
Mariana menunduk dalam, sementara ayahnya berdiri dengan wajah memerah di hadapannya. Satu tangannya masih terangkat dengan gemetar setelah menampar keras wajah Mariana.
"Dasar jal***g kecil memalukan!" teriak ayah Mariana murka.
"Tuan...."
"Diam, kau!" Jordan menunjuk wajah Bima dengan amarah yang meluap-luap. "Kau pasti yang telah merusak pergaulan anak ku. Pria tak berpendidikan sepertimu, selalu pantas menjadi gelandangan kotor yang tak tau diri."
"Papa,"
"Tidak ada satu kata pun yang boleh terucap dari gadis kotor sepertimu, di rumah ini!" desis ayah Mariana, memotong ucapan Mariana. Mariana terdiam, kembali menunduk.
"Tuan, saya minta maaf. Bukan maksud saya ingin ikut campur. Tetapi, Tidakkah Tuan ingin mengetahui alasan mereka sebelum menghakimi keduanya?" tanya salah satu tetua dengan suara lembut dan sopan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud tidak sopan. Tetapi saya memiliki cara tersendiri untuk mendidik anak-anak saya agar menjadi sukses seperti saya."
"Baik, Tuan. Itu hak Anda." Pria tua itu mengangguk, lalu kembali diam, menatap.
"Mariana datang untuk meminta restu papa mama, dan meminta maaf pada papa dan mama atas kesalahan yang telah Mariana lakukan, Papa. Tolong maafkan Mariana dan restui kami."
__ADS_1
"Aku tidak akan menikahkan kalian berdua. Kau ini. Kalau memang mau tidur dengan laki-laki, seharusnya minimal kau tahu dia mengendarai apa dan apa pekerjaannya. Jangan mencomot sembarang pria gelandangan di pinggir jalan seperti ini. Bikin malu keluarga saja!" teriak ayah Mariana.
"Papa, Mariana mohon, nikahkan Mariana. Mariana membutuhkan papa sebagai wali...."
"Aku tidak akan pernah menikahkan anakku dengan gelandangan manapun. Kalau kau ingin, minta saja salah satu dari mereka untuk menikahkan mu!"
"Tetapi aturannya tidak seperti itu, Tuan." Laki-laki yang tadi dipanggil Kakek oleh Bima, menatap kesal ayah Mariana.
"Terserah kalian. Siapa pun yang bersedia memungut anak ini, aku akan menandatangani berkas adopsinya sekarang juga, lalu kau bisa menikahkan keduanya."
Mariana mendongak, membelalak kaget menatap ayahnya.
"Kau mau membelanya? Silahkan. Tapi angkat kakimu dari sini sekarang juga dan bawa pel***r sialan ini bersamamu."
"Papa, tenangkan dirimu, Pa. Mariana anak kita."
"Aku tidak pernah memiliki anak seorang jal***g seperti dia." ayah Mariana menjawab dingin, lalu berbalik dan pergi meninggalkan semuanya.
Hening. Semua mata saling tatap dalam diam, hingga ibu Mariana berlari memeluk putrinya.
__ADS_1
"Tolong maafkan papa, Mariana. Aku akan mencoba berbicara dengannya, tapi tolong kau jangan pergi dari rumah ini. Tetaplah di sini, sementara aku membujuknya."
"Tidak perlu, Mama. Mariana tahu ini yang akan Mariana dapat dan Mariana layak mendapatkannya karena telah bersikap buruk."
"Tidak, Sayang. Tidak." Ibu Mariana menggeleng,menggenggam lembut kedua pipi putrinya. "Papa hanya emosi. Mama yakin mama akan bisa membujuknya untuk menikahkan kalian secepatnya."
Mariana mengangguk patah-patah. "Jangan memaksakan diri, Mama. Kalau papa ingin Mariana pergi, Mariana akan pergi."
Sekali lagi wanita itu menggeleng tegas. "Tidak. Mama yakin akan bisa membujuknya. Kau jangan kemana-mana." Ibu mariana menatap lekat putrinya.
"Kalian semua, tolong jangan pergi dulu. Beri saya waktu membujuk ayah Mariana. Saya yakin dia hanya shock," katanya menatap tiga tetua yang menemani Mariana dan Bima.
"Baiklah, Nyonya. Semoga hasil terbaik yang di dapat dari diskusi Anda. Sebagai Kakek sekaligus tetua desa, saya mewakili seluruh keluarga memohon maaf atas kekhilafan mereka."
Ibu Mariana menatap terkejut, tapi segera berhasil mengendalikan ekspresinya. Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk.
"Saya akan meminta asisten kami mengantar makanan dan minuman untuk kalian. Silahkan nikmati hidangannya selagi saya pergi."
Lalu wanita itu berbalik dan berjalan pergi hingga menghilang di balik almari perabot keramik kuno.
__ADS_1