masalah yang sangat besar. Para tetua desa menemukan kita sedang tidur berpelukan dalam keadaan tidak berpakaian."


Mulut Mariana menganga lebar, wajahnya tampak ngeri.


"Apa mereka akan menghukum kita?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu," jawab Bima datar.


"A-apa yang akan mereka lakukan pada kita?"


"Yah, hal terbaik yang bisa kita harapkan adalah, mereka akan menikahkan kita di balai dusun dengan disaksikan seluruh lapisan masyarakat."


"Apa?!" Teriak Mariana tertahan. Kepalanya menggeleng tidak percaya.


"Apa kau mengharapkan hal yang lebih buruk dari itu?" Bima bertanya tanpa ekspresi.


"Tidak tidak. Aku jelas tidak menginginkan yang lebih buruk. Tetapi menikah denganmu, pasti akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi di keluargaku."


"Ooh, baiklah. Itu bisa kita pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang persiapkan dirimu untuk bertemu dengan para tetua desa.


Bima membuka pintu, melangkah keluar. Mariana mengikuti di belakang.


"Berdirilah, Bima." Salah seorang dari mereka, yang berjenggot paling panjang dan berwarna putih, menyentuh lembut siku Bima.


"Hatur nuwun, Syah Sinaro." Bima mengangguk sopan kemudian beranjak berdiri.


Sinaro sendiri merupakan sebutan bagi para tetua adat di dusun tempat Bima tinggal. Dan sebutan Syah Sinaro adalah sebutan bagi pemimpin tertinggi mereka.


Meski tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Bima, namun Mariana tahu bahwa pria-pria tua di hadapannya ini merupakan orang-orang terpandang di sini yang patut untuk sangat dihormati.


Mariana berdiri menempel di pintu, kepalanya ikut menunduk dengan sopan. Takut jika dia membuat sikap yang salah maka itu akan memperkeruh suasana.


"Duduklah dan bawa wanita itu kemari."

__ADS_1


Bima kembali mengangguk kemudian berbalik dan membawa Mariana duduk bersebelahan dengannya di atas sofa.


"Nah. Jadi, bagaimana kau akan menjelaskan situasi ini?"


"Sebelumnya, saya benar-benar meminta maaf pada Sinaro Agengan semuanya, karena secara tidak langsung, saya memang telah melanggar ketentuan adat desa ini." Bima memulai. Mariana memperhatikan dengan seksama pada setiap ucapan Bima. Meski dia tidak dapat memahami beberapa kata yang Bima ucapkan, tetapi dia bisa merasakan betapa menghargainya mereka semua dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia alih-alih bahasa daerah yang sama sekali tidak dimengerti oleh Mariana.


"Lanjutkan."


"Seperti yang Sinaro Agengan semua ketahui, saya tidak dapat menjelaskan bagaimana persisnya saya menemukan Mariana. Untuk saat ini, saya hanya ingin sedikit melakukan pembelaan diri dan meyakinkan Sinaro Agengan bahwa saya tidak membawa Mariana kesini untuk bermaksiat. Kalau pun kami ditemukan dalam keadaan tidak berpakaian dan sedang tidur bersama, itu karena semalam Mariana demam tinggi dan saya tidak dapat menemukan obat apa pun di sini. Karena itu saya menggunakan cara tradisional untuk menahan suhu tubuhnya tetap stabil."


"Apa kau bisa membuktikan ucapanmu?" tanya salah seorang dari mereka.


"Baju Mariana koyak karena dilepas paksa. Kalau saya yang melepasnya paksa, tidak mungkin Mariana akan bersedia tidur dengan tenang di pelukan saya, hamba minta maaf harus mengatakan ini, Sinaro."


"Sejauh ini aku bisa memahami. Tapi kenapa kau tidak mencoba menghubungi para tetua untuk menyelesaikannya."


"Hamba meminta maaf sekali lagi, Sinaro. Tetapi perjalanan dari sini ke balai dusun memakan waktu lebih dari 30 menit dengan berlari. Itu belum menghitung waktu untuk mengumpulkan para tetua di jam seperti itu, serta waktu tempuh kembali ke tempat ini."


"Apakah nyawamu sedang dalam bahaya, Nona?" Lelaki yang duduk berhadapan dengan Mariana bertanya.


Mariana mendongak perlahan.


"Mungkin bukan hanya nyawa saja, tetapi saya juga terancam akan jadi gila kalau saja Bima tidak menolong saya. Mereka melakukannya berdua dan masih menyiapkan empat orang untuk mengais sisa-sisa keberuntungan saya."


Wajah kelima orang itu memucat, lalu saling tatap satu sama lain.


"Aku tahu Bima tidak bersalah. Tapi hukum tetaplah hukum. Bima telah menyentuh gadis itu."

__ADS_1


Bima menoleh kaget. "Kakek..." gumamnya, pada laki-laki paling tua yang sedari tadi menatap diam dari sudut sofa.


__ADS_2