Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
MAPALA


__ADS_3

Hendra menoleh kaget, seketika matanya membelalak lebar.


Bima berdiri, berjalan mendekati Mariana.


"Tidak akan ada tembakan apa pun malam ini, Hendra. Karena seluruh pasukan Galang telah di lumpuhkan, termasuk Galang."


"Apa maksud mu?!" teriak Hendra murka.


"Hendra, apa maksudnya. Tembakan? tembakan apa?" Ibu Hendra bertanya, menatap bingung putranya.


"Biar saya bantu menjelaskan, Bibi. Jadi, Hendra telah lama bekerja sama dengan Galang, putra Janny dan Jane Xilas yang selama ini menjadi audit keuangan perusahaan kalian. Dan hanya untuk diketahui, Galang dan pasukannya lah yang telah memperkosa Mariana, dan berencana menghabisinya jika saja aku tidak datang dan turut campur."


Semua yang hadir menahan nafas, tatapan mereka terfokus pada Bima.


"Singkatnya, Hendra seorang diri bermaksud untuk menyingkirkan seluruh keluarga, agar dapat menguasai seluruh harta kekayaan dan perusahaan milik kakek. Dia tidak ingin berbagi, bahkan dengan saudara-saudaranya sendiri."


"Tunggu! Apa bukti mu mengatakan begitu?!" Hendra menuntut dengan tatapan cemas.


"Bukti ku ada di atas. Sayangnya kini dia tengah meringkuk kesakitan karena luka tembak pada paha kirinya."


"Luka tembak? Luka tembak apa?" tanya ayah Nico, yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Maaf aku terpaksa melumpuhkan Galang dengan tembakan untuk mencegahnya berlari dan mencuci tangan atas seluruh kejadian yang telah dia lakukan."


"Apa maksud kalian, Bima. Mariana. Aku sama sekali tidak mengerti!" gertak ayah Leo, berdiri dengan gusar, mencekal lengan anaknya yang terlihat gelisah di sampingnya.


"Paman. Galang adalah mantan ketua gengster dengan banyak anak buah. Untuk menyambut pesta kemenangan atas kematian kakek hari ini, dia dan Hendra menyiapkan dua sniper di atas gedung bertingkat di luar sana. Untuk apa? tentu saja untuk menghabisi kita semua agar Hendra dapat menguasai seluruh harta kekayaan kakek."


"Hendra?!"


"Ayah! Setelah semua yang dia lakukan dengan mencoreng nama kita, apakah ayah benar-benar akan mempercayai mulut mereka begitu saja. Aku sudah memiliki saham yang ayah berikan padaku, begitu pun Leo dan Nico. Hanya Mariana di sini yang tidak memiliki apa-apa, begitu juga suaminya yang tak berguna itu. Hanya orang miskin yang akan bertindak nekat untuk mendapatkan apa yang sangat dia impikan, Ayah!" Hendra berteriak di luar kendali, wajahnya terlihat panik.


Mariana tersenyum, begitu pun Bima yang mencibir malas.


"Mariana. Aku minta maaf, tetapi yang di katakan anak ku sangat masuk akal. Adik, sekali lagi tanpa mengurangi rasa hormatku kepadamu, tetapi anak mu dan suaminya memang tidak memiliki apa-apa. Dan pada umumnya, orang miskin jauh lebih berambisi dari pada yang hidup berkecukupan."


"Ha! Pada kenyataannya, orang kaya jauh lebih berambisi untuk menjadi penguasa di banding orang miskin yang selalu menerima nasib buruk mereka dan menjalaninya dengan ikhlas."


Semua kepala menoleh, menatap ke segala arah mencari arah suara.


"Siapa itu?!" Hendra berteriak murka.


"Aku."


Serempak 10 kepala menoleh ke arah pintu dimana seseorang dengan pakaian serba hitam berjalan timpang memasuki ruangan. Topi koboi dan penutup wajah menyempurnakan penyamarannya. Semua orang mengerut ketakutan, tetapi tidak dengan Mariana. Dia melepas genggaman tangan Bima, berlari menyambut seseorang yang kini berdiri di tengah pintu.


"Mapala... aku merindukanmu!" Mariana memeluk erat Mapala, air matanya jatuh tak terkendali.


"Aku juga, Mariana. Maaf meninggalkanmu begitu lama," bisik Mapala, mengecup puncak kepala Mariana.

__ADS_1


"Mapala...." beberapa desisan kaget memenuhi ruangan.


Mapala membuka topi dan menurunkan penutup wajah yang menutupi sebagian wajahnya.


"Selamat sore, Ayah, Ibu, Paman, Bibi, dan saudara-saudaraku. Dan kau, Tuan Leo. Salam hormat kepada raja bawah tanah, semoga kau mengampuniku."


Leo menatap bingung pada Mapala yang membungkuk rendah, matanya berkedip tidak mengerti.


"Berdirilah, Mapala. Seperti yang di katakan oleh pembawa pesanku, aku memaafkan mu," jawab Bima tenang. Semua kepala menoleh pada Bima, dahi-dahi berkerut heran, tatapan mata ingin menertawakan.


"Sungguh jiwa mulia bagimu, Tuan Leo Atlas." Mapala berdiri, berjalan mendekati Bima.


"Panggil aku adik ipar." Bima merentangkan tangan, menyambut langkah timpang Mapala.


"L-leo... Atlas...." gumam seseorang yang entah berasal dari mulut siapa.


Suasana tegang seketika menyelimuti seluruh ruangan begitu nama Leo Atlas disebut. Semua orang berurusan dengan dunia bisnis, pasti mengenal siapa Leo Atlas. Dan siapa pun yang sudah pernah mendengar nama Leo Atlas, pasti enggan membuat masalah dengannya, meski pun pada kenyataannya mereka tidak pernah tahu seperti apa sosok Leo Atlas yang sangat mengerikan itu.


"Selamat bergabung dengan perusahaan Four Trainer Group, Tuan Direktur."


"Ap...."


Bima mengedipkan mata, memberi isyarat pada mapala untuk diam.


"Baiklah. Jadi, kebetulan kita semua sudah berkumpul di sini. Tidak melepas hormat atas kepergian kakek yang belum satu malam, aku ingin menyampaikan direktur baru Firma Texas, Tuan Mapala." Bima merentangkan satu tangan menunjuk Mapala.


"Apa maksud...." Hendra mengerem tepat waktu, melihat tatapan murka ayahnya.


"Dan seperti yang kau ketahui juga, Bima, bahwa sampai detik iki, posisi direktur masih berada di tanganku. Aku sudah membaca wasiat kakek, dan di sana dikatakan bahwa seluruh harta benda berupa rumah dan seluruh isinya dan seluruh uang tunai milik kakek, akan jatuh ke tangan Mariana. Itu artinya tidak termasuk saham perusahaan yang dimiliki kakek."


Bima tersenyum tenang, berjalan memutari semua orang dan berhenti tepat di belakang Hendra.


"Tentu saja, tuan muda yang sangat bijaksana. Kakek memang tidak menyertakan saham perusahaannya untuk di wariskan kepada Mariana, karena...."


Bima berhenti, kembali berjalan mendekati Marco yang juga berjalan mendekat dari arah pintu, membawa berkas dalam map biru di tangannya.


"Karena sebelum kejadian ini, Kakek sudah menjual seluruh sahamnya kepada Four Trainer Group."


Semua orang membeku, termasuk Mapala.


Brak!


Dhuar!


Pyar!


"Aaaahhh...."


Teriakan memenuhi ruangan mengiringi bunyi tembakan memekakkan telinga yang memecahkan kaca jendela ruang utama. Hendra, terkapar tepat di bawah kaki Mapala dan Mariana. Keduanya bereaksi begitu cepat, tepat keinginan membunuh terbentuk di dalam kepala Hendra.

__ADS_1


"Hati-hati, Hendra. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi."


"Kalian bersekongkol! Kalian sengaja bersekongkol untuk menjatuhkan perusahaan kakek!" teriak Hendra, meringis menahan tangannya di bawah kaki Mapala.


"Galang orang baik. Kau menjebaknya. Ja*ang itu menjebak Galang dengan merayunya, membuatnya lepas kendali!" Hendra masih belum ingin menyerah pada usahanya merebut kembali perusahaan.


"Jangan pernah sebut adik ku dengan sebutan kotor itu, kalau kau masih ingin hidungmu tetap berada di tempatnya!" geram Mapala.


"Maafkan aku, Bima. Mapala, sebaiknya kita bicarakan dulu dengan tenang."


"Apanya yang harus dibicarakan lagi."


"Mapala, maaf, buka aku tidak mempercayaimu. Tetapi, selama ini kau menghilang dan tiba-tiba saja kau kembali di saat keadaan begitu kacau, dan kau membela pihak yang lemah. Bagaimana aku bisa yakin kau memang sudah berubah, Nak. Tolong, tenanglah dulu. Kita bicarakan masalah ini baik-baik.


Mapala meregangkan injakan kakinya di lengan Hendra. "Ikat dia."


Dua orang anak buah Bima segera berlari masuk, menyeret Hendra ke atas kursi dan mengikatnya.


"Jangan coba macam-macam, karena aku pasti tahu apa yang akan kau lakukan," ancam Mapala tenang, lalu duduk di sembarang kursi di dekat Mariana.


"Apa yang ingin kau bahas, Paman. Katakan sekarang, karena aku harus segera pergi untuk membereskan beberapa hal lain."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Itu bukan urusan kalian," jawab Mapala dingin.


Paman Mariana mengangguk, menghela nafas panjang. Mapala sama sekali tidak berbeda dengan Mariana. Keras kepala.


"Baiklah. Jadi, dari mana saja kau selama ini?"


"Di kurung."


"Di kurung?"


"Hmm...."


"Oleh?"


"Leo."


"Apa?! Aku tidak...."


"Leo Atlas." Mapala memotong singkat.


"Kenapa?"


"Karena aku membunuh ibunya, tentu saja."


Semua orang yang ada di sana kembali membeku, termasuk Hendra.

__ADS_1


"Mapala... kenapa kau melakukannya, Nak?" tanya ayah Mapala, berbicara lirih. Wajahnya sudah memucat sejak tadi, dan ini kali oertama dia berbicara sjak kedatangan putranya.


__ADS_2